Pluviothentic

www.storydecember.blogspot.com
Here lies the rain of my days, and the roots of who i am.
About Me
Hanya kumpulan tulisan otentik milik seorang pecinta hujan yang kebetulan senang blogging.
“Pergilah, temukan penawar kejenuhanmu, Harry. Kau telah membiarkan banyak hal menempuk dalam pikiranmu. Tenanglah, hidup untuk dirimu sendiri.” Pesan akal sehatku sore itu, 21 Desember 2019, membuatku melangkah menuju tempat yang sudah cukup lama tak kudatangi. Anjung Seni Idrus Tintin. Terakhir aku menikmati tempat ini adalah saat pentas seni tahun 1999, saat aku ikut serta dalam festival budaya. Aku tampil dalam sebuah tarian yang aku sudah tak ingat itu tari apa. 

Hal yang kini tak pernah lepas dari tanganku adalah kamera. Seringkali aku lupa membawa gawaiku, dan membuat banyak orang mengamuk karna susah dihubungi. Tak masalah, karna saat aku sadar aku lupa membawa gawaiku yang terpikir olehku hanya satu, tak apa asal kamera ada ditanganku. 

Aku memang tak merencanakan kunjunganku ke Idrus Tintin ini. Namun, betapa beruntungnya aku, aku datang disaat yang tepat, sore itu ada teater dengan tajuk “Karang Pohon”. Penampilan mereka benar-benar membiusku, suara sang Gajah Tunggal tanpa pengeras suara mampu menggema sejauh 400 meter dari posisi ku berdiri. Perlahan kudekati mereka, sudah ramai. Satu hal yang membuatku kecewa adalah, aku lupa membawa lensa tele, yah seminimalnya aku harus membawa lensa kit untuk dapat menikmati penampilan ini dari jarak cukup jauh. Argh, sial. Kunjunganku disini pada awalnya hanya untuk mencari beberapa orang yang sedang bermain skateboard atau sedang berlatih panjat tebing, jadi lensa fix saja cukup kurasa, dan perkiraanku salah. Ada hal yang lebih menarik ternyata. 

Kedatanganku yang sedikit terlambat, membuatku hanya menikmati acara tersebut kurang dari 40 menit. Berjalan mengelilingi Idrus Tintin, aku melihat beberapa anak menggunakan baju adat, satu sedang berpose untuk difoto temannya, yang lain sedang mengulang gerakan. “May i take your photo, miss?”, dia terlihat bingung saat aku bertanya, lalu kuulangi pertanyaanku lagi “Boleh saya foto gak?” sontak dia langsung tersenyum sambil menutupi wajahnya sedikit, aku paham, berarti dia tidak ingin, mungkin dia merasa malu. 

Kucairkan suasana sejenak, bertanya dalam rangka apa mereka menggunakan pakaian adat. “Oh, ini lagi acara Milad Sanggar Seni 412 UNRI, Bang.” Jawabnya ringkas. 

“FEKON?” 

“Saya iya.” 

“Andri, Fahmi, sama Fadil semester 5 datang gak?” 

“Datang, paling bentar lagi sampai tu.” 

“Apa alumni tak diundang?” tanyaku lagi. 

“Diundang kok. Tapi acaranya jam 8 malam, Bang.” 

“Hmm, gitu ya.” Setelah merasa agak cair, aku mulai mengambil beberapa gambar, dan bertanya beberapa nama angkatan 2013. Pertanyaan itu membuat mereka terkejut. 

“Abang Alumni kami?” tanyanya yang hanya kujawab dengan senyuman. Maaf mbak, aku bukan alumni, hanya saja pernah berada disana. “Abang gak dapat info ya?” 

“Gak, tiket juga gak ada.” 

“Tenang abang, aku yang pegang buku tamu.” Jawab Salsa kemudian dari anak tangga paling atas. Ternyata sedari tadi dia mendengarkan. “Abang masuk aja, nanti Salsa anggap ada tiket.” 

Tak sampai disana, masih ada hal yang mengejutkanku. “Bang Harry?” ujar seorang pemuda menepuk pundakku. 

“Iya?” kataku kaget, dan berpikir, siapa lagi ni anak? 

“Bang, aku Teguh, ketua sanggar yang sekarang.” Ujarnya, ya Allah, ketua sanggar yang lama aja aku gak begitu kenal. Hanya saja aku beberapa kali ada main disana karena satu dan beberapa hal lainnya. “Abang nonton nanti ‘kan? Masuk lah, ada teater.” Tentu dengan senang hati, aku memang sangat ingin mengambil gambar acara ini. 

Sebelum acara dimulai aku sudah berada didalam, dan mengambil foto persiapan mereka. Banyak hal lucu disana. Ada seorang penari dengan baju adat yang sedang mendandani wanita yang hanya pakai baju kaos biasa. Aku bingung, harusnya yang pakai suntiang yang didandani, ini kenapa malah sebaliknya. Ada juga penari yang sedang mengulang gerakan, tapi saat kuarahkan kamera kearahnya, dia langsung duduk rapi. Haha konyol. 

Aku sedikit takut saat Dekan 3 Fakultas Ekonomi memandangiku, dan seolah bertanya pada seseorang disebelahnya, “Dia angkatan 2013, kamu kenal? Ingat?” tenang Pak, aku FEKON UNRI angkatan 2013 pada masanya. Bapak tak akan ingat. 

Acara dibuka, biasa, tak ada yang terlalu menarik perhatian, hanya kelompok musiknya saja, dibuka dengan suara akordion, mereka memainkan lagu Selayang Pandang, membuat pikiranku menerawang jauh tentang seseorang yang senantiasa menyanyikannya untukku dulu. Hal ini pula yang membuatku lebih mencintai budaya Melayu ketimbang Minang sebagai darah yang mengalir. 

Tak cukup sekali membuat pikiranku menerawang jauh akan memori lama, grup musik kampret itu memainkan dua lagu lagi, Lancang Kuning yang dipopulerkan Jamal Abdillah, dan lagu Iyeth Bustami, Tanjung Katung. 

Susunan yang mereka rancang cukup menarik. Tajuk Milad ini adalah "keluarga". Puisi demi puisi dibawakan dengan sangat apik dan rapi, hanya satu kekurangan mereka, tempo dan intonasi yang digunakan nyaris sama antara penampil satu, dua, dan tiga. 

Satu hal yang kemudian membuatku kagum dan kaget adalah, teater yang mereka bawakan. Ntah karna aku yang memang tengah berperang dengan keluarga, atau hanya aku yang mudah merasa akan sesuatu, tapi teater itu merasuk kedalam hatiku. Dimulai dari cahaya redup dan fokus pada mayat sang Ayah, teriakan demi teriakan yang ia lakukan benar-benar terasa penuh kesakitan, dan aku merasakan hal itu. Yang lucu adalah, mereka meniru salah satu adegan dalam film Joker, saat joker menangis dan tertawa sambil menari. 

Kental rasa kekeluargaan dalam teater ini semakin kuat dengan penampilan stage II, saat tokoh utama pergi dari rumahnya, dan dalam perjalanan bertemu dengan sebuah keluarga kocak yang keren. Aku tak bisa gambarkan betapa lucunya keluarga ini, ibu hamil yang pagi-pagi sudah mengamuk karna anaknya telat bangun, dan ayah yang wibawanya jatuh ditangan sang ibu. Lucu. Yang paling lucu adalah, seorang mahasiswi kecil imut-imut yang memiliki postur anak SD, memerankan bocah kecil kelas 3-4 SD. Siapa pun kamu, you’re the best part of the theater! Hahaha. 

Banyak hal yang tertangkap dengan kameraku didalam sana, walaupun harus diakhiri tragis. Kameraku mati kehabisan baterai. Halah, Ya Allah, cobaan apa ini.

Setelah teater selesai, atau lebih tepatnya dipaksa oleh kamera yang sudah mati, akhirnya kuputuskan untuk pulang. Saat kulirik jam tangan ternyata sudah pukul 00.09.  Selamat karna sudah memasuki usia ke-26 tahun, Sanggar Seni 412 UNRI. Thanks for your hardwork!
December, 20. Hei, selamat datang kembali. Kukira kita takkan bertemu lagi. 3 tahun kau tak pernah muncul –mungkin karna aku punya penangkalmu saat itu, ya ‘kan, kutukan? Sayang sekali aku sudah mempersiapkan diri atas kehadiranmu. Ya, meskipun begitu, tak kututupi, memang masih sedikit terkejut. Perang dingin dimulai, kerenggangan mulai nampak, perpecahan mulai terasa. Puncaknya aku akan diasingkan untuk periode yang cukup lama. Aku siap! 

“When the deadly winter has covered the earth, the dragonborn comes.” 

I’m, the Dragonborn. I’m Dovahkiin. Dulu, ada satu game yang benar-benar sukses menyita waktuku –selain PUBG, dan DotA2 tentu, berjudul SKYRIM. Dovahkiin atau Dragonborn, adalah seorang petarung yang lahir untuk membantai Alduin the World Eater, naga yang luar biasa kuat. Dovahkiin muncul tiba-tiba saat Alduin menyerang SKYRIM, tidak ada yang tau bahwa pria yang akan mereka eksekusi mati sebelumnya itu adalah seorang Dragonborn

Aku akan menjadi Dovahkiin dalam skenario kali ini. Bertahan dari Alduin-nya sendiri. 

*** 

Desember sudah mulai habis. Banyak hal menakjubkan. Hal utama yang harus kukatakan adalah, terima kasih 2019. Tahun yang keras. Aku yang hidup dibawah naungan egosentris, akhirnya harus melepas jubah megah bernama “keangkuhan” milikku demi mencabut Excalibur dari persemayamannya. Terima kasih telah mendidikku. Aku yang hidup sesuka hatiku selama ini, mulai sedikit demi sedikit mengambil tanggung jawab hampir secara menyeluruh, dan mengikhlaskan apa yang patut di ikhlaskan. 

Demi menyelesaikan perkuliahan –yang aku tak lagi tau fungsinya ini, aku menjual PC gaming kesayanganku, yang kurakit sepenuh hati dengan seluruh jiwa, dan memakan biaya besar. Kulepas dengan harga luar biasa. 1 juta rupiah. Lalu uang itu digunakan untuk membayar uang bimbingan kuliah. Sialan. Meski begitu rezekiku tak pernah berkurang, selalu saja ada pemasukan walaupun tak banyak. 

Ditinggalkan ternyata memberi berkah tersendiri. Perlahan, aku bisa memenuhi hasratku selama bertahun-tahun. Apa yang kuinginkan kudapatkan. Alhamdulillah. 

Canon EOS 600D menjadi kamera pertama yang kubeli dengan uangku sendiri, tanpa sumbangan siapapun. Setelah cukup lama, sejak 2014 aku berhasrat membeli kamera sebagai aset pribadi, akhirnya kali ini kudapatkan. Bahkan dengan segala kemudahan lainya, aku perlahan melengkapi professional kit untuk melanjutkan hobi street photography-ku. 

Aku belajar untuk mengalah, aku belajar untuk berhenti berdebat sebelum semakin memburuk, aku belajar untuk ceritakan semua masalah hanya pada diriku sendiri. Aku mulai mengalahkan keangkuhan dengan menghubungi beberapa rekan yang pernah bermasalah denganku, mencoba memperbaiki hubungan. Ada yang berhasil. Ada yang, yaaa begitulah. Hanya saja, satu hal yang tak bisa kurubah, mereka kini tak lebih dari sekedar tamu bagiku. 

2019 melatihku untuk lebih realistis, tak ada yang bisa kujadikan tempat berpegang kecuali Allah, dan diriku sendiri. “Tidak ada satu orang pun didunia yang senang melihatmu mencapai impianmu, kecuali dirimu sendiri”. Begitulah pedoman yang ada diakalku kini. 

Dan semuanya semakin baik di bulan-bulan penutup tahun ini. Hai Nona takut petir tapi suka rintik suara hujan. Dasar penakut. Selamat datang diruang pribadiku. Nyenyak? Nah, semangat untuk dinas komunitasnya! 


ありがとうございます、2019! 


Ah, tapi mesti jadi Dragonborn dulu ya!
Welcome Desember, where’s every story began for me. Awal Desember yang cukup menyenangkan. Hampir seharian mendung, dan hujan ringan. Awalnya sih semua baik-baik aja, tapi ntah kenapa ba’da ashar malah jadi moody banget. Tapi ya udahlah, everythings gonna be fine. 

Bagiku pribadi, desember adalah yang terbaik, meskipun nanti mulai dari tanggal 20-an akan ada beberapa hal yang bakalan memburuk walaupun selama beberapa tahun yang lalu seolah kutukan itu dibawa pergi. Tapi aku jadi paranoid lagi takut-takut kutukannya kambuh. Hahaha. Udah kaya’ penyakit aja pakai acara kambuh. 

Payah betul nak bekisah belakangan ni ye. Cakap sikit je pasal ni, sebenarnya, ni semua ulah rancangan usulan penelitian lah niii. Tak dikerjakan, tak boleh nak skripsi. Betul juga cakap budak-budak tu diawal hari kat saye malam tu –kalau tak salah lepas kami ngumpul cecerite. Kampus ni, mula-mula masuk je murah, lepas tu, gawat. Disuruh bayar ini itu, mesti pakai ilmu katak, pas ingat, langsung lah melompat. Dikasih waktu 5 hari je untuk lunaskan. Belum lagi benta lagi dia minta uang wisuda, kalau macam ni terus, mati jantungan lah ni. Tekejut sebab batas seminggu nak bayar 15jt. Perlu kau tau ni pihak kampus, nak ngepet pun butuh waktu. Ape lagi kami yang dapat duit dengan cara normal macam ni, mesti lebih lama lagi baru nak dapat duit. 

Baiklah. Aku kini mulai sadar, bahwa aku adalah orang yang sangat spesial. Sang Awal di Akhir. Hari ini, juga merupakan tanggal favorit dalam hidupku. Awal di akhir, tanggal pertama di penutup tahun. 1 Desember. Selain ditetakan sebagai hari AIDS sedunia, pada hari ini juga tercatat sebagai hari kelahiran Raja Louis VI dari Prancis, dan Tyler Joseph sang vokalis Twenty One Pilots, serta hari dimana Portugal kembali merdeka dari Spanyol (1640). 

Yap, hari ini juga menjadi hari kelahiranku –yang bukan siapa-siapa sebenarnya. Tapi aku lebih senang menyebut bahwa aku lahir pada 27 Jumadil Akhiroh. Masih belum tanggalnya. Masih jauh banget. 

Selain lahir pada awal di akhir. Aku menjadi anak pertama dalam keluargaku sekaligus anak laki-laki terakhir mereka –hal ini menjadikanku kembali sebagai awal dan akhir. Hal ini tentu saja membuat ayahku sangat sering memanjakanku. Melihat hal ini aku menjadi merasa sangat-sangat luar biasa. Itu mungkin sebab mengapa secara tak sadar nick yang aku ambil adalah Hara, awal dan akhir nama (HArry putRA). 

Semakin kesini, rasanya semakin akrab dengan tuntutan, terlebih dari adik kesayanganku, Nindy. Ucapan selamatnya kini mulai diiringi desakan “AKU INGIN PUNYA KAKAK IPAR, DAN AKU JUGA PENGEN PUNYA KEPONAKAN, SEGERA!”. Ya ampun, anak ini terkadang tidak tau betapa sulitnya hal itu untuk saat ini, setelah semua yang telah kulalui. 

Kukira, layak bagiku untuk meragu. Bahkan meski aku siap, belum tentu lawanku akan siap. Ini bukan seperti saat aku akan bertarung, yang mana, siap atau tidaknya lawanku, bukan hal yang harus dipikir. Tentu ada hal yang mestinya dipikirkan dengan matang. Terlebih, abangnya ini, masih harus berjuang sendirian dengan skripsinya. Ujung tiang semangat yang dipaksa patah itu, sudahku perbaiki perlahan, kuikat kuat meski tau pasti nantinya akan patah lagi. It’s okay, nobody will help you to get your crown, so kick’em out, enjoy the game. 

Nanti-nanti kalau udah nyamanan dikit, sambung lagi. Banyak hal yang terpending saat ini. Sekarang otak dulu pentingin. Cukup hati yang patah, otak jangan. Gak selesai ntar ini studi. Gak terpakai tanjak dan songket itu nanti. Hahaha.