Pluviothentic

www.storydecember.blogspot.com
Here lies the rain of my days, and the roots of who i am.
About Me
Hanya kumpulan tulisan otentik milik seorang pecinta hujan yang kebetulan senang blogging.

“We can not not communicate”

                            − Paul Walzlawick

Pernyataan sang pakar psikologi komunikasi itu menegaskan bagaimana komunikasi itu menjadi hal penting bagi manusia. Sebuah kebutuhan dasar yang dilakukan setiap hari. Bahkan dalam sebuah penelitian yang dilakukan Stewart Tubbs dan Silvia Moss, dikatakan bahwa 75% waktu kita dipakai untuk berkomunikasi. Bagaimana mungkin? Nanti akanku bahas dalam tulisan lain.

Sebelumnya, sudah kujelaskan bahwa komunikasi merupakan proses penyampaian pesan dari komunikator (pengirim pesan) kepada komunikan (penerima pesan). Pertukaran pesan ini dapat berlangsung dalam banyak bentuk, baik secara lisan, tulisan, langsung, maupun tidak langsung.

Ada beberapa tipe dari komunikasi, dan yang paling sering terjadi kesalahan dalam pemahaman adalah Komunikasi Interpersonal dan Intrapersonal. Sekilas memang keduanya terdengar sama, namun keduanya memiliki maksud yang berbeda. Let’s break it down...

Komunikasi Interpersonal

Komunikasi Interpersonal atau dalam Bahasa Indonesia disebut komunikasi antar pribadi, merupakan komunikasi yang dilakukan oleh dua orang atau lebih. Dalam beberapa teori juga diberikan kondisi tambahan, yaitu tatap muka, seperti yang dikatakan oleh R. Wayne Pace, “interpersonal communication is communication involving two or more people in face to face communication”. Menurut R. Wayne Pace, komunikasi interpersonal melibatkan dua orang atau lebih secara tatap muka. Pada komunikasi interpersonal juga ada feedback secara langsung. Sederhananya pada komunikasi interpersonal ada balasan langsung dari lawan berbicara, dan balasan inilah yang disebut feedback.

Tapi tidak ada keterangan berapa orang maksimal yang terlibat dalam komunikasi interpersonal. Sehingga komunikasi interpersonal dibagi dalam dua sifat, komunikasi diadik, dan komunikasi kelompok kecil. Diadik adalah komunikasi yang hanya dilakukan oleh dua orang yang saling bertatap muka. Sementara kelompok kecil dilakukan oleh tiga orang atau lebih.

Komunikasi Intrapersonal

Ada sebuah permintaan jawaban di Quora yang menanyakan “Apa perbedaan komunikasi interpersonal dan intrapersonal?”. Salah satu jawabannya adalah “Sama saja, cuma beda penulisan saja.” Like, What’s this guys thinking before he tried to answer this question?

Aku asumsikan yang memberikan jawaban itu adalah seseorang diluar dari Ilmu Komunikasi. Karna tidak mungkin orang yang pernah belajar ilmu komunikasi memberi jawaban seperti itu. Atau asumsi kedua, mungkin pertanyaan itu awalnya typo “Apa perbedaan komunikasi interpersonal dan antarpersonal?” dan kemudian diperbaiki.

Okay, lalu apa itu Komunikasi Intrapersonal?

Komunikasi Intrapersonal adalah komunikasi dengan diri sendiri. Gila dong berarti? Eits, gak semua bicara dengan diri sendiri adalah gila, kadang Cuma stress doang. Hahaha

Gak, gak, bercanda doang ini. Bagiku Komunikasi Intrapersonal bukanlah komunikasi dengan diri sendiri, aku lebih suka mendefinisikannya sebagai komunikasi yang terjadi dalam diri seseorang. Nurudin mengatakan “Seseorang yang terlibat dalam komunikasi dengan diri sendiri ini, memberi arti suatu objek yang diamati atau yang terbetik dalam pikirnnya.” Maksudnya, ketika seseorang melihat sesuatu dan terbetik suatu pikiran dalam dirinya yang dipicu hal itu, inilah yang disebut dengan komunikasi intrapersonal, baik terucap maupun tidak.

When you wanna go to a party, dan kalian bertanya pada diri sendiri “Bagusnya pakai baju apa ya?”, itu adalah komunikasi intrapersonal. Melamun sambil memikirkan beban hidup, berusaha mengingat sesuatu yang terlupakan, muhasabah diri, semua itu termasuk komunikasi intrapersonal.

Aku sempat mempertanyakan lebih dalam dengan beberapa dosen tentang komunikasi intrapersonal ini. Mayoritas mereka sepakat bahwa berdo'a merupakan salah satu bentuk komunikasi intrapersonal, karena disana tidak ada feedback langsung. Sehingga menurutku, berprasangka baik pada seseorang yang timbul karena pengaruh ajaran agama, merupakan salah satu efek komunikasi intrapersonal, karena saat dia membentuk prasangka dia akan kembali ingat dalam dirinya "saya tidak boleh berprasangka buruk atau saya akan berdosa".

Kuharap penjelasan yang kujabarkan mudah untuk dipahami. Next, bahas apa ya?


Kemarin, 28 April 2023, sekitar pukul 21.43 WIB. Cuaca Pekanbaru terasa cukup lembab usai diguyur hujan sore selumbari, tapi dunia terasa begitu hangat. Sebuah paket pre-order yang sudah dinanti selama kurang lebih sembilan bulan, akhirnya tiba ditanganku. Hahaha

Suara bisingnya yang justru membuat tersenyum menggema dalam ruangan seluas kurang lebih 4x4 m2 itu. Dia, yang sejak jauh hari sudah kuprediksi, hadir, sebagaimana yang kami harapkan.

Halo gadis kecilku, selamat datang dimuka bumi ini, dan terima kasih sudah melengkapi duniaku dan menyempurnakan ibumu. Mulai hari ini, kamu adalah Hafshah Hariko, putri dari Harry Putra dan Sri Kukuh Larasati. Terima kasih, alhamdulillahi robbil ‘alamin ya Allah atas nikmat yang engkau karuniakan pada hambamu yang dosanya sebanyak buih di lautan ini.

Usai mendengar nama putriku, para sanak saudara dan teman mulai memikirkan maksud dari nama belakangnya. Hariko?

Ada yang bilang “Hariko” terdengar “Jepang” sekali. Ada yang bilang “Hariko” terkesan “Minang” sekali dan artinya adalah “hari ini”. Keduanya diasosiasikan dengan latar belakangku yang memang seorang putra Minangkabau, dan seseorang yang pernah mengajar Bahasa Jepang.

Tidak salah. Keduanya sangat tepat.

Aku memilih Hafshah sebagai namanya dengan harapan dia akan setangguh Hafshah binti ‘Umar kelak, baik dari segi agama maupun kemampuannya.

Lalu bagaimana dengan “Hariko”?

Hariko adalah satu kata yang memiliki arti nyaris sama dalam dua Bahasa yang berbeda. Bahasa Minang dan Jepang. Hariko dalam Bahasa minang, dapat berarti “ini miliknya Harry”, namun karena tidak memungkinkan untuk kutulis Harry, maka kualihkan menjadi Hari saja. Sementara dalam Bahasa Jepang diambil dari kata ハリの子 (Harry no ko) dan memiliki arti “anaknya Harry”.

Ah, iya. Selain itu, Hariko juga perpaduan namaku dan istriku, hanya saja dengan sedikit penyesuaian. Hari adalah namaku (Harry) dan Ko untuk ibunya, Kukuh, yang dalam Bahasa Indonesia biasanya ditulis Kokoh.

Harapanku anak keturunanku akan menjadi pribadi yang tangguh. Yang senantiasa berada diatas Qur’an dan Sunnah agar dapat menjadi pahala jariyah bagi abinya ini, seseorang yang sudah tidak bisa lagi dihitung dosa dan kesalahannya.

Hafshah, jadilah sosok yang membantu Abi untuk terus memperbaiki diri. Dan Kukuh. Thank you for everything. I apologize if I am not providing you with the life you ever wanted.