Pluviothentic

www.storydecember.blogspot.com
Here lies the rain of my days, and the roots of who i am.
About Me
Hanya kumpulan tulisan otentik milik seorang pecinta hujan yang kebetulan senang blogging.
Heiheihei tungguu! Jangan skip dulu, ini bukan tentang aku yang masih gagal move on dari Ms. Petrichor itu, BUKAN! Kalau pun masih belum bisa move on, tulisan kali ini bukan tentang itu! Mari kita rehat sejenak dari yang berkaitan dengan Wia.

Aku mau sedikit bercerita tentang novel yang benar-benar membuatku gagal untuk berpaling.

Okay, aku memang ulat buku, mungkin lebih dari 14 tahun hidupku, aku isi dengan membaca –kebiasaan orang tuaku dulu juga memberiku buku bacaan. Udah gak terhitung berapa buku yang udah kubaca, tapi yang kumiliki sebagai koleksi hanya sekitar 50-an novel lah, karena aku baru mulai beli novel sejak awal SMA (sejak SD kerjaanku beli komik mulu, mungkin ada sekitar 300-500 komik saat ini).

Novel yang kubaca juga terdiri dari berbagai genre, romance, fiksi, fantasi, sejarah, fiksi sejarah, misteri, thriller, dan horror juga. Kecuali komedi aku tidak begitu suka novel komedi. Satu-satunya novel komedi yang kunikmati dan membuatku jatuh cinta adalah “Anak Kos Dodol” karya Mbak Dedew.

Jadi awal tahun 2015 dulu, sepulang kerja, aku sempatkan diri singgah ke toko buku terbesar di Pekanbaru, Gramedia Sudirman. Kebetulan saat itu ada sejenis bazar buku gitu, awalnya sih gak tertarik, tapi setelah 2 jam menelusuri lantai 3 Gramedia, aku masih belum menemukan buku yang menarik. Saat hendak pulang, keputuskan untuk melihat-lihat sebentar di lokasi bazar. Mulai dari rak komik, sampai pada akhirnya aku berhenti di rak... apa ya.. lupa, yang jelas bukan rak novel. Saat itulah aku tidak sengaja menginjak buku ini. Kubaca judulnya sebelum meletakkannya kembali, “Cinta Kamu, Aku - Ini Bukan Drama Radio” karya Irfan Ihsan.

Novel itu tak jadi kuletakkan, sambil mondar-mandir kubalik terus buku itu sampai pada satu titik yang menjelaskan bahwa pemuda yang jadi tokoh utama cerita ini adalah seorang penyiar radio. Saat itu aku masih dekat dengan dunia penyiar radio, dan buku itu sukses membuatku tertarik, kemudian sukses menjadi novel favoritku hingga saat ini.

Buku ini dirilis untuk pertama kali pada tahun 2013. Menceritakan tentang Aan, seorang penyiar radio yang luar biasa kocak dan serba kekurangan –sampai harus minta jatah siarannya ditambah, dan Risha, seorang penyanyi pop yang tengah naik daun yang menjalani hubungan gelap dengan penulis lagunya. Suatu hari, Aan dan Risha bertemu melalui acara interview dadakan hasil kebohongan Aan. Rating positif berhasil Aan dapatkan hingga ia diberi jatah siaran prime time.

Semua berjalan baik untuk Aan, namun tidak bagi Risha. Risha terus-terusan makan hati karena Yudha, sang penulis lagu dan komponis itu tak kunjung meresmikan hubungan mereka dan memberi Risha kepastian, walaupun Yudha terus mengatakan bahwa ia mencintai Risha. Risha tahu ini juga merupakan kesalahannya, karena telah mencintai suami orang –kalau sekarang dia pasti sudah mendapat julukan Pelakor.

Pada sebuah acara music award, Risha, Yudha, Ratih (istri Yudha), serta musisi-musisi lainnya berkumpul untuk itu. Ah, tak lupa, Aan juga, karena dia akan membuat liputan khusus untuk radio tempat ia bekerja. Acara benar-benar riuh, reporter bergantian menanyai seluruh artis yang hadir. Begitu pula Yudha dan Ratih, awak media mempertanyakan isu retaknya rumah tangga mereka, Risha ada disana tanpa sepengetahuan Yudha, meski gak bisa mendengar jawabannya, Risha tahu bahwa Yudha menepis isu itu dengan merangkul dan mencium sang istri. Sontak hati Risha hancur, Yudha kaget melihat adanya Risha disana. Kehilangan akal sehat, Risha meraih tangan Aan yang ingin berpamitan dengannya, lalu mencium Aan tanpa aba-aba, sial, membaca bagian ini, aku merasa dunia berhenti sejenak, ikut merasakan apa yang Aan rasakan. Hahaha

Keriuhan awak media mengembalikan Aan pada kesadaran –panik dong ya, pasti shock Hahaha. Mbak Silvy, sahabat Risha, yang gak tau apa-apa, baru keluar dari toilet cuma bisa melongo heran.

Sejak saat itu hubungan Aan dan Risha terus berjalan, dengan permintaan maaf yang pertama diucapkan pihak Risha. Tapi, bukan berarti Risha lupa akan Yudha. Panjang nih PR-nya Aan buat merubah atmosfir hati Risha.

Selain dari tokoh yang membuat aku tertarik, sebenarnya ada hal lain yang membuatku tertarik dengan novel ini, yaitu komentar positif Tompi, musisi jazz favoritku, yang muncul dalam sebuah scene di novel ini, Rossa, Yovie Widianto, Indra Bekti, dan masih banyak orang terkenal lainnya, membuat aku berpikir, buku ini layak untuk dibeli, dan ya, dia memuncaki list novel romantis favoritku.

“Cinta Kamu, Aku” sebenarnya adalah novel yang menurutku memiliki alur romantis yang masih mainstream, gak ada yang “wah” sampai membuat kita mikir “aku mau kisah romantis yang seperti ini”, gak, biasa aja. Tapi cara Irfan Ihsan menceritakannya yang asyik. Ada unsur komedi dan drama yang tidak terlalu berlebihan menurutku.

Bukan berarti novel ini nomor satu ya, karna masih ada satu novel yang sejajar menurutku dengan novel ini, dan novel itu benar-benar membuatku berpikir “Aku ingin kisah romantis seperti ini dalam hidupku!”. Sebuah novel karya Ika Natassa berjudul “The Architecture of Love”. Serius, ini novel juga gak kalah sama novel yang baru aja aku bahas. Kalau “Cinta Kamu, Aku” dapat point 98, maka “The Architecture of Love” dapat point 98,5, karna ada unsur lain yang memenangkannya. Hahaha, nanti kita akan bahas lebih lanjut.
Categories: