Meski sudah dibaca seseorang, aku harap itu bukan dia. Haha, kenapa? Bukan berarti aku merasa bersalah atau menyesal dengan tulisan itu. Aku hanya berpikir, mungkin lebih baik biarkan semua berjalan begitu saja, toh mengeluarkan banyak kata-kata tidak akan merubah apapun, dia tetap akan dengan pemikirannya.
Aku membaca beberapa artikel tentang new normal atau aku akan sebut kelaziman baru. Aku tidak begitu ingin memahami seperti apa kelaziman baru yang akan diterjadi ini, lagi pula seperti yang kukatakan, duniaku saja sudah berubah sangat drastis. Jadi, tidak akan ada bedanya.
Kelaziman baru, sesuatu yang dulunya bukan hal yang dianggap biasa, namun kemudian berubah menjadi sebuah kebiasaan. Haha, dalam duniaku hal ini banyak terjadi. Dulu aku merupakan seseorang yang banyak bicara dengan orang sekitar, sekarang lebih memilih untuk menjauh dari riuh lingkungan.
Seorang bocah penuh ambisi, dan energi, kemudian berubah menjadi seseorang yang tenang dan tidak menonjol. Orang yang emosinya selalu ada pada indikator teratas, kini menjadi orang yang lebih banyak mengalah.
Terutama tentang Nona Petrichor yang begitu ia anggap agung.
Perlahan, memori-memori yang melekat kuat dalam benak, mulai diharuskan untuk luntur. Mencoba membaur dengan sang Nona, yang melupa dengan mudahnya. Semuanya dijatuhkan pada lantai kosong itu, disapu menuju ruang kecil, dan dipendam.
Hidup tanpa sang Ratu tanpa sanggah, menjadi kelaziman. Tidak ada yang aneh, itu biasa. Dalam beberapa tahun belakang, keadaan itu menjadi kebiasaan. Meskipun kebiasaan itu dirasa ganjil, tapi tidak lagi dipermasalahkan.
“Apakah hal itu menganggu atau menjadi sesuatu yang menyakitkan?”
Dulu iya, kini menjadi sebuah hal yang biasa. Tidak menyakitkan, tidak mengganggu, namun aku sadar bahwa dulu bukan seperti ini keadaannya. Ini hanya situasi baru yang aku sudah mulai terbiasa. Ibarat pindah ke sebuah daerah baru yang tak dikenali, kemudian mulai terbiasa dan menyesuaikan diri.
“Kalau begitu apakah kau sudah lupa dengan semua kenangan itu?”
Tentu tidak, aku ingat dengan jelas, aku hanya sedikit lupa, bagaimana rasanya saat dia masih ada disini, berbagi tawa, dan luka, meskipun lebih banyak tawa yang kudapat, namun penuh luka yang ia jalani. Jika disuruh mereka-ulang kembali kenangan itu, jujur saja aku tidak akan bisa, antara terlupa, dan enggan karna kupikir akan kembali membuat rasa sakit menguar.
“Apakah menurutmu sepenuhnya akan merasa biasa saja?”
Setelah ini semua menjadi sebuah kelaziman baru, aku rasa sepenuhnya akan merasa biasa saja. Tapi tentu saja ada masanya aku akan merindukan wanita itu, karna kelaziman baru ini tidak menghapus kenangan yang aku punya. Hanya saja, karna ditempa waktu, aku mulai terbiasa.
Suatu saat nanti, ketika aku merindukannya, aku harap disaat itu menemukannya bukanlah hal yang sulit.

0 komentar:
Posting Komentar