Pluviothentic

www.storydecember.blogspot.com
Here lies the rain of my days, and the roots of who i am.
About Me
Hanya kumpulan tulisan otentik milik seorang pecinta hujan yang kebetulan senang blogging.
Akhirnya setelah sekian purnama, kita kembali bertemu. Ada berbagai rasa yang bercampur aduk dalam hatiku. Kamu masih terlihat sama, belum ada perubahan. Hanya saja kali ini, ketika aku memanggilmu, hanya ada dua hal yang terlihat dari matamu, ketidak kenalan, dan kebencian sepenuhnya. Tak mengapa, memang sudah sepatutnya begitu. Paling tidak, aku masih diizinkan Allah untuk bertemu denganmu, meski tidak menghapus rindu, tidak apa, apa lagi yang bisa kuharapkan dari kita? 

Kadang ada rasa ingin mengetahui apakah dia baik-baik saja, tapi ada banyak hal yang menghalangi, termasuk mengingat pesan text terakhirku tidak direspon sedikitpun. Hahaha. 

Aku kelelahan dengan semua hal yang kukerjakan, setelah sekian lama, akhirnya aku mengalami kembali fase insomnia yang memakan waktu berhari-hari lagi. Tapi tentu saja pekerjaan tetap harus selesai tepat waktu. Terlebih skripsi dan proposal mahasiswa/i pemalas yang kukerjakan begitu banyak. Orientasi kerjaku masih sama, uang. Hasil sampingannya, otakku mendapat tambahan ilmu yang membuatku memiliki semakin banyak sudut pandang, dan semakin egois untuk diriku sendiri. 

Perlahan, kusadari blog ini mulai terlihat seperti teh botol yang mulai kehilangan jati dirinya dan muncul dalam bentuk kalengan. Apaan dah, lu kan teh botol? Kok kalengan sih? Astaghfirullah. Dah ah, ini blog juga mulai nampak seperti itu. Mulai lupa untuk siapa dia dibuat, dan kepada siapa dia didedikasikan. Padahal dia didedikasikan untuk seorang Hara, manusia super egois, yang lahir akibat tekan mental berlebihan kepada seorang bocah SMA, 9 tahun yang lalu. 

*** 

Bicara tentang jati diri, aku teringat sosok Lumikki. Lumikki adalah gadis cerdas, seorang snow white yang tangguh. “Kita tak akan pernah mengenal seseorang sepenuhnya, seperti kita mengenal diri kita sendiri. Bahkan jika itu orang tuamu sekalipun.” ujarnya. 

Untuk beberapa saat aku berpikir keras. Bagaimana bisa kita tidak mengenal orang tua kita sepenuhnya. Namun beberapa saat kemudian, jawabannya terlihat jelas. Tentu saja itu benar. Kau mengenal dirimu sejak pertama kali kau mampu merekam dalam memorimu. Mungkin kurang lebih sejak usiamu 5 atau 6 tahun. Itu sebabnya kau bisa dikatakan mengenal dirimu sepenuhnya, kau tau apa kebiasaan baik burukmu, kau tau apa yang telah kau lakukan, kau tau apa yang sedang kau pikirkan. 

Eric B. Shiraev, dalam bukunya mengatakan bahwa ada proses kognisi yang berjalan dalam proses pemaknaan secara psikologis, yaitu sensasi, persepsi, dan keadaan kesadaran. Sensasi berawal dari stimulus yang lingkungan berikan kepada kita, dan kita kirim melalui sensor indra menuju otak. Kemudian seluruh sensasi itu akan diterjemahkan secara empiris, dengan segala pengalaman yang kita miliki. Hal ini tidak lepas dari keadaan kesadaran, sehingga kita bisa memilih apa saja yang kita respon. Jelas terlihat, bahwa dalam mengenal atau memaknai, kita akan menerjemahkannya berdasar pengalaman dan kesadaran. Sekarang muncul pertanyaan, bagaimana mungkin kita tidak mengenal orang tua kita, sementara kita ada bersama mereka sepenuh hari. 

Sederhananya adalah, setiap orang memiliki masalalu. Lalu, apa kau bersama orang tuamu sejak orang tuamu masih kanak-kanak? Tentu saja tidak. Apa kau tau apa yang dilakukan orang tuamu saat mereka remaja? Tentu saja hanya berdasar apa yang mereka ceritakan, dan aku yakin, setiap orang tua yang ingin anaknya tumbuh baik, akan mengajarkan anaknya hal baik. Saat mereka berceritapun, mereka akan memilih untuk bercerita hal yang baik-baik untuk memotivasi kita untuk menjadi baik juga. Semua kekhilafan dan kesalahan mereka akan mereka simpan rapat-rapat. Sementara, tindakan seseorang menurut Elizabeth Hurlock, juga dipengaruhi oleh faktor empiris, pengalaman akan membantu seseorang mengambil tindakan, dan tidak jarang juga pengalaman membentuk kepribadian. Lalu, bagaimana kita bisa mengenal mereka sepenuhnya? Tentu minim kesempatan untuk itu. Itulah sebabnya, kita hanya dianjurkan menasehati dan mengajak seseorang pada kebaikan oleh Rosulullah, bukan mencampuri keputusan, tapi hanya sekedar menyarankan. 

Pun begitu dengan pasangan, untuk dapat mengenal lebih baik, ada tiga hal yang harus dijaga, keterbukaan, rasa percaya, dan saling mendukung. Itu dapat membantu untuk lebih kenal dengan pasangan kita. 

*** 

Mungkin aku masih belum sepenuhnya mengenal dan memahamimu Zwei Yuki, tapi aku masih ingin terus belajar, dan menjalaninya seperti yang telah lalu, maaf kalau aku belum bisa menyerah pasrah.
Categories:

0 komentar:

Posting Komentar