December, 20. Hei, selamat datang kembali. Kukira kita takkan bertemu lagi. 3 tahun kau tak pernah muncul –mungkin karna aku punya penangkalmu saat itu, ya ‘kan, kutukan? Sayang sekali aku sudah mempersiapkan diri atas kehadiranmu. Ya, meskipun begitu, tak kututupi, memang masih sedikit terkejut. Perang dingin dimulai, kerenggangan mulai nampak, perpecahan mulai terasa. Puncaknya aku akan diasingkan untuk periode yang cukup lama. Aku siap!
“When the deadly winter has covered the earth, the dragonborn comes.”
I’m, the Dragonborn. I’m Dovahkiin. Dulu, ada satu game yang benar-benar sukses menyita waktuku –selain PUBG, dan DotA2 tentu, berjudul SKYRIM. Dovahkiin atau Dragonborn, adalah seorang petarung yang lahir untuk membantai Alduin the World Eater, naga yang luar biasa kuat. Dovahkiin muncul tiba-tiba saat Alduin menyerang SKYRIM, tidak ada yang tau bahwa pria yang akan mereka eksekusi mati sebelumnya itu adalah seorang Dragonborn.
Aku akan menjadi Dovahkiin dalam skenario kali ini. Bertahan dari Alduin-nya sendiri.
***
Desember sudah mulai habis. Banyak hal menakjubkan. Hal utama yang harus kukatakan adalah, terima kasih 2019. Tahun yang keras. Aku yang hidup dibawah naungan egosentris, akhirnya harus melepas jubah megah bernama “keangkuhan” milikku demi mencabut Excalibur dari persemayamannya. Terima kasih telah mendidikku. Aku yang hidup sesuka hatiku selama ini, mulai sedikit demi sedikit mengambil tanggung jawab hampir secara menyeluruh, dan mengikhlaskan apa yang patut di ikhlaskan.
Demi menyelesaikan perkuliahan –yang aku tak lagi tau fungsinya ini, aku menjual PC gaming kesayanganku, yang kurakit sepenuh hati dengan seluruh jiwa, dan memakan biaya besar. Kulepas dengan harga luar biasa. 1 juta rupiah. Lalu uang itu digunakan untuk membayar uang bimbingan kuliah. Sialan. Meski begitu rezekiku tak pernah berkurang, selalu saja ada pemasukan walaupun tak banyak.
Ditinggalkan ternyata memberi berkah tersendiri. Perlahan, aku bisa memenuhi hasratku selama bertahun-tahun. Apa yang kuinginkan kudapatkan. Alhamdulillah.
Canon EOS 600D menjadi kamera pertama yang kubeli dengan uangku sendiri, tanpa sumbangan siapapun. Setelah cukup lama, sejak 2014 aku berhasrat membeli kamera sebagai aset pribadi, akhirnya kali ini kudapatkan. Bahkan dengan segala kemudahan lainya, aku perlahan melengkapi professional kit untuk melanjutkan hobi street photography-ku.
Aku belajar untuk mengalah, aku belajar untuk berhenti berdebat sebelum semakin memburuk, aku belajar untuk ceritakan semua masalah hanya pada diriku sendiri. Aku mulai mengalahkan keangkuhan dengan menghubungi beberapa rekan yang pernah bermasalah denganku, mencoba memperbaiki hubungan. Ada yang berhasil. Ada yang, yaaa begitulah. Hanya saja, satu hal yang tak bisa kurubah, mereka kini tak lebih dari sekedar tamu bagiku.
2019 melatihku untuk lebih realistis, tak ada yang bisa kujadikan tempat berpegang kecuali Allah, dan diriku sendiri. “Tidak ada satu orang pun didunia yang senang melihatmu mencapai impianmu, kecuali dirimu sendiri”. Begitulah pedoman yang ada diakalku kini.
Dan semuanya semakin baik di bulan-bulan penutup tahun ini. Hai Nona takut petir tapi suka rintik suara hujan. Dasar penakut. Selamat datang diruang pribadiku. Nyenyak? Nah, semangat untuk dinas komunitasnya!
ありがとうございます、2019!
Ah, tapi mesti jadi Dragonborn dulu ya!

0 komentar:
Posting Komentar