Juni 2020, Allah memberiku banyak kebahagiaan. Bagaimana hubunganku dengan sang Ratu Tanpa Sanggah membaik, keuangan yang akhirnya kembali bisa dibilang luar biasa, dan banyak lagi hal lainnya.
Ah, satu lagi, setelah sekian lama tidak melihat bagaimana bentuk pemandangan dari ketinggian, akhirnya rindu bisa kembali disalurkan meski tidak hilang. 21 Juni lalu, aku dan Donquixote memutuskan untuk mendaki Gunung Marapi, mendadak, tanpa persiapan, dan hanya berdua. Mungkin ini bisa dicatat sebagai pendakian paling berani yang kulakukan. Saking rindunya, aku tak lagi memikirkan bagaimana paha, dan pundakku akan mati rasa setelah pendakian akibat tidak adanya olahraga.
Berangkat dari rasa jenuh PSBB, begitu new normal berlangsung, kami juga tanpa pikir panjang memikirkan perjalan yang akan melelahkan itu. Hari ini rembuk, besoknya beli perlengkapan, dan di hari ketiga langsung berangkat. Awalnya aku tentu berpikir ini akan menjadi pendakian menyenangkan sama seperti yang lainnya.
Aku sempat mencari tau bagaimana kondisi lokasi melalui rekan yang ada disekitar Marapi, dan jawabannya valid serta konsisten, cuaca unpredictable.
Benar saja, kami singgah sejenak untuk menjemput carrier dan sleeping bag di kampung halamanku, Batu Payung. Disana cuaca sudah mulai terasa dingin dan lembab. Sebenarnya perjalanan ini tidak melelahkan, namun ternyata ego Donquixote itu besar, dan memakan kecerdasannya, kenapa? Dia sadar bahwa dia tidak begitu baik dalam mengemudikan motor tapi seolah tidak ingin aku yang membawanya. Alhasil, seluruh lubang yang ada dijalan dimakannya. Pantat jadi mati rasa, ditambah pundak serasa mau putus menyandang dan menahan carrier yang lumayan berat menghantam seluruh lubang yang ada. SIAL.
Sebelum sampai di lokasi pendakian, hujan lebat juga sudah mulai melanda. Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan saat hujan mulai terlihat reda.
Start dari jalur resmi Padang Luar, kami memulai pendakian meski masih sedikit gerimis. Tapi, jalur pendakian jadi benar-benar berat, penuh lumpur, licin, dan menyebalkan. Ini kali kedua aku merasakan perjalanan seperti ini.
Donquixote masih terlihat baik-baik saja. Semua masih aman dan terkendali.
Senja sudah mulai berganti malam. Gerimis tak kunjung berhenti. Orang-orang masih banyak yang hendak turun. Marapi memang terkenal sangat ramai jika malam minggu, dan saat hari minggunya jalur akan penuh oleh pendaki yang hendak turun.
Suasana mulai berubah mencekam, beberapa orang yang turun mulai menunjukkan gelagat aneh. Diantaranya adanya yang kakinya sudah sulit digerak, dan ada seorang wanita yang terus meracau dan membentak rekannya, beberapa berkata dia kesurupan. Hujan bukannya berhenti malah semakin hebat. Kudengar teriakan-teriakan berasal dari bawah kami, dari para pendaki yang baru saja turun. “Tolong! Ada korban!” teriakan itu jelas sedikit memiliki rasa putus asa. Disambut teriakan keras lagi dari atas kami “Allahu Akbar!” Mendengar itu sepertinya rekanku mulai gelisah.
Jujur saja, aku merasa biasa saja, dan sedikit lucu akan hal tersebut. Dalam otakku muncul pertanyaan “Bagiku Allah akan melindungiku, santai, apa kalian setakut itu pada setan dan yang kalian sebut hantu itu? Dimana rasa takut kalian terhadap sang pencipta.”
Bagiku, pendakian yang kulakukan, juga untuk mengagungkan Allah, tuhan yang menciptakan segala keindahan tersebut. Lantas, apa yang perlu kutakutkan?
Donquixote kembali memperlihatkan kegelisahannya. Hujan semakin lebat, dan kami memilih untuk mendirikan camp di sebuah tanah lapang yang cukup luas, cukup jauh dari jalur, dan hanya kami dikelilingi pohon besar dan semak belukar. Tak apa, santai.
Tenda berdiri, kami memutuskan istirahat. Selang satu jam, kulihat Donquixote mulai tertidur. Mataku masih enggan, aku merasa diawasi. Kemudian, kudengar ada suara sesuatu yang menggaruk tenda di bagian pangkal telingaku. Hujan semakin kuat. Bodohlah, mau kau apakan juga tenda ini, aku takkan mengeluarkan kepalaku. Aku gagal beristirahat.
Pukul 4 subuh, hujan mereda, kami mulai keluar dari tenda, masak, makan dan bersiap melanjutkan perjalan setelah sholat subuh.
Kami terus berjalan, tanpa jeda, hanya istirahat kecil untuk menarik nafas. Tak jauh dari cadas, Donquixote mulai menunjukkan gelagat yang aneh. Dia mulai menyampaikan beberapa protes. Protes karna belum sampai cadas, protes karna seolah perjalanan terlalu jauh –padahal mendaki Marapi memang butuh 6-7 jam menurut pernyataan para veteran kenalan, dan 8-10 jam oleh para rekan amatiran, terakhir dia mulai berkata “Jika dalam 30 menit kita belum melihat puncak, kita turun saja.” Sialan anak ini.
40 menit, dan kami akhirnya tiba di Cadas, dia terlihat sedikit sumringah. Setelah makan, dia langsung mengajakku untuk segera turun dan pulang hari ini juga. “Fuck, what the hell? Baru juga sampai. Kita nginap malam ini.”
“Gak, turun aja, kita gak punya banyak waktu” ujarnya.
“Yaudah, sampai tugu Abel deh.”
“Jauh tu.” Dia kemudian mengklaim Abel jauh, padahal aku tau pasti Abel hanya butuh 20 menit perjalan, tak selama itu. Aku sudah lama mengalahkan egoku, akhirnya dari pada berkelahi –yang notabenenya dia bukan lawan yang sepadan juga, aku ikuti pilihannya. Turun. Ni anak nampaknya keteguran pas mendaki, ah lucu.
Kami turun. 4 jam. Setengah dari total waktu pendakian. 5.30, kami melanjutkan perjalan pulang ke kampungku. Dia bertanya “Berapa lama?” aku sudah menjelaskan padanya, dari Kota Bukit Tinggi ke Kampungku makan waktu 1 jam 30 menit. Lalu dia mengebut motor BEAT-nya yang kurang bertenaga itu.
Pukul 7 kami tiba dirumah nenekku, lega rasanya carrier sudah turun dari pundakku. Tiba-tiba dia menghampiri “Aku percaya padamu saat kau bilang hanya butuh 1 jam 30 menit, tapi ternyata selama ini.”
FUCK, emosiku membludak.
“Kita berangkat dari sana pukul 5.30, dan langsung kesini! Cek jam tanganmu, pukul berapa sekarang?!”
“7!”
“Dari 5.30 ke 7 itu satu setengah jam, sakit kau ni!”
“Lama pokoknya.” Sialan, merasa lama jangan salahkan total waktu. -.-
“Ambil wudhu', Sholat sana!” aku mengingatkannya.
“Kau saja duluan.”
“Aku mau istirahatkan pundak, kau kira enak nyandang carrier dari Pekanbaru sampai puncak dan balik kesini? Pegal.” Setelah aku mulai menaikkan nada suaraku, dia akhirnya pergi.
Dulu, para veteran pernah mengatakan padaku “Pergilah mendaki, kau akan menunjukkan siapa kau sebenarnya, sebesar apa egomu, dan seperti apa watakmu.” Ternyata benar, kau akan menunjukkan semua karna dipengaruh beberapa hal, diantaranya kelelahan, dehidrasi, dan jenuh.
Beberapa teman sesama pendaki menyayangkan sikap itu. Tidak ada solidaritas disana. Kami bukan amatir, dan harusnya mengerti hal itu, aku juga bingung. Keteguran ternyata merepotkan juga.

0 komentar:
Posting Komentar