Pluviothentic

www.storydecember.blogspot.com
Here lies the rain of my days, and the roots of who i am.
About Me
Hanya kumpulan tulisan otentik milik seorang pecinta hujan yang kebetulan senang blogging.
Selamat datang ke dunia Bidadari Kecil sahabatku, Aiza Hanifatunnisa, Am i correct, ca? Kalau salah, tolong tulis yang benar di kolom komentar yaa. Kalau benar, berarti ingatanku masih cukup baik untuk sesuatu yang luar biasa mudah terlupa olehku.  [Dan ternyata bener salah, nama si kecil itu Aiza Shafiyatunnisa. 11 Januari 2020]

Okay, aku tak tau apa nak aku cakap, sebab aku tak bagi apapun kat baby kecik ni. Aku senang tengok baby, tapi aku tak nak kerumah awak sebab aku pun tak datang masa awak married kan. So, aku nak cakap sikit je “Berkah pertama korang di awal 2020 adalah bidadari lugu, lucu, yang membuat seorang pria enggan nak buat hal macam-macam. Allah give you something special in the first week of the year. Maybe itu pertanda berkah kat korang lah.” 

Okay, cekippp. 

Berbeda sedikit dari sahabatku yang baru saja mendapat momongan, aku malah membuat kesalahan (sepertinya) untuk mengawali tahunku dengan menyimpan kembali nomor Nona Petrichor di list kontakku. Tapi, aku rasa it’s okay, aku pun tidak ingin lebih lama membohongi diri sendiri, itu sikap yang bodoh. Aku tak bisa lupakan dia. Jadi, biar Allah yang beri aku petunjuk. 

“Lama pun encik begalau sebab itu, muak aku dah.” Nak cakap macam tu ke? Tak apa, aku pun letih, tapi mau bagaimana lagi. –Eh, rase pelik sangat benda ni. 

*** 

Senandung Secondhand Serenade dari dua album tuanya, Awake dan A Twist in My Story, nyaris setiap hari terputar di playlist laptop, menemani segala rusuh resah akibat berbagai hal, dengan tangan yang terus mengetik skripshit yang sudah di tahap finishing, meskipun aku tak tau benar apa yang sebenarnya kutulis. Bersyukur, sejauh ini, tak ada protes, tak ada revisi besar maupun kendala lainnya. –ah ini juga undangan terbuka untuk membuat kerusuhan di acara yudisium dan wisudaku, aku di garda depan, so i’ll be prepared... 

Februari masih lama, itu tandanya, masih lama pula aku harus berjuang dengan hal –yang aku yakin kamu tau itu, nona. 

Selama aku mengetik, dan proses edit beberapa video dan foto hasil jepret sana-sini, aku akan berhenti saat lagu “BROKEN” terputar, seolah itu adalah pertanda untuk istirahat selama 3 menit 53 detik. ♪Is it broken, can we work it out? Let’s light up the town, scream out loud! 

*** 

2020, aku rasa ada sesuatu yang besar yang harusnya aku rayakan ditahun ini, tapi sudah memburam, dan aku tidak lagi tau apa itu, yang kutahu, sepertinya ditahun ini, aku harus me-reset segala hal, semua dari awal. Tapi nampaknya aku sedikit salah membaca strategi yang kususun, sehingga bukannya menekan tombol reset, aku malah me-redo semuanya, termasuk hal yang ingin aku tinggalkan untuk menjadi masalalu. 

Beberapa teman, mulai membicarakan resolusi untuk 2020 mereka. Aku hanya bingung, mereka membuat resolusi “lagi”, apakah resolusi 2019 mereka benar terealisasikan dengan baik? Sebenarnya untuk apa mereka membicarakan resolusi, dimana resolusi tahun lalu saja belum ternyatakan. Namun, pembahasan tentang itu justru sedikit menyinggung mereka. Aku sendiri, ketimbang membuat target yang ingin kucapai, aku lebih ingin –atau lebih tepatnya mencoba untuk jadi peribadi yang lebih baik dari yang udah-udah, meskipun itu hampir selalu gagal kucapai. 

Tapi berbeda sedikit dari tahun yang sudah-sudah, aku benar-benar ditempa oleh 2019. Dan paling tidak aku bisa katakan dengan penuh keyakinan, aku adalah pribadi yang lebih baik kini –dalam beberapa hal dan kondisi. Orang yang mengenalku pun, kurasa sependapat. Mengalah, lebih tenang, memahami arti dan maksud dari kata maaf. Aku beruntung, masih sempat memperbaiki hasil dari kebodohanku di masa silam sebelum kematian menjemput. Hanya saja, ada beberapa dosa, yang belum terhentikan sepenuhnya. 

Tak banyak harapku pula untuk tahun ini, aku hanya ingin, apa yang sudah kuperbaiki, bisa jadi lebih sempurna. Dan aku hanya bermimpi untuk dapat mengulangi beberapa hal yang dulu pernah menjadi nyata dalam hidupku, meskipun itu mustahil. 2020 juga merupakan tahun yang pernah dinanti-nanti, semoga memang akan seindah impian itu. mungkin daripada kusebut me-reset, akan lebih tepat jika kusebut me-restart. 

Dan, aku minta maaf karna aku terlambat saat itu. Hari ini, adalah hari yang sama saat aku memohon kala itu, dan pernyataanmu adalah “Kamu sudah terlambat. Sangat terlambat.” 

Maaf.

-From: Puca-

0 komentar:

Posting Komentar