Pluviothentic

www.storydecember.blogspot.com
Here lies the rain of my days, and the roots of who i am.
About Me
Hanya kumpulan tulisan otentik milik seorang pecinta hujan yang kebetulan senang blogging.

Il Principe merupakan buku panduan politik yang sangat erat hubungannya dengan kondisi Italia pada saat itu. Namun kemudian buku ini menuai pro dan kontra. Beberapa pengamat berpendapat bahwa buku ini sangat keji. Dimana Machiavelli mengatakan bahwa seorang pemimpin haruslah memiliki sisi binatang dan siap untuk menghalalkan segala cara dalam upaya mempertahankan dan memperluas kekuasaannya.

Perkataan yang paling iconic dari Niccolo Machiavelli adalah “lebih baik ditakuti dari pada dicintai jika tak bisa mendapatkan keduanya. Cinta adalah ikatan yang mudah putus. Manusia akan memutus ikatan itu, jika menguntungkan dirinya. Namun rasa takut akan kekal dan diperkuat oleh kengerian dari hukuman yang efektif.”

Ia menuliskan catatan yang cukup keras, bahwa “Manusia haruslah disayangi atau ditumpas sekalian. Mereka akan membalas dendam atas penderitaan kecil yang mereka alami, tetapi mereka tidak bisa membalas dendam atas penderitaan besar. Oleh sebab itu, penderitaan yang ditimpakan pada seseorang haruslah sedemikian rupa sehingga tidak perlu khawatir akan pembalasan dendamnya.”

Maksudnya, seorang “pangeran” harus menghindari kekerasan sebisa mungkin dan memperlakukan manusia dengan baik. Namun jika terpaksa melakukannya, maka lakukan tanpa belas kasihan, dan sampai sehancur-hancurnya. Sehingga ia merasa aman dari kemungkinan balas dendam. Baik karena mereka tidak mampu, maupun karena tidak mau.

Ada beberapa cara bijaksana bagi penguasa baru yang dilakukan bangsa Romawi untuk mempertahankan wilayah taklukannya: Sang penguasa pindah ke daerah dudukan barunya, membuat koloni dari negaranya sendiri disana, penguasa baru harus membela negara lemah yang ada disekitarnya, serta melemahkan negara yang kuat, dan tidak membiarkan kekuatan asing memberi pengaruh di wilayah tersebut.

Menurutnya, hal yang menjadi faktor kegagalan raja Perancis, Louis XII, dalam mempertahankan kekuasaannya di Italia, adalah karena Raja Louis tidak menerapkan kebijakan tersebut. Ia bahkan cenderung bergantung pada kekuatan yang seharusnya ia hancurkan. Terlebih dia membiarkan kekuasaan Gereja yang sudah kuat untuk semakin berkuasa, dan memasukkan raja asing (Spanyol) yang kuat ke wilayah miliknya.

Pada masa Louis XII masuk ke Italia, gereja dipimpin oleh Paus Alexander VI, yang dalam catatan Machiavelli, merupakan paus pertama yang sangat berhasil. Ia menunjukkan bagaimana cara memperoleh kekuasaan dengan menggunakan uang dan kekerasan, dengan menggunakan putranya, Cesare Borgia sebagai alat, dan Invasi Perancis sebagai peluangnya, seperti yang sudah diceritakan pada Part I. Meskipun tujuan awalnya adalah untuk kebesaran putranya tersebut, namun tanpa disadari juga memperkuat kekuasaan gereja. Bahkan setelah kematian Cesare, gereja menjadi ahli waris dari semua jerih payah sang Pangeran.

Menanggapi kegagalan Raja Perancis itu, Machiavelli juga mengatakan “contoh paling jelas bagaimana pentingnya menjaga kekuasaan negara lain agar tak berkembang, diambil dari bangsa Sparta dan Romawi.” Bangsa Sparta memerintah Athena dan Thebe dengan mendirikan oligarki disana, namun pada akhirnya mereka kehilangan wilayah itu. Sementara bangsa Romawi menghancurkan Capua, Carthago, dan Numantia yang menyebabkan negara itu tak pernah lepas dari kekuasaannya.

Bangsa Romawi pernah mencoba cara bangsa Sparta, dan mendirikan oligarki di Yunani, namun gagal. Romawi terpaksa menghancur leburkan banyak kota di wilayah itu untuk mempertahankan kekuasaannya. Jadi Machiavelli menarik kesimpulan, bahwa cara paling aman untuk menjaga kekuasaan pada wilayah taklukan baru adalah dengan menghancurkan negara tersebut terlebih dahulu.

Dalam The Prince, Ia menjelaskan bahwa orang yang ingin bertindak secara terhormat dalam setiap langkahnya, pasti akan kecewa. Oleh sebab itu, jika seorang raja ingin mempertahankan kekuasaannya, ia harus belajar bagaimana bertindak secara tidak ksatria saat ia membutuhkannya.

Raja haruslah menghindari tindakan-tindakan tidak terpuji, namun jika tidak memungkinkan, ia tidak boleh mengkhawatirkannya. Seorang raja tidak boleh takut menghadapi tuduhan atas kejahatan jika kejahatan itu perlu dilakukan demi keselamatan negaranya.

Dalam nasihatnya untuk Lorenzo II, ia menyampaikan “Sangat baik kalu seseorang terkenal karena kemurahan hatinya. Namun jika tindakan Anda terpengaruh oleh keinginan untuk mendapatkan keharuman nama semacam itu, Anda akan kecewa.”

Bukan tanpa alasan, jika ingin dikenal sebagai seorang raja yang murah hati, sang raja harus menjadi raja yang boros. Tapi raja yang bertindak demikian akan segera kehabisan hartanya, dan secara terpaksa harus menarik pajak yang sangat besar dari rakyat dan melakukan segala cara untuk mendapatkan uang yang banyak demi menjaga nama baiknya. Kemudian ini akan menyebabkan kebencian rakyat karna ia hanya royal kepada kelompok tertentu, menjadi semakin miskin, mendapat kecaman, dan menelan pahitnya kekecewaan. Penting bagi seorang pemimpin untuk tidak direndahkan dan dibenci.

Ia kemudian menambahkan, bahwa seorang pemimpin harus tahu bagaimana memperdaya orang-orang dengan kelihaiannya, dan menganggap gampang pada janji-janji. Seorang pemimpin harus mampu menjadi penipu ulung. Memiliki sifat licik seekor rubah, dan garang seekor singa.

Seorang pemimpin yang bijak adalah yang memiliki sifat manusia dan juga binatang, serta tau kapan harus menggunakannya. Seorang pemimpin tidak bisa mengikuti semua tindakan yang membuatnya dipandang berbudi luhur, karena terkadang untuk menjaga negaranya agar tetap aman, ia harus mengambil langkah yang keras dan jahat. Dan ia harus terus berhati-hati untuk melakukannya.

Sebenarnya, daripada disebut mengerikan, lebih tepat jika apa yang ditulis Machiavelli dalam The Prince disebut realistis. Seorang pemimpin yang terlalu lunak terkadang hanya akan menjadi olok-olokan rakyatnya, dan membuat orang-orang yang ingin memberontak menjadi punya keberanian. Dalam politik praktis, baik membuat diri terlihat baik dan alim, dan membiarkan pekerjaan kotor diselesaikan oleh orang-orang yang loyal dan ahli dalam tugasnya, atau membangun wibawa dan kesan kejam pada diri agar orang-orang tidak bisa bertindak seenaknya, dan leluasa untuk berusaha memberontak adalah dua hal yang tepat.

“Tidak ada yang salah dari menjadi ditakuti, yang salah adalah
membiarkan orang hidup dalam rasa tidak aman.”
- Tuan Kaciak -
Categories: ,

Machiavelli, mungkin nama ini tidak begitu familiar di telinga beberapa orang, namun bagi mereka yang pernah atau tahu tentang filsafat, maka nama ini akan terasa begitu akrab. Niccolo Machiavelli dikenal oleh dunia sebagai seorang politikus dan filsuf asal italia, yang kemudian para pengikut pemikirannya ini disebut dengan aliran Machiavellism. Lahir pada tahun 1469, yang merupakan masa penuh gejolak di Italia.

Salah satu bukunya yang paling terkenal adalah Il Principe, sebuah buku yang awalnya diharapkan dapat memperbaiki kondisi pemerintahan di Italia Utara. Kemudian buku ini pun menjadi panduan politik pada masa itu. Akan tetapi buku ini dikemudian hari menuai kontroversi.

Bagaimana Bisa?

Il Principe atau yang lebih dikenal dengan judul The Prince, adalah sebuah mahakarya Machiavelli yang ia tulis saat ia menikmati masa pensiun di rumah keluarganya di Sant’Andrea, Percussina. Setelah ia disiksa dan diturunkan dari jabatannya oleh keluarga de’ Medici karena dituduh terlibat dalam konspirasi pembunuhan keluarga de’ Medici.

Ia menulis The Prince sebagai salah satu nasihat praktis dan buku panduan bagi Lorenzo II de’ Medici, agar ia dapat membangun reputasinya sebagai “pangeran” penguasa Florence. Ia berpendapat bahwa Lorenzo II lebih muda dan lebih berambisi dari pada penguasa de facto Florence saat itu, Giuliano de’ Medici yang ditunjuk oleh Giovanni de’ Medici setelah Giovanni naik sebagai Paus Leo X.

Machiavelli membuka The Prince dengan mengatakan bahwa kepangeranan yang turun-temurun lebih mudah untuk diperintah karena rakyatnya sudah terbiasa dengan dinasti yang memimpin, sebaliknya bagi penguasa yang baru saja berhasil menaklukkannya akan membutuhkan strategi untuk mengubah kebiasaan dan tradisi yang sudah ada agar berhasil membangun kekuasaan dari nol. Dan kondisi ini sangat sesuai bagi Lorenzo II de’ Medici, meskipun secara teknis ia tetap mewarisi tahta dari pamannya, Giuliano, tapi dengan gejolak yang terjadi di Florence saat itu, maka tantangan yang akan ia hadapi sama saja dengan para penakluk baru.

Machiavelli kemudian menyebut contoh terbaik dalam penguasaan wilayah taklukan adalah pangeran Valentino, Cesare Borgia. Ia mengatakan “Saya tidak mengetahui pelajaran yang lebih baik untuk dipersembahkan kepada seorang raja baru, daripada pelajaran yang diambil dari tindakan-tindakan Cesare Borgia.”

Cesare Borgia merebut Romagna dan Colonna dengan bantuan ayahnya, Rodrigo Borgia, yang saat itu menjadi Paus Alexander VI bersekutu dengan raja Louis XII dari Perancis, dan dibantu oleh pasukan tentara bayaran, Orsini. Tapi usai penaklukan itu ia justru melihat dua hal yang akan menghalanginya untuk mengokohkan kekuasaannya: keraguannya atas kesetiaan Orsini yang menjadi pasukan bantuan dari ayahnya, dan keinginan Raja Louis.

Usai menaklukkan Urbino, ia hendak menyerbu Tuscan, namun raja Louis memintanya untuk tidak ikut dalam ekspedisi tersebut. Memahami kondisi bahwa raja Perancis mulai berupaya menahan kekuatannya, Cesare pun segera mengambil tindakan. Pertama dengan memperlemah pasukan Orsini dan Colonna dengan menarik para bangsawan yang mendukung mereka untuk berpihak padanya, dengan cara memberikan mereka jabatan prestisius sesuai dengan martabatnya. Alhasil, para bangsawan memutus hubungan dengan Orsini dan memihak sang pangeran.

Usai menekan keluarga Orsini, Cesare menyusun rencana untuk menunduk mereka. Ia pun membujuk keluarga Orsini, yang saat itu diwakili oleh Signor Paulo untuk berdamai dengan memberinya uang, busana mewah, dan kuda. Sehingga tanpa kecurigaan merekapun datang ke Sinigaglia. Disana Cesare Borgia membantai para petinggi Orsini, dan memaksa mereka untuk bergabung menjadi pasukannya. Pengeran Valentino akhirnya meraih rasa hormat Orsini dan Romagna yang merasakan manfaat dari pemerintahannya.

Ia menyadari bahwa Romagna sebelumnya dipimpin oleh bangsawan rendahan yang memeras rakyat dan tidak memerintah dengan baik. Ia kemudian memberikan wewenang pada Remirro de Orco, seseorang yang keji namun handal, untuk mengatur situasi. Dalam waktu singkat ia berhasil memulihkan ketertiban dengan terror. Menyadari wewenang terlalu besar itu sudah tidak lagi dibutuhkan, dan dikhawatirkan dapat tumbuh dan mengancam, akhirnya ia mendirikan pengadilan di tengah kota. Sebagai upaya meyakinkan rakyat bahwa ia tidak terlibat dalam kekejaman yang terjadi, melainkan karna sifat dan perbuatan para menterinya saja, sambil menunggu waktu untuk bergerak. Suatu pagi, tubuh Remirro ditemukan terbelah dua dengan sepotong kayu dan sebilah pisau disampingnya. Penduduk Romagna merasa lega atas hal itu, sekaligus kebingungan.

Setelah sukses di Romagna, ia berusaha untuk memperluas kekuasaannya. Demi mencapai itu, ia terus menambah sekutu, dan menjaalin persahabatan dengan bangsawan Roma, dan mengawasi gerak-gerik Paus melalui mereka. Ia juga mengendali Majelis Para Kardinal. Cesare Borgia telah melakukan segala hal yang harus dilakukan oleh seorang pria bijaksana dan mengokohkan kekuasaan di wilayah taklukannya.

“Tidak ada contoh yang lebih baik bagi penguasa baru dibandingkan contoh yang telah diberikan sang Pangeran.” Kata Machiavelli.

Hal ini benar. Mulai dari caranya betindak dan pandangannya akan pentingnya mengamankan diri sendiri dari musuh, menjalin persahabatan, menjadikannya dicintai sekaligus ditakuti rakyat, ditaati dan disegani para tentaranya, tekadnya untuk menghancurkan semua orang yang hendak dan dapat merugikannya, serta bagaimana ia memperbaiki tradisi. Semuanya tepat dan terukur. Dia adalah contoh kepangeranan turun-temurun yang sukses dengan keberuntungan dan kekuatannya.

Disisi lain, ada pangeran yang sukses dengan kekejaman dan kejahatan. Agathocles, orang Sicilia. Bukan hanya rakyat biasa, dia juga berasal dari kelas terendah dalam masyarakat, dari kalangan yang sangat miskin, namun berhasil bangkit menjadi raja Syracuse. Seorang anak pengrajin tanah liat yang bertindak layaknya penjahat, dan kejahatannya itu disertai wataknya yang pemberani dan fisiknya yang kuat. Sehingga saat ia masuk dalam Angkatan perang, semua itu membantunya naik pangkat, dan menjadi panglima perang.

Setelah mencapai kedudukan itu, ia pun bertekad untuk menjadi penguasa. Ia mendapat dukungan seorang pemimpin pasukan Carthago, Hamilcar, yang saat itu sedang memimpin pasukannya di Sicilia.

Suatu hari, Agathocles mengumpulkan seluruh rakyat dan senat Syracuse, seolah ia hendak membahas hal penting terkait negara itu. Setelah semuanya berkumpul, dengan aba-aba yang sudah disiapkan jauh hari, para pasukannya membunuh para senat dan warga kota yang kaya raya. Ia kemudian merebut dan menjadi penguasa kota tanpa perlawanan apapun dari dalam. Tak hanya berhasil mempertahankan kotanya dari serangan orang Carthago, ia bahkan meninggalkan sebagian pasukannya untuk mempertahankan Syracuse, dan membawa sisanya menyerbu Afrika tanpa merasa takut bahwa akan ada yang merebut kekuasaanya. Dalam waktu singkat ia berhasil membebaskan Syracuse dari kepungan musuh, dan menyebabkan kekalahan besar bagi pasukan Carthago.

Akan tetapi menurut Machiavelli “membunuh sesama warga kota, mengkhianati sahabat, bertindak licik, tanpa belas kasihan, tindakan yang tidak religius, semua itu bukanlah tindakan seorang pahlawan. Cara ini akan membuat sang pangeran berkuasa, tapi tidak akan membuatnya meraih kehormatan."

Pada masa ayah Cesare Borgia, Paus Alexander VI berkuasa, Oliverotto de Fermo mencoba menempuh jalan yang sama. Oliverotto sudah yatim sejak masih kecil dan diasuh oleh paman dari pihak ibunya, Giovanni Fogliani. Saat ia remaja ia dimasukkan ke pasukan kondotier (tantara bayaran) yang dipimpin Paulo Vitelli, dengan harapan meraih kedudukan dalam militer. Ketika Paulo meninggal, Oliverotto ikut berperang di bawah pimpinan adik Paulo, Vitelozzo Vitelli. Berkat kelincahan fisik dan mentalnya, dalam waktu singkat ia pun menjadi panglima tertinggi pasukan Vitelozzo.

Akan tetapi ia merasa rendah dibawah perintah orang lain, yang menyebabkan timbulnya hasrat dalam dirinya untuk menjadi penguasa Fermo. Ia kemudian menulis surat kepada pamannya bahwa ia sudah lama tidak pulang, dan ingin melihat kampung halamannya. Hal itu disambut baik oleh sang paman.

Setelah beberapa hari bermukim di Fermo, Oliverotto mengadakan jamuan resmi. Ia mengundang Giovanni dan para tokoh masyarakat Fermo. Usai jamuan makan dan semua pertunjukan selesai, Oliverotto mulai membahas hal-hal yang penting, saat Giovanni dan yang lain hendak berbicara, ia mengajak mereka untuk pindah ketempat yang agak tertutup. Begitu mereka duduk, muncullah para prajuritnya dari persembunyian mereka, membantai ayah angkatnya, Giovanni Fogliani, dan para tokoh masyarakat Fermo.

Ia kemudian memacu kudanya melewati kota dan mengepung istana dewan. Membuat mereka ketakutan dan menyerahkan kekuasaan padanya. Dalam waktu singkat ia berhasil mengokohkan diri sebagai penguasa Fermo, dan ditakuti oleh negara tetangganya.

Ironisnya, tak seperti Agathocles yang sukses, Oliverotto justru bernasib tragis. Ia mengalami apa yang dulu ia lakukan pada pamannya dan tokoh Fermo. Ia terjebak besama Orsini dan Vitelli di Sinigaglia, dan dibantai oleh Cesare Borgia.


“Ia gagal karena kepercayaan dirinya atas strategi yang tidak matang sepenuhnya.”
- Tuan Kaciak -

Categories: ,