Pluviothentic

www.storydecember.blogspot.com
Here lies the rain of my days, and the roots of who i am.
About Me
Hanya kumpulan tulisan otentik milik seorang pecinta hujan yang kebetulan senang blogging.
September, 21. 

Heiiiii!!! Selamat bertambahnya angka pada usiamuuuu! Betapa spesialnya hari ini untukmu. Bagaimana tidak, kamu benar-benar sudah menggapai beberapa hal besar dalam hidupmu saat ini. Tahun ini, tahun yang meriah untukmu. Maaf, dulu aku sering melambatkan diri mengucapkannya. Tapi itu benar-benar sengaja. Untuk merangkai beberapa kalimat spesial dihari yang spesial pula. Namun hal itu malah lebih sering menjadi bencana untukku. Nyaris disetiap hari spesialmu, kita bertarung layaknya goku dan bejita yang mencari siapa yang terkuat diantara mereka.

Maaf jika kali ini aku harus menulis namamu secara lugas, padahal aku sudah berjanji untuk tak lagi melakukannya. Widya, selamat ulang tahun. 24 tahun ya tahun ini? Semoga umur yang tersisa lebih berkah, Sayang. Semoga impianmu yang belum kamu capai, bisa terwujud secepatnya. Dan kamu mendapat kebahagiaan tiada tara dari Allah. Aamiin. Ada beberapa hadiah sebenarnya untukmu, yang sudah ku persiapkan jauh hari, namun aku tak mengira bahwa hadiah itu akan berakhir terpajang dilemari saja. Mungkin suatu hari akan aku serah. Tapi bukan saat ini. 

Ratusan tulisan yang aku tulis, sudah tak lagi bisa kamu baca. Benar, tak satupun tulisan yang kusembunyikan darimu. Hanya saja, aku sudah menghapus nomormu dari gawaiku. Ya, meskipun aku ingat dengan jelas berapa nomormu, paling tidak, dengan kuhapusnya nomormu, takkan bisa lagi kupenuhi hasrat diriku saat tiba-tiba ingin mengirimimu pesan. Sebagaimana yang beberapa hari ini kurasakan. Hatiku sangat ingin menghubungimu. Sekedar bertanya, apa kamu sehat? Apa semua berjalan baik? Apa kamu bahagia? Argh, kurasa pertanyaan terakhir tak perlu kuajukan. Sudah jelas kamu bahagia. 

Wi. 

Belum pernah rasanya aku benar-benar lupa akan dirimu. Paling tidak, aku akan memimpikanmu minimal sekali dalam sebulan. Tak jarang hati berontak memaksaku untuk menghubungimu. Tapi, merusak kebahagiaan orang lain, atau mengganggu orang yang sudah memiliki kekasih bukanlah hal yang kusuka. 

Menunggu? Ya tentu saja aku menunggu. Bahkan ujaran kebencian dari teman dekatku tentang sikapku yang seolah enggan untuk bersikap realistis, tak sedikitpun ku gubris. Perlahan, mereka menjauh. Dan itu tak masalah bagiku. Aku tak ingin diatur siapapun dan aku selalu berpikir, apa gunanya teman, jika dia menolak untuk mendengar keluhan. Maka, aku lebih dengan rela berteman dengan seekor landak, seperti yang kulakukan sekarang. 

Wi. 

Belum pernah aku merasakan kehilangan se-luarbiasa ini. Tapi yasudahlah. Kamu punya pilihan yang pasti sudah kamu pikir secara matang. Dan jika kamu memilih kembali, ingatlah, aku rumah yang tak pernah tertutup untukmu. 

Selamat ulang tahun, Sayang. Meski sudah berbeda kapal, aku selalu bahagia kamu pernah ada dikapalku. Semoga karirmu semakin menanjak, dan keluargamu bahagia karnanya. Aku pernah menentang inginmu saat kamu katakan ingin bekerja. Tapi bukan karna aku tak suka, lebih karna aku ingin kamu tenang dan bahagia. Namun saat keputusanmu bulat, maka kuserahkan padamu, dan ku dukung sepenuh hatiku. 

Teruslah berkarir. Dan teruslah bahagia. Meski inginku, bahagiamu ada padaku, tapi aku tak lagi suka memaksa. Aku masih tetap egois, tapi dengan cara berbeda. Semoga 21 September tahun ini, adalah titik balik momen paling bahagiamu. 

Tertanda, 
Puca, orang yang sudah kamu lupakan dari hari-harimu.

0 komentar:

Posting Komentar