Pluviothentic

www.storydecember.blogspot.com
Here lies the rain of my days, and the roots of who i am.
About Me
Hanya kumpulan tulisan otentik milik seorang pecinta hujan yang kebetulan senang blogging.
“Pergilah, temukan penawar kejenuhanmu, Harry. Kau telah membiarkan banyak hal menempuk dalam pikiranmu. Tenanglah, hidup untuk dirimu sendiri.” Pesan akal sehatku sore itu, 21 Desember 2019, membuatku melangkah menuju tempat yang sudah cukup lama tak kudatangi. Anjung Seni Idrus Tintin. Terakhir aku menikmati tempat ini adalah saat pentas seni tahun 1999, saat aku ikut serta dalam festival budaya. Aku tampil dalam sebuah tarian yang aku sudah tak ingat itu tari apa. 

Hal yang kini tak pernah lepas dari tanganku adalah kamera. Seringkali aku lupa membawa gawaiku, dan membuat banyak orang mengamuk karna susah dihubungi. Tak masalah, karna saat aku sadar aku lupa membawa gawaiku yang terpikir olehku hanya satu, tak apa asal kamera ada ditanganku. 

Aku memang tak merencanakan kunjunganku ke Idrus Tintin ini. Namun, betapa beruntungnya aku, aku datang disaat yang tepat, sore itu ada teater dengan tajuk “Karang Pohon”. Penampilan mereka benar-benar membiusku, suara sang Gajah Tunggal tanpa pengeras suara mampu menggema sejauh 400 meter dari posisi ku berdiri. Perlahan kudekati mereka, sudah ramai. Satu hal yang membuatku kecewa adalah, aku lupa membawa lensa tele, yah seminimalnya aku harus membawa lensa kit untuk dapat menikmati penampilan ini dari jarak cukup jauh. Argh, sial. Kunjunganku disini pada awalnya hanya untuk mencari beberapa orang yang sedang bermain skateboard atau sedang berlatih panjat tebing, jadi lensa fix saja cukup kurasa, dan perkiraanku salah. Ada hal yang lebih menarik ternyata. 

Kedatanganku yang sedikit terlambat, membuatku hanya menikmati acara tersebut kurang dari 40 menit. Berjalan mengelilingi Idrus Tintin, aku melihat beberapa anak menggunakan baju adat, satu sedang berpose untuk difoto temannya, yang lain sedang mengulang gerakan. “May i take your photo, miss?”, dia terlihat bingung saat aku bertanya, lalu kuulangi pertanyaanku lagi “Boleh saya foto gak?” sontak dia langsung tersenyum sambil menutupi wajahnya sedikit, aku paham, berarti dia tidak ingin, mungkin dia merasa malu. 

Kucairkan suasana sejenak, bertanya dalam rangka apa mereka menggunakan pakaian adat. “Oh, ini lagi acara Milad Sanggar Seni 412 UNRI, Bang.” Jawabnya ringkas. 

“FEKON?” 

“Saya iya.” 

“Andri, Fahmi, sama Fadil semester 5 datang gak?” 

“Datang, paling bentar lagi sampai tu.” 

“Apa alumni tak diundang?” tanyaku lagi. 

“Diundang kok. Tapi acaranya jam 8 malam, Bang.” 

“Hmm, gitu ya.” Setelah merasa agak cair, aku mulai mengambil beberapa gambar, dan bertanya beberapa nama angkatan 2013. Pertanyaan itu membuat mereka terkejut. 

“Abang Alumni kami?” tanyanya yang hanya kujawab dengan senyuman. Maaf mbak, aku bukan alumni, hanya saja pernah berada disana. “Abang gak dapat info ya?” 

“Gak, tiket juga gak ada.” 

“Tenang abang, aku yang pegang buku tamu.” Jawab Salsa kemudian dari anak tangga paling atas. Ternyata sedari tadi dia mendengarkan. “Abang masuk aja, nanti Salsa anggap ada tiket.” 

Tak sampai disana, masih ada hal yang mengejutkanku. “Bang Harry?” ujar seorang pemuda menepuk pundakku. 

“Iya?” kataku kaget, dan berpikir, siapa lagi ni anak? 

“Bang, aku Teguh, ketua sanggar yang sekarang.” Ujarnya, ya Allah, ketua sanggar yang lama aja aku gak begitu kenal. Hanya saja aku beberapa kali ada main disana karena satu dan beberapa hal lainnya. “Abang nonton nanti ‘kan? Masuk lah, ada teater.” Tentu dengan senang hati, aku memang sangat ingin mengambil gambar acara ini. 

Sebelum acara dimulai aku sudah berada didalam, dan mengambil foto persiapan mereka. Banyak hal lucu disana. Ada seorang penari dengan baju adat yang sedang mendandani wanita yang hanya pakai baju kaos biasa. Aku bingung, harusnya yang pakai suntiang yang didandani, ini kenapa malah sebaliknya. Ada juga penari yang sedang mengulang gerakan, tapi saat kuarahkan kamera kearahnya, dia langsung duduk rapi. Haha konyol. 

Aku sedikit takut saat Dekan 3 Fakultas Ekonomi memandangiku, dan seolah bertanya pada seseorang disebelahnya, “Dia angkatan 2013, kamu kenal? Ingat?” tenang Pak, aku FEKON UNRI angkatan 2013 pada masanya. Bapak tak akan ingat. 

Acara dibuka, biasa, tak ada yang terlalu menarik perhatian, hanya kelompok musiknya saja, dibuka dengan suara akordion, mereka memainkan lagu Selayang Pandang, membuat pikiranku menerawang jauh tentang seseorang yang senantiasa menyanyikannya untukku dulu. Hal ini pula yang membuatku lebih mencintai budaya Melayu ketimbang Minang sebagai darah yang mengalir. 

Tak cukup sekali membuat pikiranku menerawang jauh akan memori lama, grup musik kampret itu memainkan dua lagu lagi, Lancang Kuning yang dipopulerkan Jamal Abdillah, dan lagu Iyeth Bustami, Tanjung Katung. 

Susunan yang mereka rancang cukup menarik. Tajuk Milad ini adalah "keluarga". Puisi demi puisi dibawakan dengan sangat apik dan rapi, hanya satu kekurangan mereka, tempo dan intonasi yang digunakan nyaris sama antara penampil satu, dua, dan tiga. 

Satu hal yang kemudian membuatku kagum dan kaget adalah, teater yang mereka bawakan. Ntah karna aku yang memang tengah berperang dengan keluarga, atau hanya aku yang mudah merasa akan sesuatu, tapi teater itu merasuk kedalam hatiku. Dimulai dari cahaya redup dan fokus pada mayat sang Ayah, teriakan demi teriakan yang ia lakukan benar-benar terasa penuh kesakitan, dan aku merasakan hal itu. Yang lucu adalah, mereka meniru salah satu adegan dalam film Joker, saat joker menangis dan tertawa sambil menari. 

Kental rasa kekeluargaan dalam teater ini semakin kuat dengan penampilan stage II, saat tokoh utama pergi dari rumahnya, dan dalam perjalanan bertemu dengan sebuah keluarga kocak yang keren. Aku tak bisa gambarkan betapa lucunya keluarga ini, ibu hamil yang pagi-pagi sudah mengamuk karna anaknya telat bangun, dan ayah yang wibawanya jatuh ditangan sang ibu. Lucu. Yang paling lucu adalah, seorang mahasiswi kecil imut-imut yang memiliki postur anak SD, memerankan bocah kecil kelas 3-4 SD. Siapa pun kamu, you’re the best part of the theater! Hahaha. 

Banyak hal yang tertangkap dengan kameraku didalam sana, walaupun harus diakhiri tragis. Kameraku mati kehabisan baterai. Halah, Ya Allah, cobaan apa ini.

Setelah teater selesai, atau lebih tepatnya dipaksa oleh kamera yang sudah mati, akhirnya kuputuskan untuk pulang. Saat kulirik jam tangan ternyata sudah pukul 00.09.  Selamat karna sudah memasuki usia ke-26 tahun, Sanggar Seni 412 UNRI. Thanks for your hardwork!
December, 20. Hei, selamat datang kembali. Kukira kita takkan bertemu lagi. 3 tahun kau tak pernah muncul –mungkin karna aku punya penangkalmu saat itu, ya ‘kan, kutukan? Sayang sekali aku sudah mempersiapkan diri atas kehadiranmu. Ya, meskipun begitu, tak kututupi, memang masih sedikit terkejut. Perang dingin dimulai, kerenggangan mulai nampak, perpecahan mulai terasa. Puncaknya aku akan diasingkan untuk periode yang cukup lama. Aku siap! 

“When the deadly winter has covered the earth, the dragonborn comes.” 

I’m, the Dragonborn. I’m Dovahkiin. Dulu, ada satu game yang benar-benar sukses menyita waktuku –selain PUBG, dan DotA2 tentu, berjudul SKYRIM. Dovahkiin atau Dragonborn, adalah seorang petarung yang lahir untuk membantai Alduin the World Eater, naga yang luar biasa kuat. Dovahkiin muncul tiba-tiba saat Alduin menyerang SKYRIM, tidak ada yang tau bahwa pria yang akan mereka eksekusi mati sebelumnya itu adalah seorang Dragonborn

Aku akan menjadi Dovahkiin dalam skenario kali ini. Bertahan dari Alduin-nya sendiri. 

*** 

Desember sudah mulai habis. Banyak hal menakjubkan. Hal utama yang harus kukatakan adalah, terima kasih 2019. Tahun yang keras. Aku yang hidup dibawah naungan egosentris, akhirnya harus melepas jubah megah bernama “keangkuhan” milikku demi mencabut Excalibur dari persemayamannya. Terima kasih telah mendidikku. Aku yang hidup sesuka hatiku selama ini, mulai sedikit demi sedikit mengambil tanggung jawab hampir secara menyeluruh, dan mengikhlaskan apa yang patut di ikhlaskan. 

Demi menyelesaikan perkuliahan –yang aku tak lagi tau fungsinya ini, aku menjual PC gaming kesayanganku, yang kurakit sepenuh hati dengan seluruh jiwa, dan memakan biaya besar. Kulepas dengan harga luar biasa. 1 juta rupiah. Lalu uang itu digunakan untuk membayar uang bimbingan kuliah. Sialan. Meski begitu rezekiku tak pernah berkurang, selalu saja ada pemasukan walaupun tak banyak. 

Ditinggalkan ternyata memberi berkah tersendiri. Perlahan, aku bisa memenuhi hasratku selama bertahun-tahun. Apa yang kuinginkan kudapatkan. Alhamdulillah. 

Canon EOS 600D menjadi kamera pertama yang kubeli dengan uangku sendiri, tanpa sumbangan siapapun. Setelah cukup lama, sejak 2014 aku berhasrat membeli kamera sebagai aset pribadi, akhirnya kali ini kudapatkan. Bahkan dengan segala kemudahan lainya, aku perlahan melengkapi professional kit untuk melanjutkan hobi street photography-ku. 

Aku belajar untuk mengalah, aku belajar untuk berhenti berdebat sebelum semakin memburuk, aku belajar untuk ceritakan semua masalah hanya pada diriku sendiri. Aku mulai mengalahkan keangkuhan dengan menghubungi beberapa rekan yang pernah bermasalah denganku, mencoba memperbaiki hubungan. Ada yang berhasil. Ada yang, yaaa begitulah. Hanya saja, satu hal yang tak bisa kurubah, mereka kini tak lebih dari sekedar tamu bagiku. 

2019 melatihku untuk lebih realistis, tak ada yang bisa kujadikan tempat berpegang kecuali Allah, dan diriku sendiri. “Tidak ada satu orang pun didunia yang senang melihatmu mencapai impianmu, kecuali dirimu sendiri”. Begitulah pedoman yang ada diakalku kini. 

Dan semuanya semakin baik di bulan-bulan penutup tahun ini. Hai Nona takut petir tapi suka rintik suara hujan. Dasar penakut. Selamat datang diruang pribadiku. Nyenyak? Nah, semangat untuk dinas komunitasnya! 


ありがとうございます、2019! 


Ah, tapi mesti jadi Dragonborn dulu ya!
Welcome Desember, where’s every story began for me. Awal Desember yang cukup menyenangkan. Hampir seharian mendung, dan hujan ringan. Awalnya sih semua baik-baik aja, tapi ntah kenapa ba’da ashar malah jadi moody banget. Tapi ya udahlah, everythings gonna be fine. 

Bagiku pribadi, desember adalah yang terbaik, meskipun nanti mulai dari tanggal 20-an akan ada beberapa hal yang bakalan memburuk walaupun selama beberapa tahun yang lalu seolah kutukan itu dibawa pergi. Tapi aku jadi paranoid lagi takut-takut kutukannya kambuh. Hahaha. Udah kaya’ penyakit aja pakai acara kambuh. 

Payah betul nak bekisah belakangan ni ye. Cakap sikit je pasal ni, sebenarnya, ni semua ulah rancangan usulan penelitian lah niii. Tak dikerjakan, tak boleh nak skripsi. Betul juga cakap budak-budak tu diawal hari kat saye malam tu –kalau tak salah lepas kami ngumpul cecerite. Kampus ni, mula-mula masuk je murah, lepas tu, gawat. Disuruh bayar ini itu, mesti pakai ilmu katak, pas ingat, langsung lah melompat. Dikasih waktu 5 hari je untuk lunaskan. Belum lagi benta lagi dia minta uang wisuda, kalau macam ni terus, mati jantungan lah ni. Tekejut sebab batas seminggu nak bayar 15jt. Perlu kau tau ni pihak kampus, nak ngepet pun butuh waktu. Ape lagi kami yang dapat duit dengan cara normal macam ni, mesti lebih lama lagi baru nak dapat duit. 

Baiklah. Aku kini mulai sadar, bahwa aku adalah orang yang sangat spesial. Sang Awal di Akhir. Hari ini, juga merupakan tanggal favorit dalam hidupku. Awal di akhir, tanggal pertama di penutup tahun. 1 Desember. Selain ditetakan sebagai hari AIDS sedunia, pada hari ini juga tercatat sebagai hari kelahiran Raja Louis VI dari Prancis, dan Tyler Joseph sang vokalis Twenty One Pilots, serta hari dimana Portugal kembali merdeka dari Spanyol (1640). 

Yap, hari ini juga menjadi hari kelahiranku –yang bukan siapa-siapa sebenarnya. Tapi aku lebih senang menyebut bahwa aku lahir pada 27 Jumadil Akhiroh. Masih belum tanggalnya. Masih jauh banget. 

Selain lahir pada awal di akhir. Aku menjadi anak pertama dalam keluargaku sekaligus anak laki-laki terakhir mereka –hal ini menjadikanku kembali sebagai awal dan akhir. Hal ini tentu saja membuat ayahku sangat sering memanjakanku. Melihat hal ini aku menjadi merasa sangat-sangat luar biasa. Itu mungkin sebab mengapa secara tak sadar nick yang aku ambil adalah Hara, awal dan akhir nama (HArry putRA). 

Semakin kesini, rasanya semakin akrab dengan tuntutan, terlebih dari adik kesayanganku, Nindy. Ucapan selamatnya kini mulai diiringi desakan “AKU INGIN PUNYA KAKAK IPAR, DAN AKU JUGA PENGEN PUNYA KEPONAKAN, SEGERA!”. Ya ampun, anak ini terkadang tidak tau betapa sulitnya hal itu untuk saat ini, setelah semua yang telah kulalui. 

Kukira, layak bagiku untuk meragu. Bahkan meski aku siap, belum tentu lawanku akan siap. Ini bukan seperti saat aku akan bertarung, yang mana, siap atau tidaknya lawanku, bukan hal yang harus dipikir. Tentu ada hal yang mestinya dipikirkan dengan matang. Terlebih, abangnya ini, masih harus berjuang sendirian dengan skripsinya. Ujung tiang semangat yang dipaksa patah itu, sudahku perbaiki perlahan, kuikat kuat meski tau pasti nantinya akan patah lagi. It’s okay, nobody will help you to get your crown, so kick’em out, enjoy the game. 

Nanti-nanti kalau udah nyamanan dikit, sambung lagi. Banyak hal yang terpending saat ini. Sekarang otak dulu pentingin. Cukup hati yang patah, otak jangan. Gak selesai ntar ini studi. Gak terpakai tanjak dan songket itu nanti. Hahaha.
The last story that i’ve wrote before, membuat banyak pertanyaan muncul dan masuk ke whatsappku. Ternyata mengganti nama tokoh utama saja tidak memberi pengaruh apapun. Pertanyaan paling banyak adalah “Wilda Giana Fitri itu nama aslinya?” dan “serius kau sekarang sama dia?”. Konyol memang, tapi aku senang mendapat respon menggelitik seperti itu. 

Tunggu, aku ingin ucapkan selamat. Hei Nona Tonkatsu, selamaaat atas kehamilannya!! Semoga anakmu nanti menjadi anak yang luar biasa, dan menjadi penghapal al-qur’an yang baik. Ingat, didikan menentukan!

Ah, Hei! Lil’ brother, Sang Penghulu Pagi! Fajar. I dreamt about you last night, and surprisingly, it made me smile. You know, as a brother, i miss you. Biasanya, satu-satunya mimpi yang bisa bikin kebangun, cuma kalo mimpi Mbak Petrichor. Actually, aku memang sedang sedikit merindukan pembicaraan remeh-temeh kita. Pembicaraan ngawur antara abang dan adiknya. Dalam mimpi juga, yang datang padaku bukan kamu yang sekarang, sanak, tapi sosok kamu yang dulu. Yang belum kenal dunia sepeda, yang tiap pulang tanding, langsung datang kerumah untuk cerita tentang apa yang terjadi dihari itu, tentang bagaimana galaunya menggantung harapan pada seorang wanita yang masih punya kekasih. Pokoknya, selayaknya adik yang bercerita pada abangnya. I miss it. I miss my lil’ brother. But... 

Anyway, mungkin sesuai kata teman Mbak Petrichor, mimpi tetaplah mimpi, mungkin gak lebih. 

               When the snows fall and the white winds blow,
                    The lone wolf dies, but the pack survives.

Categories:
Kay, let’s talk about a thing yang aku percaya setiap orang pasti punya. Warna . Eh, tunggu, dulu ada deh temen yang bilang kalo dia gak punya warna yang menggambarkan dirinya. Siapa ya? Ah bohong aje tu anak. Hari-hari pakai hitam, itu dah jadi jati diri juga gak sih? Bodolah. Inti tulisan ini juga gak mau bahasin apa yang jadi favorit orang lain.

Argh.. Kepalaku terasa berat dan pusing. “Jam berapa sekarang?” gumamku, sambil melirik jam tangan. Ntah kenapa saat ini terasa begitu dingin. Aku langsung terlompat saat mengetahui bahwa aku tak lagi mengenakan baju. Pantas saja dingin! 

Saat tengah berdiri dan mencari baju, aku menyadari adanya sesosok tubuh lain dikasur itu. Mataku terbelalak saat mendapati tubuh seorang wanita telanjang tergeletak seakan tak lagi bernyawa. “Astaghfirullah, Mbak! Mbak! Woi bangun!” Teriakku, sambil terburu-buru memakai baju yang kupungut dari lantai, menaikkan resleting celana yang turun ntah karna apa, dan kembali mengguncang-guncang tubuhnya.

September, 21. 

Heiiiii!!! Selamat bertambahnya angka pada usiamuuuu! Betapa spesialnya hari ini untukmu. Bagaimana tidak, kamu benar-benar sudah menggapai beberapa hal besar dalam hidupmu saat ini. Tahun ini, tahun yang meriah untukmu. Maaf, dulu aku sering melambatkan diri mengucapkannya. Tapi itu benar-benar sengaja. Untuk merangkai beberapa kalimat spesial dihari yang spesial pula. Namun hal itu malah lebih sering menjadi bencana untukku. Nyaris disetiap hari spesialmu, kita bertarung layaknya goku dan bejita yang mencari siapa yang terkuat diantara mereka.

Jam sudah menunjukkan pukul 21.40. Aku pun sudah sangat siap untuk keluar. Tiba-tiba dari rumah seberang, ibuku keluar, bertanya “Mau kemana?” Aku hanya mengatakan bahwa ada tugas kuliah yang harus kuselesaikan. Sebenarnya aku tak ingin keluar, mending tidur. Namun kalimat terakhir Ucen cukup membuatku penasaran. Kira-kira hal sepenting apa yang ingin dia sampaikan. Karna jika didengar dari nada bicaranya, kali ini benar-benar penting, tidak seperti “penting” biasanya. 

Kunyalakan mesin mobil, dan memasang sabuk pengaman. Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah pengharum mobil beraroma kopi. Sesaat, terlintas wanita itu dibenakku. Nona Visza (gitu aja kita sebut namanya, ketimbang mengundang marahnya lagi). Dulu, kami cukup sering keluar dengan mobil ini. Jalan-jalan, menghabiskan waktu bersama. Walaupun harus ribut dulu. Dia berpikir mobilku ini boros, aku tidak menyangkal, tapi aku masih sanggup kok mengisi bahan bakar demi berduaan dengannya. Dan pengharum itu, adalah pembeliannya.

Kupacu mobilku cukup cepat menuju lokasi yang mereka kirim tadi. Cukup untuk membuat degup jantungku sendiri terpacu. Hampir 20 menit Ucen dan Ernest tak henti-hentinya menghubungi. Ada apa sebenarnya.

Setelah penantian yang panjang, akhirnya liburan pun dimulai. Ini rasa jenuh sudah menumpuk. Mengingat bagaimana nilai yang akan memburuk dipenghujung semester ini. Terlebih, tuntutan atas ini itu yang juga ikut meninggi. Aku hanya manusia biasa dengan 2 tangan, 1 mulut, 2 telinga, dan lain-lain selayaknya manusia normal pada umumnya. Jadi, ya mungkin juga hal wajar, saat demand meningkat, kejenuhan juga membludak.

Kalian mungkin ada yang sama sepertiku. Menjadi anak pertama dan tunggal laki-laki. Bagi sebagian orang tentu itu menyenangkan, tunggal laki-laki, it means, you can get what you want. Benar sih. Tapi tidak selamanya. Hanya menjelang kamu menginjak SMP. Lebihnya, berusahalah sendiri. Dan saat kau mendapat apa yang kau inginkan dengan usahamu, orang tua masih akan menganggap itu berkat campur tangannya. Benar juga. Uang jajan yang kamu tabung saat itu semua adalah pemberian mereka. 

Menjadi seorang anak pertama, terlebih laki-laki, menyebabkan banyaknya tanggung jawab yang harus dipikul. Terutama jika ada yang terlihat bermasalah terhadap adik-adikmu. Jika mereka melakukan suatu kesalahan, maka yang akan diuber pertama kali, adalah si anak pertama, dengan tuduhan klasik “Kamu yang telah memberikan contoh!” Ya allah, begitulah deritanya si anak pertama. Padahal si adek cewek semua, gak mungkin juga main rumah-rumahan sama mereka, buuu.

Yak, tidak terasa puasa sudah berlangsung hampir seminggu. Panas di Kota Pekanbaru, seolah naik dua kali lipat. Padahal sih dicatatan cuaca tetap sama, tak ada perubahan. Suhu tertinggi tetap 34-35˚C, hanya saja, tenggorokan yang meminta supply air, membuat semuanya menjadi terasa semakin berat. 

Ntah kenapa, seluruh grup di whatsapp dan LINE seolah tengah dalam terror yang kuat. Setiap saat ada saja notifikasi. Isinya sama, mereka heboh merencanakan acara buka bersama. Yah, ini juga ciri khas dari bulan ramadhan. 

Sementara grup-grup itu ribut dengan perencanaannya. Kami mungkin lebih senang duduk bersama-sama. Menceritakan masalah pribadi, mencari solusi, dan bercerita tentang target. Sedikit banyaknya boleh dikatakan pembicaraan yang bermanfaat.

Categories:
Sejauh ini, semua yang kutulis selalu dalam bahasa indonesia yang tidak baku, dan tidak tau apakah pola penulisannya benar atau salah. Haha. Tapi untuk kali ini, aku ingin menulis dalam bahasa daerah yang kucintai. Yap, bahasa Minang. Ada banyak hal yang ingin kutulis dalam bahasa Minang, tapi aku merasa bahasa Indonesia jauh lebih baik (kecuali untuk tulisan kali ini). Hehe 

Okay, nan jaleh, untuak kini ko, isi kapalo, cuman taragak nak malapehan sakik hati. Lah manumpuak kasadoalahan masalah tu diujuang puncak ubun-ubun. Bungo nan lah ditangan, lapeh, lah ka pamenan urang pulo lai.

Tieya Aulia. Oukai. Mari kita bercerita sedikit tentang wanita yang pernah berkuliah di jurusan Ilmu Komunikasi sebuah Universitas yang cukup ternama di Jawa Barat ini. Jika ditanya tentang siapa yang membuatku memantapkan niat untuk berkuliah, tentu saja jawabannya tidak lain adalah wanita yang cukup luar biasa itu. Nona yang kini sudah melarikan diri dariku. Hahaha. Sementara Tieya Aulia, adalah orang yang mendorongku untuk melompat menuju dasar jurang Ilmu Komunikasi. Thanks to her, sekarang aku punya cara yang luar biasa untuk berargumen –dan mematahkan argumen basah setiap orang, jika aku ingin. 

Lalu siapa Tieya Aulia?

Hari minggu itu, ku scroll tetikus laptopku sampai berakhir didasar halaman web yang membagikan banyak artikel tentang fountain pen, hanya untuk mencari tahu, apa kesalahan yang terjadi pada ujung Nib pena lamaku, hingga tidak bisa mengeluarkan tinta. Dan hasilnya nihil. Aku pun harus merogoh dompet untuk menggantinya dengan pena baru. Karna sepertinya hanya itu solusi yang ada. Argh, menjengkelkan. 

Letih mencari cara untuk memperbaiki, kualihkan pandangan pada deretan bookmark yang berjejer panjang pada bookmark bar chrome-ku. Mencari salah satu website penyedia manga haram untuk melepaskan kekesalanku. Namun, ada satu bookmark yang marik perhatianku. “Mad Thought~” dengan dua strip bertuliskan “Rain”. Ingatanku mulai menelusuri banyak memori tentang seorang wanita yang beberapa waktu lalu, merayakan ulang tahunnya yang ke-23 tahun itu. wah, sudah jadi tua dia ternyata. Haha, jika kamu membaca tulisan ini, kumohon jangan marah.

Suasana tampak sendu pagi ini. Matahari bersembunyi dibalik awan mendung, terlihat sedikit malu-malu memperlihatkan wajahnya.

Kuangkat selimut tebalku, dan dengan sebal kuhempaskan ke lantai, mendengar suara gaduh yang memecahkan nyamannya tidurku.

Kulirik jam tangan yang tergeletak diatas nakas tua diseberang tempat tidurku. Ternyata sudah pukul 08.47 pagi. Sial, I’m late! Kulihat gawaiku sudah berada dilantai dengan layar yang terus menyala. “Panggilan Masuk – Adrian

“ 去っていったアンタなんかは,バイバイバイ
って言いたいけど言えないのは,なんで?なんで?
アンタなんか見たくないのさ永遠に
って言えたけど思ってないのは なんで?なんで ”

⌠Kau pergi meninggalkanku, ya sudah bye bye!
Itu yang ingin kukatakan, tapi kenapa tak bisa kukatakan?!
Aku tak ingin melihatmu lagi untuk selamanya!
Itu yang aku katakan, tapi hatiku merasa sebaliknya, kenapa?!⌡

~ ONE OK ROCK – Etcetera ~
Panas menemani siang Pekanbaru dengan sangat semangat dan menyengat, lalu akan didinginkan kembali oleh hujan pada malam harinya.

Waktu terasa berjalan begitu lambat untukku sejauh ini. Kehilangan dirinya masih saja meninggalkan luka yang sangat dalam. Dan hal-hal tak terduga pun terjadi. Orang yang selama ini ku percaya akan berada pada pihakku, muncul kepermukaan menjadi seorang villain dalam cerita kecilku. Aku tak tahu ingin merespon semua ini dengan cara apa. Tapi itu membuatku mengerti, selain diriku, dan 4 manusia absurd yang setiap hari menemaniku itu, tak ada manusia yang bisa ku percaya. Terima kasih untuk kalian, Fikri, Bobby, Master Rudy –yang diawal, ngotot nyuruh aku mempertahankan-, dan Hamid –seorang veteran perang. Satu-satunya yang memintaku untuk mundur, dengan alasan pengalaman bertempurnya-.