Setelah penantian yang panjang, akhirnya liburan pun dimulai. Ini rasa jenuh sudah menumpuk. Mengingat bagaimana nilai yang akan memburuk dipenghujung semester ini. Terlebih, tuntutan atas ini itu yang juga ikut meninggi. Aku hanya manusia biasa dengan 2 tangan, 1 mulut, 2 telinga, dan lain-lain selayaknya manusia normal pada umumnya. Jadi, ya mungkin juga hal wajar, saat demand meningkat, kejenuhan juga membludak.
Minggu yang lalu, adalah minggu terluar biasa. Ujian dimulai, dari ujian kuliah, sampai uji kesabaran yang lama sudah diusahakan untuk tumbuh. Awal senin, dimulai dengan adu argumen dengan seorang polisi berpangkat brigadir sok keren, yang ingin tampak gagah dihadapan banyak wanita. Mendatangi mejaku marah-marah, karna ada sekumpulan orang yang tertawa terbahak-bahak disebuah tempat makan. Bukankah tempat makan itu ruang publik? Belum ada rasanya orang yang marah akibat tawa junior-juniorku itu. Aku memang bukan orang yang bisa tertawa sampai terbahak, tapi menurutku hal itu tak terlalu mengganggu. Seharusnya, permasalahan ini tak merembet padaku, sampai pada akhirnya si Polisi menyinggung senioritas, dan menunjukku. Aku bisa saja melayaninya berkelahi, tapi pada akhirnya, sabar menjadi pilihan, dan menasehatinya adalah hal terbijak yang bisa kulakukan.
Minggu yang lalu, adalah minggu terluar biasa. Ujian dimulai, dari ujian kuliah, sampai uji kesabaran yang lama sudah diusahakan untuk tumbuh. Awal senin, dimulai dengan adu argumen dengan seorang polisi berpangkat brigadir sok keren, yang ingin tampak gagah dihadapan banyak wanita. Mendatangi mejaku marah-marah, karna ada sekumpulan orang yang tertawa terbahak-bahak disebuah tempat makan. Bukankah tempat makan itu ruang publik? Belum ada rasanya orang yang marah akibat tawa junior-juniorku itu. Aku memang bukan orang yang bisa tertawa sampai terbahak, tapi menurutku hal itu tak terlalu mengganggu. Seharusnya, permasalahan ini tak merembet padaku, sampai pada akhirnya si Polisi menyinggung senioritas, dan menunjukku. Aku bisa saja melayaninya berkelahi, tapi pada akhirnya, sabar menjadi pilihan, dan menasehatinya adalah hal terbijak yang bisa kulakukan.
Sekedar saran untuk kalian yang menjadi atau ingin menjadi polisi, perbaiki sopan santun dan tata krama kalian. Kuingatkan, motto kalian adalah Rastra Sewakottama, “Pelayan Utama Bangsa”, kalian pelayan, bukan pengancam. Dan semboyan kalian adalah MELAYANI, Melindungi, dan Mengayomi Masyarakat. Ingat kalian masihlah PELAYAN. Tapi mari kita perbaiki, abaikan kalimat pelayan untuk sementara. Tugas kalian tetap mangayomi, memberitahu dengan baik, mendidik dengan hormat, dan bergerak dengan martabat. Aku juga bagian dari kalian, tapi dipihak yang berilmu. Jika aku tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberi untukku dulu, mungkin saat ini jabatanku sudah BRIPKA. Jadi santai. Gak perlu pakai urat.
Pertengahan minggu, aku harus kembali gaduh, kali ini dengan pihak admin kampus. Ujianku pun harus mengalami kemunduran waktu. Bersyukur dosenku bukan orang yang ribet dan suka mempersulit.
Dipenghujung hari. Sabtu lalu. Perang psikologi dengan diri sendiri membuat semua kesabaran lebur. Niatnya hanya ingin me-refresh otak yang traffic-nya sudah terlalu padat. Pergi ke sebuah tempat makan cepat saji, menikmati Crusher kesukaan seseorang, dan pulang untuk sesi fotografi. Tapi malangnya, aku malah bertemu dengan 2 makhluk luar biasa yang pernah lahir dimuka bumi ini. Ku akui, aku rindu kala itu, tapi aku yakin sudah meminta pada Allah agar jangan mempertemukan kita. Halah, bukan aku yang bisa atur Allah, aku hanya hambanya yang pendosa, dan harus mengikuti takdirnya. Dan takdirnya kali ini, kita bertemu. Aku kaget, karna sejak awal aku tak melihat siapapun disana, padahal berulang kali aku edarkan pandangan kesana. Konyolnya, dalam hatiku tiba-tiba ingin melempar minumanku yang belum habis masuk ke tempat sampah, untung batal, bisa rugi.
Kudatangi, dengan niat, ingin mengetahui, seberapa sabar aku sekarang. Hahaha. Sialan. Didalam diri, perang sudah mulai berkecamuk. Hati sudah menembakkan rudal pada otak yang terus saja memprovokasi “Lempar pria itu kebawah!” dan otak juga menyiapkan tameng baja anti rudal untuk menangkal, dan melempari molotov untuk membakar hati sampai hangus. Tapi pemadam kebakaran dihati juga sangat sigap, menyemprotkan fire extinguisher.
Beberapa menit kunikmati memandanginya, dengan rasa yang tak menentu. Ini udah berasa masokis. Masih dengan tenang menikmati Crusher-ku. Duduk dimeja yang sama dengan mereka, santai.
“Eh, sama siapa kesini?” ujar si Pria dengan wajar sok kaget dan sedikit gelisah. Hanya kubalas dengan diam, dan menatapnya tak peduli.
“Sendiri?” Tanyanya lagi. Aku juga masih dengan ekspresi yang sama. Menurutku, itu ekspresi yang sangat konyol.
“Sama teman ya?” Pertanyaan terakhir membuatku ingin mengintimidasi. Kuedarkan pandangan kesekitar, melihat apa ada teman yang kukenal disekitar. Lantas menggeleng dan menyeruput minumanku lagi.
Bagaimana dengan sang Wanita? Dia mah biasa aja. Kaya’ lagi ketemu orang yang gak dikenal yang tiba-tiba numpang duduk tanpa permisi. Cuek. Bodomamat. That time, i wanted to scream through her ears “I MISS YOU! AND YOU ACT LIKE YOU DIDNT KNOW ME!” Eh tapi kemudian sadar, Lah kan emang kagak kenal, lu siapa? Lagian dia siapa? Hahaha.
Serta merta, tanpa aba-aba, kesadaranku bahwa aku tak kenal siapa mereka membuatku ingin segera berlalu. Dan, ya itu yang kulakukan. Berjalan menuju pintu kaca otomatis dengan sensor, yang kadang suka bikin horror tiap aku kesana malam, karna suka kebuka sendiri padahal gak ada orang –lah malah cerita horror, ini gimana sih.
Turun menuju anak tangga, sampai pada tempat dimana aku rasa mereka tak lagi melihatku. Ditempat ini semua rasa muak menyergap. Tanpa pikir panjang, kulayangkan pukulan tepat pada strap pembatas, sebelumnya kukira itu adalah beton, tapi tenyata gyps, dan begitulah, tanganku menembus gyps setebal 8mm itu dengan diiringi suara berderak keras. Beberapa saat kemudian, plafon tempat itu jatuh dan berserakan dibawah. Aku yang terbawa emosi, hanya melihat 1 titik. Pintu keluar.
Aku tak sadar bahwa tempat itu sedang ramai. Aku sadar, saat sudah berada dimotor. Belasan orang tampak menatap dari balik kaca. Satu orang pihak petinggi tempat itu menghampiri dan mulai bertanya, alasan aku melakukannya. Masih dengan tatapan muak, kutinggalkan tempat itu.
Belakang aku tau bahwa tak ada korban dari insiden itu. Syukurlah. Hal itu kuketahui saat tak sengaja bertemu dengan mbak-mbak karyawan tempat makan cepat saji itu beberapa hari lalu. Hahaha, jika ditanya pengalaman terbodoh, mungkin pengalaman ini yang akan kusuguhkan. Hingga hari ini aku masih merasa bodoh, dan merasa bersalah atas kejadian itu.
Dan kini kuputuskan kabur untuk sementara waktu. You must enjoy your holiday, like they enjoying every moment in their life.
Life. Happy. Make fun with your destiny.

0 komentar:
Posting Komentar