Pluviothentic

www.storydecember.blogspot.com
Here lies the rain of my days, and the roots of who i am.
About Me
Hanya kumpulan tulisan otentik milik seorang pecinta hujan yang kebetulan senang blogging.
Tulisan ini muncul sebagai respon atas amarah seseorang. Seharusnya tulisan ini di publish beberapa bulan yang lalu, tapi karena kesibukan, dan pengurusan banyak hal, sehingga tidak ada waktu untuk memostingnya. Jadi, beberapa bulan yang lalu, ada seseorang yang marah padaku, dan menyangsikan latar belakang pendidikanku, “Bukankah kamu seseorang yang berkuliah pada jurusan Ilmu Komunikasi, kenapa kamu tidak bisa membaca situasi dan kondisi saat kamu berbicara?!” ujarnya padaku siang itu. Aku juga berharap tulisanku ini dapat memberikan pemahaman pada kalian semua yang bertanya apa itu Ilmu Komunikasi. Terutama untuk kalian, mahasiswa yang saat ini sedang berkuliah di program studi Ilmu Komunikasi ini. Ini juga merupakan sesi pertama dari Let’s Talk about Communication. 

So, sebenarnya, Ilmu Komunikasi itu tidak melulu bicara bagaimana cara kita berkomunikasi. Seperti yang sudah dijelaskan pada postingan pembuka sebelum ini, “Kalau cuma untuk komunikasi, dari kecil kita sudah belajar bagaimana cara bicara dari kedua orang tua dan lingkungan kita. Gak perlu kuliah kalau cuma untuk itu.” Ilmu Komunikasi tidak sesederhana itu. 

Apa itu Komunikasi? 

Definisi umum komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari komunikator (Pengirim Pesan) kepada komunikan (Penerima Pesan). Namun, sebenarnya pengertian komunikasi lebih luas dari pada itu. Penyebaran informasi, kritik sastra, budaya, bahkan gaya rambut, dan gaya berpakaian juga merupakan komunikasi. Sehingga aku sependapat dengan John Fiske, bahwa komunikasi merupakan Interaksi sosial melalui pesan. 

Ilmu komunikasi merupakan bidang keilmuan yang multidisipliner. Sehingga dalam ilmu komunikasi, komunikasi sendiri bukanlah objek utama, banyak hal lain yang menjadi perhatian dalam ilmu komunikasi, seperti strategi komunikasi, psikologi, retorika, budaya, dan lainnya. Jadi, jangan dikira ilmu komunikasi hanya mempelajari “cara ngomong”, “cara ngomong” ini dipelajari dalam materi khusus, yaitu retorika, dimana kita akan belajar seni berbicara. 

Aku akan menjelaskan bahwa menyangsikan latar belakang keilmuan seorang lulusan ilmu komunikasi, hanya karena menurutnya pemilihan cara bicara/berkomunikasi si pembicara tidak tepat adalah sebuah kesalahan. Kenapa salah? 

Fiske mengatakan ada dua mazhab dalam ilmu komunikasi: 

Mazhab Pertama, adalah mazhab yang melihat komunikasi sebagai transmisi pesan. Kelompok ini fokus pada bagaimana pengirim dan penerima, mengirim dan menerima pesan. Aku mengartikan kelompok ini sebagai kelompok yang memikirkan strategi berkomunikasi. Mereka mengedepankan efektifitas dan efisiensi dalam komunikasi. Bagi mereka komunikasi merupakan sebuah cara untuk memengaruhi perilaku atau cara berpikir orang lain. Jika hasil dari kegiatan komunikasi itu tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan, mereka akan menganggap atau menyebutnya sebagai “kegagalan komunikasi”, kemudian mereka akan menyelidiki setiap tahapan dalam proses komunikasi mereka untuk mencari tahu dimana kegagalan tersebut terjadi. 

Sementara, Mazhab Kedua, adalah mahzab yang melihat komunikasi sebagai produksi dan pertukaran makna. Kelompok ini fokus pada bagaimana pesan itu berinteraksi dengan manusia dalam rangka memproduksi makna. Sederhananya kelompok ini melihat bagaimana manusia itu memaknai sebuah pesan. Kelompok ini tidak menganggap kesalahpahaman sebagai "kegagalan komunikasi", karena kesalahpahaman itu bisa jadi merupakan hasil dari perbedaan budaya antara pengirim dan penerima pesan. 

Nah, seperti yang dijelaskan oleh mazhab kedua, kesalahpahaman yang terjadi antara aku dan penerima pesanku, itu tidak ada hubungannya dengan latar belakang keilmuan yang kuanut, itu semua murni hasil dari proses pemaknaan. Aku sudah membuat communication planning dengan melihat situasi, kondisi, dan keadaan kesadaran penerima pesanku pada saat itu, dan merasa strategi itu sudah tepat, dalam penarikan keputusan pembuatan strategi, aku juga akan dipengaruhi oleh latar belakang budaya yang kuanut, sehingga, jika dilihat dari perspektifku, komunikasiku sudah tepat. Sementara si penerima, notabene-nya memang memiliki latar belakang budaya yang berbeda denganku, sehingga wajar saja dia memaknainya berbeda, dan kesalahpahaman terjadi. 

Edward T. Hall, mengatakan “komunikasi adalah budaya, budaya adalah komunikasi”. Komunikasi dan budaya itu tidak bisa dipisahkan. Kita akan menyebarkan dan mempertahankan kebudayaan milik kita dengan berkomunikasi, dan dalam berkomunikasi kita akan dipengaruhi oleh latar belakang budaya yang kita anut. Dengan begitu jelas, bahwa kesalahpaham yang terjadi antara aku dan penerima pesanku yang marah pada saat itu bukanlah karena cara berkomunikasiku yang salah, tapi karena persepsi, dan latar belakang budaya yang berbeda. 

Jadi, apa itu Ilmu Komunikasi? 

Ilmu komunikasi adalah sebuah bidang keilmuan multidisipliner yang memperlajari bidang keilmuan lain pada aspek komunikasi, serta mempelajari perencanaan komunikasi, seni berbicara, interaksi sosial melalui pesan, dan budaya.

0 komentar:

Posting Komentar