Dalam beberapa hari terakhir rasanya banyak hal yang menjadi pertanyaan di kepalaku, tapi aku lebih memilih menyimpannya, enggan untuk menyampaikannya kepada siapapun. Bahkan saat kami sedang berkumpul di tongkrongan, tak jarang aku lebih banyak diam, bukan karna tak ingin bicara, tapi karna lebih banyak pembicaraan terjadi di otakku, sehingga sulit mengikuti pembicaraan teman lainnya.
Tiba-tiba saja, Wilhem hadir, membahas bagaimana hubungannya dengan sang kekasih. Kami sangat tau bagaimana Wilhem ini menjaga kekasihnya. Terlalu berlebihan. Bahkan kekasihnya tidak boleh ikut ngumpul dengan kami. Memang benar tidak sedikit dari rekanku yang menyukai Mbak Tartarus ini, kalau kata temanku, Tartarus adalah Medusa in real life. Hahaha
Aku kembali berusaha menjadi pendengar yang baik. Mendengarkan celotehannya, bagaimana seorang Tartarus yang kami tau begitu besar cintanya untuk Wilhem, tiba-tiba memilih untuk menyerah. Tentu saja, otakku saat ini terdiam penuh, didalamnya hanya ada satu pemikiran, kisah si Wilhem ini sama seperti kisahku, dan akan berakhir tragis, sama seperti milikku juga nantinya.
Sulivan yang berkali-kali cintanya ditolak oleh wanita yang ia cintai, kemudian geram dengan cerita Wilhem. “Kau tau, tidak ada orang yang suka kau batasi seperti itu!” ujarnya dengan intonasi khasnya, tenang dan penuh canda.
Aku sepemikiran dengan Sulivan saat ini. Tidak ada orang yang senang dibuat seperti. Aku pernah melakukan hal yang sama, pada akhirnya aku menjadi penyintas yang berusaha lepas.
Pembicaraan pun akhirnya lebih menitik berat pada aku dan Sulivan, dua orang veteran perang. Satu veteran dengan metode perang yang sama, satu lagi orang dengan tekad baja yang selalu saja kalah dalam peperangannya akibat kurangnya senjata.
Kami kembali sepakat, pada akhirnya perasaan ini hanya akan jadi tertawaan. Saat kau bercerita pada mereka-mereka, respon mereka adalah “wah, gak bisa begitu, kau terlalu bodoh jika terus seperti ini, move on!” Tidak ada yang salah, mereka tidak tau seperti apa perjalanan yang telah ditempuh.
Saat perasaan menjadi bahan tertawa, rasa muak mendengar tawa mereka itu naik 1000x lipat. Tapi aku selalu katakan “semoga kalian tidak merasakan apa yang kurasakan ya.” Walaupun jauh dalam lubuk hati aku ingin mereka juga merasakan apa yang mereka tertawakan.
Kau butuh orang-orang dengan frekuensi yang sama untuk berbagi sesuatu yang seperti ini, mereka dengan latar belakang cerita yang hampir mirip. Percuma berbagi dengan mereka yang dalam kisahnya enteng atau mereka malah badboy yang memang sering gonta-ganti, karna prinsip mereka “Patah Tumbuh Hilang Berganti”. Nah, kita ini bukan mentok dengan satu orang wanita, tapi diusia hampir 30 tahun ini, menikah adalah program wajib. Hahaha
Tapi mencari mereka yang sefrekuensi denganku dilingkunganku sangat sulit. Itu sebabnya, kini aku lebih memilih lebih banyak memendam semuanya sendiri.

0 komentar:
Posting Komentar