Matahari tampak sudah turun, dan kumandang adzan perlahan mulai saling sahut-menyahut dari sekitar wilayah ini. Beberapa teman mulai iftar, sementara aku masih sibuk dengan urusanku sendiri. Hari ini, rekan yang lain sudah hampir menyelesaikan puasa sunnah mereka.
“Har, kenapa kelihatan kaya' lagi ada pikiran yang berat banget sih?” tuan rumah menghampiriku yang sedang asyik dengan laptop.
“Nggak ada sih Ko. Cuma mood lagi agak jelek.”
“Halah, kenapa lagi ni anak? Rencanamu mau khitbah anak orang itu batal lagi?”
“Hahaha, gak gitu. Yang itu mah, kabar juga belum muncul Ko.”
“Lah terus?” Pria yang memiliki perawakan mirip Taka sang Vokalis One Ok Rock itu menunjukkan gelagat bahwa dia akan terus bertanya sampai dapat jawaban. Namanya sebenarnya bagus, tapi kami lebih senang memanggilnya Poko.
“Kalau soal yang kau bahas tadi, jelas masih ada pertentangan dalam hati sendiri.”
“Yak okay, aku paham kondisinya.” Jawab Pon, kali ini istrinya yang nimbrung sambil membawakan kami berdua segelas minuman dingin.
Mereka ini pasangan serasi PON-POKO, nama itu sebenarnya adalah judul dari sebuah film milik studio Ghibli: Heisei Tanuki Gassen PONPOKO. Jadi film itu bercerita tentang perlawanan kelompok rakun terhadap manusia kalau gak salah. Mereka berdua ini juga dulunya adalah dua musuh yang kemudian menjadi sepasang suami-istri. Hahaha
“Apaan?” tanya Poko pada sang istri dengan penuh penasaran.
“Dia ini kepikiran mbak yang waktu itu, perasaannya masih besar nih buat mbak itu. Ah parah.” Seketika mulutku dan Poko terbuka lebar. Poko menatapku berusaha mengkonfirmasi hal itu.
“Istrimu ini seorang cenayang nih, bahaya!” Jawabku, diikuti tawa Poko yang meledak.
“Hapemu bunyi tuh dari tadi.” Ujar Pon.
Mungkin sudah ada sekitar 4 pesan masuk yang kuabaikan, “Paling juga orang yang minta tolong buatkan tugas ini itu, tapi gak mampu bayar lagi. Malas udah ngeladeni mereka.” Pikirku, namun karna penasaran, aku coba untuk membaca notifikasi. Jantungku serasa akan lepas melihat nama yang tertera. Baru saja jadi pusat pembahasan, sudah muncul, mungkinkah ini? Ah mulai macam-macam nih pikiran.
“Hai. Besok sibuk? Jika tidak, jam makan siang kuharap kita bisa bertemu untuk membahas apa yang perlu dibahas, sehingga tidak ada omongan dibelakang.” Begitulah isi chatnya padaku. Aku merasa terintimidasi.
Mulai dari situ, kami sempat menghabiskan beberapa saat membahas apa yang dia sebut akan dibahas saat makan siang besok. Pada akhirnya kami sepakat untuk makan siang besok, dan aku akan menjemput dia dikantornya. “Semoga semua tidak semakin memburuk.” Do’aku malam itu.
***
Sesuai dengan rencana, hari ini aku akan pergi makan siang bersamanya. Sial, jantungku tidak mengerti cara untuk tenang kali ini. Bahkan berdetak lebih hebat dari pada saat aku akan berkelahi dengan seorang Bripka polisi waktu terjadi salah paham dengan salah satu rekanku dulu.
Mulai dari baju, celana, hingga parfum, aku tidak bisa tenang, aku gugup. Sial.
Adzan zuhur sudah berkumandang, chat darinya juga sudah masuk lima menit lalu mengingatkanku untuk bersiap. Untungnya, aku sudah sangat siap saat ini. Akhirnya aku berangkat menjemputnya. Meski jantung masih belum tenang.
Aku menunggu sekitar 20 menit dipintu masuk kantornya. Dia bilang sedang bersiap. Tak lama ponselku berdering. “Satu motor apa dua?” tanyanya.
“Terserah.” Jawabku, berharap dia memutuskan untuk satu motor saja.
“Kamu yang putuskan, aku ngikut.” Arrrgh, dia ini!
“Yaudah, satu motor aja.”
Dia datang. Tubuhku seketika dingin. Hahaha. Saat sudah naik ke motor, dia memandu menuju tempat makan pilihannya. Sepertinya dia sudah cukup akrab dengan tempat ini, terlihat dari betapa santainya dia berjalan masuk tanpa ragu untuk memastikan tempat itu buka atau tidak. “Putra, Sini!” teriaknya sambil melambaikan tangan. Aku hanya nurut.
Perutku sebenarnya sangat lapar, tapi rasa gugupku membuat semua isi perutku serasa akan keluar, sehingga aku jadi tidak ingin makan, tapi dia memaksa, dan jadilah makanan terletak dimeja, tak habis, tapi termakan kok.
Selama makan kami membahas banyak hal. Mulai dari beberapa postinganku yang dia rasa terarah langsung padanya, hingga kabar-kabar kecil yang perlahan membuatku menikmati pembicaraan kami.
“Sekarang jelasin tentang ini!” ujarnya sambil menunjukkan postingan di twitterku. Disana terdapat sebuah video boomerang yang direkam adikku saat kami makan di sebuah tempat makan cepat saji. Aku yang sedang mengaduk semua OMONG KOSONGMU! Begitu tulisannya disana. Haha.
“Hmm, tiap orang punya problem masing-masingkan?” Jawabku sekenanya “Kalau kamu merasa, lalu aku bisa apa? Yang jelas niatnya tidak dihadapkan padamu.”
“Gak, cuma rasanya timingnya pas aja sama waktu kita ketemu itu.”
“Perasaan kamu doang sih.”
“Kamu kalau senang, ya senang aja. Jangan ditahan gitu senyumnya.” wanita ini lebih menyeramkan dari pada Pon, dia bisa tau apapun yang kupikir. Bahaya nih.
“Gak ah, apaan.” Sangkalku. Sekilas kulihat dia tersenyum. Senyum yang sama seperti yang dulu, sudah lama aku tak melihat senyum itu.
“Nih, ya, aku dan laki-laki itu sudah lama tidak pacaran. Tapi aku selalu menutupinya.” Balasnya “Baru kali ini sih aku mau bahas ini, bahkan saat dulu aku ketemu adik kamu, aku bilang ‘ya do’ain aja’ padahal waktu itu aku udah gak sama dia.”
“Sebernarnya, kamu mau pergi dengan siapa pun, aku tak punya hak apapun, aku bukan siapa-siapa jadi gak masalah.”
“Yah, jangan nangis gitu dooong. Aku tau kamu belum bisa lepas dari aku, aku selalu menang memang.” Sejenak aku ingat lirik lagu yang sering ia plesetkan menjadi namanya dulu Wi A the champion! Haha kamu benar. Kamu memang the champion.
“Siapa yang nangis, enak aja.” Ujarku sambil menahan sesuatu yang terasa menggumpal dan ingin keluar dari sudut mataku.
Kami menghabiskan waktu cukup lama, itu sangat menyenang bagiku.
***
Aku kembali datang kerumah PonPoko, masih ada hal yang harus kuselesaikan mengenai desain yang mereka minta.
“Cieee, berseri nih.” Goda Pon, melihatku yang sedang duduk bersama suaminya di ruang makan rumah mereka. “Aku cuma ingatin nih. Jangan sampai lama tertidur di singgasana mimpimu. Nanti ketinggalan kapal lagi.”
Hahaha, Pon, aku paham, tapi terkadang, aku suka lupa diri kalau udah sampai di kastilku itu, tempat ternyaman yang aku miliki. Aku lupa aku sering menjadi Nefelibata, seseorang yang hidup dalam awan imajinasinya sendiri.
