Ah, Hei! Lil’ brother, Sang Penghulu Pagi! Fajar. I dreamt about you last night, and surprisingly, it made me smile. You know, as a brother, i miss you. Biasanya, satu-satunya mimpi yang bisa bikin kebangun, cuma kalo mimpi Mbak Petrichor. Actually, aku memang sedang sedikit merindukan pembicaraan remeh-temeh kita. Pembicaraan ngawur antara abang dan adiknya. Dalam mimpi juga, yang datang padaku bukan kamu yang sekarang, sanak, tapi sosok kamu yang dulu. Yang belum kenal dunia sepeda, yang tiap pulang tanding, langsung datang kerumah untuk cerita tentang apa yang terjadi dihari itu, tentang bagaimana galaunya menggantung harapan pada seorang wanita yang masih punya kekasih. Pokoknya, selayaknya adik yang bercerita pada abangnya. I miss it. I miss my lil’ brother. But...
Anyway, mungkin sesuai kata teman Mbak Petrichor, mimpi tetaplah mimpi, mungkin gak lebih.
“When the snows fall and the white winds blow,
The lone wolf dies, but the pack survives.”
Kutipan diatas berasal dari serial Game of Throne. Sebuah ucapan Ned Stark pada anaknya diawal musim. Kutipan itu memiliki makna sosial yang bagus. “Saat salju turun dan angin putih berhembus, serigala penyendiri mati, tapi kawanannya bertahan.” Pengertian singkatnya mungkin begini, serigala yang hidup sendiri itu tidak akan bertahan lama menghadapi musim dingin, tak seperti yang hidup dalam kelompok karna saling berbagi kehangatan keluarga.
The lone wolf dies, but the pack survives.”
Kutipan diatas berasal dari serial Game of Throne. Sebuah ucapan Ned Stark pada anaknya diawal musim. Kutipan itu memiliki makna sosial yang bagus. “Saat salju turun dan angin putih berhembus, serigala penyendiri mati, tapi kawanannya bertahan.” Pengertian singkatnya mungkin begini, serigala yang hidup sendiri itu tidak akan bertahan lama menghadapi musim dingin, tak seperti yang hidup dalam kelompok karna saling berbagi kehangatan keluarga.
Beberapa waktu lalu, aku sempat bertemu ngobrol dengan beberapa mahasiswa psikologi Abdurrab untuk pembahasan mengenai beberapa topik yang ingin aku bahas dalam podcast-ku. Tiba-tiba, salah satu dari mereka sempat nyeletuk “Baru kali ini aku lihat ada nerd, yang punya kepribadian omega, malah jadi alpha male.”
Alpha male dulunya adalah sebutan untuk pejantan paling dominan, atau kita sebut aja pemimpin dalam sebuah kawanan hewan. Biasanya sih pada serigala, karna serigala selalu hidup berkelompok dan saling menjaga.
Ntah kenapa, serigala nampaknya sangat berwibawa dimata banyak orang. Serigala menjadi objek percontohan, seperti bagaimana mereka hidup dan berburu, serta bagaimana jiwa kepemimpinan dalam kelompoknya. Beberapa pendapat mengatakan, hewan yang terkenal buas dan haus darah ini juga merupakan hewan yang setia pada pasangannya. Yah, i don't really know about that.
Sekarang alpha male juga digunakan untuk mengelompokkan keperibadian manusia. Sebenarnya, selain alpha male, ada juga kepribadian lain. Beta male. Jika alpha adalah dominan yang memimpin kelompok, beta adalah orang yang menjadi penentu keberhasil alpha. Sederhananya, beta male adalah pemain dibalik layarnya alpha male.
Dan Omega menjadi kepribadian yang terakhir.
Orang-orang alpha memiliki kemampuan selayaknya haoshoku haki di One Piece, dan mereka juga ingin selalu terlihat. Selain itu, alpha juga sangat percaya diri dan terbuka akan pendapat. Jika menghadapi masalah, dan mereka merasa buntu, maka beta akan mengambil alih pola permainan dari balik layar, dan mengarahkan alpha agar kembali meraih kesuksesan. Mereka bermain dalam kelompok. Mungkin ini seperti aliansi Luffy dan Law. Luffy alpha, dan Law beta.
Hal ini, berbeda dari omega male. Mereka adalah tipe yang cukup tertutup, tapi sangat mudah bergaul. Sehingga pergaulan orang omega tetap gak kalah. Omega memang pendengar yang baik dan bijak saat menasehati, tapi juga sangat buruk dalam menyelesaikan masalah pribadinya. Mereka sangat suka kerja sendiri, tanpa bantuan. Tapi bukan berarti tidak bisa kerja dalam kelompok, bisa, tapi tidak suka.
Kelompok alpha dan beta, yang memang sudah biasa memimpin dalam kelompok, terlihat maskulin. Sementara omega yang memang tak ingin terlalu terlibat dalam kelompok, tidak begitu tertarik memikirkan penampilan, sehingga tak banyak dilirik. Omega adalah seorang gentleman yang gak maskulin.
Kelompok alpha dan beta, yang memang sudah biasa memimpin dalam kelompok, terlihat maskulin. Sementara omega yang memang tak ingin terlalu terlibat dalam kelompok, tidak begitu tertarik memikirkan penampilan, sehingga tak banyak dilirik. Omega adalah seorang gentleman yang gak maskulin.
Lalu kenapa mereka meraka menyebut omega yang jadi alpha?
Kemarin sudah kukatakan, bahwa sebenarnya aku adalah orang yang mudah bimbang, tapi saat berbicara aku bisa egois dan keras. Itu karna aku akan selalu memutuskan untuk berbicara setelah ada yang menjadi pemicu pembenaran atas apa yang kupikirkan. Aku yang pada dasarnya omega ini, hanya sedikit mampu menyesuaikan dan membaca kondisi. Sehingga, aku, dengan retorika yang memang sejak dulu sudah kuasah, dan sedikit membunuh rasa malu –walau aku pemalu parah, secara tak sadar, orang-orang tidak banyak yang menginterupsiku saat bicara.
Setiap aku menyampaikan opiniku, kebanyakan orang lebih memilih untuk mendengar, karna suaraku yang lantang. Perlahan, didalam kelompok manapun aku berdiri, aku lebih sering menjadi alpha male bagi kelompok itu. Mereka mendengarkanku berbicara, dan mengikuti arahanku dengan baik. Tapi aku tak pernah merasa terikat dengan mereka, kecuali yang sudah kuanggap keluarga.
Perihal alpha, beta dan omega male ini, rencananya juga akan kuangkat di podcast nantinya.

0 komentar:
Posting Komentar