Pluviothentic

www.storydecember.blogspot.com
Here lies the rain of my days, and the roots of who i am.
About Me
Hanya kumpulan tulisan otentik milik seorang pecinta hujan yang kebetulan senang blogging.
Jam sudah menunjukkan pukul 21.40. Aku pun sudah sangat siap untuk keluar. Tiba-tiba dari rumah seberang, ibuku keluar, bertanya “Mau kemana?” Aku hanya mengatakan bahwa ada tugas kuliah yang harus kuselesaikan. Sebenarnya aku tak ingin keluar, mending tidur. Namun kalimat terakhir Ucen cukup membuatku penasaran. Kira-kira hal sepenting apa yang ingin dia sampaikan. Karna jika didengar dari nada bicaranya, kali ini benar-benar penting, tidak seperti “penting” biasanya. 

Kunyalakan mesin mobil, dan memasang sabuk pengaman. Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah pengharum mobil beraroma kopi. Sesaat, terlintas wanita itu dibenakku. Nona Visza (gitu aja kita sebut namanya, ketimbang mengundang marahnya lagi). Dulu, kami cukup sering keluar dengan mobil ini. Jalan-jalan, menghabiskan waktu bersama. Walaupun harus ribut dulu. Dia berpikir mobilku ini boros, aku tidak menyangkal, tapi aku masih sanggup kok mengisi bahan bakar demi berduaan dengannya. Dan pengharum itu, adalah pembeliannya.

Kupacu mobilku cukup cepat menuju lokasi yang mereka kirim tadi. Cukup untuk membuat degup jantungku sendiri terpacu. Hampir 20 menit Ucen dan Ernest tak henti-hentinya menghubungi. Ada apa sebenarnya.

***

Lagi-lagi ku datangi tempat ini. Embay. Sial, aku tak ingin masuk. 

Ku angkat gawaiku yang berdering sejak tadi. “Aku gak mau masuk.” 

“Masuk! Ada yang mau kubahas juga. Disini ada Donet.” 

Astaghfirullah, kok ada Donet ditempat beginian? Batinku. Penasaranku semakin menjadi-jadi. Pada akhirnya kuputuskan untuk ikut masuk. Dentum musik EDM menyambut dan memekakkan telinga seketika. Oh, sedikit tentang Donet. Dia adalah seorang sahabat karib yang kupikir tidak akan pergi ke tempat semacam ini, meskipun aku tau dia peminum kelas berat. Selalu menyediakan Rum dikamarnya. 

Dari kejauhan Donet melambaikan tangannya. Kutarik bangku, dan bergabung bersama mereka. 

“Har, aku dengar dari beberapa narasumber, katanya, Fahri dan mantanmu akan segara menikah.” Ujar Donet tanpa banyak basa-basi. Sebenarnya aku tak bisa menahan amarah, tapi aku tau bukan disini tempat aku melampiaskan semua uneg-unegku. 

“Aku janji ini terakhir kalinya aku ngundang kamu kesini lagi, untuk bilang, udahlah, nyerah tentang dia. Ada seorang wanita yang ingin kukenalkan, teman tanteku, seumur denganmu, Bang Har. Bukan anak dunia malam kok. Dia baik.” Pernyataan terakhir Ucen ini langsung membuatku naik pitam, mengangkat gelas tebal berisi chivas yang ada dimeja dan ingin menghempaskannya tepat ke kepalanya, namun tangan Ernest dengan sigap menahan. 

“Har, Ucen ada benarnya.” Ujar Ernest. Kemudian kutinggalkan tempat, menuju sebuah taman yang berada tak jauh dari sana. Mencoba menenangkan diri. 

***

Tak terasa aku sudah duduk disini sekitar 1 jam lebih. Selang beberapa lama, sebuah BMW M3 warna tosca berhenti tak jauh dariku. Dua orang wanita turun, yang satu tampak terhuyung. Yang satunya hanya mengekor dibelakangnya. Membantunya untuk dapat duduk dibangku taman. Pasti hangover ni anak, gak bisa minum sok-sokan minum ni. Eh tunggu, aku kenal wanita yang satunya. Tania? 

Merasa kenal dengan salah satunya, kuhampiri mereka. “Tania?” tegurku. 

“Eh, Kak Har.” Tampaknya Tania terkejut melihat kehadiranku. 

“Kenapa ni anak?” 

“Tau nih! Minum tequilla doang bisa kaya' gini, konyol ni anak emang.” Kan bener, gak pernah minum ni anak. 

“Woi, Aku gak mabuk. Mual doang!” Jawabnya mencari alasan. “Eh, bentar. Kamu Harendra Ali, temennya Ernest kan?” wah bener mabuk apa gak sih ni anak?

“Iya, kenal Ernest, Mbak?” tanyaku. 

Dia mengangguk kecil “Ucen, Delila juga kenal. Komunitas.” 

“Terus kok kenal saya?” tanyaku penuh selidik. 

“Yang bilang kenal siapa?” ujarnya. Benar juga, dia gak ada bilang kenal. “Cuma, dibeberapa Project Car komunitas kami, foto kamu ada. Ernest bilang kamu yang tangani project itu.” 

Komunitas yang dia maksud adalah komunitas JDM car. Sebenarnya bukan aku semua yang melakukan pengerjaan, tapi aku yang menjadi penghubung mereka dengan rumah modifikasi pamanku beberapa kali. 

“Tan, kalau mau pulang duluan aja, gak apa. Aku udah agak mendingan. Lagian ada project yang ingin kubahas dengan Harendra.” Ujar wanita itu pada Tania. Siapa ni cewek, berani amat. Tania pun kemudian pulang dengan memesan taxi online. kaya’nya angkutan online ini ada 24 jam deh? 

“Yuk, Har.” Ajaknya setelah Tania tak terlihat lagi. 

“Mau kemana, Mbak?” Tanyaku. 

“Ya antarin akulah, balik ke hotel.” Seenaknya aja ni cewek. Terus nanti aku balik kesini buat ambil mobil pake apa? Bayar gojek? 

“Gak bisa, Mbak. Saya nanti balik gimana?” 

“Bawa aja mobil aku, besok kamu jemput aku lagi kesini pagi.” Jawabnya dengan senyum licik mengembang diwajahnya. Yasudahlah, kebetulan, nyoba bawa BMW M3 begini, jarang-jarang. 

Sepanjang perjalanan, dia banyak bercerita sambil sesekali menahan muntah. Tampaknya wanita ini sangat dekat dengan Delila, bahkan sering pembahasan mengacu pada alasan mengapa Delila memutuskan pisah dari Ucen. Namun Mbak ini tidak menjelekkan Ucen sedikitpun, salut sama cara dia menyampaikan. 

Akhirnya kami tiba di hotel tempatnya menginap malam ini. Aku memapahnya menuju kamar hotel karna masih belum bisa berjalan normal. 

“Dah, Mbak aku pamit.” 

“Tunggu, duduk dulu. Aku masih mau cerita. Kalo kamu nolak, besok pagi bakalan banyak aib tersebar tentang kamu.” Anjir ni cewek, dengan tetap tertawa kecil, dia mengancam. Belum ada orang yang bisa mengancamku sejauh ini. “Namaku Giana. Biasa dipanggil Gia. Kita seumuran. 25 tahun 'kan?” 

“Aku 26.” Jawabku singkat mulai jengkel dengan wanita ini. 

“Nah lebih tua kamu 'kan.” Jawabnya. Yang membuatku menelan ludah adalah, dia dengan santai mengganti pakaiannya dihadapan. "Oi, dikamar mandi sana ganti pakaian!" ujarku sambil memalingkan pandangan. 

“Ih sok gak mau. Lagian aku masih pake bra sama celana dalam kok.” Wanita ini benar-benar gak ada malunya. Mana terus-terusan tertawa meledekku. “Yaudah, aku gak akan ganti pakaian, gini aja!” 

Bangsat. 

“Aku banyak dengar tentang kamu dari Ernest dan Delila. Mereka cukup peduli tentang kamu.” Ujarnya kemudian. 

“Hmm, maksudnya?” 

“Aku juga jadi wanita panggilan sejak kehilangan kepercayaan pada laki-laki.” Ujarnya membuyarkan lamunanku. Ternyata wanita ini seorang penjaja diri. “Makanya aku gak canggung bugil didepan kamu. Udah biasa.” 

“Wah. Masih kuliah?” 

“Ini mau selesaiin S2.” Brengsek, sekarang pelacur pun S2. 

“Gak ada rencana berhenti? Kan bisa dapat kerja yang lebih layak?” kali ini aku sudah tak canggung lagi melihat tubuh wanita ini. Namun dengan sedikit tatapan iba. 

“Berhenti? Udah lama. Sejak Sarjana Ilmu Pemerintahan ku selesai. Jangan natap aku kasian begitu.” Berarti dia gak bego, bahkan dia tau aku sedang mengasihaninya.

“Lah terus kenapa masih begini dihadapanku?” tanyaku sambil menyesap kopi yang ia letakkan dimeja dekatku. wanita ini membingungkan. 

“Hahaha” tawanya seketika meledak. “Gak ada, mungkin efek aku minum tadi kali.” 

Cukup lama kami terdiam. Dia tidur telentang diatas kasur, masih setengah telanjang. Akupun masih belum beranjak dari sofa. Duduk tenang berusaha untuk tak terpengaruh. 

“Pertama kali aku menjadi seorang pemain adalah saat aku kehilangan kepercayaan. Kemudian aku mendekati banyak laki-laki, untuk mengambil uangnya. Membiarkan mereka menikmati tubuhku sesaat. Lalu kutinggalkan.” Dia membuka percakapan dengan bercerita sedikit tentang hidupnya.

"Sayangnya, aku gak punya uang mbak, jadi gak bisa diporotin. Haha." Jawabku dengan sedikit tawa. 

"Kalau buat kamu gratis deh! Asal berani!" ujarnya menantang.

“Apa orang tuamu tidak mempertanyakanmu pulang larut malam?” aku ingat, dulu saat masih tinggal serumah bersama orang tua, mereka selalu mengamuk tiap aku pulang lewat dari jam sebelas malam. 

“Aku dari keluarga broken home, di Bali. Kuliah ke Pekanbaru, ngontrak. Jadi gak ada permasalahan seperti tu.” Semakin lama pembicaraan semakin serius. “Aku tau cerita kamu dengan sang mantan yang kata mereka sudah merencanakan pernikahan. Hal itu biasa Har menurutku. Kamu gak perlu larut. Bener kata Ernest ‘lampiasin aja dulu, nanti bakalan hilang’. Ucen sempat bilang gini ‘kalau aja tu anak minta cewek untuk jadi pelampiasan, gue bakal sediain belasan lonte untuk kasih dia kepuasan’.” Ucen memang begitu, ucapannya selalu tanpa filter, anehnya, jika dihadapanku dia selalu menjaga cara bicaranya yang menganggap semua bisa dibeli pake uang. 

“Aku bukan tidak bisa melupakan. Aku masih merasa, aku bertanggung jawab atas dirinya. Dia milikku.” Ya itu yang terus kurasakan, dia milikku. 

“Bagimu. Baginya?” Aku tak bisa jawab itu. “Dengar, baginya ada yang lebih layak untuk mendapatkan hatinya. Dan itu bukan kamu.” Aku tau, aku paham perihal itu. tanpa dijelaskan pun, aku mengerti. Hanya saja, hati ku sudah terlalu bersikap bodoh amat. 

Wanita itu berjalan kearahku. Masih sama, tanpa mengenakan pakaiannya. “Nikmati aja malam ini.” Ujarnya sambil mengusap pundakku, dan meminum kopi yang tadi juga kunikmati. Kukira tadi kopi itu untukku. 

Jam tanganku menunjukkan pukul 1 lewat beberapa menit. Ntah apa yang kupikirkan. Aku berjalan kearah kasur, sementara dia masih disofa menyesap kopi itu sampai habis. Perlahan kurebahkan tubuhku. Mataku cukup mengantuk saat ini. Sebaiknya aku pulang besok sa...

0 komentar:

Posting Komentar