Pluviothentic

www.storydecember.blogspot.com
Here lies the rain of my days, and the roots of who i am.
About Me
Hanya kumpulan tulisan otentik milik seorang pecinta hujan yang kebetulan senang blogging.
Ah, Hei! Lil’ brother, Sang Penghulu Pagi! Fajar. I dreamt about you last night, and surprisingly, it made me smile. You know, as a brother, i miss you. Biasanya, satu-satunya mimpi yang bisa bikin kebangun, cuma kalo mimpi Mbak Petrichor. Actually, aku memang sedang sedikit merindukan pembicaraan remeh-temeh kita. Pembicaraan ngawur antara abang dan adiknya. Dalam mimpi juga, yang datang padaku bukan kamu yang sekarang, sanak, tapi sosok kamu yang dulu. Yang belum kenal dunia sepeda, yang tiap pulang tanding, langsung datang kerumah untuk cerita tentang apa yang terjadi dihari itu, tentang bagaimana galaunya menggantung harapan pada seorang wanita yang masih punya kekasih. Pokoknya, selayaknya adik yang bercerita pada abangnya. I miss it. I miss my lil’ brother. But... 

Anyway, mungkin sesuai kata teman Mbak Petrichor, mimpi tetaplah mimpi, mungkin gak lebih. 

               When the snows fall and the white winds blow,
                    The lone wolf dies, but the pack survives.

Categories:
Kay, let’s talk about a thing yang aku percaya setiap orang pasti punya. Warna . Eh, tunggu, dulu ada deh temen yang bilang kalo dia gak punya warna yang menggambarkan dirinya. Siapa ya? Ah bohong aje tu anak. Hari-hari pakai hitam, itu dah jadi jati diri juga gak sih? Bodolah. Inti tulisan ini juga gak mau bahasin apa yang jadi favorit orang lain.

Argh.. Kepalaku terasa berat dan pusing. “Jam berapa sekarang?” gumamku, sambil melirik jam tangan. Ntah kenapa saat ini terasa begitu dingin. Aku langsung terlompat saat mengetahui bahwa aku tak lagi mengenakan baju. Pantas saja dingin! 

Saat tengah berdiri dan mencari baju, aku menyadari adanya sesosok tubuh lain dikasur itu. Mataku terbelalak saat mendapati tubuh seorang wanita telanjang tergeletak seakan tak lagi bernyawa. “Astaghfirullah, Mbak! Mbak! Woi bangun!” Teriakku, sambil terburu-buru memakai baju yang kupungut dari lantai, menaikkan resleting celana yang turun ntah karna apa, dan kembali mengguncang-guncang tubuhnya.