Pluviothentic

www.storydecember.blogspot.com
Here lies the rain of my days, and the roots of who i am.
About Me
Hanya kumpulan tulisan otentik milik seorang pecinta hujan yang kebetulan senang blogging.
Kalian mungkin ada yang sama sepertiku. Menjadi anak pertama dan tunggal laki-laki. Bagi sebagian orang tentu itu menyenangkan, tunggal laki-laki, it means, you can get what you want. Benar sih. Tapi tidak selamanya. Hanya menjelang kamu menginjak SMP. Lebihnya, berusahalah sendiri. Dan saat kau mendapat apa yang kau inginkan dengan usahamu, orang tua masih akan menganggap itu berkat campur tangannya. Benar juga. Uang jajan yang kamu tabung saat itu semua adalah pemberian mereka. 

Menjadi seorang anak pertama, terlebih laki-laki, menyebabkan banyaknya tanggung jawab yang harus dipikul. Terutama jika ada yang terlihat bermasalah terhadap adik-adikmu. Jika mereka melakukan suatu kesalahan, maka yang akan diuber pertama kali, adalah si anak pertama, dengan tuduhan klasik “Kamu yang telah memberikan contoh!” Ya allah, begitulah deritanya si anak pertama. Padahal si adek cewek semua, gak mungkin juga main rumah-rumahan sama mereka, buuu.

Tapi bagiku pribadi, yang paling menyedihkan bukanlah dijadikan kambing hitam kesalahan. Tapi karna aku tak memiliki teman untuk problem sharing. Tidak ada abang, tidak ada adik laki-laki. Rame sih dirumah, tapi saat melihat beberapa teman yang punya saudara laki-laki untuk sharing, ada rasa iri tersendiri. Mungkin kalian yang tunggal juga merasakan ini. 

Aku pernah menulis kenakalanku saat sekolah dulu. Sudah lama. Menurut pandanganku saat ini, hal itu juga disebabkan tak adanya saudara laki-laki untuk berbagi. 

Jangan heran saat tiba-tiba aku mengenalkan beberapa orang teman sebagai saudara. Begitulah aku sangat ingin punya saudara laki-laki. Aku memiliki 2 orang yang aku anggap abang. Decky, seniorku dikampus, dan Bagus, suami kakak sepupuku. Serta banyaaaak sekali adik. Rian, Ridho, Fitra, dan Fajar. Nama terakhir adalah yang paling dekat –sampai beberapa saat yang lalu. 

Mereka semua, benar-benar tidak ada hubungna sama sekali dengan diriku. Hanya sekedar teman yang begitu dekat, hingga membuat leluasa bercerita, dan berakhir layaknya saudara. 

Terlepas dari semua hal baik, tentu ada hal buruk juga disana. Karna bukan tak jarang kami berkelahi karna hal-hal yang tak sepatutnya. 

Diantara keributan yang paling kanak-kanak yang terjadi adalah antara aku dengan Fitra. Si adek ini, mulai belajar nakal setelah tamat SMA. Mulai belajar merokok, minum, dan lain sebagainya. Aku sangat tidak suka dengan dua hal tersebut. Keributan tak bisa dielakkan, namun tentu saja, mereka tak berani bersuara selain mendengar omelanku. Mereka tak berani. Kadang saat aku marah, aku mayor. Nggak ada suara lain selain suaraku. 

Lalu, pertempuran terbesar kedua, bersama Fajar. Karna satu dan lain hal, ini perkelahian paling buruk. Hanya saja, dengan sedikit rasa bijak yang aku punya, aku tidak ngomel, marah, ataupun baku hantam. Ku biarkan dia berkreasi dengan drama hidupnya, meskipun drama itu mengaitkan diriku dan berdampak cukup besar juga padaku. 

*** 

Hei bisa kita bicara sebentar. Ini perkara kita. Pertama, untukmu, Fitra Ramadhan, aku tau kau akan membaca ini nanti, suatu saat. Kau harus tau. Kita sudah tidak bertegur sama cukup lama. Aku sebagai abang, bukan ingin memarahimu. Tapi, aku hanya mengajarimu hal yang baik. Aku melewati banyak hal dalam hidup. Diasingkan, diacuhkan, dan tidak difasilitasi. Dan dampak buruk pergaulanmu saat ini, akan menyerangmu suatu saat nanti. Sebut saja perihal minuman. Aku belum pernah minum alcohol, tapi sebagai besar temanku adalah pecandu. Hal buruk menyertai mereka. 40 hari ibadahmu takkan diterima. Lalu, rokok. Ketahuilah, rasulullah berkata segala sesuatu yang besar mudhoratnya itu haram. Percayalah, insya Allah apa yang ku ajarkan adalah hal yang baik. 

Yang kedua, untukmu, seorang adik yang sampai kini aku tak bisa marah, tapi aku belum bisa ikhlas menghapus dendam. Sang Kekasih Matahari. Hei, berapa lama pertempuran ini harus kita teruskan? Oh, mungkin ini pertanyaan yang selayaknya dilemparkan padaku ya? Baik, biarkan aku menjawabnya. SELAMA MASIH TERTERA NAMANYA DIBENAK DAN HATIKU. 

Ini bukan kali pertama kita berperang. Permasalahannya, sama. Dulu aku yang mejadi pemicu. Kini, malah kau yang menjadi dalangnya. Impas? Katakan saja iya. Tapi bagiku, hanya ada satu kalimat yang selalu ku ulang setiap mengingatnya. P#$@**! 

Kau orang yang paling tau rasaku, sejauh mana pergerakan ceritanya, dan apa goal-nya. Jangan kau katakan tidak tau. Karna jika kau jawab begitu, hanya ada 2 kemungkinan : Kau berbohong, atau kau tak menyimak penjelasan panjang lebarku. 

Dalam berbagai hari, kita sudah sepakat. Kita temukan kesepakatannya, bahwa kau melepasnya untukku. Hal itu karna kau tak memiliki tekad besar untuk berjuang. Dalam bahasaku, kusebut takut. Lalu bagaimana bisa kesepakatan itu berubah? Okay, lupakan. Ada cara agar aku bisa melupakan dendamku. Halalkanlah. Semakin cepat semakin baik.

0 komentar:

Posting Komentar