Pluviothentic

www.storydecember.blogspot.com
Here lies the rain of my days, and the roots of who i am.
About Me
Hanya kumpulan tulisan otentik milik seorang pecinta hujan yang kebetulan senang blogging.

Machiavelli, mungkin nama ini tidak begitu familiar di telinga beberapa orang, namun bagi mereka yang pernah atau tahu tentang filsafat, maka nama ini akan terasa begitu akrab. Niccolo Machiavelli dikenal oleh dunia sebagai seorang politikus dan filsuf asal italia, yang kemudian para pengikut pemikirannya ini disebut dengan aliran Machiavellism. Lahir pada tahun 1469, yang merupakan masa penuh gejolak di Italia.

Salah satu bukunya yang paling terkenal adalah Il Principe, sebuah buku yang awalnya diharapkan dapat memperbaiki kondisi pemerintahan di Italia Utara. Kemudian buku ini pun menjadi panduan politik pada masa itu. Akan tetapi buku ini dikemudian hari menuai kontroversi.

Bagaimana Bisa?

Il Principe atau yang lebih dikenal dengan judul The Prince, adalah sebuah mahakarya Machiavelli yang ia tulis saat ia menikmati masa pensiun di rumah keluarganya di Sant’Andrea, Percussina. Setelah ia disiksa dan diturunkan dari jabatannya oleh keluarga de’ Medici karena dituduh terlibat dalam konspirasi pembunuhan keluarga de’ Medici.

Ia menulis The Prince sebagai salah satu nasihat praktis dan buku panduan bagi Lorenzo II de’ Medici, agar ia dapat membangun reputasinya sebagai “pangeran” penguasa Florence. Ia berpendapat bahwa Lorenzo II lebih muda dan lebih berambisi dari pada penguasa de facto Florence saat itu, Giuliano de’ Medici yang ditunjuk oleh Giovanni de’ Medici setelah Giovanni naik sebagai Paus Leo X.

Machiavelli membuka The Prince dengan mengatakan bahwa kepangeranan yang turun-temurun lebih mudah untuk diperintah karena rakyatnya sudah terbiasa dengan dinasti yang memimpin, sebaliknya bagi penguasa yang baru saja berhasil menaklukkannya akan membutuhkan strategi untuk mengubah kebiasaan dan tradisi yang sudah ada agar berhasil membangun kekuasaan dari nol. Dan kondisi ini sangat sesuai bagi Lorenzo II de’ Medici, meskipun secara teknis ia tetap mewarisi tahta dari pamannya, Giuliano, tapi dengan gejolak yang terjadi di Florence saat itu, maka tantangan yang akan ia hadapi sama saja dengan para penakluk baru.

Machiavelli kemudian menyebut contoh terbaik dalam penguasaan wilayah taklukan adalah pangeran Valentino, Cesare Borgia. Ia mengatakan “Saya tidak mengetahui pelajaran yang lebih baik untuk dipersembahkan kepada seorang raja baru, daripada pelajaran yang diambil dari tindakan-tindakan Cesare Borgia.”

Cesare Borgia merebut Romagna dan Colonna dengan bantuan ayahnya, Rodrigo Borgia, yang saat itu menjadi Paus Alexander VI bersekutu dengan raja Louis XII dari Perancis, dan dibantu oleh pasukan tentara bayaran, Orsini. Tapi usai penaklukan itu ia justru melihat dua hal yang akan menghalanginya untuk mengokohkan kekuasaannya: keraguannya atas kesetiaan Orsini yang menjadi pasukan bantuan dari ayahnya, dan keinginan Raja Louis.

Usai menaklukkan Urbino, ia hendak menyerbu Tuscan, namun raja Louis memintanya untuk tidak ikut dalam ekspedisi tersebut. Memahami kondisi bahwa raja Perancis mulai berupaya menahan kekuatannya, Cesare pun segera mengambil tindakan. Pertama dengan memperlemah pasukan Orsini dan Colonna dengan menarik para bangsawan yang mendukung mereka untuk berpihak padanya, dengan cara memberikan mereka jabatan prestisius sesuai dengan martabatnya. Alhasil, para bangsawan memutus hubungan dengan Orsini dan memihak sang pangeran.

Usai menekan keluarga Orsini, Cesare menyusun rencana untuk menunduk mereka. Ia pun membujuk keluarga Orsini, yang saat itu diwakili oleh Signor Paulo untuk berdamai dengan memberinya uang, busana mewah, dan kuda. Sehingga tanpa kecurigaan merekapun datang ke Sinigaglia. Disana Cesare Borgia membantai para petinggi Orsini, dan memaksa mereka untuk bergabung menjadi pasukannya. Pengeran Valentino akhirnya meraih rasa hormat Orsini dan Romagna yang merasakan manfaat dari pemerintahannya.

Ia menyadari bahwa Romagna sebelumnya dipimpin oleh bangsawan rendahan yang memeras rakyat dan tidak memerintah dengan baik. Ia kemudian memberikan wewenang pada Remirro de Orco, seseorang yang keji namun handal, untuk mengatur situasi. Dalam waktu singkat ia berhasil memulihkan ketertiban dengan terror. Menyadari wewenang terlalu besar itu sudah tidak lagi dibutuhkan, dan dikhawatirkan dapat tumbuh dan mengancam, akhirnya ia mendirikan pengadilan di tengah kota. Sebagai upaya meyakinkan rakyat bahwa ia tidak terlibat dalam kekejaman yang terjadi, melainkan karna sifat dan perbuatan para menterinya saja, sambil menunggu waktu untuk bergerak. Suatu pagi, tubuh Remirro ditemukan terbelah dua dengan sepotong kayu dan sebilah pisau disampingnya. Penduduk Romagna merasa lega atas hal itu, sekaligus kebingungan.

Setelah sukses di Romagna, ia berusaha untuk memperluas kekuasaannya. Demi mencapai itu, ia terus menambah sekutu, dan menjaalin persahabatan dengan bangsawan Roma, dan mengawasi gerak-gerik Paus melalui mereka. Ia juga mengendali Majelis Para Kardinal. Cesare Borgia telah melakukan segala hal yang harus dilakukan oleh seorang pria bijaksana dan mengokohkan kekuasaan di wilayah taklukannya.

“Tidak ada contoh yang lebih baik bagi penguasa baru dibandingkan contoh yang telah diberikan sang Pangeran.” Kata Machiavelli.

Hal ini benar. Mulai dari caranya betindak dan pandangannya akan pentingnya mengamankan diri sendiri dari musuh, menjalin persahabatan, menjadikannya dicintai sekaligus ditakuti rakyat, ditaati dan disegani para tentaranya, tekadnya untuk menghancurkan semua orang yang hendak dan dapat merugikannya, serta bagaimana ia memperbaiki tradisi. Semuanya tepat dan terukur. Dia adalah contoh kepangeranan turun-temurun yang sukses dengan keberuntungan dan kekuatannya.

Disisi lain, ada pangeran yang sukses dengan kekejaman dan kejahatan. Agathocles, orang Sicilia. Bukan hanya rakyat biasa, dia juga berasal dari kelas terendah dalam masyarakat, dari kalangan yang sangat miskin, namun berhasil bangkit menjadi raja Syracuse. Seorang anak pengrajin tanah liat yang bertindak layaknya penjahat, dan kejahatannya itu disertai wataknya yang pemberani dan fisiknya yang kuat. Sehingga saat ia masuk dalam Angkatan perang, semua itu membantunya naik pangkat, dan menjadi panglima perang.

Setelah mencapai kedudukan itu, ia pun bertekad untuk menjadi penguasa. Ia mendapat dukungan seorang pemimpin pasukan Carthago, Hamilcar, yang saat itu sedang memimpin pasukannya di Sicilia.

Suatu hari, Agathocles mengumpulkan seluruh rakyat dan senat Syracuse, seolah ia hendak membahas hal penting terkait negara itu. Setelah semuanya berkumpul, dengan aba-aba yang sudah disiapkan jauh hari, para pasukannya membunuh para senat dan warga kota yang kaya raya. Ia kemudian merebut dan menjadi penguasa kota tanpa perlawanan apapun dari dalam. Tak hanya berhasil mempertahankan kotanya dari serangan orang Carthago, ia bahkan meninggalkan sebagian pasukannya untuk mempertahankan Syracuse, dan membawa sisanya menyerbu Afrika tanpa merasa takut bahwa akan ada yang merebut kekuasaanya. Dalam waktu singkat ia berhasil membebaskan Syracuse dari kepungan musuh, dan menyebabkan kekalahan besar bagi pasukan Carthago.

Akan tetapi menurut Machiavelli “membunuh sesama warga kota, mengkhianati sahabat, bertindak licik, tanpa belas kasihan, tindakan yang tidak religius, semua itu bukanlah tindakan seorang pahlawan. Cara ini akan membuat sang pangeran berkuasa, tapi tidak akan membuatnya meraih kehormatan."

Pada masa ayah Cesare Borgia, Paus Alexander VI berkuasa, Oliverotto de Fermo mencoba menempuh jalan yang sama. Oliverotto sudah yatim sejak masih kecil dan diasuh oleh paman dari pihak ibunya, Giovanni Fogliani. Saat ia remaja ia dimasukkan ke pasukan kondotier (tantara bayaran) yang dipimpin Paulo Vitelli, dengan harapan meraih kedudukan dalam militer. Ketika Paulo meninggal, Oliverotto ikut berperang di bawah pimpinan adik Paulo, Vitelozzo Vitelli. Berkat kelincahan fisik dan mentalnya, dalam waktu singkat ia pun menjadi panglima tertinggi pasukan Vitelozzo.

Akan tetapi ia merasa rendah dibawah perintah orang lain, yang menyebabkan timbulnya hasrat dalam dirinya untuk menjadi penguasa Fermo. Ia kemudian menulis surat kepada pamannya bahwa ia sudah lama tidak pulang, dan ingin melihat kampung halamannya. Hal itu disambut baik oleh sang paman.

Setelah beberapa hari bermukim di Fermo, Oliverotto mengadakan jamuan resmi. Ia mengundang Giovanni dan para tokoh masyarakat Fermo. Usai jamuan makan dan semua pertunjukan selesai, Oliverotto mulai membahas hal-hal yang penting, saat Giovanni dan yang lain hendak berbicara, ia mengajak mereka untuk pindah ketempat yang agak tertutup. Begitu mereka duduk, muncullah para prajuritnya dari persembunyian mereka, membantai ayah angkatnya, Giovanni Fogliani, dan para tokoh masyarakat Fermo.

Ia kemudian memacu kudanya melewati kota dan mengepung istana dewan. Membuat mereka ketakutan dan menyerahkan kekuasaan padanya. Dalam waktu singkat ia berhasil mengokohkan diri sebagai penguasa Fermo, dan ditakuti oleh negara tetangganya.

Ironisnya, tak seperti Agathocles yang sukses, Oliverotto justru bernasib tragis. Ia mengalami apa yang dulu ia lakukan pada pamannya dan tokoh Fermo. Ia terjebak besama Orsini dan Vitelli di Sinigaglia, dan dibantai oleh Cesare Borgia.


“Ia gagal karena kepercayaan dirinya atas strategi yang tidak matang sepenuhnya.”
- Tuan Kaciak -

Categories: ,

0 komentar:

Posting Komentar