Pluviothentic

www.storydecember.blogspot.com
Here lies the rain of my days, and the roots of who i am.
About Me
Hanya kumpulan tulisan otentik milik seorang pecinta hujan yang kebetulan senang blogging.
Tesso nilo, paru-paru besar yang dimiliki Provinsi Riau, yang terletak di kabupaten Pelalawan. Bentang alam yang sangat penting bagi Indonesia, terutama Pulau Sumatra. Hutan Tesso Nilo tercatat memiliki 360 jenis flora, dan beragam fauna, diantaranya 107 jenis burung, 50 ikan, 23 mamalia, 18 amfibi, 15 reptil, dan 3 primata. Tesso Nilo yang namanya diambil dari dua nama sungai yaitu sungai Tesso yang terletak pada bagian barat dan sungai Nilo pada sisi timurnya ini juga merupakan hutan dataran rendah terkaya di dunia dengan ± 200 jenis pohon dalam satu hektare, dan membuatnya menjadi biodiversity terpadat di Asia Tenggara.

Kawasan ini masuk dalam kategori hutan hujan tropis yang menjadi habitat alami bagi harimau Sumatra, gajah Sumatra, beruang madu, tapir, dan rusa.

Pada tahun 2004 Menteri Kehutanan menetapkan statusnya sebagai Taman Nasional dengan luas awal ± 38.576 hektare, dan kemudian diperluas kembali pada tahun 2009 menjadi 83.069 hektare.

Ekosistem Tesso Nilo sendiri dibagi menjadi 3 kawasan hutan, yakni satu hutan konservasi (Taman Nasional Tesso Nilo sendiri), dan dua hutan produksi yang hak pengusahaan hutannya dulu dipegang oleh PT. Siak Raya Timber dan PT. Hutani Sola Lestari.

Tapi, saat ini Kawasan penyangga yang penting ini mulai terancam kondisinya. Tesso Nilo mulai kehilangan lahannya, dari 81.793 hektare pada tahun 2014, kini hanya tersisa 12.561 hektare (2025) akibat perambahan hutan liar. Hal ini memang tidak terjadi dalam semalam, melainkan hasil pembiaran selama bertahun-tahun. Pendorongnya? SAWIT!

Sawit sebagai komoditas pasar yang overated dan terlalu dibesar-besarkan membuat banyak masyarakat berlomba-lomba menanamnya. Sehingga lahan-lahan hutan yang terlihat tak terjamah dan bisa dimanfaatkan membuat Kawasan Tesso Nilo mulai menjadi perkebunan sawit illegal yang kemudian memicu konflik.

Padahal pemanfaat lahan untuk menggerakkan roda ekonomi tak hanya dapat dilakukan melalui sawit, tapi juga bisa dengan tanaman lain yang memang masuk kategori pohon hutan, sehingga, bukannya mengurangi hutan, justru menambahnya. Banyak cara lain, mungkin memang tidak seinstan sawit, tapi sama berharganya!

Dulu, sebelum menjadi Bupati Siak, Afni Zulkifli, adalah salah satu orang yang paling sering turun berdiskusi dan mengedukasi masyarakat sebagai perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), tentang Kawasan konservasi dan laluan gajah.

Gajah merupakan korban yang paling menyedihkan dari konflik lahan ini. Gajah Sumatra yang statusnya dilindungi sering kali mati dibunuh oleh warga karna dianggap merusak kebun milik mereka. Padahal gajah adalah hewan penjelajah yang rute jelajahnya nyaris tidak akan berubah selama puluhan tahun. Namun petani sawit tolol yang kebanyakan merupakan pendatang itu merasa mereka lebih berhak.

Aku tidak sedang bicara tentang masyarakat adat suku Talang Mamak atau Anak Dalam, yang menurut beberapa literatur disebut sebagai penjaga hutan sejak lama, tapi tentang suku lain, terutama BATAK yang menjadi mayoritas pemilik sawit illegal itu. Bahkan sebagian besar dari mereka sudah mengantongi KTP palsu dan Surat Keterangan Tanah (SKT).

Bagaimana mereka bisa ada disana? Tentu ini bisa diindikasikan akan adanya korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan aparat. Juga praktik jual beli tanah adat oleh masyarakat adat itu sendiri, yang tergiur dengan nominal yang dinegosiasikan oleh para mafia tanah dan sawit ini.

Menteri Kehutanan saat ini, mengatakan bahwa sudah ada beberapa Sertifikat Hak Milik (SHM) di Kawasan TNTN yang dibatalkan, dan ini memperburuk konflik. Upaya relokasi sebenarnya sudah dilakukan, namun warga justru cenderung menolak upaya tersebut, dan kini konflik ini mulai masuk dalam isu pelanggaran HAM(?)



Selain masyarakat tentunya ada aktor lain yang mestinya ditindak, diantara korporasi yang terindikasi, para mafia tanah, mafia sawit, dan semua tokoh besar yang dinilai terlibat dalam izin pemanfaatan TNTN.

Bahkan baru-baru ini Dewan Pimpinan Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI), menyebut beberapa nama besar yang terindikasi sebagai mafia sawit dan penguasa sawit illegal di Kawasan TNTN. Data ini menurut mereka merupakan hasil laporan masyarakat sipil dan aktifis lingkungan yang sejak lama sudah mencurigainya. Diantaranya Dr. Arifin Bantu Purba alias AB Purba, Dr. Martin Purba, Drs. Oberlin Marbun, dan Ir. Anita Girsang. Lagi-lagi nama Batak di tanah Melayu.

Penguasaan lahan atau pengalihan fungsi TNTN menjadi perkebunan sawit tidak hanya mengancam habitat flora dan fauna, tapi juga mengancam kehidupan manusia itu sendiri, ntah apa yang ada dalam benak manusia-manusia serakah itu.

Bencana alam beberapa minggu lalu di Sumatra ini merupakan dampak dari krisis iklim global. Para pengamat mengatakan siklon tropis senyar bukanlah fenomena umum mengingat Indonesia ada di dekat garis ekuator, dan ini tentu dampak dari hilangnya hutan di dunia.

Pembalakan liar tidak hanya terjadi pada TNTN, tapi juga pada Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) yang mencakup Riau (Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir) dan Jambi (Tebo dan Tanjung Jabung Barat), serta wilayah yang terdampak parah dari bencana beberapa minggu lalu, Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara.

Pemulihan ekosistem butuh waktu yang sangat lama, sebagai contoh, reklamasi lahan bekas tambang butuh waktu 15 sampai 25 tahun untuk dapat menunjukkan hasilnya. Sehingga, jika perusakan hutan tetap terjadi, meskipun reboisasi terus dilaksanakan, pemulihan ekosistem bisa dikatakan tidak akan tercapai jika hutan yang ada tidak dijaga.

Konflik TNTN memang sangat menyulitkan. TNTN terletak dikawasan yang cukup strategis, sehingga sulit untuk merelokasi masyarakat bodoh yang tidak mengerti bahaya yang sedang mereka incar itu. Ditambah isu pelanggaran HAM yang membuat mereka semakin berani, padahal tidak hanya manusia yang hidup dimuka bumi ini. Riau sebagian besarnya adalah gambut, sawit membuat gambut kering dan mudah untuk terbakar. Sehingga suhu di Riau, kian hari kian meningkat, terutama di Pekanbaru.

Aku paham, kita sedang bicara tentang manusia. Makanya pemerintah menurutku harus serius soal ini. Pemerintah harus memikirkan relokasi yang layak bagi mereka, tapi untuk para pemegang KTP palsu, sebaiknya buang mereka kembali ke daerah asalnya.

Tidak hanya soal relokasi, tapi regulasi ulang perkebunan sawit juga harus dilakukan. Perizinannya harus diperketat. Pernyataan presiden bahwa sawit juga pohon, dan tidak perlu takut deforestasi adalah pernyataan yang bodoh dan serampangan. Sawit tidak memiliki akar dalam selayaknya pohon hutan, sehingga sawit tidak mungkin bisa menggantikan hutan dalam mencegah bencara seperti banjir dan longsor.

Bumi ini jenius dalam mengatur vegetasinya, dan sawit bukanlah vegetasi asli Indonesia yang memiliki banyak pegunungan. Sawit merupakan vegetasi asli Afrika Barat, dan beberapa daerah bagian Amerika. Dibawa ke Indonesia pada tahun 1800-an oleh Belanda sebagai tamanan hias.

Tidak seperti sawit di Indonesia yang bersifat monokultur, di Afrika sawit hidup lebih beragam baik di hutan, pinggir sungai, dan sebagainya. Dan penanamannya secara monokultur dapat menyebabkan gangguan ekologis. Peneliti hidrologi Hutan sekaligus dosen UGM, Hatma Suryatmojo mengatakan, pada kondisi alam yang seimbang tidak ada tanaman yang lebih dominan.

Maka, bencana yang terjadi beberapa waktu lalu adalah sinyal untuk meregulasi ulang perkebunan sawit, dan menindak semua bentuk illegal logging yang terjadi di Indonesia. Bukan malah menambah perkebunan sawit sampai Papua!

Categories: ,

Il Principe merupakan buku panduan politik yang sangat erat hubungannya dengan kondisi Italia pada saat itu. Namun kemudian buku ini menuai pro dan kontra. Beberapa pengamat berpendapat bahwa buku ini sangat keji. Dimana Machiavelli mengatakan bahwa seorang pemimpin haruslah memiliki sisi binatang dan siap untuk menghalalkan segala cara dalam upaya mempertahankan dan memperluas kekuasaannya.

Perkataan yang paling iconic dari Niccolo Machiavelli adalah “lebih baik ditakuti dari pada dicintai jika tak bisa mendapatkan keduanya. Cinta adalah ikatan yang mudah putus. Manusia akan memutus ikatan itu, jika menguntungkan dirinya. Namun rasa takut akan kekal dan diperkuat oleh kengerian dari hukuman yang efektif.”

Ia menuliskan catatan yang cukup keras, bahwa “Manusia haruslah disayangi atau ditumpas sekalian. Mereka akan membalas dendam atas penderitaan kecil yang mereka alami, tetapi mereka tidak bisa membalas dendam atas penderitaan besar. Oleh sebab itu, penderitaan yang ditimpakan pada seseorang haruslah sedemikian rupa sehingga tidak perlu khawatir akan pembalasan dendamnya.”

Maksudnya, seorang “pangeran” harus menghindari kekerasan sebisa mungkin dan memperlakukan manusia dengan baik. Namun jika terpaksa melakukannya, maka lakukan tanpa belas kasihan, dan sampai sehancur-hancurnya. Sehingga ia merasa aman dari kemungkinan balas dendam. Baik karena mereka tidak mampu, maupun karena tidak mau.

Ada beberapa cara bijaksana bagi penguasa baru yang dilakukan bangsa Romawi untuk mempertahankan wilayah taklukannya: Sang penguasa pindah ke daerah dudukan barunya, membuat koloni dari negaranya sendiri disana, penguasa baru harus membela negara lemah yang ada disekitarnya, serta melemahkan negara yang kuat, dan tidak membiarkan kekuatan asing memberi pengaruh di wilayah tersebut.

Menurutnya, hal yang menjadi faktor kegagalan raja Perancis, Louis XII, dalam mempertahankan kekuasaannya di Italia, adalah karena Raja Louis tidak menerapkan kebijakan tersebut. Ia bahkan cenderung bergantung pada kekuatan yang seharusnya ia hancurkan. Terlebih dia membiarkan kekuasaan Gereja yang sudah kuat untuk semakin berkuasa, dan memasukkan raja asing (Spanyol) yang kuat ke wilayah miliknya.

Pada masa Louis XII masuk ke Italia, gereja dipimpin oleh Paus Alexander VI, yang dalam catatan Machiavelli, merupakan paus pertama yang sangat berhasil. Ia menunjukkan bagaimana cara memperoleh kekuasaan dengan menggunakan uang dan kekerasan, dengan menggunakan putranya, Cesare Borgia sebagai alat, dan Invasi Perancis sebagai peluangnya, seperti yang sudah diceritakan pada Part I. Meskipun tujuan awalnya adalah untuk kebesaran putranya tersebut, namun tanpa disadari juga memperkuat kekuasaan gereja. Bahkan setelah kematian Cesare, gereja menjadi ahli waris dari semua jerih payah sang Pangeran.

Menanggapi kegagalan Raja Perancis itu, Machiavelli juga mengatakan “contoh paling jelas bagaimana pentingnya menjaga kekuasaan negara lain agar tak berkembang, diambil dari bangsa Sparta dan Romawi.” Bangsa Sparta memerintah Athena dan Thebe dengan mendirikan oligarki disana, namun pada akhirnya mereka kehilangan wilayah itu. Sementara bangsa Romawi menghancurkan Capua, Carthago, dan Numantia yang menyebabkan negara itu tak pernah lepas dari kekuasaannya.

Bangsa Romawi pernah mencoba cara bangsa Sparta, dan mendirikan oligarki di Yunani, namun gagal. Romawi terpaksa menghancur leburkan banyak kota di wilayah itu untuk mempertahankan kekuasaannya. Jadi Machiavelli menarik kesimpulan, bahwa cara paling aman untuk menjaga kekuasaan pada wilayah taklukan baru adalah dengan menghancurkan negara tersebut terlebih dahulu.

Dalam The Prince, Ia menjelaskan bahwa orang yang ingin bertindak secara terhormat dalam setiap langkahnya, pasti akan kecewa. Oleh sebab itu, jika seorang raja ingin mempertahankan kekuasaannya, ia harus belajar bagaimana bertindak secara tidak ksatria saat ia membutuhkannya.

Raja haruslah menghindari tindakan-tindakan tidak terpuji, namun jika tidak memungkinkan, ia tidak boleh mengkhawatirkannya. Seorang raja tidak boleh takut menghadapi tuduhan atas kejahatan jika kejahatan itu perlu dilakukan demi keselamatan negaranya.

Dalam nasihatnya untuk Lorenzo II, ia menyampaikan “Sangat baik kalu seseorang terkenal karena kemurahan hatinya. Namun jika tindakan Anda terpengaruh oleh keinginan untuk mendapatkan keharuman nama semacam itu, Anda akan kecewa.”

Bukan tanpa alasan, jika ingin dikenal sebagai seorang raja yang murah hati, sang raja harus menjadi raja yang boros. Tapi raja yang bertindak demikian akan segera kehabisan hartanya, dan secara terpaksa harus menarik pajak yang sangat besar dari rakyat dan melakukan segala cara untuk mendapatkan uang yang banyak demi menjaga nama baiknya. Kemudian ini akan menyebabkan kebencian rakyat karna ia hanya royal kepada kelompok tertentu, menjadi semakin miskin, mendapat kecaman, dan menelan pahitnya kekecewaan. Penting bagi seorang pemimpin untuk tidak direndahkan dan dibenci.

Ia kemudian menambahkan, bahwa seorang pemimpin harus tahu bagaimana memperdaya orang-orang dengan kelihaiannya, dan menganggap gampang pada janji-janji. Seorang pemimpin harus mampu menjadi penipu ulung. Memiliki sifat licik seekor rubah, dan garang seekor singa.

Seorang pemimpin yang bijak adalah yang memiliki sifat manusia dan juga binatang, serta tau kapan harus menggunakannya. Seorang pemimpin tidak bisa mengikuti semua tindakan yang membuatnya dipandang berbudi luhur, karena terkadang untuk menjaga negaranya agar tetap aman, ia harus mengambil langkah yang keras dan jahat. Dan ia harus terus berhati-hati untuk melakukannya.

Sebenarnya, daripada disebut mengerikan, lebih tepat jika apa yang ditulis Machiavelli dalam The Prince disebut realistis. Seorang pemimpin yang terlalu lunak terkadang hanya akan menjadi olok-olokan rakyatnya, dan membuat orang-orang yang ingin memberontak menjadi punya keberanian. Dalam politik praktis, baik membuat diri terlihat baik dan alim, dan membiarkan pekerjaan kotor diselesaikan oleh orang-orang yang loyal dan ahli dalam tugasnya, atau membangun wibawa dan kesan kejam pada diri agar orang-orang tidak bisa bertindak seenaknya, dan leluasa untuk berusaha memberontak adalah dua hal yang tepat.

“Tidak ada yang salah dari menjadi ditakuti, yang salah adalah
membiarkan orang hidup dalam rasa tidak aman.”
- Tuan Kaciak -
Categories: ,

Machiavelli, mungkin nama ini tidak begitu familiar di telinga beberapa orang, namun bagi mereka yang pernah atau tahu tentang filsafat, maka nama ini akan terasa begitu akrab. Niccolo Machiavelli dikenal oleh dunia sebagai seorang politikus dan filsuf asal italia, yang kemudian para pengikut pemikirannya ini disebut dengan aliran Machiavellism. Lahir pada tahun 1469, yang merupakan masa penuh gejolak di Italia.

Salah satu bukunya yang paling terkenal adalah Il Principe, sebuah buku yang awalnya diharapkan dapat memperbaiki kondisi pemerintahan di Italia Utara. Kemudian buku ini pun menjadi panduan politik pada masa itu. Akan tetapi buku ini dikemudian hari menuai kontroversi.

Bagaimana Bisa?

Il Principe atau yang lebih dikenal dengan judul The Prince, adalah sebuah mahakarya Machiavelli yang ia tulis saat ia menikmati masa pensiun di rumah keluarganya di Sant’Andrea, Percussina. Setelah ia disiksa dan diturunkan dari jabatannya oleh keluarga de’ Medici karena dituduh terlibat dalam konspirasi pembunuhan keluarga de’ Medici.

Ia menulis The Prince sebagai salah satu nasihat praktis dan buku panduan bagi Lorenzo II de’ Medici, agar ia dapat membangun reputasinya sebagai “pangeran” penguasa Florence. Ia berpendapat bahwa Lorenzo II lebih muda dan lebih berambisi dari pada penguasa de facto Florence saat itu, Giuliano de’ Medici yang ditunjuk oleh Giovanni de’ Medici setelah Giovanni naik sebagai Paus Leo X.

Machiavelli membuka The Prince dengan mengatakan bahwa kepangeranan yang turun-temurun lebih mudah untuk diperintah karena rakyatnya sudah terbiasa dengan dinasti yang memimpin, sebaliknya bagi penguasa yang baru saja berhasil menaklukkannya akan membutuhkan strategi untuk mengubah kebiasaan dan tradisi yang sudah ada agar berhasil membangun kekuasaan dari nol. Dan kondisi ini sangat sesuai bagi Lorenzo II de’ Medici, meskipun secara teknis ia tetap mewarisi tahta dari pamannya, Giuliano, tapi dengan gejolak yang terjadi di Florence saat itu, maka tantangan yang akan ia hadapi sama saja dengan para penakluk baru.

Machiavelli kemudian menyebut contoh terbaik dalam penguasaan wilayah taklukan adalah pangeran Valentino, Cesare Borgia. Ia mengatakan “Saya tidak mengetahui pelajaran yang lebih baik untuk dipersembahkan kepada seorang raja baru, daripada pelajaran yang diambil dari tindakan-tindakan Cesare Borgia.”

Cesare Borgia merebut Romagna dan Colonna dengan bantuan ayahnya, Rodrigo Borgia, yang saat itu menjadi Paus Alexander VI bersekutu dengan raja Louis XII dari Perancis, dan dibantu oleh pasukan tentara bayaran, Orsini. Tapi usai penaklukan itu ia justru melihat dua hal yang akan menghalanginya untuk mengokohkan kekuasaannya: keraguannya atas kesetiaan Orsini yang menjadi pasukan bantuan dari ayahnya, dan keinginan Raja Louis.

Usai menaklukkan Urbino, ia hendak menyerbu Tuscan, namun raja Louis memintanya untuk tidak ikut dalam ekspedisi tersebut. Memahami kondisi bahwa raja Perancis mulai berupaya menahan kekuatannya, Cesare pun segera mengambil tindakan. Pertama dengan memperlemah pasukan Orsini dan Colonna dengan menarik para bangsawan yang mendukung mereka untuk berpihak padanya, dengan cara memberikan mereka jabatan prestisius sesuai dengan martabatnya. Alhasil, para bangsawan memutus hubungan dengan Orsini dan memihak sang pangeran.

Usai menekan keluarga Orsini, Cesare menyusun rencana untuk menunduk mereka. Ia pun membujuk keluarga Orsini, yang saat itu diwakili oleh Signor Paulo untuk berdamai dengan memberinya uang, busana mewah, dan kuda. Sehingga tanpa kecurigaan merekapun datang ke Sinigaglia. Disana Cesare Borgia membantai para petinggi Orsini, dan memaksa mereka untuk bergabung menjadi pasukannya. Pengeran Valentino akhirnya meraih rasa hormat Orsini dan Romagna yang merasakan manfaat dari pemerintahannya.

Ia menyadari bahwa Romagna sebelumnya dipimpin oleh bangsawan rendahan yang memeras rakyat dan tidak memerintah dengan baik. Ia kemudian memberikan wewenang pada Remirro de Orco, seseorang yang keji namun handal, untuk mengatur situasi. Dalam waktu singkat ia berhasil memulihkan ketertiban dengan terror. Menyadari wewenang terlalu besar itu sudah tidak lagi dibutuhkan, dan dikhawatirkan dapat tumbuh dan mengancam, akhirnya ia mendirikan pengadilan di tengah kota. Sebagai upaya meyakinkan rakyat bahwa ia tidak terlibat dalam kekejaman yang terjadi, melainkan karna sifat dan perbuatan para menterinya saja, sambil menunggu waktu untuk bergerak. Suatu pagi, tubuh Remirro ditemukan terbelah dua dengan sepotong kayu dan sebilah pisau disampingnya. Penduduk Romagna merasa lega atas hal itu, sekaligus kebingungan.

Setelah sukses di Romagna, ia berusaha untuk memperluas kekuasaannya. Demi mencapai itu, ia terus menambah sekutu, dan menjaalin persahabatan dengan bangsawan Roma, dan mengawasi gerak-gerik Paus melalui mereka. Ia juga mengendali Majelis Para Kardinal. Cesare Borgia telah melakukan segala hal yang harus dilakukan oleh seorang pria bijaksana dan mengokohkan kekuasaan di wilayah taklukannya.

“Tidak ada contoh yang lebih baik bagi penguasa baru dibandingkan contoh yang telah diberikan sang Pangeran.” Kata Machiavelli.

Hal ini benar. Mulai dari caranya betindak dan pandangannya akan pentingnya mengamankan diri sendiri dari musuh, menjalin persahabatan, menjadikannya dicintai sekaligus ditakuti rakyat, ditaati dan disegani para tentaranya, tekadnya untuk menghancurkan semua orang yang hendak dan dapat merugikannya, serta bagaimana ia memperbaiki tradisi. Semuanya tepat dan terukur. Dia adalah contoh kepangeranan turun-temurun yang sukses dengan keberuntungan dan kekuatannya.

Disisi lain, ada pangeran yang sukses dengan kekejaman dan kejahatan. Agathocles, orang Sicilia. Bukan hanya rakyat biasa, dia juga berasal dari kelas terendah dalam masyarakat, dari kalangan yang sangat miskin, namun berhasil bangkit menjadi raja Syracuse. Seorang anak pengrajin tanah liat yang bertindak layaknya penjahat, dan kejahatannya itu disertai wataknya yang pemberani dan fisiknya yang kuat. Sehingga saat ia masuk dalam Angkatan perang, semua itu membantunya naik pangkat, dan menjadi panglima perang.

Setelah mencapai kedudukan itu, ia pun bertekad untuk menjadi penguasa. Ia mendapat dukungan seorang pemimpin pasukan Carthago, Hamilcar, yang saat itu sedang memimpin pasukannya di Sicilia.

Suatu hari, Agathocles mengumpulkan seluruh rakyat dan senat Syracuse, seolah ia hendak membahas hal penting terkait negara itu. Setelah semuanya berkumpul, dengan aba-aba yang sudah disiapkan jauh hari, para pasukannya membunuh para senat dan warga kota yang kaya raya. Ia kemudian merebut dan menjadi penguasa kota tanpa perlawanan apapun dari dalam. Tak hanya berhasil mempertahankan kotanya dari serangan orang Carthago, ia bahkan meninggalkan sebagian pasukannya untuk mempertahankan Syracuse, dan membawa sisanya menyerbu Afrika tanpa merasa takut bahwa akan ada yang merebut kekuasaanya. Dalam waktu singkat ia berhasil membebaskan Syracuse dari kepungan musuh, dan menyebabkan kekalahan besar bagi pasukan Carthago.

Akan tetapi menurut Machiavelli “membunuh sesama warga kota, mengkhianati sahabat, bertindak licik, tanpa belas kasihan, tindakan yang tidak religius, semua itu bukanlah tindakan seorang pahlawan. Cara ini akan membuat sang pangeran berkuasa, tapi tidak akan membuatnya meraih kehormatan."

Pada masa ayah Cesare Borgia, Paus Alexander VI berkuasa, Oliverotto de Fermo mencoba menempuh jalan yang sama. Oliverotto sudah yatim sejak masih kecil dan diasuh oleh paman dari pihak ibunya, Giovanni Fogliani. Saat ia remaja ia dimasukkan ke pasukan kondotier (tantara bayaran) yang dipimpin Paulo Vitelli, dengan harapan meraih kedudukan dalam militer. Ketika Paulo meninggal, Oliverotto ikut berperang di bawah pimpinan adik Paulo, Vitelozzo Vitelli. Berkat kelincahan fisik dan mentalnya, dalam waktu singkat ia pun menjadi panglima tertinggi pasukan Vitelozzo.

Akan tetapi ia merasa rendah dibawah perintah orang lain, yang menyebabkan timbulnya hasrat dalam dirinya untuk menjadi penguasa Fermo. Ia kemudian menulis surat kepada pamannya bahwa ia sudah lama tidak pulang, dan ingin melihat kampung halamannya. Hal itu disambut baik oleh sang paman.

Setelah beberapa hari bermukim di Fermo, Oliverotto mengadakan jamuan resmi. Ia mengundang Giovanni dan para tokoh masyarakat Fermo. Usai jamuan makan dan semua pertunjukan selesai, Oliverotto mulai membahas hal-hal yang penting, saat Giovanni dan yang lain hendak berbicara, ia mengajak mereka untuk pindah ketempat yang agak tertutup. Begitu mereka duduk, muncullah para prajuritnya dari persembunyian mereka, membantai ayah angkatnya, Giovanni Fogliani, dan para tokoh masyarakat Fermo.

Ia kemudian memacu kudanya melewati kota dan mengepung istana dewan. Membuat mereka ketakutan dan menyerahkan kekuasaan padanya. Dalam waktu singkat ia berhasil mengokohkan diri sebagai penguasa Fermo, dan ditakuti oleh negara tetangganya.

Ironisnya, tak seperti Agathocles yang sukses, Oliverotto justru bernasib tragis. Ia mengalami apa yang dulu ia lakukan pada pamannya dan tokoh Fermo. Ia terjebak besama Orsini dan Vitelli di Sinigaglia, dan dibantai oleh Cesare Borgia.


“Ia gagal karena kepercayaan dirinya atas strategi yang tidak matang sepenuhnya.”
- Tuan Kaciak -

Categories: ,

“We can not not communicate”

                            − Paul Walzlawick

Pernyataan sang pakar psikologi komunikasi itu menegaskan bagaimana komunikasi itu menjadi hal penting bagi manusia. Sebuah kebutuhan dasar yang dilakukan setiap hari. Bahkan dalam sebuah penelitian yang dilakukan Stewart Tubbs dan Silvia Moss, dikatakan bahwa 75% waktu kita dipakai untuk berkomunikasi. Bagaimana mungkin? Nanti akanku bahas dalam tulisan lain.

Sebelumnya, sudah kujelaskan bahwa komunikasi merupakan proses penyampaian pesan dari komunikator (pengirim pesan) kepada komunikan (penerima pesan). Pertukaran pesan ini dapat berlangsung dalam banyak bentuk, baik secara lisan, tulisan, langsung, maupun tidak langsung.

Ada beberapa tipe dari komunikasi, dan yang paling sering terjadi kesalahan dalam pemahaman adalah Komunikasi Interpersonal dan Intrapersonal. Sekilas memang keduanya terdengar sama, namun keduanya memiliki maksud yang berbeda. Let’s break it down...

Komunikasi Interpersonal

Komunikasi Interpersonal atau dalam Bahasa Indonesia disebut komunikasi antar pribadi, merupakan komunikasi yang dilakukan oleh dua orang atau lebih. Dalam beberapa teori juga diberikan kondisi tambahan, yaitu tatap muka, seperti yang dikatakan oleh R. Wayne Pace, “interpersonal communication is communication involving two or more people in face to face communication”. Menurut R. Wayne Pace, komunikasi interpersonal melibatkan dua orang atau lebih secara tatap muka. Pada komunikasi interpersonal juga ada feedback secara langsung. Sederhananya pada komunikasi interpersonal ada balasan langsung dari lawan berbicara, dan balasan inilah yang disebut feedback.

Tapi tidak ada keterangan berapa orang maksimal yang terlibat dalam komunikasi interpersonal. Sehingga komunikasi interpersonal dibagi dalam dua sifat, komunikasi diadik, dan komunikasi kelompok kecil. Diadik adalah komunikasi yang hanya dilakukan oleh dua orang yang saling bertatap muka. Sementara kelompok kecil dilakukan oleh tiga orang atau lebih.

Komunikasi Intrapersonal

Ada sebuah permintaan jawaban di Quora yang menanyakan “Apa perbedaan komunikasi interpersonal dan intrapersonal?”. Salah satu jawabannya adalah “Sama saja, cuma beda penulisan saja.” Like, What’s this guys thinking before he tried to answer this question?

Aku asumsikan yang memberikan jawaban itu adalah seseorang diluar dari Ilmu Komunikasi. Karna tidak mungkin orang yang pernah belajar ilmu komunikasi memberi jawaban seperti itu. Atau asumsi kedua, mungkin pertanyaan itu awalnya typo “Apa perbedaan komunikasi interpersonal dan antarpersonal?” dan kemudian diperbaiki.

Okay, lalu apa itu Komunikasi Intrapersonal?

Komunikasi Intrapersonal adalah komunikasi dengan diri sendiri. Gila dong berarti? Eits, gak semua bicara dengan diri sendiri adalah gila, kadang Cuma stress doang. Hahaha

Gak, gak, bercanda doang ini. Bagiku Komunikasi Intrapersonal bukanlah komunikasi dengan diri sendiri, aku lebih suka mendefinisikannya sebagai komunikasi yang terjadi dalam diri seseorang. Nurudin mengatakan “Seseorang yang terlibat dalam komunikasi dengan diri sendiri ini, memberi arti suatu objek yang diamati atau yang terbetik dalam pikirnnya.” Maksudnya, ketika seseorang melihat sesuatu dan terbetik suatu pikiran dalam dirinya yang dipicu hal itu, inilah yang disebut dengan komunikasi intrapersonal, baik terucap maupun tidak.

When you wanna go to a party, dan kalian bertanya pada diri sendiri “Bagusnya pakai baju apa ya?”, itu adalah komunikasi intrapersonal. Melamun sambil memikirkan beban hidup, berusaha mengingat sesuatu yang terlupakan, muhasabah diri, semua itu termasuk komunikasi intrapersonal.

Aku sempat mempertanyakan lebih dalam dengan beberapa dosen tentang komunikasi intrapersonal ini. Mayoritas mereka sepakat bahwa berdo'a merupakan salah satu bentuk komunikasi intrapersonal, karena disana tidak ada feedback langsung. Sehingga menurutku, berprasangka baik pada seseorang yang timbul karena pengaruh ajaran agama, merupakan salah satu efek komunikasi intrapersonal, karena saat dia membentuk prasangka dia akan kembali ingat dalam dirinya "saya tidak boleh berprasangka buruk atau saya akan berdosa".

Kuharap penjelasan yang kujabarkan mudah untuk dipahami. Next, bahas apa ya?


Kemarin, 28 April 2023, sekitar pukul 21.43 WIB. Cuaca Pekanbaru terasa cukup lembab usai diguyur hujan sore selumbari, tapi dunia terasa begitu hangat. Sebuah paket pre-order yang sudah dinanti selama kurang lebih sembilan bulan, akhirnya tiba ditanganku. Hahaha

Suara bisingnya yang justru membuat tersenyum menggema dalam ruangan seluas kurang lebih 4x4 m2 itu. Dia, yang sejak jauh hari sudah kuprediksi, hadir, sebagaimana yang kami harapkan.

Halo gadis kecilku, selamat datang dimuka bumi ini, dan terima kasih sudah melengkapi duniaku dan menyempurnakan ibumu. Mulai hari ini, kamu adalah Hafshah Hariko, putri dari Harry Putra dan Sri Kukuh Larasati. Terima kasih, alhamdulillahi robbil ‘alamin ya Allah atas nikmat yang engkau karuniakan pada hambamu yang dosanya sebanyak buih di lautan ini.

Usai mendengar nama putriku, para sanak saudara dan teman mulai memikirkan maksud dari nama belakangnya. Hariko?

Ada yang bilang “Hariko” terdengar “Jepang” sekali. Ada yang bilang “Hariko” terkesan “Minang” sekali dan artinya adalah “hari ini”. Keduanya diasosiasikan dengan latar belakangku yang memang seorang putra Minangkabau, dan seseorang yang pernah mengajar Bahasa Jepang.

Tidak salah. Keduanya sangat tepat.

Aku memilih Hafshah sebagai namanya dengan harapan dia akan setangguh Hafshah binti ‘Umar kelak, baik dari segi agama maupun kemampuannya.

Lalu bagaimana dengan “Hariko”?

Hariko adalah satu kata yang memiliki arti nyaris sama dalam dua Bahasa yang berbeda. Bahasa Minang dan Jepang. Hariko dalam Bahasa minang, dapat berarti “ini miliknya Harry”, namun karena tidak memungkinkan untuk kutulis Harry, maka kualihkan menjadi Hari saja. Sementara dalam Bahasa Jepang diambil dari kata ハリの子 (Harry no ko) dan memiliki arti “anaknya Harry”.

Ah, iya. Selain itu, Hariko juga perpaduan namaku dan istriku, hanya saja dengan sedikit penyesuaian. Hari adalah namaku (Harry) dan Ko untuk ibunya, Kukuh, yang dalam Bahasa Indonesia biasanya ditulis Kokoh.

Harapanku anak keturunanku akan menjadi pribadi yang tangguh. Yang senantiasa berada diatas Qur’an dan Sunnah agar dapat menjadi pahala jariyah bagi abinya ini, seseorang yang sudah tidak bisa lagi dihitung dosa dan kesalahannya.

Hafshah, jadilah sosok yang membantu Abi untuk terus memperbaiki diri. Dan Kukuh. Thank you for everything. I apologize if I am not providing you with the life you ever wanted.