Pluviothentic

www.storydecember.blogspot.com
Here lies the rain of my days, and the roots of who i am.
About Me
Hanya kumpulan tulisan otentik milik seorang pecinta hujan yang kebetulan senang blogging.
WHAAAAY!! Selamat datang Desember! Selamat datang di bulan putih yang dingin, dimana seluruh isi blog ini bermula dan bercerita. Hari besar ditiap tahunnya. Malam ini seakan ingin mengucapkan do'a terbaiknya untukku, hujan turun menemani. Senang sekali rasanya. Hi, Rain, thank you!

Berapa usiamu hari ini? Lelah? Penuh suka cita? 

TENTU, tua sudah di hari ini. 

Lelah? Lumayan, semua juang dan perubahan di akhir 2019 hingga awal 2020, harus lebur dan mengendap kembali dipertengahan tahun, karena satu dan beberapa hal yang merupakan kesalahanku sendiri. Tapi, aku akan bertanggung jawab. Mari kita coba lagi, jangan tunjukkan bahwa kamu menyerah. 

Dan, aku bersuka cita sepenuh hatiku saat ini. Wisuda, yang ntah bagaimana, dihelat pada Desember ini, yang dengan tertatih luar biasa dapat terpenuhi. Masalah keuangan, dipersulit PA sendiri, di khianati rekan, di asingkan kelompok. Berat, tapi terlalui dengan sangat baik! Luar biasa kau, Pluviophile Bangir! Kita sampai juga di penghujung masa ini, meski masih banyak juang yang harus diteguhkan. 

Campur aduk. Rasanya aku menjadi kuda hitam dalam cerita kali ini. Banyak pasang mata yang menyangsikan aku akan memijakkan kakiku ditempat terhormat itu tahun ini. Melihat bagaimana banyaknya permasalah yang harus kuhadapi, aku pun kaget aku bisa sampai dengan baik di tempat ini, saat ini. 

Lihat! Aku jauh dari kata tersentuh! Angkuhku pun belum memudar, dan tetap utuh! 

Menua. Aku tau. Hari ini bukan menjadi perayaan saja, tapi juga peringatan. “Bangir, kamu menua!” teriak Ivanna, sepasang bola mata hitam indah itu menatapku lekat dengan senyum bungah bak bulan sabit melengkung dari bibirnya. 

Aku tau, aku menua. Harusnya kamu juga sudah mendapat teman seumuran denganmu dariku ya, Ivanna. Tenang, kelak, jadilah kakak yang baik untuknya. 

Untuk saat ini, mari menahan diri dari jajan, dan memanjakan diri dihari ini. Setelah semua selesai dan kembali normal, mari kita puaskan tanpa ada catatan peringatan yang meledak saat kita lepas kendali. Karena, rugi rasanya bila memanjakan diri hanya setengah-setengah saja. Seolah ada monster yang akan memakan kita jika kita berlebihan. 

Banyak yang harus diubah dan diatur kembali jadwalnya. Banyak juga rencana besar yang harusnya dilaksanakan tahun ini, tidak dapat terpenuhi. Mau tak mau harus ikhlas juga untuk itu. Aku akan terus memperbaiki apa yang layak diperbaiki, merubah apa yang harus diubah, menghapus apa yang jadi parasit, dan memelihara apa yang unik. 

Aku sudah semakin dekat dengan kematian, itu yang wajib aku ingat. Bukan lagi masa untuk mencanangkan kemewahan, tapi sudah masuk fase dimana aku harus dengan bijak memilih batu pijakan yang tepat. Bahagia sekali rasanya, masih sehat, dan kuat, serta memiliki kesadaran dan mental yang bagus hingga hari ini. 

“Har, selamat hari aids sedunia. Ah maksudku, selamat ulang tahun Tuan yang tidak bisa berada dikeramaian terlalu lama.” 

Ya, benar, selamat menua untukku. Semoga secepatnya bisa mengikhlaskan Ms. Petrichor, sang Ratu tanpa Sanggah itu, yang dengan bodohnya masih kupuja dan kuharapkan kembalinya!
Tulisan ini muncul sebagai respon atas amarah seseorang. Seharusnya tulisan ini di publish beberapa bulan yang lalu, tapi karena kesibukan, dan pengurusan banyak hal, sehingga tidak ada waktu untuk memostingnya. Jadi, beberapa bulan yang lalu, ada seseorang yang marah padaku, dan menyangsikan latar belakang pendidikanku, “Bukankah kamu seseorang yang berkuliah pada jurusan Ilmu Komunikasi, kenapa kamu tidak bisa membaca situasi dan kondisi saat kamu berbicara?!” ujarnya padaku siang itu. Aku juga berharap tulisanku ini dapat memberikan pemahaman pada kalian semua yang bertanya apa itu Ilmu Komunikasi. Terutama untuk kalian, mahasiswa yang saat ini sedang berkuliah di program studi Ilmu Komunikasi ini. Ini juga merupakan sesi pertama dari Let’s Talk about Communication. 

So, sebenarnya, Ilmu Komunikasi itu tidak melulu bicara bagaimana cara kita berkomunikasi. Seperti yang sudah dijelaskan pada postingan pembuka sebelum ini, “Kalau cuma untuk komunikasi, dari kecil kita sudah belajar bagaimana cara bicara dari kedua orang tua dan lingkungan kita. Gak perlu kuliah kalau cuma untuk itu.” Ilmu Komunikasi tidak sesederhana itu. 

Apa itu Komunikasi? 

Definisi umum komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari komunikator (Pengirim Pesan) kepada komunikan (Penerima Pesan). Namun, sebenarnya pengertian komunikasi lebih luas dari pada itu. Penyebaran informasi, kritik sastra, budaya, bahkan gaya rambut, dan gaya berpakaian juga merupakan komunikasi. Sehingga aku sependapat dengan John Fiske, bahwa komunikasi merupakan Interaksi sosial melalui pesan. 

Ilmu komunikasi merupakan bidang keilmuan yang multidisipliner. Sehingga dalam ilmu komunikasi, komunikasi sendiri bukanlah objek utama, banyak hal lain yang menjadi perhatian dalam ilmu komunikasi, seperti strategi komunikasi, psikologi, retorika, budaya, dan lainnya. Jadi, jangan dikira ilmu komunikasi hanya mempelajari “cara ngomong”, “cara ngomong” ini dipelajari dalam materi khusus, yaitu retorika, dimana kita akan belajar seni berbicara. 

Aku akan menjelaskan bahwa menyangsikan latar belakang keilmuan seorang lulusan ilmu komunikasi, hanya karena menurutnya pemilihan cara bicara/berkomunikasi si pembicara tidak tepat adalah sebuah kesalahan. Kenapa salah? 

Fiske mengatakan ada dua mazhab dalam ilmu komunikasi: 

Mazhab Pertama, adalah mazhab yang melihat komunikasi sebagai transmisi pesan. Kelompok ini fokus pada bagaimana pengirim dan penerima, mengirim dan menerima pesan. Aku mengartikan kelompok ini sebagai kelompok yang memikirkan strategi berkomunikasi. Mereka mengedepankan efektifitas dan efisiensi dalam komunikasi. Bagi mereka komunikasi merupakan sebuah cara untuk memengaruhi perilaku atau cara berpikir orang lain. Jika hasil dari kegiatan komunikasi itu tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan, mereka akan menganggap atau menyebutnya sebagai “kegagalan komunikasi”, kemudian mereka akan menyelidiki setiap tahapan dalam proses komunikasi mereka untuk mencari tahu dimana kegagalan tersebut terjadi. 

Sementara, Mazhab Kedua, adalah mahzab yang melihat komunikasi sebagai produksi dan pertukaran makna. Kelompok ini fokus pada bagaimana pesan itu berinteraksi dengan manusia dalam rangka memproduksi makna. Sederhananya kelompok ini melihat bagaimana manusia itu memaknai sebuah pesan. Kelompok ini tidak menganggap kesalahpahaman sebagai "kegagalan komunikasi", karena kesalahpahaman itu bisa jadi merupakan hasil dari perbedaan budaya antara pengirim dan penerima pesan. 

Nah, seperti yang dijelaskan oleh mazhab kedua, kesalahpahaman yang terjadi antara aku dan penerima pesanku, itu tidak ada hubungannya dengan latar belakang keilmuan yang kuanut, itu semua murni hasil dari proses pemaknaan. Aku sudah membuat communication planning dengan melihat situasi, kondisi, dan keadaan kesadaran penerima pesanku pada saat itu, dan merasa strategi itu sudah tepat, dalam penarikan keputusan pembuatan strategi, aku juga akan dipengaruhi oleh latar belakang budaya yang kuanut, sehingga, jika dilihat dari perspektifku, komunikasiku sudah tepat. Sementara si penerima, notabene-nya memang memiliki latar belakang budaya yang berbeda denganku, sehingga wajar saja dia memaknainya berbeda, dan kesalahpahaman terjadi. 

Edward T. Hall, mengatakan “komunikasi adalah budaya, budaya adalah komunikasi”. Komunikasi dan budaya itu tidak bisa dipisahkan. Kita akan menyebarkan dan mempertahankan kebudayaan milik kita dengan berkomunikasi, dan dalam berkomunikasi kita akan dipengaruhi oleh latar belakang budaya yang kita anut. Dengan begitu jelas, bahwa kesalahpaham yang terjadi antara aku dan penerima pesanku yang marah pada saat itu bukanlah karena cara berkomunikasiku yang salah, tapi karena persepsi, dan latar belakang budaya yang berbeda. 

Jadi, apa itu Ilmu Komunikasi? 

Ilmu komunikasi adalah sebuah bidang keilmuan multidisipliner yang memperlajari bidang keilmuan lain pada aspek komunikasi, serta mempelajari perencanaan komunikasi, seni berbicara, interaksi sosial melalui pesan, dan budaya.
HAII, WELL, TODAY IS THE DAY, FOR ME AND FOR YOU!! 

HAPPY BIRTHDAY WIDYA! 

YOU’VE DONE YOUR BEST FOR THIS YEAR! 

SELAMAT DATANG DI ANGKA 25!! 

Hai, wanita yang nama lengkapnya tak lagi bolehh kusebut. Wanita yang berulang kali kutulis disini. Wanita yang menjadi aroma menyegarkan ba’da hujan turun di hidupku. Nona Petrichor. 

Selamat. Hari ini usiamu genap seperempat abad. Aku berharap segala hal yang terbaik untukmu, dari hari ke hari. Aku berdo’a semoga umur yang tersisa menjadi lebih berkah dan lebih baik. Menjadi pribadi yang lebih dewasa, dan meraih segala kesuksesannya di usia muda. 

Bagaimana rasanya menginjak 25 tahun? 

Menyenangkan bukan mengetahui bahwa hari ini, kamu masih diberi Allah kesempatan untuk menambah iman dan pahala? Semoga kamu selalu dilimpahi anugerahnya, Wi. 

Wi, dari tahun ke tahun, ada sesuatu yang tak bisa aku berikan kepadamu. Sejak semua itu berakhir. Aku masih menyimpan dan menjaganya. Baik benda itu, maupun hatiku seutuhnya. Menyaksikanmu berkembang menjadi seorang wanita luar biasa, membuatku malu pada diriku yang berharap disini. Aku sempat mendengar berita tentangmu yang sakit, namun, bisa apa aku? Hanya menahan hasrat untuk menghubungimu. Aku tahu kamu sudah mengganti kontakmu, dan aku tau kau merubahnya pada nomor yang satunya. Tapi, keberanianku tidak sebesar itu lagi. Menyadari bahwa jika aku menghubungimu hanya akan menambah sakit dihatimu, atau membuatmu marah saja, sudah cukup untuk menahan jariku untuk mengirimimu pesan “おたんじょうび おめでとう”

Wi, aku hanya ingin menyampaikan kali ini “selamat ulang tahun, wanita yang sejauh ini masih menjadi orang terpenting dalam hidupku. Semoga kamu meraih segala hal yang kamu target ditahun ini. Aku masih sangat mencintaimu. Namun, jika bukan denganku, aku harap kamu menemukan bahagiamu bersama dia yang kamu pilih. Semoga dia adalah yang tepat dan terbaik. Meskipun, aku masih berpikir, akulah yang layak untukmu. 

Ah, Wi, selain hari ini adalah hari yang paling menyenangkan untukmu. Ini juga hari penting untukku. Hari ini, 21 September, entah bagaimana bisa, menjadi hari yang dipilihkan pihak kampus untukku menyelesaikan perjuangan yang sudah kumulai sejak bersamamu. Untuk menyelesaikan harapanmu padaku dulu. 

Hari ini, aku akan sidang untuk memperjuangkan gelar sarjana strata satuku. Dan tak lama lagi, namaku akan memiliki embel-embel S.I.Kom dibelakangnya. 

Wi, selain untuk orang tua dan adik-adikku. Gelar ini kupersembahkan spesial untukmu. Wanita yang mendorong dan membantuku dalam memulai semua ini. Jika bukan karena permintaan dan paksaanmu mungkin semua ini tidak akan aku raih seumur hidupku. Aku berharap semuanya lancar. Jantungku berdegup sangat cepat. Bukan hanya karna akan segera sidang, namun juga karena hatiku masih memaksaku untuk mengirimimu ucapan selamat ulang tahun. 

Aku berdo’a untuk kelancaranku dihari ini. 

Wia, selamat ulang tahun yang ke 25. Aku masihlah rumahmu, meskipun kamu tidak pernah lagi pulang. 

-Puca
Juni 2020, Allah memberiku banyak kebahagiaan. Bagaimana hubunganku dengan sang Ratu Tanpa Sanggah membaik, keuangan yang akhirnya kembali bisa dibilang luar biasa, dan banyak lagi hal lainnya. 

Ah, satu lagi, setelah sekian lama tidak melihat bagaimana bentuk pemandangan dari ketinggian, akhirnya rindu bisa kembali disalurkan meski tidak hilang. 21 Juni lalu, aku dan Donquixote memutuskan untuk mendaki Gunung Marapi, mendadak, tanpa persiapan, dan hanya berdua. Mungkin ini bisa dicatat sebagai pendakian paling berani yang kulakukan. Saking rindunya, aku tak lagi memikirkan bagaimana paha, dan pundakku akan mati rasa setelah pendakian akibat tidak adanya olahraga. 

Berangkat dari rasa jenuh PSBB, begitu new normal berlangsung, kami juga tanpa pikir panjang memikirkan perjalan yang akan melelahkan itu. Hari ini rembuk, besoknya beli perlengkapan, dan di hari ketiga langsung berangkat. Awalnya aku tentu berpikir ini akan menjadi pendakian menyenangkan sama seperti yang lainnya. 

Aku sempat mencari tau bagaimana kondisi lokasi melalui rekan yang ada disekitar Marapi, dan jawabannya valid serta konsisten, cuaca unpredictable. 

Benar saja, kami singgah sejenak untuk menjemput carrier dan sleeping bag di kampung halamanku, Batu Payung. Disana cuaca sudah mulai terasa dingin dan lembab. Sebenarnya perjalanan ini tidak melelahkan, namun ternyata ego Donquixote itu besar, dan memakan kecerdasannya, kenapa? Dia sadar bahwa dia tidak begitu baik dalam mengemudikan motor tapi seolah tidak ingin aku yang membawanya. Alhasil, seluruh lubang yang ada dijalan dimakannya. Pantat jadi mati rasa, ditambah pundak serasa mau putus menyandang dan menahan carrier yang lumayan berat menghantam seluruh lubang yang ada. SIAL. 

Sebelum sampai di lokasi pendakian, hujan lebat juga sudah mulai melanda. Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan saat hujan mulai terlihat reda. 

Start dari jalur resmi Padang Luar, kami memulai pendakian meski masih sedikit gerimis. Tapi, jalur pendakian jadi benar-benar berat, penuh lumpur, licin, dan menyebalkan. Ini kali kedua aku merasakan perjalanan seperti ini. 

Donquixote masih terlihat baik-baik saja. Semua masih aman dan terkendali. 

Senja sudah mulai berganti malam. Gerimis tak kunjung berhenti. Orang-orang masih banyak yang hendak turun. Marapi memang terkenal sangat ramai jika malam minggu, dan saat hari minggunya jalur akan penuh oleh pendaki yang hendak turun. 

Suasana mulai berubah mencekam, beberapa orang yang turun mulai menunjukkan gelagat aneh. Diantaranya adanya yang kakinya sudah sulit digerak, dan ada seorang wanita yang terus meracau dan membentak rekannya, beberapa berkata dia kesurupan. Hujan bukannya berhenti malah semakin hebat. Kudengar teriakan-teriakan berasal dari bawah kami, dari para pendaki yang baru saja turun. “Tolong! Ada korban!” teriakan itu jelas sedikit memiliki rasa putus asa. Disambut teriakan keras lagi dari atas kami “Allahu Akbar!” Mendengar itu sepertinya rekanku mulai gelisah. 

Jujur saja, aku merasa biasa saja, dan sedikit lucu akan hal tersebut. Dalam otakku muncul pertanyaan “Bagiku Allah akan melindungiku, santai, apa kalian setakut itu pada setan dan yang kalian sebut hantu itu? Dimana rasa takut kalian terhadap sang pencipta.” 

Bagiku, pendakian yang kulakukan, juga untuk mengagungkan Allah, tuhan yang menciptakan segala keindahan tersebut. Lantas, apa yang perlu kutakutkan? 

Donquixote kembali memperlihatkan kegelisahannya. Hujan semakin lebat, dan kami memilih untuk mendirikan camp di sebuah tanah lapang yang cukup luas, cukup jauh dari jalur, dan hanya kami dikelilingi pohon besar dan semak belukar. Tak apa, santai. 

Tenda berdiri, kami memutuskan istirahat. Selang satu jam, kulihat Donquixote mulai tertidur. Mataku masih enggan, aku merasa diawasi. Kemudian, kudengar ada suara sesuatu yang menggaruk tenda di bagian pangkal telingaku. Hujan semakin kuat. Bodohlah, mau kau apakan juga tenda ini, aku takkan mengeluarkan kepalaku. Aku gagal beristirahat. 

Pukul 4 subuh, hujan mereda, kami mulai keluar dari tenda, masak, makan dan bersiap melanjutkan perjalan setelah sholat subuh. 

Kami terus berjalan, tanpa jeda, hanya istirahat kecil untuk menarik nafas. Tak jauh dari cadas, Donquixote mulai menunjukkan gelagat yang aneh. Dia mulai menyampaikan beberapa protes. Protes karna belum sampai cadas, protes karna seolah perjalanan terlalu jauh –padahal mendaki Marapi memang butuh 6-7 jam menurut pernyataan para veteran kenalan, dan 8-10 jam oleh para rekan amatiran, terakhir dia mulai berkata “Jika dalam 30 menit kita belum melihat puncak, kita turun saja.” Sialan anak ini. 

40 menit, dan kami akhirnya tiba di Cadas, dia terlihat sedikit sumringah. Setelah makan, dia langsung mengajakku untuk segera turun dan pulang hari ini juga. “Fuck, what the hell? Baru juga sampai. Kita nginap malam ini.” 

“Gak, turun aja, kita gak punya banyak waktu” ujarnya. 

“Yaudah, sampai tugu Abel deh.” 

“Jauh tu.” Dia kemudian mengklaim Abel jauh, padahal aku tau pasti Abel hanya butuh 20 menit perjalan, tak selama itu. Aku sudah lama mengalahkan egoku, akhirnya dari pada berkelahi –yang notabenenya dia bukan lawan yang sepadan juga, aku ikuti pilihannya. Turun. Ni anak nampaknya keteguran pas mendaki, ah lucu. 

Kami turun. 4 jam. Setengah dari total waktu pendakian. 5.30, kami melanjutkan perjalan pulang ke kampungku. Dia bertanya “Berapa lama?” aku sudah menjelaskan padanya, dari Kota Bukit Tinggi ke Kampungku makan waktu 1 jam 30 menit. Lalu dia mengebut motor BEAT-nya yang kurang bertenaga itu. 

Pukul 7 kami tiba dirumah nenekku, lega rasanya carrier sudah turun dari pundakku. Tiba-tiba dia menghampiri “Aku percaya padamu saat kau bilang hanya butuh 1 jam 30 menit, tapi ternyata selama ini.” 

FUCK, emosiku membludak. 

“Kita berangkat dari sana pukul 5.30, dan langsung kesini! Cek jam tanganmu, pukul berapa sekarang?!” 

“7!” 

“Dari 5.30 ke 7 itu satu setengah jam, sakit kau ni!” 

“Lama pokoknya.” Sialan, merasa lama jangan salahkan total waktu. -.- 

“Ambil wudhu', Sholat sana!” aku mengingatkannya. 

“Kau saja duluan.” 

“Aku mau istirahatkan pundak, kau kira enak nyandang carrier dari Pekanbaru sampai puncak dan balik kesini? Pegal.” Setelah aku mulai menaikkan nada suaraku, dia akhirnya pergi. 

Dulu, para veteran pernah mengatakan padaku “Pergilah mendaki, kau akan menunjukkan siapa kau sebenarnya, sebesar apa egomu, dan seperti apa watakmu.” Ternyata benar, kau akan menunjukkan semua karna dipengaruh beberapa hal, diantaranya kelelahan, dehidrasi, dan jenuh. 

Beberapa teman sesama pendaki menyayangkan sikap itu. Tidak ada solidaritas disana. Kami bukan amatir, dan harusnya mengerti hal itu, aku juga bingung. Keteguran ternyata merepotkan juga.
Categories:
Matahari tampak sudah turun, dan kumandang adzan perlahan mulai saling sahut-menyahut dari sekitar wilayah ini. Beberapa teman mulai iftar, sementara aku masih sibuk dengan urusanku sendiri. Hari ini, rekan yang lain sudah hampir menyelesaikan puasa sunnah mereka. 

“Har, kenapa kelihatan kaya' lagi ada pikiran yang berat banget sih?” tuan rumah menghampiriku yang sedang asyik dengan laptop. 

“Nggak ada sih Ko. Cuma mood lagi agak jelek.” 

“Halah, kenapa lagi ni anak? Rencanamu mau khitbah anak orang itu batal lagi?” 

“Hahaha, gak gitu. Yang itu mah, kabar juga belum muncul Ko.” 

“Lah terus?” Pria yang memiliki perawakan mirip Taka sang Vokalis One Ok Rock itu menunjukkan gelagat bahwa dia akan terus bertanya sampai dapat jawaban. Namanya sebenarnya bagus, tapi kami lebih senang memanggilnya Poko. 

“Kalau soal yang kau bahas tadi, jelas masih ada pertentangan dalam hati sendiri.” 

“Yak okay, aku paham kondisinya.” Jawab Pon, kali ini istrinya yang nimbrung sambil membawakan kami berdua segelas minuman dingin. 

Mereka ini pasangan serasi PON-POKO, nama itu sebenarnya adalah judul dari sebuah film milik studio Ghibli: Heisei Tanuki Gassen PONPOKO. Jadi film itu bercerita tentang perlawanan kelompok rakun terhadap manusia kalau gak salah. Mereka berdua ini juga dulunya adalah dua musuh yang kemudian menjadi sepasang suami-istri. Hahaha 

“Apaan?” tanya Poko pada sang istri dengan penuh penasaran. 

“Dia ini kepikiran mbak yang waktu itu, perasaannya masih besar nih buat mbak itu. Ah parah.” Seketika mulutku dan Poko terbuka lebar. Poko menatapku berusaha mengkonfirmasi hal itu. 

“Istrimu ini seorang cenayang nih, bahaya!” Jawabku, diikuti tawa Poko yang meledak. 

“Hapemu bunyi tuh dari tadi.” Ujar Pon. 

Mungkin sudah ada sekitar 4 pesan masuk yang kuabaikan, “Paling juga orang yang minta tolong buatkan tugas ini itu, tapi gak mampu bayar lagi. Malas udah ngeladeni mereka.” Pikirku, namun karna penasaran, aku coba untuk membaca notifikasi. Jantungku serasa akan lepas melihat nama yang tertera. Baru saja jadi pusat pembahasan, sudah muncul, mungkinkah ini? Ah mulai macam-macam nih pikiran. 

“Hai. Besok sibuk? Jika tidak, jam makan siang kuharap kita bisa bertemu untuk membahas apa yang perlu dibahas, sehingga tidak ada omongan dibelakang.” Begitulah isi chatnya padaku. Aku merasa terintimidasi. 

Mulai dari situ, kami sempat menghabiskan beberapa saat membahas apa yang dia sebut akan dibahas saat makan siang besok. Pada akhirnya kami sepakat untuk makan siang besok, dan aku akan menjemput dia dikantornya. “Semoga semua tidak semakin memburuk.” Do’aku malam itu. 

*** 

Sesuai dengan rencana, hari ini aku akan pergi makan siang bersamanya. Sial, jantungku tidak mengerti cara untuk tenang kali ini. Bahkan berdetak lebih hebat dari pada saat aku akan berkelahi dengan seorang Bripka polisi waktu terjadi salah paham dengan salah satu rekanku dulu. 

Mulai dari baju, celana, hingga parfum, aku tidak bisa tenang, aku gugup. Sial. 

Adzan zuhur sudah berkumandang, chat darinya juga sudah masuk lima menit lalu mengingatkanku untuk bersiap. Untungnya, aku sudah sangat siap saat ini. Akhirnya aku berangkat menjemputnya. Meski jantung masih belum tenang. 

Aku menunggu sekitar 20 menit dipintu masuk kantornya. Dia bilang sedang bersiap. Tak lama ponselku berdering. “Satu motor apa dua?” tanyanya. 

“Terserah.” Jawabku, berharap dia memutuskan untuk satu motor saja. 

“Kamu yang putuskan, aku ngikut.” Arrrgh, dia ini! 

“Yaudah, satu motor aja.” 

Dia datang. Tubuhku seketika dingin. Hahaha. Saat sudah naik ke motor, dia memandu menuju tempat makan pilihannya. Sepertinya dia sudah cukup akrab dengan tempat ini, terlihat dari betapa santainya dia berjalan masuk tanpa ragu untuk memastikan tempat itu buka atau tidak. “Putra, Sini!” teriaknya sambil melambaikan tangan. Aku hanya nurut. 

Perutku sebenarnya sangat lapar, tapi rasa gugupku membuat semua isi perutku serasa akan keluar, sehingga aku jadi tidak ingin makan, tapi dia memaksa, dan jadilah makanan terletak dimeja, tak habis, tapi termakan kok. 

Selama makan kami membahas banyak hal. Mulai dari beberapa postinganku yang dia rasa terarah langsung padanya, hingga kabar-kabar kecil yang perlahan membuatku menikmati pembicaraan kami. 

“Sekarang jelasin tentang ini!” ujarnya sambil menunjukkan postingan di twitterku. Disana terdapat sebuah video boomerang yang direkam adikku saat kami makan di sebuah tempat makan cepat saji. Aku yang sedang mengaduk semua OMONG KOSONGMU! Begitu tulisannya disana. Haha. 

“Hmm, tiap orang punya problem masing-masingkan?” Jawabku sekenanya “Kalau kamu merasa, lalu aku bisa apa? Yang jelas niatnya tidak dihadapkan padamu.” 

“Gak, cuma rasanya timingnya pas aja sama waktu kita ketemu itu.” 

“Perasaan kamu doang sih.” 

“Kamu kalau senang, ya senang aja. Jangan ditahan gitu senyumnya.” wanita ini lebih menyeramkan dari pada Pon, dia bisa tau apapun yang kupikir. Bahaya nih. 

“Gak ah, apaan.” Sangkalku. Sekilas kulihat dia tersenyum. Senyum yang sama seperti yang dulu, sudah lama aku tak melihat senyum itu. 

“Nih, ya, aku dan laki-laki itu sudah lama tidak pacaran. Tapi aku selalu menutupinya.” Balasnya “Baru kali ini sih aku mau bahas ini, bahkan saat dulu aku ketemu adik kamu, aku bilang ‘ya do’ain aja’ padahal waktu itu aku udah gak sama dia.” 

“Sebernarnya, kamu mau pergi dengan siapa pun, aku tak punya hak apapun, aku bukan siapa-siapa jadi gak masalah.” 

“Yah, jangan nangis gitu dooong. Aku tau kamu belum bisa lepas dari aku, aku selalu menang memang.” Sejenak aku ingat lirik lagu yang sering ia plesetkan menjadi namanya dulu Wi A the champion! Haha kamu benar. Kamu memang the champion

“Siapa yang nangis, enak aja.” Ujarku sambil menahan sesuatu yang terasa menggumpal dan ingin keluar dari sudut mataku. 

Kami menghabiskan waktu cukup lama, itu sangat menyenang bagiku. 

*** 

Aku kembali datang kerumah PonPoko, masih ada hal yang harus kuselesaikan mengenai desain yang mereka minta. 

“Cieee, berseri nih.” Goda Pon, melihatku yang sedang duduk bersama suaminya di ruang makan rumah mereka. “Aku cuma ingatin nih. Jangan sampai lama tertidur di singgasana mimpimu. Nanti ketinggalan kapal lagi.” 

Hahaha, Pon, aku paham, tapi terkadang, aku suka lupa diri kalau udah sampai di kastilku itu, tempat ternyaman yang aku miliki. Aku lupa aku sering menjadi Nefelibata, seseorang yang hidup dalam awan imajinasinya sendiri.
Dalam beberapa hari terakhir rasanya banyak hal yang menjadi pertanyaan di kepalaku, tapi aku lebih memilih menyimpannya, enggan untuk menyampaikannya kepada siapapun. Bahkan saat kami sedang berkumpul di tongkrongan, tak jarang aku lebih banyak diam, bukan karna tak ingin bicara, tapi karna lebih banyak pembicaraan terjadi di otakku, sehingga sulit mengikuti pembicaraan teman lainnya. 

Tiba-tiba saja, Wilhem hadir, membahas bagaimana hubungannya dengan sang kekasih. Kami sangat tau bagaimana Wilhem ini menjaga kekasihnya. Terlalu berlebihan. Bahkan kekasihnya tidak boleh ikut ngumpul dengan kami. Memang benar tidak sedikit dari rekanku yang menyukai Mbak Tartarus ini, kalau kata temanku, Tartarus adalah Medusa in real life. Hahaha 

Aku kembali berusaha menjadi pendengar yang baik. Mendengarkan celotehannya, bagaimana seorang Tartarus yang kami tau begitu besar cintanya untuk Wilhem, tiba-tiba memilih untuk menyerah. Tentu saja, otakku saat ini terdiam penuh, didalamnya hanya ada satu pemikiran, kisah si Wilhem ini sama seperti kisahku, dan akan berakhir tragis, sama seperti milikku juga nantinya. 

Sulivan yang berkali-kali cintanya ditolak oleh wanita yang ia cintai, kemudian geram dengan cerita Wilhem. “Kau tau, tidak ada orang yang suka kau batasi seperti itu!” ujarnya dengan intonasi khasnya, tenang dan penuh canda. 

Aku sepemikiran dengan Sulivan saat ini. Tidak ada orang yang senang dibuat seperti. Aku pernah melakukan hal yang sama, pada akhirnya aku menjadi penyintas yang berusaha lepas. 

Pembicaraan pun akhirnya lebih menitik berat pada aku dan Sulivan, dua orang veteran perang. Satu veteran dengan metode perang yang sama, satu lagi orang dengan tekad baja yang selalu saja kalah dalam peperangannya akibat kurangnya senjata. 

Kami kembali sepakat, pada akhirnya perasaan ini hanya akan jadi tertawaan. Saat kau bercerita pada mereka-mereka, respon mereka adalah “wah, gak bisa begitu, kau terlalu bodoh jika terus seperti ini, move on!” Tidak ada yang salah, mereka tidak tau seperti apa perjalanan yang telah ditempuh. 

Saat perasaan menjadi bahan tertawa, rasa muak mendengar tawa mereka itu naik 1000x lipat. Tapi aku selalu katakan “semoga kalian tidak merasakan apa yang kurasakan ya.” Walaupun jauh dalam lubuk hati aku ingin mereka juga merasakan apa yang mereka tertawakan. 

Kau butuh orang-orang dengan frekuensi yang sama untuk berbagi sesuatu yang seperti ini, mereka dengan latar belakang cerita yang hampir mirip. Percuma berbagi dengan mereka yang dalam kisahnya enteng atau mereka malah badboy yang memang sering gonta-ganti, karna prinsip mereka “Patah Tumbuh Hilang Berganti”. Nah, kita ini bukan mentok dengan satu orang wanita, tapi diusia hampir 30 tahun ini, menikah adalah program wajib. Hahaha 

Tapi mencari mereka yang sefrekuensi denganku dilingkunganku sangat sulit. Itu sebabnya, kini aku lebih memilih lebih banyak memendam semuanya sendiri.
Categories:
Meski sudah dibaca seseorang, aku harap itu bukan dia. Haha, kenapa? Bukan berarti aku merasa bersalah atau menyesal dengan tulisan itu. Aku hanya berpikir, mungkin lebih baik biarkan semua berjalan begitu saja, toh mengeluarkan banyak kata-kata tidak akan merubah apapun, dia tetap akan dengan pemikirannya. 

Aku membaca beberapa artikel tentang new normal atau aku akan sebut kelaziman baru. Aku tidak begitu ingin memahami seperti apa kelaziman baru yang akan diterjadi ini, lagi pula seperti yang kukatakan, duniaku saja sudah berubah sangat drastis. Jadi, tidak akan ada bedanya. 

Kelaziman baru, sesuatu yang dulunya bukan hal yang dianggap biasa, namun kemudian berubah menjadi sebuah kebiasaan. Haha, dalam duniaku hal ini banyak terjadi. Dulu aku merupakan seseorang yang banyak bicara dengan orang sekitar, sekarang lebih memilih untuk menjauh dari riuh lingkungan. 

Seorang bocah penuh ambisi, dan energi, kemudian berubah menjadi seseorang yang tenang dan tidak menonjol. Orang yang emosinya selalu ada pada indikator teratas, kini menjadi orang yang lebih banyak mengalah. 

Terutama tentang Nona Petrichor yang begitu ia anggap agung. 

Perlahan, memori-memori yang melekat kuat dalam benak, mulai diharuskan untuk luntur. Mencoba membaur dengan sang Nona, yang melupa dengan mudahnya. Semuanya dijatuhkan pada lantai kosong itu, disapu menuju ruang kecil, dan dipendam. 

Hidup tanpa sang Ratu tanpa sanggah, menjadi kelaziman. Tidak ada yang aneh, itu biasa. Dalam beberapa tahun belakang, keadaan itu menjadi kebiasaan. Meskipun kebiasaan itu dirasa ganjil, tapi tidak lagi dipermasalahkan. 

“Apakah hal itu menganggu atau menjadi sesuatu yang menyakitkan?” 

Dulu iya, kini menjadi sebuah hal yang biasa. Tidak menyakitkan, tidak mengganggu, namun aku sadar bahwa dulu bukan seperti ini keadaannya. Ini hanya situasi baru yang aku sudah mulai terbiasa. Ibarat pindah ke sebuah daerah baru yang tak dikenali, kemudian mulai terbiasa dan menyesuaikan diri. 

“Kalau begitu apakah kau sudah lupa dengan semua kenangan itu?” 

Tentu tidak, aku ingat dengan jelas, aku hanya sedikit lupa, bagaimana rasanya saat dia masih ada disini, berbagi tawa, dan luka, meskipun lebih banyak tawa yang kudapat, namun penuh luka yang ia jalani. Jika disuruh mereka-ulang kembali kenangan itu, jujur saja aku tidak akan bisa, antara terlupa, dan enggan karna kupikir akan kembali membuat rasa sakit menguar. 

“Apakah menurutmu sepenuhnya akan merasa biasa saja?” 

Setelah ini semua menjadi sebuah kelaziman baru, aku rasa sepenuhnya akan merasa biasa saja. Tapi tentu saja ada masanya aku akan merindukan wanita itu, karna kelaziman baru ini tidak menghapus kenangan yang aku punya. Hanya saja, karna ditempa waktu, aku mulai terbiasa. 

Suatu saat nanti, ketika aku merindukannya, aku harap disaat itu menemukannya bukanlah hal yang sulit.
Banyak hal yang kurindukan saat ini. Aku rindu berkumpul bersama teman-teman dikampus, aku rindu bertukar pikiran dengan para dosen dan mahasiswa lain, aku rindu materi yang disampaikan teman-teman saat presentasi dan rindu mengkritisinya, yang lebih besar, AKU RINDU MENGAJAR. 

Belakangan orientasi aktivitas adalah membuka twitter→whatsapp→nonton→nulis, begitu terus sampai aku sendiri mulai jenuh, rotasi yang tak bermanfaat memang. Mengikuti pemberitaan kebijakan yang dibuat pemerintah, juga hanya akan menambah kejenuhan, dan kekhawatiran. 

Akibat rasa bosan yang makin menjadi, akhirnya aku mencoba mengumpulkan beberapa teman, melakukan pertukaran pemikiran. Banyak hal yang menjadi fokus perhatian kami saat itu. Mulai dari bagaimana dampak Covid-19 pada kehidupan sosial di daerah kami, menurunnya moralitas dan sopan santun remaja, isu yang sedang naik, hingga bagaimana diri kami saat ini. 

Pembahasan sesekali sedikit bergerak menjauh, meluber tanpa bisa dibendung. Diselingi beberapa canda, saling jatuh menjatuhkan, ini bukan hal aneh, beginilah kami. Terkadang menyakiti, namun tak ada yang merasa tersakiti. 

“Aku sempat mencoba merubah beberapa remaja dilingkunganku, membuat komunitas, dan memberi pengarahan. Tapi tetap saja tidak bisa, mereka sudah menjadi batu.” Ujar Jerm saat pembahasan kembali pada topik. 

“Ya, elu ngumpulin mereka, dikasih wejangan, abis itu bagi-bagi link bokep, mau berubah gimana?” yang lain nimpali dengan candaan. 

“Enak aja, aku kalau link bokep buat koleksi pribadi, ah elu.” 

“Tapi serius, aku juga melakukan hal yang sama, dan pada akhirnya juga gitu. Saat ada kita, mereka ngangguk, kita bubar, mereka lanjut.” Kali ini Siam menyetujui pernyataan Jerm. 

“Kau tidak bisa merubah orang lain sesukamu. Tapi kau bisa merubah dirimu sendiri. Masalah orang lain, biar jadi pertanggung jawaban mereka.” Yonta akhirnya menjadi sosok yang berpikir rasional kali ini. 

“Atau, kau bisa merubah dirimu untuk menginspirasi orang lain, jadi mereka bisa ikut berubah juga.” Kataku sekenanya, mengingat buka puasa juga sebentar lagi. 

Mereka hanya diam, melihat kearahku. Kemudian Yonta membuka suara “Pikiran pak tua mulai jadi lebih dewasa belakangan.” Hahaha, sial. 

Aku selalu berpikir seperti itu, karna aku juga tidak ingin berubah untuk menyesuaikan diri dengan orang-orang. Aku bukan bunglon yang berkamuflase untuk adaptasi dengan lingkungan. Saat diajak atau diminta untuk berubah oleh seseorang, yang akan dirasakan hanyalah keterpaksaan, dan itu hanya akan memberikan efek sementara. Revolusi hanya akan memberi perubahan kulit luar, karna revolusi bergerak cepat, instan, dan tidak menyeluruh, itu sebabnya evolusi adalah tujuanku. Berubah secara bertahap, namun memiliki efek yang permanen. 

Merubah diri sendiri tidak hanya akan mempengaruhi diri kita saja, namun akan memberikan seleksi alam pada orang-orang yang ada disekitar kita. Orang-orang yang merasakan ikatan emosional, dan menganggap kita penting, akan menyesuaikan diri dengan sendirinya, bukan karna terpaksa, tapi karna merasa terinspirasi. Sementara orang yang merasa kehilangan kecocokan dengan kita setelah perubahan yang kita lakukan, akan tergusur, mereka akan pergi dan menghilang. 

Bagiku, ada sedikit lonjakan perubahan di akhir 2019 –meskipun kembali memburuk di tahun 2020. Aku mampu mengekang ego, aku juga bisa lebih sabar menahan lidah dan suara, aku juga sudah bisa menghapus dendam –walaupun tetap membenci. Namun, itu baru bisa kucapai setelah merasakan kehilangan yang sangat besar. 

Akibat perubahan ini, seleksi alam juga terjadi. Perlahan, orang-orang yang tidak nyaman dengan perubahanku mulai menjauh, aku banyak kehilangan teman-teman yang memang tidak cukup baik menurutku sekarang. Tapi, allah tetap akan mengganti yang hilang dengan yang lebih baik. Mereka yang pergi dari siklus pertemananku tergantikan, bukan oleh teman baru, tapi dengan membuat teman yang tersisa juga melakukan perubahan yang sesuai denganku. 

Bagiku, diusia yang mendekati 30 tahun ini, kini bukan lagi mengenai kuantitas, tapi tentang kualitas. Aku sekarang akan dengan mudahnya mengganti 100 teman yang membawaku pada jalur yang buruk dengan satu teman yang senantiasa mengingatkanku pada hal baik. 

Bukan lagi tentang menghabiskan waktu dan menawar jenuh, tapi tentang kesamaan pemikiran dan kecocokan pola. Berubah kepada kebaikan, tidak hanya membuat kita menjadi pribadi yang baik, tapi juga akan memperbaiki siklus sosial dan pertemanan kita.
Categories:
Haiiyoooo!! Gak kerasa udah Romadhon hari ke-11 atau sekarang sudah bisa dibilang malam ke-12. Waktu terasa begitu cepat berlalu. Padahal rasanya baru beberapa waktu lalu Romadhon datang, sekarang udah tinggal setengah aja.

Tapi akibat pandemi Covid-19 ini, Romadhonnya makin gak berasa. Gak ada tarawih berjama’ah, gak ada sholat jum’at, gak ada kajian, dan mungkin gak akan ada i’tikaf tahun ini. Walaupun pemerintah sudah menetapkan PSBB, tidak ada perubahan yang signifikan, konon angkanya masih terus meningkat. Suatu hari nanti, aku mungkin akan menceritakan pada anakku, bagaimana ayahnya selamat dari pandemi ini –ya kalau selamat sih. 

Romadhon tahun ini, menjadi Romadhon yang cukup unik, dimana 15 Romadhon jatuh pada hari jum’at, bagiku ini sesuatu yang bagus. Namun, kemudian muncul rumor-rumor yang disampaikan (katanya sih) oleh seorang ustadz dalam ceramahnya. Sebuah rumor pembodoh dan penanaman rasa takut selain pada Allah menurutku. 

Dia mengatakan bahwa jika 15 Romadhon jatuh pada hari jum’at, maka akan ada sesuatu yang mengerikan akan terjadi. Dia mengutip dari sebuah hadits. Sayangnya, oknum yang menyebarkan rumor ini, tidak mengusut hadits tersebut sebelum menyampaikannya –mungkin dia merasa keren karna tahu hadits ini. 

Hadits ini bukan saja hadits dhoif, tapi hadist ini adalah hadits palsu, ini dikarena perawinya didhoifkan oleh ulama masyhur, seperti Abu Daud. Salah satunya adalah Nu’aim bin Hammad, Abu Daud mengatakan bahwa Nu’aim bin Hammad sudah meriwayatkan 20 hadits yang tidak ada dasar sanadnya. 

Yang lebih disayangkan lagi adalah, masyarakat yang miskin literasi ini juga banyak yang enggan untuk menelusuri hadits tersebut sebelum mereka semakin menyebar luaskannya. Hal ini sering terjadi dalam whatsapp grup keluarga. Salah satu teman mengaku bahwa dia mendapat kecaman keras setelah membantah rumor yang disebut ad-dukhan itu. Ini membuktikan bahwa masih banyak para pemalas yang berusaha untuk terlihat keren tanpa mempelajari sesuatu dengan saksama. 

“Kami sharing, untuk berbagi info! Harusnya kamu gak bicara begitu!” sebagian ada yang berkata seperti itu saat aku dulu membantah keras hoax yang merajalela dikampus. Aku bukan tipe orang yang akan dengan suka rela menggangguk tentang sesuatu yang aku tau salah, tapi aku bersedia berdiskusi untuk mencari kebenarannya. 

Okay, sekarang mari berpikir begini. Berapa banyak orang tua diantara kita yang tidak melek akan teknologi informasi? Berapa banyak kawan-kawan kita yang akibat tidak mampu, tidak bisa mengakses informasi secara detail? 

Sharing is caring, right? 

Kita bisa mencaritahu detail informasi sebelum kita share adalah salah satu wujud dari care kita kepada mereka yang disebutkan diatas. Aku tidak ingin keluarga menerima informasi sampah yang tak jelas, aku tak ingin mereka terbodohi oleh orang dengan paham “yang penting share” ini. Itu sebabnya aku berprinsip “saring before sharing, because sharing is caring”. Aku tak akan menuntut itu dari orang lain, karna aku berusaha sadar bahwa ini juga tugas. Bijak dalam membagi informasi, pintar dalam mengambil sumber, serta jenius dalam bernarasi adalah pola yang aku ingin orang-orang lihat dariku –meskipun setengah mati aku melakukannya karna tindakanku hampir selalu dipengaruhi ego. 

Sudah saatnya bagi kita menjadi orang yang cerdas dalam menggunakan teknologi informasi. Jika tidak, kita juga nanti akan tenggelam dimakan perkembangannya. Terima kasih, dan aku mohon maaf buat kalian yang kadang kubuat tersinggung dalam tulisanku, meski Romadhon sudah mau habis, kurasa tidak ada salahnya untuk saling memaafkan. Haha
Categories:
Semakin hari pandemi mulai menjangkau setiap tempat di negara ini. Bahkan beberapa wilayah sudah memilih untuk melakukan karantina wilayah. Begitupun Pekanbaru, sejak beberapa wilayahnya menjadi redzone, orang-orang mulai merasa khawatir –walau tak sedikit juga yang tak menghiraukannya. 

Akibatnya, kini jalanan sudah relatif lengang. Beberapa mengakatan Pekanbaru sudah kelihatan seperti suasana lebaran, dimana mayoritas masyarakatnya mudik, dan kota menjadi sunyi. 

Aku terus memacu kendaraanku, mengunjungi salah satu konsumen yang memesan beberapa botol wine dari kami. Sebenarnya aku belum pernah bertemu langsung dengannya karna kurasa tak begitu perlu, tapi kali ini aku memang harus bertemu, ada beberapa hal yang harus didiskusikan, termasuk melonjaknya nilai tukar rupiah ke dollar. 

“Kurasa, kali ini kita harus menghentikan pemesanan dulu. Untuk shiraz dan pinot noir yang sudah masuk list kemarin, kita jadikan stok dulu.” Kataku pada temanku, dari tadi telingaku tersumbat oleh handsfree, Tommy terlalu banyak tanya kali ini. Bahkan sesekali kulirik layar ponselku, sudah 20 menit lebih dia menelpon. Harus jujur, telingaku terasa agak panas. 

Gimana ya, Har, soalnya, kalau kita batalkan, kemungkinan kita akan kehilangan dana.” Jawabnya. 

“Jangan dibatalkan, tunda pengiriman aja gak bisa?” 

Gak tau sih, aku juga belum bahas sampai kesana, tapi pertemuan berikutnya aku coba sampein deh.” 

“Berapa lama lagi kau akan menghabiskan waktu di Australi?” 

Ya sampai penerbangan menuju Indonesia diizinkan lah.” 

“Berenang aja udah, repot amat!” 

Bangke, dikira aku lumba-lumba?!” 

“Yaudah, gak usah nelpon-nelpon lagi. Dah, aku dah sampai dirumah Pak Ahen.” Segera kututup telpon itu tanpa mengucapkan salam. 

Aku tiba di depan sebuah rumah yang cukup megah. Katanya sih pemilik rumah yang menjadi langganan kami ini adalah seorang petinggi perusahaan minyak, ntahlah, Tommy yang mengenal dia. Security mengarahkanku menuju parkiran, yang terletak dibagian belakang rumah ini, tampak seperti basement. 

“Pak Ahen lagi keluar, Mas, tapi tadi dia udah bilang kalau ada tamu yang akan datang, dan Mas sudah ditunggu sekretarisnya didalam.” Ujar security itu sambil mengantarku menuju sebuah ruangan yang tampaknya memang didesain untuk jadi ruang diskusi. Ruang ini cukup minimalis, terdapat dua sofa panjang yang saling berhadapan, lemari berisi beberapa buku, refrigerator, beberapa lukisan, serta sesuatu yang menarik perhatianku adalah sebuah wine cellar dari kaca, betapa banyaknya wine simpanan Ahen ini, dengan berbagai merk dan jenis. 

“Kurkira hanya perasaanku saja, ternyata memang benar orang yang sama. Seorang anak lugu, yang terkenal cukup pintar semasa SMP.” Ujar seorang wanita yang membuatku terkejut, karena bahkan langkah kakinya tak terdengar. 

Aku menoleh kearahnya. Aku terkejut, sampai-sampai aku terdiam selama beberapa detik. “Octa?! Astaghfirullah, bukannya kamu pindah ke Jawa?” Argh, gawat, bisa-bisa seluruh alumni tau soal ini. 

“Aku dapat kerjaan diperusahan minyak, dan ditempatkan disini, jadi Sekretarisnya Pak Ahen.” Jawabnya sambil terus melewatiku, dan duduk disofa. “Duduk hei, ngapain berdiri.” 

Aku kemudian duduk disofa seberangnya. “Udah berapa lama kerja di Pekanbaru, kenapa gak ada yang tau kamu ada disini?” 

“Baru setahun ini. Ada kok yang tau, mungkin kamu aja yang gak nanya. Lagian di grup alumni juga cuma kamu yang gak pernah nongol.” Wanita ini adalah mantan model semasa dia SMA, tinggi 165cm, kulit putih, dan warna matanya yang hitam menyeramkan menjadi daya tarik luar biasa. “Awal nama kamu disebut sama Pak Tommy, aku kaget, dan berpikir, gak mungkin. Tapi ternyata benar, laki-laki yang sama, sekarang menjadi pemasok wine untuk perusahaan kami.” 

“Aku cuma perpanjangan tangan untuk urusan negosiasi. Aku kesini ingin membahas harga. Kamu tau sendirikan dollar melonjak naik.” Ujarku sekenanya. 

“Hmm, soal itu, jadi ada kendala?” dia menarik botol minuman dari refrigerator kecil disampingnya, dan menuangkan isinya kedalam dua sloki yang sudah terisi rocks. “Nah, minum dulu.” 

“Apaan nih?” aku bertanya, jaga-jaga kalau ini minuman beralkohol. 

Jägermeister.” Katanya sambil meminumnya dengan santai. Sialan, enteng banget nawarin, gak pakai babibu. Jägermeister adalah sebuar liquor asal Jerman yang terbuat dari puluhan sari tumbuh-tumbuhan dengan kadar alkohol yang tinggi. 

“Hmm, maaf, aku gak minum alkohol.” Jawabku. Seketika tawanya meledak. 

“Hahaha, Penjual alkohol, gak minum alkohol?! Yang benar aja, gimana kamu mau jelasin daganganmu?” ledeknya. 

“Aku tau semua jenis wine yang kami jual, aku gak minum bukan berarti aku gak ngerti seperti apa gambaran umum taste-nya ‘kan? Toh, tinggal suruh mereka cicip aja dulu.” Begitulah, aku tau berbagai jenis wine dan seperti apa taste yang dibawanya, meskipun begitu, tetap saja aku tak tau apa benar seperti itu rasa sebenarnya? 

“Balik lagi ke pembahasan De, kami terpaksa menyesuaikan harga dengan dollar sekarang, karna kamu tau sendiri, begitu dollar melonjak, mereka juga membuat keputusan sepihak.” Aku berusaha mengalihkan topik pembahasan. 

“Bos tadi udah mikir sampai kesana, dan udah predict, that you will talk about this. Jadi dia bilang gak terlalu masalah, tapi dia mau ganti pesanan. Shiraz gak jadi, diganti Muscat aja. Bisa?” 

“Okay, gak apa, bisa kami atur.” 

“Hmm, jadi gimana ceritanya kamu bisa jadi supplier wine?” 

Ah, ini ni yang bikin aku gak pernah mau ada orang yang tau aku sekarang kerja sampingan ini. “Karna diajak Tommy.” 

“Gak mungkin karna ajakan Pak Tommy doang.” 

“Ya, karna duitnya lumayan besar juga.” 

“Pernah minum?” 

“Gak. Okay, gini, aku dulu sempat stres karna satu masalah, jadi aku mulai bergaul dengan Ren, temannya Tommy, dia ajarin aku apa itu vape dan membuatku mencobanya beberapa kali. Akhirnya dia ajak aku ke tempat Tommy, awalnya mungkin dia mau ajarin aku minum alkohol, aku gak akan pernah nyicip alkohol, tapi aku jadi tau banyak tentang wine, dan tertarik, akhirnya, ya begini.” Aku berpikir lebih baik ceritakan alasannya, sebelum pertanyaannya semakin aneh.

Puas berbincang, dan mengorek banyak hal dariku, akhirnya aku diizinkan untuk meninggalkan tempat ini. Paling besok juga jadi bahan gibahan di grup. 

*** 

Aku tak langsung pulang, aku sempatkan bertemu seorang sahabat lama, aku ingin menumpahkan unek-unekku selama beberapa hari ini. Seorang ibu yang secara mengejutkan tanpa memberitahu ternyata sudah mempunyai 2 jagoan kecil. Orang yang selalu kupanggil Mbak Manja. Aku tiba disebuah tempat ternyaman untuk bercerita, dan kulihat dia sudah duduk disana, sambil terus ngemil. 

“Dah lama?” Sapaku. Dia pun menoleh sebentar. 

“Gak, cuma udah habis berbagai makanan aja.” Jawabnya agak ketus. Sejenak kami berbincang, mendengarnya dengan penuh semangat menceritakan kedua jagoan kecil, Iv dan Ra. Aku senang mendengar tawa renyahnya menceritakan kedua buah hatinya, meski diselingi keluhan-keluhan yang tak kalah hebohnya. 

“Jadi gimana si Mbaknya?” tiba-tiba dia bertanya, seolah tau apa yang ingin kuceritakan padanya. 

“Ntahlah, Mbak.” Jawabku sambil menerawang jauh. “Kalau boleh, aku ingin bertemu dengannya, menatapnya lekat, sekali lagi saja. Walau setelah itu aku tau pasti gak akan pernah lagi bertemu dia.” 

“Lah bukannya dia udah nikah ya?” 

“Kalau begitu aku berharap dia bercerai, Mbak.” 

“Eh, jangan do’ain yang jelek, kasian Mbaknya! Semoga dia dipertemukan tuhan dengan yang terbaik untuknya, siapa tau aja yang terbaik buat dia adalah Abang.” 

“Lha bukannya kalo gitu sama aja ya? Haha” 

“Emang abang tega lihat dia sedih?” 

“Ya gak tega sih.” Benar-benar ibu, semakin dewasa sejak punya anak. 

“Nah makanya. Emang abang mau dido’ain yang buruk juga sama mbaknya atau sama yang sekarang lagi sama mbaknya?” 

“Ya gak mau.” Jawabku sambil menggaruk bagian belakang leher yang sebenarnya tidak gatal. “Kadang abang ngerasa berdosa juga. Padahal abang tau mungkin mereka sudah bahagia, tapi abang malah datang membawa do’a perusak segala.” 

“Makanya!” katanya sambil memukul pipiku dengan kotak makanan yang dari tadi dia cemil. “Do’ain yang baik-baik aja. Do’a orang teraniaya itu pasti diijabah, kecuali do’anya buruk.” 

“Hahaha, abang teraniaya ceritanya?” kusandarkan punggungku, lalu membuang pandangan kearah pramusaji yang tampak begitu sibuk. “Abang ngerasa kena kutukan. Kutukan gak bisa lepas dari mantan." 

“Itu bukan kutukan, emang dasar abang aja yang gak mau ngalah buat apa yang abang rasa adalah milik abang! Abang gak bisa terus-terusan hidup seperti itu!” Bingo! Tepat sekali, bukan kutukan, tapi karna egoku mengatakan dia adalah milikku. Wanita ini. 

“Abang udah mikir sampai kesana Mbak, abang berpikir harus move, tapi abang kehilangan kepercayaan, bukan kepercayaan untuk menikah, tapi kepercayan bahwa ada orang yang bisa satu alur dengan pemikiran abang.” 

“Kenapa gak kita aja yang menyelaraskan dengan pikiran dengan dia?” wanita itu kemudian meletakkan gelas berisi sodanya. “Somehow, kita harus mencoba hal seperti itu.” 

“Gimana kalau nantinya kita sudah berusaha ikut alur dia, tapi dia malah mengikuti egonya?” 

“Abaaang, cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok. Air yang selembut itu, bisa mengikis batu bang. Kesabaran bisa merubah banyak hal.” Gak salah aku memilih ibu ini untuk menjadi penasehat. 

“Ahaha, bener ih, dasar ibu dua anak. Thanks ibu, you’re the best place that i have in this world. Home that i will never have.” 

You can always call me home bang.” 

Yap, of course, thanks home.” 

“Eh, bang aku pamit dulu, takut si Kecil ntar nangis, lama ditinggal.” Ujarnya sambil membereskan makanannya, dan bergegas pulang, sesaat dia berbalik arah dan melambaikan tangan. 

Ah, aku juga harus segera pulang, takut nanti malah kemalaman gak bisa balik, karna jalan pulang ditutup. Thanks Mbak.
“Serigala adalah lengkungan jurang, monster buangan dan kehancuran.” –Theodore Roosevelt– 

Aku pernah menulis tentang serigala ini sebelumnya, tapi kali ini sedikit berbeda. Aku tidak terlalu ingat saat itu aku membahas bagian mana, aku juga malas memeriksa satu persatu postingan blog ini, meskipun tak seberapa. 

Serigala sering sekali diangkat dalam beberapa cerita. Di Eropa serigala juga masuk dalam urban legend mereka, werewolves, atau Lycantrophe. Mitosnya menceritakan tentang seseorang yang mampu bermetamorfosis menjadi serigala saat bulan purnama. 

Tidak hanya sebagai urban legend, serigala juga menjadi gambaran kepemimpinan. Hal ini dikarena serigala merupakan hewan yang hidup berkelompok dengan satu serigala alpha sebagai pemimpinnya, dimana alpha ini akan bertanggung jawab atas kelompok yang dia miliki. Bertarung, menjaga, menentukan tujuan, sepertinya itu semua dilakukan oleh serigala alpha dengan bantuan beberapa serigala jantan lain. 

Serigala sering digambarkan sebagai hewan yang sangat berwibawa, sama halnya dengan panther. Keduanya dianggap sebagai The Noble atau bangsawan diantara hewan lainnya. 

Namun kebangsawanan ini tak serta merta membuat mereka menjadi penguasa. Karna satu dan lain hal, singa dianggap menjadi raja hutan. Namun, bangsawan tetaplah bangsawan, terkadang sama seperti didunia manusia, bangsawan jauh lebih dihormati dibanding sang Raja yang sebenarnya. Raja menjadi simbol kekuasaan dan kekuatan, mereka ditakuti. Tapi tak jarang pemilik kekuasaan hanya ditakuti, tidak dihormati, sering dicaci, dan kadang diharapkan untuk mati. Sementara bangsawan, lebih menggambarkan kedudukan yang tinggi dan dihargai. Hal ini cocok untuk keduanya, baik untuk Serigala, ataupun untuk Singa. 

“Singa mungkin memang raja hutan, tapi serigala tak pernah bermain sirkus.” Hal ini kembali menegaskan bahwa persepsi kebangsawanan, lebih kuat dan berharga dari pada kekuasaan. Faktanya berkata demikian, meski singa merupakan raja hutan, tidak sedikit Raja hutan yang menjadi tontonan sirkus. Kehilangan harga diri, dan taring yang ditakuti. 

Serigala mengajarkan, kemampuanmu memimpin dan mengarahkan kelompokmu, akan lebih membuatmu disegani, dari pada kekuatan yang membuat kau ditakuti. Orang yang takut kadang mengeluarkan kekuatan terpendamnya untuk membalas, ketakutan akan memicu terjadi pemberontakan, dan pemberontakan mengantarkan pada kehancuran.
Categories:
Setelah perdebatan yang sangat alot dengan diri sendiri, akhirnya aku mengambil keputusan untuk menuliskan konten komunikasi didalam blog ini saja, blog yang sama untuk sesi pelampiasan kekesalan. Awalnya ingin ditulis di blog yang lain saja, dan terfokus, tapi setelah dipikir-pikir, kemungkinan besar hal ini gak akan banyak. Paling juga cuma sekitar 20-30 (mungkin). Hahaha 

Kuharap juga, apa yang kutulis tentang komunikasi disini, akan membantu untuk junior yang sedang menempuh lorong yang pernah kulewati ini. 

Ah, sedikit ucapan untuk kamu. Orang yang padanya kupersembahkan hal ini. Perkenalkan kembali, Aku sudah merubah sedikit namaku, sesuai dengan permintaanmu dulu, kini aku sudah menambahkan S.I.Kom dibelakangnya. Yeeeaaaay *clap*. Tapi dikarenakan wabah COVID-19, dan Pekanbaru sedang panas-panasnya, wisudaku ditunda. 

*** 

Ada satu pertanyaan yang benar-benar sering kali diajukan oleh banyak orang kepadaku tentang jurusan yang kuambil. Kenapa ambil ilmu komunikasi? Apasih bagusnya ilmu komunikasi, kita tu udah berkomunikasi sejak awal kita pandai ngomong! 

Aku berada dijalur komunikasi ini, bukan berarti sedari awal aku sudah membidiknya. Bahkan, tak pernah sekalipun aku berpikir tentang ilmu komunikasi ini. Dasar ilmu yang kumiliki adalah arsitektur, tentunya merupakan sebuah keinginan untuk mendapat gelar sarjana dibidang yang sama, terlebih aku bekerja sebagai interior designer saat itu. Tapi, karna satu dan lain hal, aku tak bisa memenuhi keinginanku itu. 

Kemudian, aku terpaksa melanjutkan kuliah. “Orang tua kuingin kamu sarjana dulu.” Ujarnya sore itu padaku, tak terlalu ingat kami dari mana, paling juga pulang jalan-jalan. Nah dari sana kuputus, okay, aku akan kuliah LAGI. Aku mencari berbagai referensi, dan bertanya sana-sini, kira-kira jurusan apa yang sebaiknya aku ambil, hanya untuk mendapatkan gelar sarjana. Masalah ilmu, bodoamat. 

Harus aku ucapkan terima kasih kepada Tieya Aulia, yang menyebarkan dan meracuniku tentang Ilmu Komunikasi ini. Semester satu dan dua, aku masih berpikir yang penting sarjana. Tapi, sialnya, diminggu awal semester tiga, aku menemukan betapa luar biasa dan asyiknya Ilmu Komunikasi ini melalui mata kuliah dasar penulisan, psikologi, dan pengantar antropologi. Awalnya aku kira rasa suka yang perlahan mulai timbul ini, hanya efek karna lagi belajar penulisan, karna aku sangat suka menulis. Lalu, kemudian aku paham, aku mulai terlalu berkubang main lumpur. Antropologi yang mengajarkan bagaimana manusia dilihat dari aspek komunikasi, menambah kesadaranku bahwa komunikasi itu lebih kompleks dan menyenangkan. 

Sampai pada satu masa, dimana kami disuruh melakukan debat. Diberi waktu untuk memahami materi, kelemahan, dan kelebihan yang akan diserang dan dijadikan tameng. Maklum, pada saat itu, jiwa suka berdebatku sangat menggebu, dengan penuh semangat debat kujalani. Mungkin, temanku yang lain saat itu berpikir “Si Babi ini bisa gak sih diam, tenang, gak usah bikin repot.” karna begitu banyak hal yang kusanggah dan kukritisi. Maafkan aku untuk itu, dan sekarang naluri mendebatku turun sangat drastis. 

Mendekati fase akhir, aku bertemu retorika. Lagi-lagi, bukannya menurun, rasa sukaku justru menenggalamkanku semakin dalam. Hahaha. Aku mulai rajin story telling –yang sudah begitu lama kutinggalkan. 

Diakhir semester, ternyata ada satu teori yang belum kujalani dan terpaksa aku ambil. Komunikasi persuasif. Dosen kami sangat muda, terpaut 4 tahun dariku –ah, atau kami saja yang terlalu tua untuk mulai kuliah? Pokoknya saat itu usia sang dosen 30 tahun. Dia baru mulai mengajar, namun tidak memahami materi yang akan diajarkan, dengan alasan berbeda dari jurusannya, Ilmu Pemerintahan. Hasilnya, aku menggantikannya memberi materi atau anggap saja dia bertanya tentang materi kepadaku, lalu mengajarkannya dengan bahasanya sendiri, kemudian bertanya “udah sesuai gak penjelasannya?”. Ya kalau menurut Ibu dah sesuai, yang lain juga manut Buk. Kalau ditanya ke saya lagi, nanti pasti saya kritisi. -.- 

Sebenarnya, aku sudah mempelajari komunikasi persuasif ini melalui beberapa modul dan buku, salah satunya milik Soemirat. Itu sebabnya aku merasa aku sudah ambil mata kuliah ini, dan ternyata belum. 

Namun, yang paling membuatku jatuh cinta adalah Komunikasi Antarbudaya. Saking jatuh cintanya, mungkin komunikasi antarbudaya inilah yang paling kupahami secara mendalam. Bahkan komunikasi antarbudaya inilah yang menjadi senjataku saat skripsi. Proposal tanpa revisi, sempro perfect with no doubt. Bahkan penguji bilang, “Saya tidak ingin dan tidak perlu komentar, lakukan penelitian secepat yang kamu bisa. Ini seminar paling enjoy yang saya tangani.” Thank you, sir.

Ucapan terima kasih tentunya juga untuk Ibu Pembimbing I yang selalu mendukung dan membantu –karna dia minta penelitian ini diangkat jadi jurnal juga. Kemudian, untuk teman tongkrongan yang jadi dosen dan pembimbing II gue, lu emang bener-bener. Main acc aje lu. By the way, lu luar biasa. Gue jadi ngerasa telat banget buat lulus. Hahaha. 

Setelah menghabiskan waktu yang cukup panjang bersama Ilmu Komunikasi, maka kini aku mampu menjawab pertanyaan mereka dengan tegas. Pertama, aku ambil Ilmu Komunikasi ini karna komunikasi mampu membuatku mendominasi kalian. Memerintah tanpa membuat kalian tersinggung dan merasa rendah, mengambil milik kalian tanpa membuat kalian merasa keberatan atau kehilangan –ini dari sudut kurang ajarnya aja ya HAHAHA. Ilmu komunikasi ini nampaknya memang remeh, tapi percayalah, ilmu komunikasi itu, jika kalian pelajari dengan benar dan serius, mampu membantu kalian meraih tempat yang ingin kalian datangi, tahta yang ingin kalian duduki, dan harta yang ingin kalian monopoli. 

Kedua, memang benar kita sudah berkomunikasi sejak kita mulai berbicara, tapi ilmu komunikasi tidak mengajarkan bagaimana kalian berbicara saja (retorik), tapi juga bagaimana kalian mengelompokkan audiens memahami mereka, lalu membungkus pesan sedemikian rupa agar dapat mereka pahami dan dapat mempengaruhi. Ibarat lagi bikin ice cream untuk kekasih, kalian cari tau dulu dia suka vanilla atau coklat, lalu suka almond apa gak, kemudian seberapa manis yang dia ingin dan tolerir. Setelah tau, dibuat, lalu berikan padanya, itu akan membuat dia semakin jatuh cinta. Seperti yang nona itu dulu lakukan padaku –cieee curhat. Nona itu ilmu pakar komunikasi yang luar biasa untukku. Hahaha. 

Nanti mari kita bahas materi tentang komunikasi ini satu persatu, dan sebisaku. Okay? Good!
Akhirnya setelah sekian purnama, kita kembali bertemu. Ada berbagai rasa yang bercampur aduk dalam hatiku. Kamu masih terlihat sama, belum ada perubahan. Hanya saja kali ini, ketika aku memanggilmu, hanya ada dua hal yang terlihat dari matamu, ketidak kenalan, dan kebencian sepenuhnya. Tak mengapa, memang sudah sepatutnya begitu. Paling tidak, aku masih diizinkan Allah untuk bertemu denganmu, meski tidak menghapus rindu, tidak apa, apa lagi yang bisa kuharapkan dari kita? 

Kadang ada rasa ingin mengetahui apakah dia baik-baik saja, tapi ada banyak hal yang menghalangi, termasuk mengingat pesan text terakhirku tidak direspon sedikitpun. Hahaha. 

Aku kelelahan dengan semua hal yang kukerjakan, setelah sekian lama, akhirnya aku mengalami kembali fase insomnia yang memakan waktu berhari-hari lagi. Tapi tentu saja pekerjaan tetap harus selesai tepat waktu. Terlebih skripsi dan proposal mahasiswa/i pemalas yang kukerjakan begitu banyak. Orientasi kerjaku masih sama, uang. Hasil sampingannya, otakku mendapat tambahan ilmu yang membuatku memiliki semakin banyak sudut pandang, dan semakin egois untuk diriku sendiri. 

Perlahan, kusadari blog ini mulai terlihat seperti teh botol yang mulai kehilangan jati dirinya dan muncul dalam bentuk kalengan. Apaan dah, lu kan teh botol? Kok kalengan sih? Astaghfirullah. Dah ah, ini blog juga mulai nampak seperti itu. Mulai lupa untuk siapa dia dibuat, dan kepada siapa dia didedikasikan. Padahal dia didedikasikan untuk seorang Hara, manusia super egois, yang lahir akibat tekan mental berlebihan kepada seorang bocah SMA, 9 tahun yang lalu. 

*** 

Bicara tentang jati diri, aku teringat sosok Lumikki. Lumikki adalah gadis cerdas, seorang snow white yang tangguh. “Kita tak akan pernah mengenal seseorang sepenuhnya, seperti kita mengenal diri kita sendiri. Bahkan jika itu orang tuamu sekalipun.” ujarnya. 

Untuk beberapa saat aku berpikir keras. Bagaimana bisa kita tidak mengenal orang tua kita sepenuhnya. Namun beberapa saat kemudian, jawabannya terlihat jelas. Tentu saja itu benar. Kau mengenal dirimu sejak pertama kali kau mampu merekam dalam memorimu. Mungkin kurang lebih sejak usiamu 5 atau 6 tahun. Itu sebabnya kau bisa dikatakan mengenal dirimu sepenuhnya, kau tau apa kebiasaan baik burukmu, kau tau apa yang telah kau lakukan, kau tau apa yang sedang kau pikirkan. 

Eric B. Shiraev, dalam bukunya mengatakan bahwa ada proses kognisi yang berjalan dalam proses pemaknaan secara psikologis, yaitu sensasi, persepsi, dan keadaan kesadaran. Sensasi berawal dari stimulus yang lingkungan berikan kepada kita, dan kita kirim melalui sensor indra menuju otak. Kemudian seluruh sensasi itu akan diterjemahkan secara empiris, dengan segala pengalaman yang kita miliki. Hal ini tidak lepas dari keadaan kesadaran, sehingga kita bisa memilih apa saja yang kita respon. Jelas terlihat, bahwa dalam mengenal atau memaknai, kita akan menerjemahkannya berdasar pengalaman dan kesadaran. Sekarang muncul pertanyaan, bagaimana mungkin kita tidak mengenal orang tua kita, sementara kita ada bersama mereka sepenuh hari. 

Sederhananya adalah, setiap orang memiliki masalalu. Lalu, apa kau bersama orang tuamu sejak orang tuamu masih kanak-kanak? Tentu saja tidak. Apa kau tau apa yang dilakukan orang tuamu saat mereka remaja? Tentu saja hanya berdasar apa yang mereka ceritakan, dan aku yakin, setiap orang tua yang ingin anaknya tumbuh baik, akan mengajarkan anaknya hal baik. Saat mereka berceritapun, mereka akan memilih untuk bercerita hal yang baik-baik untuk memotivasi kita untuk menjadi baik juga. Semua kekhilafan dan kesalahan mereka akan mereka simpan rapat-rapat. Sementara, tindakan seseorang menurut Elizabeth Hurlock, juga dipengaruhi oleh faktor empiris, pengalaman akan membantu seseorang mengambil tindakan, dan tidak jarang juga pengalaman membentuk kepribadian. Lalu, bagaimana kita bisa mengenal mereka sepenuhnya? Tentu minim kesempatan untuk itu. Itulah sebabnya, kita hanya dianjurkan menasehati dan mengajak seseorang pada kebaikan oleh Rosulullah, bukan mencampuri keputusan, tapi hanya sekedar menyarankan. 

Pun begitu dengan pasangan, untuk dapat mengenal lebih baik, ada tiga hal yang harus dijaga, keterbukaan, rasa percaya, dan saling mendukung. Itu dapat membantu untuk lebih kenal dengan pasangan kita. 

*** 

Mungkin aku masih belum sepenuhnya mengenal dan memahamimu Zwei Yuki, tapi aku masih ingin terus belajar, dan menjalaninya seperti yang telah lalu, maaf kalau aku belum bisa menyerah pasrah.
Categories:
Selamat datang ke dunia Bidadari Kecil sahabatku, Aiza Hanifatunnisa, Am i correct, ca? Kalau salah, tolong tulis yang benar di kolom komentar yaa. Kalau benar, berarti ingatanku masih cukup baik untuk sesuatu yang luar biasa mudah terlupa olehku.  [Dan ternyata bener salah, nama si kecil itu Aiza Shafiyatunnisa. 11 Januari 2020]

Okay, aku tak tau apa nak aku cakap, sebab aku tak bagi apapun kat baby kecik ni. Aku senang tengok baby, tapi aku tak nak kerumah awak sebab aku pun tak datang masa awak married kan. So, aku nak cakap sikit je “Berkah pertama korang di awal 2020 adalah bidadari lugu, lucu, yang membuat seorang pria enggan nak buat hal macam-macam. Allah give you something special in the first week of the year. Maybe itu pertanda berkah kat korang lah.” 

Okay, cekippp. 

Berbeda sedikit dari sahabatku yang baru saja mendapat momongan, aku malah membuat kesalahan (sepertinya) untuk mengawali tahunku dengan menyimpan kembali nomor Nona Petrichor di list kontakku. Tapi, aku rasa it’s okay, aku pun tidak ingin lebih lama membohongi diri sendiri, itu sikap yang bodoh. Aku tak bisa lupakan dia. Jadi, biar Allah yang beri aku petunjuk. 

“Lama pun encik begalau sebab itu, muak aku dah.” Nak cakap macam tu ke? Tak apa, aku pun letih, tapi mau bagaimana lagi. –Eh, rase pelik sangat benda ni. 

*** 

Senandung Secondhand Serenade dari dua album tuanya, Awake dan A Twist in My Story, nyaris setiap hari terputar di playlist laptop, menemani segala rusuh resah akibat berbagai hal, dengan tangan yang terus mengetik skripshit yang sudah di tahap finishing, meskipun aku tak tau benar apa yang sebenarnya kutulis. Bersyukur, sejauh ini, tak ada protes, tak ada revisi besar maupun kendala lainnya. –ah ini juga undangan terbuka untuk membuat kerusuhan di acara yudisium dan wisudaku, aku di garda depan, so i’ll be prepared... 

Februari masih lama, itu tandanya, masih lama pula aku harus berjuang dengan hal –yang aku yakin kamu tau itu, nona. 

Selama aku mengetik, dan proses edit beberapa video dan foto hasil jepret sana-sini, aku akan berhenti saat lagu “BROKEN” terputar, seolah itu adalah pertanda untuk istirahat selama 3 menit 53 detik. ♪Is it broken, can we work it out? Let’s light up the town, scream out loud! 

*** 

2020, aku rasa ada sesuatu yang besar yang harusnya aku rayakan ditahun ini, tapi sudah memburam, dan aku tidak lagi tau apa itu, yang kutahu, sepertinya ditahun ini, aku harus me-reset segala hal, semua dari awal. Tapi nampaknya aku sedikit salah membaca strategi yang kususun, sehingga bukannya menekan tombol reset, aku malah me-redo semuanya, termasuk hal yang ingin aku tinggalkan untuk menjadi masalalu. 

Beberapa teman, mulai membicarakan resolusi untuk 2020 mereka. Aku hanya bingung, mereka membuat resolusi “lagi”, apakah resolusi 2019 mereka benar terealisasikan dengan baik? Sebenarnya untuk apa mereka membicarakan resolusi, dimana resolusi tahun lalu saja belum ternyatakan. Namun, pembahasan tentang itu justru sedikit menyinggung mereka. Aku sendiri, ketimbang membuat target yang ingin kucapai, aku lebih ingin –atau lebih tepatnya mencoba untuk jadi peribadi yang lebih baik dari yang udah-udah, meskipun itu hampir selalu gagal kucapai. 

Tapi berbeda sedikit dari tahun yang sudah-sudah, aku benar-benar ditempa oleh 2019. Dan paling tidak aku bisa katakan dengan penuh keyakinan, aku adalah pribadi yang lebih baik kini –dalam beberapa hal dan kondisi. Orang yang mengenalku pun, kurasa sependapat. Mengalah, lebih tenang, memahami arti dan maksud dari kata maaf. Aku beruntung, masih sempat memperbaiki hasil dari kebodohanku di masa silam sebelum kematian menjemput. Hanya saja, ada beberapa dosa, yang belum terhentikan sepenuhnya. 

Tak banyak harapku pula untuk tahun ini, aku hanya ingin, apa yang sudah kuperbaiki, bisa jadi lebih sempurna. Dan aku hanya bermimpi untuk dapat mengulangi beberapa hal yang dulu pernah menjadi nyata dalam hidupku, meskipun itu mustahil. 2020 juga merupakan tahun yang pernah dinanti-nanti, semoga memang akan seindah impian itu. mungkin daripada kusebut me-reset, akan lebih tepat jika kusebut me-restart. 

Dan, aku minta maaf karna aku terlambat saat itu. Hari ini, adalah hari yang sama saat aku memohon kala itu, dan pernyataanmu adalah “Kamu sudah terlambat. Sangat terlambat.” 

Maaf.

-From: Puca-