Wah tanpa disadari ini sudah hari ke-13 saja. Okay, tetap semangat dan mari perbanyak ibadah, terutama qiyamul lail. Jangan malasan lhoo, meskipun cuaca saat ini mendukung sekali untuk malasan. -.-
Makin hari, aku melihat banyaknya hal-hal yang sebenarnya lebih baik untuk tidak aku ketahui. Berita-berita tidak berguna, kasus rasisme yang memancing emosi, serta islamophobia yang makin menjadi-jadi. Bahkan phobia islam cenderung ditunjukkan oleh penganut agama itu sendiri.
Okay, mari menjauh dari topik itu.
Belakangan, aku menyaksikan fenomena yang terus berkembang ditengah masyarat, yaitu membeberkan masalah dan aib rumah tangga mereka di media sosial. Mereka berbagi gambar diri mereka disini, jadi orang sudah tahu siapa mereka, dan mereka –dengan alasan apapun itu, membagikan permasalahan rumah tangganya begitu saja. Berbeda dari apa yang kulakukan disini, aku menulis hal hampir serupa sebagai cerita dan semua nama pun tidak sesuai dunia nyata.
Ntahlah, mungkin mereka merasa itu dapat melepaskan stress mereka. Mungkin juga mereka sedang mencari orang yang bisa membantu mereka.
Tapi tetap saja, aku merasa ini tidak benar, jika memang ingin mencari bantuan, kenapa tidak berbagi secara personal dengan seseorang yang benar-benar bisa anda percaya saja? Ini salah. Hal seperti ini justru mengundang masalah baru menurutku. Kenapa? Karena disaat seperti itu setan bertindak lebih mudah dan leluasa, terlebih jika ini menyangkut orang yang sudah berumah tangga. Tak jarang perselingkuhan dimulai dari hal ini. Dari membagikan kesedihan, lalu ada yang menanggapi, curhat, merasa nyaman, kemudian BOOM, terjadi.
Hal ini membuatku mulai merasa khawatir, bagaimana jika nanti keinginanku untuk menikah kembali muncul, lalu hal seperti ini terjadi?
Aku mulai merasa gelisah memikirkan hal tersebut. Ya, walaupun saat ini aku tidak lagi memiliki niat untuk menikah sejak gagal dengan W, aku tetap tidak mengatakan bahwa itu adalah hal mutlak. Masih ada Allah yang merencanakan skenarionya. Dan bila suatu hari aku kembali memiliki keinginan untuk menikah, aku ingin itu menjadi yang pertama sekaligus yang terakhir.
Lalu, setelah cukup lama berpikir, akhirnya aku memutuskan dengan mantap, bahwa kelak, jika aku menikah, aku akan menghapus seluruh akun media sosialku, dan hanya akan mempertahankan sarana komunikasi seperti email, dan sistem sejenisnya. Untuk saat ini aku juga mulai membatasi diri dengan media sosial, atau lebih tepatnya, men-disable-kan akunku.
Mungkin dengan menghentikan diri menggunakan media sosial akan membuatku ketinggalan banyak hal, atau mungkin juga menghambat berbagai pekerjaanku nantinya, tapi aku masih memimpikan hidup damai tanpa ada hal tidak penting yang menggangguku. Sehingga, aku merasa, everything's gonna be okay. Lagian aku juga bukan tipe orang yang suka membagikan ini-itu di instagram, aku memang senang menulis, kadang juga share banyak hal di twitter, tapi akan lebih menyenangkan rasanya jika dalam hidupku hanya ada aku, dan orang-orang terdekat yang nyata, terlihat wujudnya. Menghabiskan waktu dengan mereka akan lebih menyenangkan, feedback-nya langsung, dan berkelanjutan.
Aku tidak ingin terusik oleh orang-orang yang tidak kuketahui, dan tidak memiliki andil dalam hidupku. Itu saja. Yah, semoga hidup lebih mudah, dan lebih menyenangkan setelahnya.

0 komentar:
Posting Komentar