Pluviothentic

www.storydecember.blogspot.com
Here lies the rain of my days, and the roots of who i am.
About Me
Hanya kumpulan tulisan otentik milik seorang pecinta hujan yang kebetulan senang blogging.
Argh.. Kepalaku terasa berat dan pusing. “Jam berapa sekarang?” gumamku, sambil melirik jam tangan. Ntah kenapa saat ini terasa begitu dingin. Aku langsung terlompat saat mengetahui bahwa aku tak lagi mengenakan baju. Pantas saja dingin! 

Saat tengah berdiri dan mencari baju, aku menyadari adanya sesosok tubuh lain dikasur itu. Mataku terbelalak saat mendapati tubuh seorang wanita telanjang tergeletak seakan tak lagi bernyawa. “Astaghfirullah, Mbak! Mbak! Woi bangun!” Teriakku, sambil terburu-buru memakai baju yang kupungut dari lantai, menaikkan resleting celana yang turun ntah karna apa, dan kembali mengguncang-guncang tubuhnya.

Wanita bertubuh proporsional dengan tinggi sekitar 161cm itu, menggeser sedikit tubuhnya lalu memeluk lenganku. Sontak, hal itu membuat juniorku gelisah. “Bentar lagi lah. Tidur dulu, bentar aja.” Ujarnya malas sambil menepuk-nepuk tempat tidur seakan memintaku juga ikut berbaring, dan kembali melanjutkan tidurnya. Woi tidur dulu?! Enak banget ngomong!! 

“Mbak, pinjam kunci mobil. Ini senin, aku ada kelas kuliah hari ini.” Kataku, sembari menarik paksa tangan dari pelukannya. Aku lupa namanya siapa, kepalaku masih pusing, aku tak tau apa yang telah terjadi. Bahkan aku tak begitu ingat apa yang telah kulalui tadi malam. Yang aku ingat aku mengantar wanita ini ke hotelnya karna dia mabuk. 

Melalui whatsapp grup, anak-anak di kampus sudah menginformasikan bahwa dosen jam pertama sudah masuk. Kuraih air mineral dimeja, dan kuhabiskan dalam satu kali teguk. Wanita ini, benar-benar kurang ajar, dia pulas tertidur. Aku langsung mengambil kunci mobil dari dalam tas mewah kecil dengan logo inisial “LV” miliknya. Dan sebelum meninggalkan kamar, kulirik wanita itu sebentar. Perhatianku langsung tertuju pada pundaknya. Hmm, ai wa anata o kizutskenai. Sebuah tato tulisan jepang terpatri disana, yang artinya “cinta takkan melukaimu”. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. “Mbak ini mobil aku bawa dulu.” Ucapku setengah berbisik. 

Saat aku berjalan meninggalkannya, terdengar suara pintu kamar diketuk. Rasa panik langsung menyelimuti otakku. Kalau itu Satpol akan gawat jadinya. Aduh sialan, gimana nih? Kalau ditangkap, terus emakku tau, matilah aku. Sambil berusaha mengontrol rasa panik, aku berjalan kearah pintu, dan bersiap untuk langsung lari setelah membukanya. 

“Kak, bukain.” Suara wanita memanggil dari balik pintu. 

“Kak? Syukurlah, nampaknya bukan polisi atau semacamnya.” Pikirku. Perlahan kubuka pintu itu. Seorang wanita yang tak asing untukku berdiri dengan mulut terbuka setelah melihat aku yang membukanya. 

“Kak Har?!” Teriaknya kaget. “Ngapain kau disini?!” 

“Eh Tan, ini-” belum sempat kuselesaikan ucapanku, Tania langsung mendorongku kembali masuk. 

“Kau nidurin Kak Giia?!” Tanya dengan suara tinggi, dan tampak sangat marah. 

“Eh, yang bener aja, kagak!” Jawabku membela diri. “Aku juga gak terlalu ingat apa yang terjadi semalam, nanti deh dibahas, kalau gak nanti tanya aja duluan sama Mbak itu, aku ada kelas Tan. Nanti aku balik lagi kesini.” Aku bergegas meninggalkan mereka. Sementara Tania masih berteriak memanggilku. 

*** 

Hal paling menyebalkan dari kampus ini adalah, wilayah parkir mobil yang gak begitu luas. Jam segini, memang udah gak bisa dapat lagi lahan parkiran di depan, mau gak mau harus mutar lagi ke belakang, atau pilihan terakhir, pinjam lahan kosong bekas lapangan takraw di Enggano. Untungnya, parkiran belakang masih ada yang kosong, jadi bisa lebih aman. Aman? Yap, aman dari kejahilan bocah-bocah yang suka ngegoresin pintu mobil. Ini mobil orang, mana BMW lagi. M3 E46! Tekor kalau harus perbaiki cat ini. 

Kukeluarkan ponselku, dan langsung menghubungi Ernest untuk minta tolong jemputin mobil di tempat tadi malam. Ernest bekerja sebagai teller di Bank BNI, jadi kemungkinan mobil juga bakalan dijemput sama supir keluarganya. Tentunya nanti kunci bakalan di jemput dulu kesini. 

“Kenapa, gak kau aja sih yang jemput?” tanyanya, sebelum mematikan telpon. 

“Gak bisa Nest, lagi ada kelas, terus aku juga bawa mobil lain. Tadi malam aku ketemu temanmu yang pakai E46 warna tosca.” Jelasku agar dia bersedia menjemput. “Dia mabuk, terus minta aku yang antar.” 

“Giana?” Ujarnya terdengar kaget. “Lho, bukannya dia sama Tania tadi malam?” 

“Iya, dia suruh Tania pulang pake taxi online. Terus minta antar sama aku. Tu anak emang kurang ajar.” 

“Hahaha, terus, kalian ngapain aja?” Pertanyaan udah berasa timah panas. 

“Sialan ni anak. Aku gak ingat, tadinya mau nanya” belum sempat ku selesaikan ucapanku, Ernest tiba-tiba memotong. 

“Yaudah, have fun. Hati-hati! Jaga diri!” ujarnya sambil tertawa ringan. 

Apaan sih ni anak. Baru saja kaki menginjak tanah, hendak keluar dari mobil. Salah satu anak kelas datang sambil senyam-senyum. 

“Hoo, Kendaraan perang kemarin di ganti mobil begini. Tembus proyek mana?” Candanya. 

“Proyek di Mars, pembukaan lahan sawit untuk alien.” Jawabku. Kami berdua hanya tertawa. “Mobil pinjam ini. Eh, Zen, tadi Pak Dosennya masuk?” 

“Masuk, dia marah, katanya, kalau kau udah gak niat lagi kuliah, lebih baik berhenti.” Kata anak anggota DPRD kota itu. Namanya Romeo L Zain, lebih akrab dipanggil Zen. 

“Lho, baru juga tiga pertemuan gak masuk, brengsek tu Bapak.” 

Tak begitu lama, beberapa manusia lain menyusul dibelakang Zen. Tiga perempuan dan dua laki-laki. Mereka memang satu gang yang tak terpisahkan. Melihat aku yang kekampus dengan penampilan urakan, rambut acak-acakan karna gak mandi, tapi datang dengan sebuah mobil mewah, tiba-tiba saja Citra dengan santainya nyeletuk, “Habis jadi brondong tante mana lu?!” dan diikuti tawa anak-anak lain. 

“Abis pesugihan tadi malam. Numbalin 3 lonte. Lu mau ditumbalin juga gak?” jawabku yang kesal dan asal. 

“Becanda, Bang Har! Dah yuk ah, makan.” Dia kemudian menarik tanganku untuk ikut makan, mengganjal perut untuk jam kedua yang akan berlangsung sampai pukul 1 nanti. Ya begitulah, meskipun terkadang mulut kami selalu saling mengeluarkan makian yang tak pantas, tak ada satupun yang memasukkannya ke hati, karna tau itu sebuah hanya gurauan. 

*** 

Sepulang dari kampus, kusempatkan sebentar untuk memenuhi kewajiban siang agamaku. Lalu, kupacu mobil menemui mbak-mbak tadi malam. Mengantarkan mobilnya kembali ke hotel. 

Setibanya disana, ternyata tidak ada orang dikamar. Apa udah pulang? Tapi setelah kutanya kakak-kakak di lobby, katanya dia pergi dengan seorang perempuan, kemungkinan itu Tania, dan belum check-out. Jadi kuputuskan untuk menunggu. 

Setelah menunggu cukup lama di sofa yang mereka letakkan diselasar kamar, akhirnya terlihat seorang wanita dengan blouse berwarna cokelat, dipadu celana kulot panjang berwarna hitam berjalan dengan langkah tegas kearahku. Gia benar-benar terlihat seperti seorang wanita kantoran yang memiliki jabatan cukup tinggi. Tapi dia tak sendiri, dibelakangnya Tania tampak mengekor. Pandangan Tania terkunci kearahku, dia berjalan sedikit terburu-buru sambil sesekali melihat kiri-kanan. 

Plak! 

Sebuah tamparan mendarat kuat di pipi kananku. Aku yang kaget secara refleks mengangkat tangan yang sudah terkepal ke udara. Untung saja sebelum pukulan mendarat dikepalanya, kesadaranku langsung muncul kembali. “Apaan sih Tan, main tampar sesuka kamu?! Untung cewek, kalo cowok, kulempar kamu dari lantai 5 ini!” Ujarku dengan nada sangat tinggi dan mengancam. Mbak itu hanya terdiam karna kaget. 

“Diam kau! tadi malam kau ngapain sama Kak Gia?” Ternyata lebih galak dari pada aku. Sesaat aku juga merasa takut. “Anjing! Memang gak ada ota–” 

“Eh, Tan, kamu kenapa?” Tiba-tiba Mbak –yang akhirnya aku ingat namanya Gia itu, membekap mulut Tania yang sedang memaki kaya’ kesetanan. “Masuk kamar dulu nanti kujelasin.” Ujarnya, yang akhirnya bisa membuat Tania tenang. 

Sesampainya dikamar, Gia langsung duduk dipinggir kasur. Sementara aku memutar sofa didepan TV kearahnya. Tania terus berdiri berkacak pinggang dengan tatapan seolah berkata “Sekarang jelasin!” 

“Tadi malam itu, dia itu ketiduran, padahal aku cuma kasih dikit biar dia relaks.” Katanya sambil senyum-senyum yang membuatku kesal. “Bukan dia yang ngapa-ngapain aku, aku yang ngapa-ngapain dia.” Tambahnya dengan tawa pecah. 

“Hah?” Tania tampak kaget, aku juga sama. Kemudian tania mengarahkan pandangan kepadaku. 

“Woi, ‘kasih cuma sedikit’ maksudnya apaan?” aku mulai mencari jawaban atas apa yang terjadi. “Terus ‘ngapa-ngapain’ gimana?” 

“Idih pura-pura lupa, udah puas gitu, malah pura-pura lupa.” Penjelasan Gia ini, malah membuat kepalaku dipukul lagi dari belakang sama si SETANia ini. 

“Serius Gia, aku gak paham, yang aku ingat aku antar kamu, kita ngobrol, terus aku tiba-tiba sangat ngantuk. Kamu kasih aku apa?” Ujarku memelas jawaban yang lebih jelas. 

“Valium. Padahal aku cuma kasih 3 mili biar kamu lebih tenang. Taunya kamu malah kaya’ dibius dosis tinggi. Kukira aku paling lemah, sama tequila aja mabuk. Taunya ada yang lebih lemah. Hahaha” Anjir ni cewek, dia kasih aku valium, dan dengan santainya ketawa. 

“Valium? Woi gimana kalau nanti aku kecanduan, sialan!” Aku mulai panik karna mendengar dia memberiku sesuatu yang cukup berbahaya. Valium adalah jenis obat dari keluarga benzodiazepine, yang memiliki efek menenangkan, benzodiazepine sendiri juga termasuk salah satu psychoactive drugs. 

“Tenang, Har. Sesedikit itu gak akan ngebuat kecanduan, itu juga obat insomnia kok. Aku iseng, maaf. Habisnya kamu ngejek aku waktu mabuk kemarin, aku berasa mau balas dendam jadinya.” Gia menjelaskan dan menjamin itu aman. “Eh, tapi waktu kita jima’ tadi malam, kamu menikmati kok, walaupun kaya’nya setengah sadar, dan aku puas.” Jima’? Astaghfirullah dia pakai istilah yang islami sekali. 

Tania seketika itu juga langsung manarik kerah bajuku, dan dengan penuh intimidasi berkata. “Mulai sekarang Kau jaga kakakku!” 

Sial, apa lagi ini!! 

*** 

Langit tampak mulai menjingga. Disebagian sisi tampak warna kemerahan yang sangat indah. Lampu-lampu jalan pun sudah mulai menyala, menandakan kegelapan mulai hadir perlahan. Setidaknya pemandangan itu membuatku tidak terlalu terbebani dengan jalanan yang padat merayap. Aku mengajak Gia jalan-jalan untuk menghindari celoteh Tania yang mulai membuatku geram. 

Aku sempat menghentikan kendaraan disebuah mesjid untuk menghindari macet, melakukan kewajiban, dan menunggu jalan mulai lancar. Akibatnya, kami baru tiba ditempat tujuan saat langit benar-benar sudah gelap. Sentral Komersial Arengka, atau yang lebih akrab ditelinga warga Pekanbaru sebagai Mall SKA. Sebenarnya, datang ketempat ini, juga gak tau buat apa, hanya saja lebih baik dari pada berlama-lama bersama Tania. 

“Mau nonton gak?” tawarku saat baru turun dari mobil. Dia hanya menggangguk menyetujui. Selama perjalanan, Gia terlihat lebih tenang dari pada saat pertama. Mungkin karna tidak dalam pengaruh alkohol. 

“Woi Bangir!!” Teriaknya, membuat aku dan orang-orang sekitar kami kaget “Kalau mau ninggalin aku, buat apa tadi ngajak?” 

Aku menunjuk hidungku sebagai isyarat menanyakan, apa yang dia maksud adalah aku. 

“Iya siapa lagi?” nadanya masih belum turun, kaya’nya tombol volume tiba-tiba aja rusak. 

“Hush, kecilin tu suara.” Ujarku berbisik saat dia berhasil menyusulku. “Mau itu gak?” tanyaku kemudian, menunjuk stand penjual minuman, berharap dia tenang. 

“Eh, calais, boleh tu!” dia menarik tanganku setelah melihat kemana tunjukku mengarah. 

Kami terus melanjutkan perjalan setelah membeli minuman, karna target utama adalah nonton. Film pilihan kali ini, adalah sebuah film horror, aku tak peduli dia penakut atau tidak. Bodolah, nanti juga kalau takut tinggal tutup mata. Pikirku. Terlebih, dia juga tak sedikit pun protes dengan film pilihanku. 

Ketika film sudah dimulai, perempuan yang sejak tadi tenang itu mulai terlihat gelisah. Saat aku tanya “Takut, Mbak?” 

“Takut? Enak aja!” bantahnya. 

Namun benar saja, saat hantunya muncul dan berteriak, meskipun dia tidak ikut berteriak, tapi tangan kirinya meremas pergelanganku, sementara tangan kanannya mengangkat tas untuk menutupin mukanya. Sontak hal itu membuatku merasakan sakit namun tak tahan untuk tertawa. Sampai suatu saat dia berbisik ditelingaku. “Ngir, aku mau pipis, gak tahan.” Seenaknya aja ni anak ganti panggilanku. 

“Yaudah pergilah sana. Dari pada banjir disini!” ujarku sambil melambaikan tangan layaknya mengusir ayam. 

“Temenin.” 

“Ih, ogah!” 

Film selesai saat jam sudah menunjukkan hampir pukul 10 malam. Gia langsung berlari ke toilet, mungkin udah gak tahan. Setelah itu kuputuskan untuk mengantarnya, dan pulang. Gia bilang, hari ini dia juga masih akan tidur dihotel yang sama. Hmm, jalan Sudirman sih udah sepi, tapi jalan Nangka ini nih yang sulit buat sepi. 

Perjalanan balik, aku membawa mobil lebih santai. Lagu Never Enough yang dibawakan oleh Loren Allred sebagai soundtrack film “The Greatest Showman” mengalun dari radio. Wanita berkacamata disampingku ini, mengikuti lirik lagu tersebut, nampaknya dia suka lagu ini. Kalau mengabaikan latar belakangnya, harus kuakui dia sangat manis. Idola nih cewek. 

“Mbak, tolong pesanin ojek online dong, biar aku sampai hotel bisa langsung pulang.” Pintaku, mengingat saat itu paket internetku juga habis. Pagi tadi aja pakai wi-fi hotel. 

“Eh, Bangir, berhenti manggil aku ‘Mbak’. Kan udah kubilang, namaku Gia. Wilda Giana Fitri!” lah dia malah marah-marah, PMS nih anak? 

“Iya, iya, pemarah amat.” Kataku. “Gia, kenapa bisa kuliah ke Pekanbaru?” 

“Dulu ada tanteku tinggal disini. Dia yang ngajak, karna saat itu kondisi dirumah gak baik. Tapi tante udah pindah ke Jakarta. Pindah dinas perusahaan dia.” 

“Hmm, Gak baik gimana maksudnya?” 

Wanita itu tampak menerawang ke langit-langit mobil. “Ibu aku itu, orang kaya. Anak pemilik perusahaan ekspor kayu gaharu.” Ujarnya melanjutkan cerita. “Sementara Ayah cuma pegawai di dinas tata kota.” 

“Gak usah dilanjutin ceritanya, maaf aku nanya yang pribadi.” Jawabku menghentikan ceritanya. Aku tidak ingin mengusik privasi orang lain, terlebih saat melihat mata wanita itu mulai berkaca-kaca. 

“Gak apa kok, aku juga lagi pengen cerita aja.” Ujarnya. Kali ini aku hanya akan mendengarkan. “Ayah sering menyebut Ibu sebagai ‘borjuis’ semenjak ibu mengambil alih perusahaan kakekku. Ayah bilang begitu, dengan niat menyinggung ibu. Sejak ibu mengambil alih perusahaan, Ibu mulai sibuk. Ayah, bisa saja menceraikan ibu, tapi karna ada aku dia terus menahan. Ibu juga mulai sering merendahkan ayah. Itu menyebabkan rumah tidak lagi kondusif. Perkelahian hampir setiap hari. Melihat hal itu, tanteku minta izin untuk membawaku agar aku tidak terdampak keributan mereka.” 

Penjelasan Gia membuatku sedikit merasa kasihan, dan tanpa sadar aku sudah mengelus kepalanya. Dia tertawa melihat tingkahku. “Terus, apa kamu memiliki phobia untuk menikah juga sekarang?” tanyaku. 

“Ya enggak lah! Gila aja takut, kalau gak nikah, gimana mau nyalurin hasrat sexual tanpa dosa? Ada-ada aja sih.” Lah, brengsek ni anak, kaya’ mempertimbangkan dosa aja. Gak ingat apa yang udah dia lakuin tadi malam? Seolah bisa menebak isi hatiku, dia mulai melanjutkan omongannya. “Gini-gini, ayah dulu ngajarin ilmu agama yang cukup buat aku, aku juga sempat di pesantren. Gak mungkin juga terus-terusan buat dosa, aku juga pengen tobat kali, Ngir.” 

Pentesan ini anak tadi nyebutnya jima’

“Aku juga sekarang kerja di perusahaan asuransi, untuk nyampaikan pesan ke Ibu. Setinggi apapun karir yang dicapai, menghormati suami adalah keharusan.” Jawaban wanita ini, membuat dia terlihat sedikit dewasa, walaupun terkadang otaknya juga tetap menghilang setengahnya.

“Terus tato dipundak?” pertanyaan ini hanya untuk mengalihkan ceritanya saja. “Cinta tidak akan melukaimu.” 

“Oh kamu bisa baca tulisan jepang?” Aku mengangkat dagu menyombongkan kemampuan. “Itu pengingat, bahwa, kalau orang yang benar cinta, tidak akan menyakiti pasangannya.” 

“Bagaimana kalau suami kamu, atau keluarganya gak suka sama cewek bertato?” 

“Tinggal operasi penghapusan tato.” 

“Rela emang? Mahal, terus sakit banget lho!” dari beberapa temanku yang menghapus tato dengan laser, semua jawab, itu sangat menyakitkan, dan sakitnya berhari-hari. Operasi juga tidak sekali, tapi beberapa fase, sampai benar-benar hilang. 

“Mahalnya gak masalah. Aku udah mikir juga sampai sana. Kalau aku cinta dia, dan dia menghargai aku dengan semua ini, aku rela nahan sakit buat buang ni tato.” Mendengar jawaban lugas dari mulutnya, membuat aku hanya bisa terdiam.

Setengah jam lebih kami di perjalanan, aku mulai merasa agak kelelahan. Beberapa kali aku menguap. Sementara Gia masih bernyanyi mengikuti lagu dari radio. Kali ini lagu Adu Rayu yang dinyanyikan Tulus dan Glenn di iringi piano Yovie Widianto. 

“Ngir, jangan balik pulang. Tidur disini aja lagi. Temenin.” Pintanya saat mobil memasuki area parkir hotel. 

“Gak bisa, Gi. Aku pulang, aku besok juga kuliah, baju gak ada baju ganti nanti.” Aku berusaha menolak. Bagaimanapun aku adalah laki-laki normal, tentu mau saja, tapi aku memang ada kelas besok. Kalau ini malam minggu, aku takkan pikir panjang. Namun, Gia memasang wajah memelas. “Gak bisa Gi, aku gak mau pakai baju ini lagi ke kampus.” 

Dia diam sebentar, sambil mengotak-atik gawainya. “Okay, done!” katanya kemudian sambil menunjukkan layar HP yang menampilkan chatroom WA. Ternyata dia menghubungi Tania untuk meminjam pakaian abang Tania dan minta untuk mengantarkannya esok pagi dengan bayaran 200 ribu. “Yah?” 

Melihat hal itu, aku hanya menggangguk ringan sebagai ganti jawaban. Sialan, Tania jawab iya. Yaudahlah, masa bodo sama besok. 

“Thank You!” Teriaknya. Dia mencium bibirku, lalu dengan santainya turun dari mobil, dan masuk ke hotel dengan langkah riang. Ntah kemana alur ini akan berakhir.

0 komentar:

Posting Komentar