Pluviothentic

www.storydecember.blogspot.com
Here lies the rain of my days, and the roots of who i am.
About Me
Hanya kumpulan tulisan otentik milik seorang pecinta hujan yang kebetulan senang blogging.
Setelah perdebatan yang sangat alot dengan diri sendiri, akhirnya aku mengambil keputusan untuk menuliskan konten komunikasi didalam blog ini saja, blog yang sama untuk sesi pelampiasan kekesalan. Awalnya ingin ditulis di blog yang lain saja, dan terfokus, tapi setelah dipikir-pikir, kemungkinan besar hal ini gak akan banyak. Paling juga cuma sekitar 20-30 (mungkin). Hahaha 

Kuharap juga, apa yang kutulis tentang komunikasi disini, akan membantu untuk junior yang sedang menempuh lorong yang pernah kulewati ini. 

Ah, sedikit ucapan untuk kamu. Orang yang padanya kupersembahkan hal ini. Perkenalkan kembali, Aku sudah merubah sedikit namaku, sesuai dengan permintaanmu dulu, kini aku sudah menambahkan S.I.Kom dibelakangnya. Yeeeaaaay *clap*. Tapi dikarenakan wabah COVID-19, dan Pekanbaru sedang panas-panasnya, wisudaku ditunda. 

*** 

Ada satu pertanyaan yang benar-benar sering kali diajukan oleh banyak orang kepadaku tentang jurusan yang kuambil. Kenapa ambil ilmu komunikasi? Apasih bagusnya ilmu komunikasi, kita tu udah berkomunikasi sejak awal kita pandai ngomong! 

Aku berada dijalur komunikasi ini, bukan berarti sedari awal aku sudah membidiknya. Bahkan, tak pernah sekalipun aku berpikir tentang ilmu komunikasi ini. Dasar ilmu yang kumiliki adalah arsitektur, tentunya merupakan sebuah keinginan untuk mendapat gelar sarjana dibidang yang sama, terlebih aku bekerja sebagai interior designer saat itu. Tapi, karna satu dan lain hal, aku tak bisa memenuhi keinginanku itu. 

Kemudian, aku terpaksa melanjutkan kuliah. “Orang tua kuingin kamu sarjana dulu.” Ujarnya sore itu padaku, tak terlalu ingat kami dari mana, paling juga pulang jalan-jalan. Nah dari sana kuputus, okay, aku akan kuliah LAGI. Aku mencari berbagai referensi, dan bertanya sana-sini, kira-kira jurusan apa yang sebaiknya aku ambil, hanya untuk mendapatkan gelar sarjana. Masalah ilmu, bodoamat. 

Harus aku ucapkan terima kasih kepada Tieya Aulia, yang menyebarkan dan meracuniku tentang Ilmu Komunikasi ini. Semester satu dan dua, aku masih berpikir yang penting sarjana. Tapi, sialnya, diminggu awal semester tiga, aku menemukan betapa luar biasa dan asyiknya Ilmu Komunikasi ini melalui mata kuliah dasar penulisan, psikologi, dan pengantar antropologi. Awalnya aku kira rasa suka yang perlahan mulai timbul ini, hanya efek karna lagi belajar penulisan, karna aku sangat suka menulis. Lalu, kemudian aku paham, aku mulai terlalu berkubang main lumpur. Antropologi yang mengajarkan bagaimana manusia dilihat dari aspek komunikasi, menambah kesadaranku bahwa komunikasi itu lebih kompleks dan menyenangkan. 

Sampai pada satu masa, dimana kami disuruh melakukan debat. Diberi waktu untuk memahami materi, kelemahan, dan kelebihan yang akan diserang dan dijadikan tameng. Maklum, pada saat itu, jiwa suka berdebatku sangat menggebu, dengan penuh semangat debat kujalani. Mungkin, temanku yang lain saat itu berpikir “Si Babi ini bisa gak sih diam, tenang, gak usah bikin repot.” karna begitu banyak hal yang kusanggah dan kukritisi. Maafkan aku untuk itu, dan sekarang naluri mendebatku turun sangat drastis. 

Mendekati fase akhir, aku bertemu retorika. Lagi-lagi, bukannya menurun, rasa sukaku justru menenggalamkanku semakin dalam. Hahaha. Aku mulai rajin story telling –yang sudah begitu lama kutinggalkan. 

Diakhir semester, ternyata ada satu teori yang belum kujalani dan terpaksa aku ambil. Komunikasi persuasif. Dosen kami sangat muda, terpaut 4 tahun dariku –ah, atau kami saja yang terlalu tua untuk mulai kuliah? Pokoknya saat itu usia sang dosen 30 tahun. Dia baru mulai mengajar, namun tidak memahami materi yang akan diajarkan, dengan alasan berbeda dari jurusannya, Ilmu Pemerintahan. Hasilnya, aku menggantikannya memberi materi atau anggap saja dia bertanya tentang materi kepadaku, lalu mengajarkannya dengan bahasanya sendiri, kemudian bertanya “udah sesuai gak penjelasannya?”. Ya kalau menurut Ibu dah sesuai, yang lain juga manut Buk. Kalau ditanya ke saya lagi, nanti pasti saya kritisi. -.- 

Sebenarnya, aku sudah mempelajari komunikasi persuasif ini melalui beberapa modul dan buku, salah satunya milik Soemirat. Itu sebabnya aku merasa aku sudah ambil mata kuliah ini, dan ternyata belum. 

Namun, yang paling membuatku jatuh cinta adalah Komunikasi Antarbudaya. Saking jatuh cintanya, mungkin komunikasi antarbudaya inilah yang paling kupahami secara mendalam. Bahkan komunikasi antarbudaya inilah yang menjadi senjataku saat skripsi. Proposal tanpa revisi, sempro perfect with no doubt. Bahkan penguji bilang, “Saya tidak ingin dan tidak perlu komentar, lakukan penelitian secepat yang kamu bisa. Ini seminar paling enjoy yang saya tangani.” Thank you, sir.

Ucapan terima kasih tentunya juga untuk Ibu Pembimbing I yang selalu mendukung dan membantu –karna dia minta penelitian ini diangkat jadi jurnal juga. Kemudian, untuk teman tongkrongan yang jadi dosen dan pembimbing II gue, lu emang bener-bener. Main acc aje lu. By the way, lu luar biasa. Gue jadi ngerasa telat banget buat lulus. Hahaha. 

Setelah menghabiskan waktu yang cukup panjang bersama Ilmu Komunikasi, maka kini aku mampu menjawab pertanyaan mereka dengan tegas. Pertama, aku ambil Ilmu Komunikasi ini karna komunikasi mampu membuatku mendominasi kalian. Memerintah tanpa membuat kalian tersinggung dan merasa rendah, mengambil milik kalian tanpa membuat kalian merasa keberatan atau kehilangan –ini dari sudut kurang ajarnya aja ya HAHAHA. Ilmu komunikasi ini nampaknya memang remeh, tapi percayalah, ilmu komunikasi itu, jika kalian pelajari dengan benar dan serius, mampu membantu kalian meraih tempat yang ingin kalian datangi, tahta yang ingin kalian duduki, dan harta yang ingin kalian monopoli. 

Kedua, memang benar kita sudah berkomunikasi sejak kita mulai berbicara, tapi ilmu komunikasi tidak mengajarkan bagaimana kalian berbicara saja (retorik), tapi juga bagaimana kalian mengelompokkan audiens memahami mereka, lalu membungkus pesan sedemikian rupa agar dapat mereka pahami dan dapat mempengaruhi. Ibarat lagi bikin ice cream untuk kekasih, kalian cari tau dulu dia suka vanilla atau coklat, lalu suka almond apa gak, kemudian seberapa manis yang dia ingin dan tolerir. Setelah tau, dibuat, lalu berikan padanya, itu akan membuat dia semakin jatuh cinta. Seperti yang nona itu dulu lakukan padaku –cieee curhat. Nona itu ilmu pakar komunikasi yang luar biasa untukku. Hahaha. 

Nanti mari kita bahas materi tentang komunikasi ini satu persatu, dan sebisaku. Okay? Good!