Pluviothentic

www.storydecember.blogspot.com
Here lies the rain of my days, and the roots of who i am.
About Me
Hanya kumpulan tulisan otentik milik seorang pecinta hujan yang kebetulan senang blogging.
Suasana tampak sendu pagi ini. Matahari bersembunyi dibalik awan mendung, terlihat sedikit malu-malu memperlihatkan wajahnya.

Kuangkat selimut tebalku, dan dengan sebal kuhempaskan ke lantai, mendengar suara gaduh yang memecahkan nyamannya tidurku.

Kulirik jam tangan yang tergeletak diatas nakas tua diseberang tempat tidurku. Ternyata sudah pukul 08.47 pagi. Sial, I’m late! Kulihat gawaiku sudah berada dilantai dengan layar yang terus menyala. “Panggilan Masuk – Adrian

Kuangkat panggilan itu dengan sedikit rasa malas, karna tahu, hal yang pertama akan kudengar pastinya omelan.

“Halo, kenapa? Maaf aku baru bangun.” Ujarku terlebih dahulu menjelaskan, dari pada harus ber-argumen nantinya.

“Sialan! I’ve called you 21 kali. Dan menunggu ditempat ini selama 12 menit. Sementara kau enak-enakan tidur.” Si Adrian ini memang workaholic yang tidak peduli dengan hari minggu. Seperti yang sedang terjadi sekarang ini.

“Sabar, brengsek. Kyou wa nichiyobi desu yo! Aku hanya berusaha menikmati satu-satunya jam istirahat istimewaku. Aku akan berangkat kesana sekitar 5-10 menit lagi. Mandi dulu” Tut. Telpon seketika hening. Sialan ni bocah, main putusin aja.

Kamera, lensa, battery cadangan, laptop, dan lainnya. Setelah mengecek peralatan dan merasa semua sudah lengkap. Aku pun memesan taxi online untuk menyusul pria sialan yang baru saja mengganggu minggu istimewaku ini. Re-Cafe, kalau tak salah itu nama tempat yang dipilihnya untuk pertemuan pagi ini.

Sepanjang perjalan, aku hanya melihat baliho caleg yang menghiasi hampir sepanjang jalanan kota ini. Kenapa kota ini begitu semrawut, begitu tak teratur. Semua dibiarkan terpasang seenaknya tanpa memperhatikan keindahan kota. Dinas Tata Kota sepertinya harus menemukan solusi untuk ini segera.

Setelah menempuh perjalan sekitar 20 menit, akhirnya aku tiba ditempat yang telah dijanjikan. Kulihat Adrian sudah berdiri berkacak pinggang didepan tempat itu. Terlihat seperti bodyguard Anggota Dewan yang siap mengusir siapapun.

“Woi, lama amat! Model kita udah nungguin didalam sejak tadi. Namanya lia...” Pria gemuk brewokan itu menjelaskan banyak hal, sambil menuntunku menuju sebuah ruang dengan pintu kaca bertulis “VIP”. Aku tak terlalu mendengar apa yang ia jelaskan. Aku hanya mengangguk tanpa memperdulikan apapun. Rasa malas masih menyelimutiku sebenarnya saat ini. Namun apalah dayaku. Aku sudah terlanjur berjanji akan membantunya hari ini.

Dalam ruangan itu, kulihat sudah ada dua wanita yang saling berbincang, sambil sesekali tertawa.

“Hei, tumben Adrian bawa kamu. Biasanya ditinggal mulu.” Ujarku pada salah satu wanita itu. Dia Debby. Istri Adrian.

“Iya nih, Ry. Aku yang ngotot mau ikut. Dia-nya ya terpaksa nurut. Lagi ngidam nih soalnya.” Jelas Debby dengan raut wajah superduper happy.

“Lagi hamil anak pertama nih buk? Semoga lancar, dan si jagoan kecil jadi anak super terbaik. Gak kaya’ si Bapak. Oi Yan, berhenti merokok dekat bini lu!” Ku peringatkan temanku itu, mengingat dia sangat tak peduli dengan siapapun saat dia merokok. “Hamil berapa bulan nih?”

“Iya, tau. Ini lagi proses berhenti.” Jelasnya, yang memang tampak serius. “Lagi hamil 4 bulan dia. Okay, sekarang balik ke masalah kerjaan. Kenalin dulu, ini model kita. Namanya lia.” Kemudian Adrian mulai memperkenalkan gadis yang berada disebelah sang istri. Gadis itu tersenyum, bisa ku yakinkan kalian, senyumnya manis sekali. Ku taksir berusia 17-19 tahunan.

“Nih, ya, nanti kita bakal cek lokasi pemotretan yang udah direkomendasikan anggotaku kemarin. Tapi sekarang, kalian harus kutinggal dulu. Debby ngidam minta buah. Jadi kami ke Pasar Buah dulu. Gak lama kok. Sambil nunggu, kalian silahkan makan dan ngobrol, aku yang traktir.” Tambah si calon bapak itu. “Kenalan aja dulu. Sekalian bahas konsepnya ya Ry.” Ujarnya sambil melirik kearahku, kemudian pergi berlalu bersama sang istri.

Rasa canggung tidak dapat kututupi, hampir tiap 10 detik aku memperbaiki posisi kacamata yang bertengger dihidungku. Aku baru kali ini bertemu gadis ini.

“Hmm. Perkenalkan dulu, Saya Harry Put..”

“Gak perlu memperkenalkan diri. Saya tau semua tentang anda." Potongnya sambil tersenyum. "Harry Putra. Tahun ini berusia 25 tahun, sebentar lagi ulang tahun yang ke-26. Lagi dalam kondisi tidak baik. Galau akut, karna satu dan lain hal. Berkuliah dijurusan Ilmu Komunikasi, di kampus yang tak ingin diketahui orang. Seorang penulis amatir, dan juga blogger.”

Aku pun tak bisa menutupi rasa heranku. “Maaf, Anda siapa?”

“Jawab dulu. Sekarang kuliah semester berapa? IPK terakhir berapa? Dan apa kabar dengan kuliahnya?” Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan gadis berkacamata dengan tinggi badan kira-kira 166cm itu, dengan tatapan intens dan penuh antusias.

“Saya sekarang semester 7, IPK terakhir 3.68. kuliah aman. Walau agak sedikit terkendala, tapi sebentar lagi wisuda.” Jelasku menjawab semua pertanyaannya. “So, anata wa dare desu ka? Senyum dan cara tertawamu mirip seseorang.”

“Anda tak perlu memikirkan hal yang anda rasa bisa membuat anda kesal lagi. Dia akan bersama anda kok. Saya orang yang akan menjadi penyemangat kalian nanti. Saya adalah orang yang akan melengkapi kebahagiaan kalian. Teruslah berjuang. I am Lia, Ayah. Harisza Crystallia Az-Zahra.”

Brukkk...

“Aduh, apa itu tadi?” gerutuku merasa sakit dibagian hidungku, diikuti senyuman super bahagia. “Ah, ternyata mimpi. Terima kasih sudah menyemangati Ayah, Talia.”

0 komentar:

Posting Komentar