Pluviothentic

www.storydecember.blogspot.com
Here lies the rain of my days, and the roots of who i am.
About Me
Hanya kumpulan tulisan otentik milik seorang pecinta hujan yang kebetulan senang blogging.
Kay, let’s talk about a thing yang aku percaya setiap orang pasti punya. Warna . Eh, tunggu, dulu ada deh temen yang bilang kalo dia gak punya warna yang menggambarkan dirinya. Siapa ya? Ah bohong aje tu anak. Hari-hari pakai hitam, itu dah jadi jati diri juga gak sih? Bodolah. Inti tulisan ini juga gak mau bahasin apa yang jadi favorit orang lain.

Kalian juga pasti punya, satu warna yang menjadi ciri khas kalian –menurut kalian. Biasanya, orang-orang yang punya kepribadian ingin menonjol itu identik dengan warna merah. Kenapa pemikiranku begitu, karna duluuuu, waktu masih bocah, udah dikasih sebuah perspektif bahwa pemimpin itu atau yang memiliki kekuatan yang lebih itu pasti pake warna merah. Dimana? Dimana lagi kalo bukan dalam tontonan tiap minggu, Power Rangers. Terus kalo orang yang memfavoritkan warna kuning biasa adalah orang yang cukup periang. Sementara warna hitam adalah warna yang pernuh misteri –konon katanya tapi ya. Ada juga yang bilang suka hitam karna hitam kesannya sangar. Padahal mah dia kagak ada misterius-misteriusnya, dianya aja yang pengen tampil sok cool

Bagi aku, grey is my identity. Gak ada filosofi yang aku ingin ambil dari warna ini. Hanya ada dua alasan: pertama, aku suka, dan kedua abu-abu benar-benar menggambarkan siapa sosok Harry Putra ini. 

Ada kebimbangan yang kuat dari abu-abu. Dan itu meggambarkanku sejak dulu. 

Dari caraku berbicara, memerintah, dan lainnya, aku memang sangat egois, keras, dan tegas. Saat ada yang tak sesuai, itu akan menyebabkan keributan (salah satu hal buruk dari Harry Putra). Tapi aku akan membahas kenapa bisa begitu, nanti di postingan berikutnya. 

Entitas abu-abu. 

Keadaan yang sering sekali muncul melingkar didalam akalku. Tidak bisa mencapai kata sempurna. Okay kita ganti deh bahasanya, kalo dibilang sempurna pasti jawabannya bakalan klise “Gak ada manusia yang sempurna, Har”, Kita ganti jadi, tidak pernah bisa mencapai kata memuaskan. 

Apapun yang sudah kugerakkan, akan terasa tidak memuaskan. Tidak mampu mencapai standarku, padahal, aku sendiri tidak tau standar apa? Standar seperti apa yang sedang kujadikan tolak ukurnya? 

Entitas abu-abu. 

Kondisi dimana sesuatu itu tidak presisi. Meskipun sudah melakukan perhitungan, pada akhirnya akan terasa seolah jauh panggang dari api. 

Aku mungkin beneran gak berbakat untuk jadi orang didepan layar. Karna ketidak presisi-an yang aku sebutkan tadi, sering terjadi jika aku jadi pemeran utama untuk menjalankan planning yang sudah kuperhitungkan sendiri itu –tapi aku gak pernah kecewa, apalagi trauma untuk jadi orang yang menggerakkan planningku sendiri. Saat aku menjadi pemeran utamanya, aku akan cepat merasa “ah, harusnya gak seperti ini.” Ngerti gak sih? Gimana cara membahasakannya yang lebih mudah ya? 

Sama halnya seperti si Abu-Abu ini. Gak ada akurasi didalamnya. Seperti sebuah kegelisahan yang tak bisa diungkap, yang membingungkan. 

Mungkin sebagian punya pandangan bahwa abu-abu ini menggambarkan sebuah sikap netral. Tapi tidak begitu menurutku. Bukan netral, tapi lebih kearah tidak bisa memutuskan. Tidak cukup gelap untuk disebut hitam, dan tidak bersih untuk disebut putih. Dia bahkan tak bisa mengatakan dia ada sisi mana. Gelap atau terang? 

Caraku mengartikan netral adalah posisi dimana kau tidak berdiri bisa tersentuh kedua belah posisi. Netral adalah posisi ketiga. Semisal, ada warna hitam, dan warna putih, maka si netral adalah warna biru. You’re the outsider, not in the middle of them. Biru menjadi 3rd point sehingga dia bisa melihat hitam dan putih, melihat keduanya, mempelajari keduanya, dan memahami keduanya. Maka, dia netral, tak tersentuh oleh salah satunya. But, grey is a middle point, dia bimbang, dia gagal memutuskan kemana. Kalau istilah minangnya “baliang-baliang diateh bukik” sebuah baling-baling di bukit ditentukan oleh kemana angin kuat bertiup. 

Entitas abu-abu adalah aku. A man who can’t choose his side. Terkadang, aku merasa bersalah pada mereka yang menggantungkan pilihannya padaku. They don’t know bahwa tempat mereka berdiri adalah tanah labil yang bisa saja membuat kaki mereka terbenam. I’m sorry, but as always, i’ll do my best, and i will not make my self disappointed. 

Ah, aku lupa, terima kasih pada seseorang yang telah memberi kalimat “Entitas Abu-Abu” ini.

0 komentar:

Posting Komentar