Il Principe merupakan buku panduan politik yang sangat erat hubungannya dengan kondisi Italia pada saat itu. Namun kemudian buku ini menuai pro dan kontra. Beberapa pengamat berpendapat bahwa buku ini sangat keji. Dimana Machiavelli mengatakan bahwa seorang pemimpin haruslah memiliki sisi binatang dan siap untuk menghalalkan segala cara dalam upaya mempertahankan dan memperluas kekuasaannya.
Perkataan yang paling iconic dari Niccolo Machiavelli adalah “lebih baik ditakuti dari pada dicintai jika tak bisa mendapatkan keduanya. Cinta adalah ikatan yang mudah putus. Manusia akan memutus ikatan itu, jika menguntungkan dirinya. Namun rasa takut akan kekal dan diperkuat oleh kengerian dari hukuman yang efektif.”
Ia menuliskan catatan yang cukup keras, bahwa “Manusia haruslah disayangi atau ditumpas sekalian. Mereka akan membalas dendam atas penderitaan kecil yang mereka alami, tetapi mereka tidak bisa membalas dendam atas penderitaan besar. Oleh sebab itu, penderitaan yang ditimpakan pada seseorang haruslah sedemikian rupa sehingga tidak perlu khawatir akan pembalasan dendamnya.”
Maksudnya, seorang “pangeran” harus menghindari kekerasan sebisa mungkin dan memperlakukan manusia dengan baik. Namun jika terpaksa melakukannya, maka lakukan tanpa belas kasihan, dan sampai sehancur-hancurnya. Sehingga ia merasa aman dari kemungkinan balas dendam. Baik karena mereka tidak mampu, maupun karena tidak mau.
Ada beberapa cara bijaksana bagi penguasa baru yang dilakukan bangsa Romawi untuk mempertahankan wilayah taklukannya: Sang penguasa pindah ke daerah dudukan barunya, membuat koloni dari negaranya sendiri disana, penguasa baru harus membela negara lemah yang ada disekitarnya, serta melemahkan negara yang kuat, dan tidak membiarkan kekuatan asing memberi pengaruh di wilayah tersebut.
Menurutnya, hal yang menjadi faktor kegagalan raja Perancis, Louis XII, dalam mempertahankan kekuasaannya di Italia, adalah karena Raja Louis tidak menerapkan kebijakan tersebut. Ia bahkan cenderung bergantung pada kekuatan yang seharusnya ia hancurkan. Terlebih dia membiarkan kekuasaan Gereja yang sudah kuat untuk semakin berkuasa, dan memasukkan raja asing (Spanyol) yang kuat ke wilayah miliknya.
Pada masa Louis XII masuk ke Italia, gereja dipimpin oleh Paus Alexander VI, yang dalam catatan Machiavelli, merupakan paus pertama yang sangat berhasil. Ia menunjukkan bagaimana cara memperoleh kekuasaan dengan menggunakan uang dan kekerasan, dengan menggunakan putranya, Cesare Borgia sebagai alat, dan Invasi Perancis sebagai peluangnya, seperti yang sudah diceritakan pada Part I. Meskipun tujuan awalnya adalah untuk kebesaran putranya tersebut, namun tanpa disadari juga memperkuat kekuasaan gereja. Bahkan setelah kematian Cesare, gereja menjadi ahli waris dari semua jerih payah sang Pangeran.
Menanggapi kegagalan Raja Perancis itu, Machiavelli juga mengatakan “contoh paling jelas bagaimana pentingnya menjaga kekuasaan negara lain agar tak berkembang, diambil dari bangsa Sparta dan Romawi.” Bangsa Sparta memerintah Athena dan Thebe dengan mendirikan oligarki disana, namun pada akhirnya mereka kehilangan wilayah itu. Sementara bangsa Romawi menghancurkan Capua, Carthago, dan Numantia yang menyebabkan negara itu tak pernah lepas dari kekuasaannya.
Bangsa Romawi pernah mencoba cara bangsa Sparta, dan mendirikan oligarki di Yunani, namun gagal. Romawi terpaksa menghancur leburkan banyak kota di wilayah itu untuk mempertahankan kekuasaannya. Jadi Machiavelli menarik kesimpulan, bahwa cara paling aman untuk menjaga kekuasaan pada wilayah taklukan baru adalah dengan menghancurkan negara tersebut terlebih dahulu.
Dalam The Prince, Ia menjelaskan bahwa orang yang ingin bertindak secara terhormat dalam setiap langkahnya, pasti akan kecewa. Oleh sebab itu, jika seorang raja ingin mempertahankan kekuasaannya, ia harus belajar bagaimana bertindak secara tidak ksatria saat ia membutuhkannya.
Raja haruslah menghindari tindakan-tindakan tidak terpuji, namun jika tidak memungkinkan, ia tidak boleh mengkhawatirkannya. Seorang raja tidak boleh takut menghadapi tuduhan atas kejahatan jika kejahatan itu perlu dilakukan demi keselamatan negaranya.
Dalam nasihatnya untuk Lorenzo II, ia menyampaikan “Sangat baik kalu seseorang terkenal karena kemurahan hatinya. Namun jika tindakan Anda terpengaruh oleh keinginan untuk mendapatkan keharuman nama semacam itu, Anda akan kecewa.”
Bukan tanpa alasan, jika ingin dikenal sebagai seorang raja yang murah hati, sang raja harus menjadi raja yang boros. Tapi raja yang bertindak demikian akan segera kehabisan hartanya, dan secara terpaksa harus menarik pajak yang sangat besar dari rakyat dan melakukan segala cara untuk mendapatkan uang yang banyak demi menjaga nama baiknya. Kemudian ini akan menyebabkan kebencian rakyat karna ia hanya royal kepada kelompok tertentu, menjadi semakin miskin, mendapat kecaman, dan menelan pahitnya kekecewaan. Penting bagi seorang pemimpin untuk tidak direndahkan dan dibenci.
Ia kemudian menambahkan, bahwa seorang pemimpin harus tahu bagaimana memperdaya orang-orang dengan kelihaiannya, dan menganggap gampang pada janji-janji. Seorang pemimpin harus mampu menjadi penipu ulung. Memiliki sifat licik seekor rubah, dan garang seekor singa.
Seorang pemimpin yang bijak adalah yang memiliki sifat manusia dan juga binatang, serta tau kapan harus menggunakannya. Seorang pemimpin tidak bisa mengikuti semua tindakan yang membuatnya dipandang berbudi luhur, karena terkadang untuk menjaga negaranya agar tetap aman, ia harus mengambil langkah yang keras dan jahat. Dan ia harus terus berhati-hati untuk melakukannya.
Sebenarnya, daripada disebut mengerikan, lebih tepat jika apa yang ditulis Machiavelli dalam The Prince disebut realistis. Seorang pemimpin yang terlalu lunak terkadang hanya akan menjadi olok-olokan rakyatnya, dan membuat orang-orang yang ingin memberontak menjadi punya keberanian. Dalam politik praktis, baik membuat diri terlihat baik dan alim, dan membiarkan pekerjaan kotor diselesaikan oleh orang-orang yang loyal dan ahli dalam tugasnya, atau membangun wibawa dan kesan kejam pada diri agar orang-orang tidak bisa bertindak seenaknya, dan leluasa untuk berusaha memberontak adalah dua hal yang tepat.
“Tidak ada yang salah dari menjadi ditakuti, yang salah adalah
membiarkan orang hidup dalam rasa tidak aman.”
- Tuan Kaciak -
