Heiheihei! Akhirnya masuk Romadhon juga. Ya, udah jalan 5 hari ini sih puasa di tahun 1442H ini. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi saudara-saudari sesama muslim, semoga Romadhon tahun ini menjadikan kita pribadi yang lebih taat, dan semoga setelah Romadhon tahun ini berlalu, kita semua dalam keadaan iman yang kuat dan istiqomah.
Hmm, banyak hal luar biasa yang terjadi dihidupku beberapa tahun terakhir ini. mampu membuang ego, menghubungi semua orang yang pernah melakukan kesalahan padaku, dan menginisiasikan permintaan maaf pada siapapun yang kurasa pernah bersinggungan denganku, termasuk dengan adikku, si pembuka pagi. It’s okay, meminta maaf tanpa merasa memiliki kesalahan juga sebuah kebijaksanaan menurutku.
Tahun ini, puasa memang terasa semakin berbeda, puasa terakhir yang benar-benar berkesan bagiku, mungkin adalah di tahun 2018. Sejak 2019 semua berbeda. Transisi puasa yang berbeda semakin terasa di 2020 lalu, dimana pandemi semakin menjadi-jadi, dan seluruh gerak dibatasi. Aku rindu 2018, aku rindu hidup damai yang kubangun ditahun itu, aku rindu rasa bahagia yang terus-terusan membuncah dari hari ke hari.
Tahun ini terasa begitu berbeda, puasa tahun ini terasa angkuh, begitu cepat berlalu, bahkan tanpa terasa sudah nyaris seminggu. Satu hal yang patut disyukuri adalah, diperbolehkannya untuk melaksanakan tarawih berjamaah kembali. Alhamdulillah, paling tidak ini mengurangi rindu..
Harapku sebenarnya, tahun ini kembali menjadi tahun dimana aroma petrichor menguar kuat seperti 4 tahun yang lalu. Tahun dimana tanpa hujan pun aroma petrichor akan selalu bisa kucium. Nyatanya, itu tak terjadi. Rumah tua itu masih dibungkusi tanaman rambat yang kian lama kian meninggi. Ah, maybe it’s a normal things now for me, kaya’ keladziman baru yang memang udah melekat aja gitu, seperti pergi kemana-mana harus pake masker, bawa hand sanitizer, dan hal-hal semacamnya.
Ya, tapi ada banyak hal yang memang terasa berbeda ditahun ini. Meskipun untuk keadaan sosial udah kembali normal, tapi tahun ini memang ada hal yang terasa begitu berbeda. Bahkan cuaca pun terasa begitu berbeda, meskipun lembab akibat hujan, tapi tetap saja panas untuk kota Pekanbaru ini. Selain itu banyak hal yang tak bisa kujelaskan yang begitu berbeda juga. Meskipun semua sudah seolah kembali normal, ada beberapa hal yang kurasa aku rindukan, hanya saja tak bisa kujelaskan apa.
Aku hanya ingin mengucap selamat berpuasa, dan maafkan jika banyak kata-kata yang menyinggung kalian, kawan. Hanya saja aku berusaha untuk menulis sejujur yang kubisa, dan aku juga sudah menyamarkan namanya. Baiklah, semoga puasa berjalan lancar, damai, dan semua baik-baik saja. Aamiin

0 komentar:
Posting Komentar