Pluviothentic

www.storydecember.blogspot.com
Here lies the rain of my days, and the roots of who i am.
About Me
Hanya kumpulan tulisan otentik milik seorang pecinta hujan yang kebetulan senang blogging.
Semakin hari pandemi mulai menjangkau setiap tempat di negara ini. Bahkan beberapa wilayah sudah memilih untuk melakukan karantina wilayah. Begitupun Pekanbaru, sejak beberapa wilayahnya menjadi redzone, orang-orang mulai merasa khawatir –walau tak sedikit juga yang tak menghiraukannya. 

Akibatnya, kini jalanan sudah relatif lengang. Beberapa mengakatan Pekanbaru sudah kelihatan seperti suasana lebaran, dimana mayoritas masyarakatnya mudik, dan kota menjadi sunyi. 

Aku terus memacu kendaraanku, mengunjungi salah satu konsumen yang memesan beberapa botol wine dari kami. Sebenarnya aku belum pernah bertemu langsung dengannya karna kurasa tak begitu perlu, tapi kali ini aku memang harus bertemu, ada beberapa hal yang harus didiskusikan, termasuk melonjaknya nilai tukar rupiah ke dollar. 

“Kurasa, kali ini kita harus menghentikan pemesanan dulu. Untuk shiraz dan pinot noir yang sudah masuk list kemarin, kita jadikan stok dulu.” Kataku pada temanku, dari tadi telingaku tersumbat oleh handsfree, Tommy terlalu banyak tanya kali ini. Bahkan sesekali kulirik layar ponselku, sudah 20 menit lebih dia menelpon. Harus jujur, telingaku terasa agak panas. 

Gimana ya, Har, soalnya, kalau kita batalkan, kemungkinan kita akan kehilangan dana.” Jawabnya. 

“Jangan dibatalkan, tunda pengiriman aja gak bisa?” 

Gak tau sih, aku juga belum bahas sampai kesana, tapi pertemuan berikutnya aku coba sampein deh.” 

“Berapa lama lagi kau akan menghabiskan waktu di Australi?” 

Ya sampai penerbangan menuju Indonesia diizinkan lah.” 

“Berenang aja udah, repot amat!” 

Bangke, dikira aku lumba-lumba?!” 

“Yaudah, gak usah nelpon-nelpon lagi. Dah, aku dah sampai dirumah Pak Ahen.” Segera kututup telpon itu tanpa mengucapkan salam. 

Aku tiba di depan sebuah rumah yang cukup megah. Katanya sih pemilik rumah yang menjadi langganan kami ini adalah seorang petinggi perusahaan minyak, ntahlah, Tommy yang mengenal dia. Security mengarahkanku menuju parkiran, yang terletak dibagian belakang rumah ini, tampak seperti basement. 

“Pak Ahen lagi keluar, Mas, tapi tadi dia udah bilang kalau ada tamu yang akan datang, dan Mas sudah ditunggu sekretarisnya didalam.” Ujar security itu sambil mengantarku menuju sebuah ruangan yang tampaknya memang didesain untuk jadi ruang diskusi. Ruang ini cukup minimalis, terdapat dua sofa panjang yang saling berhadapan, lemari berisi beberapa buku, refrigerator, beberapa lukisan, serta sesuatu yang menarik perhatianku adalah sebuah wine cellar dari kaca, betapa banyaknya wine simpanan Ahen ini, dengan berbagai merk dan jenis. 

“Kurkira hanya perasaanku saja, ternyata memang benar orang yang sama. Seorang anak lugu, yang terkenal cukup pintar semasa SMP.” Ujar seorang wanita yang membuatku terkejut, karena bahkan langkah kakinya tak terdengar. 

Aku menoleh kearahnya. Aku terkejut, sampai-sampai aku terdiam selama beberapa detik. “Octa?! Astaghfirullah, bukannya kamu pindah ke Jawa?” Argh, gawat, bisa-bisa seluruh alumni tau soal ini. 

“Aku dapat kerjaan diperusahan minyak, dan ditempatkan disini, jadi Sekretarisnya Pak Ahen.” Jawabnya sambil terus melewatiku, dan duduk disofa. “Duduk hei, ngapain berdiri.” 

Aku kemudian duduk disofa seberangnya. “Udah berapa lama kerja di Pekanbaru, kenapa gak ada yang tau kamu ada disini?” 

“Baru setahun ini. Ada kok yang tau, mungkin kamu aja yang gak nanya. Lagian di grup alumni juga cuma kamu yang gak pernah nongol.” Wanita ini adalah mantan model semasa dia SMA, tinggi 165cm, kulit putih, dan warna matanya yang hitam menyeramkan menjadi daya tarik luar biasa. “Awal nama kamu disebut sama Pak Tommy, aku kaget, dan berpikir, gak mungkin. Tapi ternyata benar, laki-laki yang sama, sekarang menjadi pemasok wine untuk perusahaan kami.” 

“Aku cuma perpanjangan tangan untuk urusan negosiasi. Aku kesini ingin membahas harga. Kamu tau sendirikan dollar melonjak naik.” Ujarku sekenanya. 

“Hmm, soal itu, jadi ada kendala?” dia menarik botol minuman dari refrigerator kecil disampingnya, dan menuangkan isinya kedalam dua sloki yang sudah terisi rocks. “Nah, minum dulu.” 

“Apaan nih?” aku bertanya, jaga-jaga kalau ini minuman beralkohol. 

Jägermeister.” Katanya sambil meminumnya dengan santai. Sialan, enteng banget nawarin, gak pakai babibu. Jägermeister adalah sebuar liquor asal Jerman yang terbuat dari puluhan sari tumbuh-tumbuhan dengan kadar alkohol yang tinggi. 

“Hmm, maaf, aku gak minum alkohol.” Jawabku. Seketika tawanya meledak. 

“Hahaha, Penjual alkohol, gak minum alkohol?! Yang benar aja, gimana kamu mau jelasin daganganmu?” ledeknya. 

“Aku tau semua jenis wine yang kami jual, aku gak minum bukan berarti aku gak ngerti seperti apa gambaran umum taste-nya ‘kan? Toh, tinggal suruh mereka cicip aja dulu.” Begitulah, aku tau berbagai jenis wine dan seperti apa taste yang dibawanya, meskipun begitu, tetap saja aku tak tau apa benar seperti itu rasa sebenarnya? 

“Balik lagi ke pembahasan De, kami terpaksa menyesuaikan harga dengan dollar sekarang, karna kamu tau sendiri, begitu dollar melonjak, mereka juga membuat keputusan sepihak.” Aku berusaha mengalihkan topik pembahasan. 

“Bos tadi udah mikir sampai kesana, dan udah predict, that you will talk about this. Jadi dia bilang gak terlalu masalah, tapi dia mau ganti pesanan. Shiraz gak jadi, diganti Muscat aja. Bisa?” 

“Okay, gak apa, bisa kami atur.” 

“Hmm, jadi gimana ceritanya kamu bisa jadi supplier wine?” 

Ah, ini ni yang bikin aku gak pernah mau ada orang yang tau aku sekarang kerja sampingan ini. “Karna diajak Tommy.” 

“Gak mungkin karna ajakan Pak Tommy doang.” 

“Ya, karna duitnya lumayan besar juga.” 

“Pernah minum?” 

“Gak. Okay, gini, aku dulu sempat stres karna satu masalah, jadi aku mulai bergaul dengan Ren, temannya Tommy, dia ajarin aku apa itu vape dan membuatku mencobanya beberapa kali. Akhirnya dia ajak aku ke tempat Tommy, awalnya mungkin dia mau ajarin aku minum alkohol, aku gak akan pernah nyicip alkohol, tapi aku jadi tau banyak tentang wine, dan tertarik, akhirnya, ya begini.” Aku berpikir lebih baik ceritakan alasannya, sebelum pertanyaannya semakin aneh.

Puas berbincang, dan mengorek banyak hal dariku, akhirnya aku diizinkan untuk meninggalkan tempat ini. Paling besok juga jadi bahan gibahan di grup. 

*** 

Aku tak langsung pulang, aku sempatkan bertemu seorang sahabat lama, aku ingin menumpahkan unek-unekku selama beberapa hari ini. Seorang ibu yang secara mengejutkan tanpa memberitahu ternyata sudah mempunyai 2 jagoan kecil. Orang yang selalu kupanggil Mbak Manja. Aku tiba disebuah tempat ternyaman untuk bercerita, dan kulihat dia sudah duduk disana, sambil terus ngemil. 

“Dah lama?” Sapaku. Dia pun menoleh sebentar. 

“Gak, cuma udah habis berbagai makanan aja.” Jawabnya agak ketus. Sejenak kami berbincang, mendengarnya dengan penuh semangat menceritakan kedua jagoan kecil, Iv dan Ra. Aku senang mendengar tawa renyahnya menceritakan kedua buah hatinya, meski diselingi keluhan-keluhan yang tak kalah hebohnya. 

“Jadi gimana si Mbaknya?” tiba-tiba dia bertanya, seolah tau apa yang ingin kuceritakan padanya. 

“Ntahlah, Mbak.” Jawabku sambil menerawang jauh. “Kalau boleh, aku ingin bertemu dengannya, menatapnya lekat, sekali lagi saja. Walau setelah itu aku tau pasti gak akan pernah lagi bertemu dia.” 

“Lah bukannya dia udah nikah ya?” 

“Kalau begitu aku berharap dia bercerai, Mbak.” 

“Eh, jangan do’ain yang jelek, kasian Mbaknya! Semoga dia dipertemukan tuhan dengan yang terbaik untuknya, siapa tau aja yang terbaik buat dia adalah Abang.” 

“Lha bukannya kalo gitu sama aja ya? Haha” 

“Emang abang tega lihat dia sedih?” 

“Ya gak tega sih.” Benar-benar ibu, semakin dewasa sejak punya anak. 

“Nah makanya. Emang abang mau dido’ain yang buruk juga sama mbaknya atau sama yang sekarang lagi sama mbaknya?” 

“Ya gak mau.” Jawabku sambil menggaruk bagian belakang leher yang sebenarnya tidak gatal. “Kadang abang ngerasa berdosa juga. Padahal abang tau mungkin mereka sudah bahagia, tapi abang malah datang membawa do’a perusak segala.” 

“Makanya!” katanya sambil memukul pipiku dengan kotak makanan yang dari tadi dia cemil. “Do’ain yang baik-baik aja. Do’a orang teraniaya itu pasti diijabah, kecuali do’anya buruk.” 

“Hahaha, abang teraniaya ceritanya?” kusandarkan punggungku, lalu membuang pandangan kearah pramusaji yang tampak begitu sibuk. “Abang ngerasa kena kutukan. Kutukan gak bisa lepas dari mantan." 

“Itu bukan kutukan, emang dasar abang aja yang gak mau ngalah buat apa yang abang rasa adalah milik abang! Abang gak bisa terus-terusan hidup seperti itu!” Bingo! Tepat sekali, bukan kutukan, tapi karna egoku mengatakan dia adalah milikku. Wanita ini. 

“Abang udah mikir sampai kesana Mbak, abang berpikir harus move, tapi abang kehilangan kepercayaan, bukan kepercayaan untuk menikah, tapi kepercayan bahwa ada orang yang bisa satu alur dengan pemikiran abang.” 

“Kenapa gak kita aja yang menyelaraskan dengan pikiran dengan dia?” wanita itu kemudian meletakkan gelas berisi sodanya. “Somehow, kita harus mencoba hal seperti itu.” 

“Gimana kalau nantinya kita sudah berusaha ikut alur dia, tapi dia malah mengikuti egonya?” 

“Abaaang, cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok. Air yang selembut itu, bisa mengikis batu bang. Kesabaran bisa merubah banyak hal.” Gak salah aku memilih ibu ini untuk menjadi penasehat. 

“Ahaha, bener ih, dasar ibu dua anak. Thanks ibu, you’re the best place that i have in this world. Home that i will never have.” 

You can always call me home bang.” 

Yap, of course, thanks home.” 

“Eh, bang aku pamit dulu, takut si Kecil ntar nangis, lama ditinggal.” Ujarnya sambil membereskan makanannya, dan bergegas pulang, sesaat dia berbalik arah dan melambaikan tangan. 

Ah, aku juga harus segera pulang, takut nanti malah kemalaman gak bisa balik, karna jalan pulang ditutup. Thanks Mbak.

0 komentar:

Posting Komentar