Pluviothentic

www.storydecember.blogspot.com
Here lies the rain of my days, and the roots of who i am.
About Me
Hanya kumpulan tulisan otentik milik seorang pecinta hujan yang kebetulan senang blogging.
Banyak hal yang kurindukan saat ini. Aku rindu berkumpul bersama teman-teman dikampus, aku rindu bertukar pikiran dengan para dosen dan mahasiswa lain, aku rindu materi yang disampaikan teman-teman saat presentasi dan rindu mengkritisinya, yang lebih besar, AKU RINDU MENGAJAR. 

Belakangan orientasi aktivitas adalah membuka twitter→whatsapp→nonton→nulis, begitu terus sampai aku sendiri mulai jenuh, rotasi yang tak bermanfaat memang. Mengikuti pemberitaan kebijakan yang dibuat pemerintah, juga hanya akan menambah kejenuhan, dan kekhawatiran. 

Akibat rasa bosan yang makin menjadi, akhirnya aku mencoba mengumpulkan beberapa teman, melakukan pertukaran pemikiran. Banyak hal yang menjadi fokus perhatian kami saat itu. Mulai dari bagaimana dampak Covid-19 pada kehidupan sosial di daerah kami, menurunnya moralitas dan sopan santun remaja, isu yang sedang naik, hingga bagaimana diri kami saat ini. 

Pembahasan sesekali sedikit bergerak menjauh, meluber tanpa bisa dibendung. Diselingi beberapa canda, saling jatuh menjatuhkan, ini bukan hal aneh, beginilah kami. Terkadang menyakiti, namun tak ada yang merasa tersakiti. 

“Aku sempat mencoba merubah beberapa remaja dilingkunganku, membuat komunitas, dan memberi pengarahan. Tapi tetap saja tidak bisa, mereka sudah menjadi batu.” Ujar Jerm saat pembahasan kembali pada topik. 

“Ya, elu ngumpulin mereka, dikasih wejangan, abis itu bagi-bagi link bokep, mau berubah gimana?” yang lain nimpali dengan candaan. 

“Enak aja, aku kalau link bokep buat koleksi pribadi, ah elu.” 

“Tapi serius, aku juga melakukan hal yang sama, dan pada akhirnya juga gitu. Saat ada kita, mereka ngangguk, kita bubar, mereka lanjut.” Kali ini Siam menyetujui pernyataan Jerm. 

“Kau tidak bisa merubah orang lain sesukamu. Tapi kau bisa merubah dirimu sendiri. Masalah orang lain, biar jadi pertanggung jawaban mereka.” Yonta akhirnya menjadi sosok yang berpikir rasional kali ini. 

“Atau, kau bisa merubah dirimu untuk menginspirasi orang lain, jadi mereka bisa ikut berubah juga.” Kataku sekenanya, mengingat buka puasa juga sebentar lagi. 

Mereka hanya diam, melihat kearahku. Kemudian Yonta membuka suara “Pikiran pak tua mulai jadi lebih dewasa belakangan.” Hahaha, sial. 

Aku selalu berpikir seperti itu, karna aku juga tidak ingin berubah untuk menyesuaikan diri dengan orang-orang. Aku bukan bunglon yang berkamuflase untuk adaptasi dengan lingkungan. Saat diajak atau diminta untuk berubah oleh seseorang, yang akan dirasakan hanyalah keterpaksaan, dan itu hanya akan memberikan efek sementara. Revolusi hanya akan memberi perubahan kulit luar, karna revolusi bergerak cepat, instan, dan tidak menyeluruh, itu sebabnya evolusi adalah tujuanku. Berubah secara bertahap, namun memiliki efek yang permanen. 

Merubah diri sendiri tidak hanya akan mempengaruhi diri kita saja, namun akan memberikan seleksi alam pada orang-orang yang ada disekitar kita. Orang-orang yang merasakan ikatan emosional, dan menganggap kita penting, akan menyesuaikan diri dengan sendirinya, bukan karna terpaksa, tapi karna merasa terinspirasi. Sementara orang yang merasa kehilangan kecocokan dengan kita setelah perubahan yang kita lakukan, akan tergusur, mereka akan pergi dan menghilang. 

Bagiku, ada sedikit lonjakan perubahan di akhir 2019 –meskipun kembali memburuk di tahun 2020. Aku mampu mengekang ego, aku juga bisa lebih sabar menahan lidah dan suara, aku juga sudah bisa menghapus dendam –walaupun tetap membenci. Namun, itu baru bisa kucapai setelah merasakan kehilangan yang sangat besar. 

Akibat perubahan ini, seleksi alam juga terjadi. Perlahan, orang-orang yang tidak nyaman dengan perubahanku mulai menjauh, aku banyak kehilangan teman-teman yang memang tidak cukup baik menurutku sekarang. Tapi, allah tetap akan mengganti yang hilang dengan yang lebih baik. Mereka yang pergi dari siklus pertemananku tergantikan, bukan oleh teman baru, tapi dengan membuat teman yang tersisa juga melakukan perubahan yang sesuai denganku. 

Bagiku, diusia yang mendekati 30 tahun ini, kini bukan lagi mengenai kuantitas, tapi tentang kualitas. Aku sekarang akan dengan mudahnya mengganti 100 teman yang membawaku pada jalur yang buruk dengan satu teman yang senantiasa mengingatkanku pada hal baik. 

Bukan lagi tentang menghabiskan waktu dan menawar jenuh, tapi tentang kesamaan pemikiran dan kecocokan pola. Berubah kepada kebaikan, tidak hanya membuat kita menjadi pribadi yang baik, tapi juga akan memperbaiki siklus sosial dan pertemanan kita.
Categories:
Haiiyoooo!! Gak kerasa udah Romadhon hari ke-11 atau sekarang sudah bisa dibilang malam ke-12. Waktu terasa begitu cepat berlalu. Padahal rasanya baru beberapa waktu lalu Romadhon datang, sekarang udah tinggal setengah aja.

Tapi akibat pandemi Covid-19 ini, Romadhonnya makin gak berasa. Gak ada tarawih berjama’ah, gak ada sholat jum’at, gak ada kajian, dan mungkin gak akan ada i’tikaf tahun ini. Walaupun pemerintah sudah menetapkan PSBB, tidak ada perubahan yang signifikan, konon angkanya masih terus meningkat. Suatu hari nanti, aku mungkin akan menceritakan pada anakku, bagaimana ayahnya selamat dari pandemi ini –ya kalau selamat sih. 

Romadhon tahun ini, menjadi Romadhon yang cukup unik, dimana 15 Romadhon jatuh pada hari jum’at, bagiku ini sesuatu yang bagus. Namun, kemudian muncul rumor-rumor yang disampaikan (katanya sih) oleh seorang ustadz dalam ceramahnya. Sebuah rumor pembodoh dan penanaman rasa takut selain pada Allah menurutku. 

Dia mengatakan bahwa jika 15 Romadhon jatuh pada hari jum’at, maka akan ada sesuatu yang mengerikan akan terjadi. Dia mengutip dari sebuah hadits. Sayangnya, oknum yang menyebarkan rumor ini, tidak mengusut hadits tersebut sebelum menyampaikannya –mungkin dia merasa keren karna tahu hadits ini. 

Hadits ini bukan saja hadits dhoif, tapi hadist ini adalah hadits palsu, ini dikarena perawinya didhoifkan oleh ulama masyhur, seperti Abu Daud. Salah satunya adalah Nu’aim bin Hammad, Abu Daud mengatakan bahwa Nu’aim bin Hammad sudah meriwayatkan 20 hadits yang tidak ada dasar sanadnya. 

Yang lebih disayangkan lagi adalah, masyarakat yang miskin literasi ini juga banyak yang enggan untuk menelusuri hadits tersebut sebelum mereka semakin menyebar luaskannya. Hal ini sering terjadi dalam whatsapp grup keluarga. Salah satu teman mengaku bahwa dia mendapat kecaman keras setelah membantah rumor yang disebut ad-dukhan itu. Ini membuktikan bahwa masih banyak para pemalas yang berusaha untuk terlihat keren tanpa mempelajari sesuatu dengan saksama. 

“Kami sharing, untuk berbagi info! Harusnya kamu gak bicara begitu!” sebagian ada yang berkata seperti itu saat aku dulu membantah keras hoax yang merajalela dikampus. Aku bukan tipe orang yang akan dengan suka rela menggangguk tentang sesuatu yang aku tau salah, tapi aku bersedia berdiskusi untuk mencari kebenarannya. 

Okay, sekarang mari berpikir begini. Berapa banyak orang tua diantara kita yang tidak melek akan teknologi informasi? Berapa banyak kawan-kawan kita yang akibat tidak mampu, tidak bisa mengakses informasi secara detail? 

Sharing is caring, right? 

Kita bisa mencaritahu detail informasi sebelum kita share adalah salah satu wujud dari care kita kepada mereka yang disebutkan diatas. Aku tidak ingin keluarga menerima informasi sampah yang tak jelas, aku tak ingin mereka terbodohi oleh orang dengan paham “yang penting share” ini. Itu sebabnya aku berprinsip “saring before sharing, because sharing is caring”. Aku tak akan menuntut itu dari orang lain, karna aku berusaha sadar bahwa ini juga tugas. Bijak dalam membagi informasi, pintar dalam mengambil sumber, serta jenius dalam bernarasi adalah pola yang aku ingin orang-orang lihat dariku –meskipun setengah mati aku melakukannya karna tindakanku hampir selalu dipengaruhi ego. 

Sudah saatnya bagi kita menjadi orang yang cerdas dalam menggunakan teknologi informasi. Jika tidak, kita juga nanti akan tenggelam dimakan perkembangannya. Terima kasih, dan aku mohon maaf buat kalian yang kadang kubuat tersinggung dalam tulisanku, meski Romadhon sudah mau habis, kurasa tidak ada salahnya untuk saling memaafkan. Haha
Categories: