The last story that i’ve wrote before, membuat banyak pertanyaan muncul dan masuk ke whatsappku. Ternyata mengganti nama tokoh utama saja tidak memberi pengaruh apapun. Pertanyaan paling banyak adalah “Wilda Giana Fitri itu nama aslinya?” dan “serius kau sekarang sama dia?”. Konyol memang, tapi aku senang mendapat respon menggelitik seperti itu.
Tunggu, aku ingin ucapkan selamat. Hei Nona Tonkatsu, selamaaat atas kehamilannya!! Semoga anakmu nanti menjadi anak yang luar biasa, dan menjadi penghapal al-qur’an yang baik. Ingat, didikan menentukan!
***
***
Hah, tekanan untuk menyelesaikan skripsi sesegara mungkin sudah mulai semakin menguat. Akan tetapi hasrat masih tidak pulih. Rasa enggan kuat menguasai. Beberapa skripsi mahasiswa lain yang kukerjaan saat ini, terpaksa kukebut karna si pembeli secara tiba-tiba mentransfer uangnya ketika dia mendengar bahwa aku sudah malas dan muak mengerjakan skripsi. “Bang, duit udah ditransfer, please selesaikan dulu punya aku.” Katanya. Ini yang merepotkan saat berhadapan dengan orang yang memiliki uang tabungan pribadi lebih dari Rp. 80 juta. Nyebelin.
Kuperhatikan jemariku. Terlihat bekas lingkaran memutih di jari manis tangan kananku. Ya wajar saja, 3 tahun kurang lebih cincin terkutuk itu melingkar disana. Mengikat erat harapan yang pernah kulangitkan.
Semua terasa berbeda belakangan. Sangat. Ku packing seluruh benda yang sebelumnya sudah nyaris kubuang tapi kupakai lagi itu. Kumasukkan satu persatu kedalam tempat yang layak. Aku tak ingin melihatnya lagi. Selamat tinggal Altair.
Ada rasa ingin untuk membeberkan segala sesuatu tentang seseorang yang perlahan membuatku hancur dari dalam. Sesuai dengan janjiku dulu padanya. “Menghilanglah, dan saat itu terjadi, akan kubiarkan dunia tau siapa KITA.” Tapi ada rasa tidak tega. Aku masih sama seperti yang dulu. Perihal dia, aku kalah.
Perlahan kusaksikan warna itu luntur, memudar. Menetes langsung ke telapak tanganku. Membuat noda yang jelas menjengkelkan. Kukira awalnya hal itu bukan masalah besar, mungkin sebentar lagi kering dan tidak bertambah pudar. Nyatanya, warna itu terus hanyut hingga tak ada sisa.
Dengan santai, ia sampaikan pada adikku segala buruknya aku. Aku tau, aku tau, itu fakta. Aku tau, brengsek! Tapi apa tidak cukup teman yang kukenal saja yang tau, hingga adikku juga harus mendengarnya? Sepasang telinga lugunya itu terus kujejali dengan hal baik tentangmu. Perubahan signifikan itu sudah kurasakan jauh hari. Tapi tidak kukira sampai sejauh itu.
Dibalik senyum bahagia dan kalimat “tak mungkin melepas” ternyata juga ada kebohongan yang disembuyikan didalamnya ‘kan? Ungkapan terakhir cukup jelas dan tegas, bahwa yang ada hanya rasa sakit menghadapi sebuah batu yang diselimuti lumut bernama EGO. Bahwa sebenarnya lengan yang memeluk itu sebenarnya penuh ragu. Aku. Memang. Seorang. Pembohong.
Tapi jangan se-explicit itu cara menyampaikannya. Nyebelin. Tapi mau bagaimana lagi. Caramu memperlakukan orang tergantung bagaimana orang itu memperlakukanmu, benar ‘kan? Aku baru sadar telah memperlakukan orang dengan buruk.
Semua bertolak belakang dengan apa yang harusnya atau apa yang selama ini kulakukan. Aku yang extrovert dan senang bercerita, mulai merasa muak bersosialisasi, dan lelah bercerita. Hanya ingin tidur, menulis, dan kembali berkhayal. Gini mulu, kapan aku bisa kaya?!
Menyederhakan isi pikiran, adalah apa yang kubutuhkan saat ini. Memediasi hati dan otak agar skripsi bisa kukejar demi siapapun yang berharap padaku diujung sana. Aku tidak bisa membaca script dari skenario yang Allah buat untukku. Yang aku tau, skenario itu harus kujalani, dan harus percaya bahwa itulah yang terbaik. Dan kalau memang baginya langkah menyenangkan adalah bersama yang pernah dia hujam dengan kalimat “ih, kok dia gitu ya?”, “Dulu kurang nyaman.” Itu. Ya nikmatilah.
Seseorang bilang gini, “Sederhananya, SEX dan Cinta itu berbeda. SEX sekedar kepuasan, Cinta kebutuhan dan pengharapan.” Kalau mengedepankan kepuasan, bisa dari apa/siapa saja. Sementara kebutuhan dan pengharapan bersifat menetap dan tak terganti. Bye, bahagia-bahagia disana.

0 komentar:
Posting Komentar