Ah, Hei! Lil’ brother, Sang Penghulu Pagi! Fajar. I dreamt about you last night, and surprisingly, it made me smile. You know, as a brother, i miss you. Biasanya, satu-satunya mimpi yang bisa bikin kebangun, cuma kalo mimpi Mbak Petrichor. Actually, aku memang sedang sedikit merindukan pembicaraan remeh-temeh kita. Pembicaraan ngawur antara abang dan adiknya. Dalam mimpi juga, yang datang padaku bukan kamu yang sekarang, sanak, tapi sosok kamu yang dulu. Yang belum kenal dunia sepeda, yang tiap pulang tanding, langsung datang kerumah untuk cerita tentang apa yang terjadi dihari itu, tentang bagaimana galaunya menggantung harapan pada seorang wanita yang masih punya kekasih. Pokoknya, selayaknya adik yang bercerita pada abangnya. I miss it. I miss my lil’ brother. But...
Anyway, mungkin sesuai kata teman Mbak Petrichor, mimpi tetaplah mimpi, mungkin gak lebih.
“When the snows fall and the white winds blow,
The lone wolf dies, but the pack survives.”
The lone wolf dies, but the pack survives.”
