Pluviothentic

www.storydecember.blogspot.com
Here lies the rain of my days, and the roots of who i am.
About Me
Hanya kumpulan tulisan otentik milik seorang pecinta hujan yang kebetulan senang blogging.
Yak, tidak terasa puasa sudah berlangsung hampir seminggu. Panas di Kota Pekanbaru, seolah naik dua kali lipat. Padahal sih dicatatan cuaca tetap sama, tak ada perubahan. Suhu tertinggi tetap 34-35˚C, hanya saja, tenggorokan yang meminta supply air, membuat semuanya menjadi terasa semakin berat. 

Ntah kenapa, seluruh grup di whatsapp dan LINE seolah tengah dalam terror yang kuat. Setiap saat ada saja notifikasi. Isinya sama, mereka heboh merencanakan acara buka bersama. Yah, ini juga ciri khas dari bulan ramadhan. 

Sementara grup-grup itu ribut dengan perencanaannya. Kami mungkin lebih senang duduk bersama-sama. Menceritakan masalah pribadi, mencari solusi, dan bercerita tentang target. Sedikit banyaknya boleh dikatakan pembicaraan yang bermanfaat.

“Hmm, rumahku sepi. Padahal, targetku tahun ini, bisa sahur bareng pujaan hati. Tapi, ternyata harus ditunda. Ada beberapa hal yang harus dirembukkan ulang.” Ujar Tuan Helium dengan raut wajah super kecewanya. Yoho, dia harusnya menikah beberapa bulan lalu, tapi ternyata ada pembahasan yang belum matang katanya. Hahaha 

"Lah, gak ada beda 'kan kita? Abang mah mending, baru pisah rumah dari orang tua, beberapa bulan ini. Aku, udah pisah dari rumah orang tua sekitar 7 tahunan. Ya, tapi puasa tahun ini sih yang paling sunyi. Udah gak ada Wia yang nemenin video call pas sahur lagi. Hahaha." Ujarku membandingkan apa yang terjadi pada kami.

“Hahaha, alhamdulillah, semua berjalan sesuai rencana untukku Desember yang lalu.” Timpal Sanji. Ingat tulisanku tentang “Mekarnya Kebahagian di Musim Penghujan”? Ya, itu tentang si Sanji dan Titania ini. –Ah, aku sedang tak ingin menulis nama asli mereka. Maklumi. Setelah sempat putus, dan berpisah beberapa tahun, akhirnya mereka menikah. Sungguh, jika Allah sudah tetapkan mereka berjodoh, ada saja jalan untuk bersatu. “Untuk kalian, yang tahun ini sahur masih sendiri, semoga tahun depan ada yang bangunin sambil bilang gini ‘bang, bangun udah waktunya sahur, sayang’ hahahahaha. Terutama untuk si Bocah Cengeng Hara, dan Tuan Salah Perhitungan Helium, yang keduanya sama-sama batal menikah dengan permasalahan yang berbeda.” Tambahnya, membuat kami berdua tertawa kesal. 

Untuk beberapa alasan, dia menjadi tempat bercerita. Sejak dia menikah, dia memiliki segudang kebijaksanaan dalam mengambil keputusan. 

Berbicara mengenai menikah. Kami semua punya pandangan yang nyaris sama. “Jika ingin bahagia, maka menikahlah!”. Benar, menikah lah. Sempurnakan setengah agama kalian agar menjadi utuh. Menikah memang bukan perkara mudah, tapi juga bukan perkara sulit. Jika kalian sudah memiliki bekal ilmu sebelum menikah, menikah adalah hal yang tidak sulit sama sekali. Tapi berumah tangga tentu saja bukan hal mudah, banyak hal yang harus kalian ubah dari diri sendiri, agar keduanya bisa menemukan kebahagian. Apa tujuan menikah? Tujuannya cuma satu, untuk menemukan kedamaian. 

Sejak tamat SMA, aku enggan untuk pacaran. Aku lebih senang berkomitmen, menemui orang tuanya, bicara langsung pada orang tuanya –seperti apa yang telah kulakukan sebelumnya. Ya, terlepas dari hasil akhir, karna itu diakibatkan persoalan kepribadian. 

Okay, mari lepas sejenak. Untuk yang belum mendekatkan diri terhadap agama –mungkin termasuk aku, ya itu terserah mereka, kita anggap mereka orang buta, dosa, mereka yang tanggung. Nah bagaimana dengan yang sudah tau ilmu agama? Baik, begini, ketika tau, seperti apa keutamaan menikah dan dosa berjalan ria dengan yang bukan mahromnya, kalian hanya punya dua pilihan : Halalkan, atau Tinggalkan. Insya Allah keduanya, sama baiknya. Setidaknya, begitulah yang kami –sekumpulan makhluk abstrak ini percaya. 

Hei, hei. Aku punya kemampuan menikahi seorang wanita dan kurasa aku siap. Bagaimana dengan kerja? Ah, tenang, Allah punya ratusan pintu rezki kok. Percaya saja, setelah menikah, rezki dilipat gandakan. Tapi, izin Allah belum ada, mungkin karna kepribadianku masih belum bagus. Nah, bagaimana untuk kalian? Sudah siap? Kalau belum, untuk apa kalian dekati anak gadis orang itu? Kasihan ayahnya! 

Ayolah! Bagaimanapun, aku tak ingin menyalahkan mereka yang ingin bersenang-senang diusia mudanya, hak mereka, dosa mereka. Untukku, ini bukan usia muda lagi. Lepaskan beban yang ada dipundak itu, yakinkan diri kalian. Ada kebaikan yang menunggu setelah kalian halalkan. 

Apapun pilihannya, itu akan menjadi pilihan baik. 

Jika kalian siap, maka segerakan. Kalian tau kenapa? Karna begitu perintah Allah dan Rasulnya. Terlebih, setelah kalian halalkan, dan sah, akan ada hati yang walaupun merasa tersiksa, tapi dengan terpaksa akan mengikhlaskannya, dan berusaha mati-matian menemukan obatnya, karna harapannya sudah sirna. Akan ada kebaikan juga untuk kedua orang tuanya. 

Jika kalian memilih meninggalkan, itu juga takkan merubah apapun jika dia jodoh kalian. Kalian pasti akan bersatu pada akhirnya, seperti Sanji dan Titania. Jika bukan, maka kalian telah memberikan kebaikan, dengan mengizinkan orang yang benar mencintainya untuk menikahinya.  Simple bukan? Karna itu, kuharap kau pilih satu langkah terbaik menurut!
Categories:

0 komentar:

Posting Komentar