Pluviothentic

www.storydecember.blogspot.com
Here lies the rain of my days, and the roots of who i am.
About Me
Hanya kumpulan tulisan otentik milik seorang pecinta hujan yang kebetulan senang blogging.
Wah tanpa disadari ini sudah hari ke-13 saja. Okay, tetap semangat dan mari perbanyak ibadah, terutama qiyamul lail. Jangan malasan lhoo, meskipun cuaca saat ini mendukung sekali untuk malasan. -.-

Makin hari, aku melihat banyaknya hal-hal yang sebenarnya lebih baik untuk tidak aku ketahui. Berita-berita tidak berguna, kasus rasisme yang memancing emosi, serta islamophobia yang makin menjadi-jadi. Bahkan phobia islam cenderung ditunjukkan oleh penganut agama itu sendiri.

Okay, mari menjauh dari topik itu.

Belakangan, aku menyaksikan fenomena yang terus berkembang ditengah masyarat, yaitu membeberkan masalah dan aib rumah tangga mereka di media sosial. Mereka berbagi gambar diri mereka disini, jadi orang sudah tahu siapa mereka, dan mereka –dengan alasan apapun itu, membagikan permasalahan rumah tangganya begitu saja. Berbeda dari apa yang kulakukan disini, aku menulis hal hampir serupa sebagai cerita dan semua nama pun tidak sesuai dunia nyata.

Ntahlah, mungkin mereka merasa itu dapat melepaskan stress mereka. Mungkin juga mereka sedang mencari orang yang bisa membantu mereka.

Tapi tetap saja, aku merasa ini tidak benar, jika memang ingin mencari bantuan, kenapa tidak berbagi secara personal dengan seseorang yang benar-benar bisa anda percaya saja? Ini salah. Hal seperti ini justru mengundang masalah baru menurutku. Kenapa? Karena disaat seperti itu setan bertindak lebih mudah dan leluasa, terlebih jika ini menyangkut orang yang sudah berumah tangga. Tak jarang perselingkuhan dimulai dari hal ini. Dari membagikan kesedihan, lalu ada yang menanggapi, curhat, merasa nyaman, kemudian BOOM, terjadi.

Hal ini membuatku mulai merasa khawatir, bagaimana jika nanti keinginanku untuk menikah kembali muncul, lalu hal seperti ini terjadi?

Aku mulai merasa gelisah memikirkan hal tersebut. Ya, walaupun saat ini aku tidak lagi memiliki niat untuk menikah sejak gagal dengan W, aku tetap tidak mengatakan bahwa itu adalah hal mutlak. Masih ada Allah yang merencanakan skenarionya. Dan bila suatu hari aku kembali memiliki keinginan untuk menikah, aku ingin itu menjadi yang pertama sekaligus yang terakhir.

Lalu, setelah cukup lama berpikir, akhirnya aku memutuskan dengan mantap, bahwa kelak, jika aku menikah, aku akan menghapus seluruh akun media sosialku, dan hanya akan mempertahankan sarana komunikasi seperti email, dan sistem sejenisnya. Untuk saat ini aku juga mulai membatasi diri dengan media sosial, atau lebih tepatnya, men-disable-kan akunku.

Mungkin dengan menghentikan diri menggunakan media sosial akan membuatku ketinggalan banyak hal, atau mungkin juga menghambat berbagai pekerjaanku nantinya, tapi aku masih memimpikan hidup damai tanpa ada hal tidak penting yang menggangguku. Sehingga, aku merasa, everything's gonna be okay. Lagian aku juga bukan tipe orang yang suka membagikan ini-itu di instagram, aku memang senang menulis, kadang juga share banyak hal di twitter, tapi akan lebih menyenangkan rasanya jika dalam hidupku hanya ada aku, dan orang-orang terdekat yang nyata, terlihat wujudnya. Menghabiskan waktu dengan mereka akan lebih menyenangkan, feedback-nya langsung, dan berkelanjutan. 

Aku tidak ingin terusik oleh orang-orang yang tidak kuketahui, dan tidak memiliki andil dalam hidupku. Itu saja. Yah, semoga hidup lebih mudah, dan lebih menyenangkan setelahnya.
Categories:
Heiheihei! Akhirnya masuk Romadhon juga. Ya, udah jalan 5 hari ini sih puasa di tahun 1442H ini. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi saudara-saudari sesama muslim, semoga Romadhon tahun ini menjadikan kita pribadi yang lebih taat, dan semoga setelah Romadhon tahun ini berlalu, kita semua dalam keadaan iman yang kuat dan istiqomah.

Hmm, banyak hal luar biasa yang terjadi dihidupku beberapa tahun terakhir ini. mampu membuang ego, menghubungi semua orang yang pernah melakukan kesalahan padaku, dan menginisiasikan permintaan maaf pada siapapun yang kurasa pernah bersinggungan denganku, termasuk dengan adikku, si pembuka pagi. It’s okay, meminta maaf tanpa merasa memiliki kesalahan juga sebuah kebijaksanaan menurutku.

Tahun ini, puasa memang terasa semakin berbeda, puasa terakhir yang benar-benar berkesan bagiku, mungkin adalah di tahun 2018. Sejak 2019 semua berbeda. Transisi puasa yang berbeda semakin terasa di 2020 lalu, dimana pandemi semakin menjadi-jadi, dan seluruh gerak dibatasi. Aku rindu 2018, aku rindu hidup damai yang kubangun ditahun itu, aku rindu rasa bahagia yang terus-terusan membuncah dari hari ke hari.

Tahun ini terasa begitu berbeda, puasa tahun ini terasa angkuh, begitu cepat berlalu, bahkan tanpa terasa sudah nyaris seminggu. Satu hal yang patut disyukuri adalah, diperbolehkannya untuk melaksanakan tarawih berjamaah kembali. Alhamdulillah, paling tidak ini mengurangi rindu..

Harapku sebenarnya, tahun ini kembali menjadi tahun dimana aroma petrichor menguar kuat seperti 4 tahun yang lalu. Tahun dimana tanpa hujan pun aroma petrichor akan selalu bisa kucium. Nyatanya, itu tak terjadi. Rumah tua itu masih dibungkusi tanaman rambat yang kian lama kian meninggi. Ah, maybe it’s a normal things now for me, kaya’ keladziman baru yang memang udah melekat aja gitu, seperti pergi kemana-mana harus pake masker, bawa hand sanitizer, dan hal-hal semacamnya.

Ya, tapi ada banyak hal yang memang terasa berbeda ditahun ini. Meskipun untuk keadaan sosial udah kembali normal, tapi tahun ini memang ada hal yang terasa begitu berbeda. Bahkan cuaca pun terasa begitu berbeda, meskipun lembab akibat hujan, tapi tetap saja panas untuk kota Pekanbaru ini. Selain itu banyak hal yang tak bisa kujelaskan yang begitu berbeda juga. Meskipun semua sudah seolah kembali normal, ada beberapa hal yang kurasa aku rindukan, hanya saja tak bisa kujelaskan apa.

Aku hanya ingin mengucap selamat berpuasa, dan maafkan jika banyak kata-kata yang menyinggung kalian, kawan. Hanya saja aku berusaha untuk menulis sejujur yang kubisa, dan aku juga sudah menyamarkan namanya. Baiklah, semoga puasa berjalan lancar, damai, dan semua baik-baik saja. Aamiin