Haiiyoooo!! Gak kerasa udah Romadhon hari ke-11 atau sekarang sudah bisa dibilang malam ke-12. Waktu terasa begitu cepat berlalu. Padahal rasanya baru beberapa waktu lalu Romadhon datang, sekarang udah tinggal setengah aja.
Tapi akibat pandemi Covid-19 ini, Romadhonnya makin gak berasa. Gak ada tarawih berjama’ah, gak ada sholat jum’at, gak ada kajian, dan mungkin gak akan ada i’tikaf tahun ini. Walaupun pemerintah sudah menetapkan PSBB, tidak ada perubahan yang signifikan, konon angkanya masih terus meningkat. Suatu hari nanti, aku mungkin akan menceritakan pada anakku, bagaimana ayahnya selamat dari pandemi ini –ya kalau selamat sih.
Romadhon tahun ini, menjadi Romadhon yang cukup unik, dimana 15 Romadhon jatuh pada hari jum’at, bagiku ini sesuatu yang bagus. Namun, kemudian muncul rumor-rumor yang disampaikan (katanya sih) oleh seorang ustadz dalam ceramahnya. Sebuah rumor pembodoh dan penanaman rasa takut selain pada Allah menurutku.
Dia mengatakan bahwa jika 15 Romadhon jatuh pada hari jum’at, maka akan ada sesuatu yang mengerikan akan terjadi. Dia mengutip dari sebuah hadits. Sayangnya, oknum yang menyebarkan rumor ini, tidak mengusut hadits tersebut sebelum menyampaikannya –mungkin dia merasa keren karna tahu hadits ini.
Hadits ini bukan saja hadits dhoif, tapi hadist ini adalah hadits palsu, ini dikarena perawinya didhoifkan oleh ulama masyhur, seperti Abu Daud. Salah satunya adalah Nu’aim bin Hammad, Abu Daud mengatakan bahwa Nu’aim bin Hammad sudah meriwayatkan 20 hadits yang tidak ada dasar sanadnya.
Yang lebih disayangkan lagi adalah, masyarakat yang miskin literasi ini juga banyak yang enggan untuk menelusuri hadits tersebut sebelum mereka semakin menyebar luaskannya. Hal ini sering terjadi dalam whatsapp grup keluarga. Salah satu teman mengaku bahwa dia mendapat kecaman keras setelah membantah rumor yang disebut ad-dukhan itu. Ini membuktikan bahwa masih banyak para pemalas yang berusaha untuk terlihat keren tanpa mempelajari sesuatu dengan saksama.
“Kami sharing, untuk berbagi info! Harusnya kamu gak bicara begitu!” sebagian ada yang berkata seperti itu saat aku dulu membantah keras hoax yang merajalela dikampus. Aku bukan tipe orang yang akan dengan suka rela menggangguk tentang sesuatu yang aku tau salah, tapi aku bersedia berdiskusi untuk mencari kebenarannya.
Okay, sekarang mari berpikir begini. Berapa banyak orang tua diantara kita yang tidak melek akan teknologi informasi? Berapa banyak kawan-kawan kita yang akibat tidak mampu, tidak bisa mengakses informasi secara detail?
Sharing is caring, right?
Kita bisa mencaritahu detail informasi sebelum kita share adalah salah satu wujud dari care kita kepada mereka yang disebutkan diatas. Aku tidak ingin keluarga menerima informasi sampah yang tak jelas, aku tak ingin mereka terbodohi oleh orang dengan paham “yang penting share” ini. Itu sebabnya aku berprinsip “saring before sharing, because sharing is caring”. Aku tak akan menuntut itu dari orang lain, karna aku berusaha sadar bahwa ini juga tugas. Bijak dalam membagi informasi, pintar dalam mengambil sumber, serta jenius dalam bernarasi adalah pola yang aku ingin orang-orang lihat dariku –meskipun setengah mati aku melakukannya karna tindakanku hampir selalu dipengaruhi ego.
Sudah saatnya bagi kita menjadi orang yang cerdas dalam menggunakan teknologi informasi. Jika tidak, kita juga nanti akan tenggelam dimakan perkembangannya. Terima kasih, dan aku mohon maaf buat kalian yang kadang kubuat tersinggung dalam tulisanku, meski Romadhon sudah mau habis, kurasa tidak ada salahnya untuk saling memaafkan. Haha

0 komentar:
Posting Komentar