Pluviothentic

www.storydecember.blogspot.com
Here lies the rain of my days, and the roots of who i am.
About Me
Hanya kumpulan tulisan otentik milik seorang pecinta hujan yang kebetulan senang blogging.
Panas menemani siang Pekanbaru dengan sangat semangat dan menyengat, lalu akan didinginkan kembali oleh hujan pada malam harinya.

Waktu terasa berjalan begitu lambat untukku sejauh ini. Kehilangan dirinya masih saja meninggalkan luka yang sangat dalam. Dan hal-hal tak terduga pun terjadi. Orang yang selama ini ku percaya akan berada pada pihakku, muncul kepermukaan menjadi seorang villain dalam cerita kecilku. Aku tak tahu ingin merespon semua ini dengan cara apa. Tapi itu membuatku mengerti, selain diriku, dan 4 manusia absurd yang setiap hari menemaniku itu, tak ada manusia yang bisa ku percaya. Terima kasih untuk kalian, Fikri, Bobby, Master Rudy –yang diawal, ngotot nyuruh aku mempertahankan-, dan Hamid –seorang veteran perang. Satu-satunya yang memintaku untuk mundur, dengan alasan pengalaman bertempurnya-.

Cintaku tidak berkurang sedikitpun. Itu sebabnya aku belum bisa mengikhlaskannya. Namun dia yang memaksa. Aku tak ingin membahasnya terlalu jauh.

Hei, bagaimana aku bisa melupakanmu? Mimpi yang kita bangun itu ada sebesar gunung Fuji. Bagaimana cara menguburnya?

Semoga keputusan yang kamu ambil ini, tidak akan membuat sesalmu dikemudian hari. 

Aku sangat menikmati alur yang berjalan itu sampai kini. Hari-hariku penuh caci maki. Semua pesanmu yang penuh amarah. Aku tak lagi merasakan sakit. Tidak sama sekali, karna yang terpikir olehku, hanya mengembalikan dirimu padaku.

Dulu, kalimat yang terekam didalam otak adalah “saya terima nikahnya W.A.S binti S. Dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai”, kini berubah “saya terima cacinya, makinya dan amarahnya. Dengan sepenuh hati segenap jiwa, karna cinta”.

Aku saat ini terjebak dengan seribu kebodohanku sendiri. Rel kereta di otakku hilang, sehingga dia tak bisa bergerak kemanapun. Entah sampai kapan itu akan terus berlangsung. Aku pun tak tahu.

Satu per satu mulai terasa runtuh.
Motivasi yang selama ini menjadi pondasi, menghilang.

Perkuliahan terasa begitu berat. Bahkan untuk tinggal dikota ini pun terasa susah. Tidak ada tempat yang tidak kita datangi bersama. Kemanapun aku pergi untuk merilekskan pikiran, bayangan tentang “kita” kembali muncul.

Aku hanya berharap hal ini hanyalah sebuah mimpi buruk. Dan secepatnya terbangun.
Jika aku menyakitimu dalam beberapa hal belakangan aku pun meminta maaf.
Oh dan untukmu, seseorang yang tak terduga. Terima kasih atas kejutannya.

Membayangkan posisiku tergantikan olehnya, adalah hal paling menyakitkan untukku. Membayangkan bagaimana kamu memperlakukannya, melebihi kamu memperlakukanku dulu, membuat jantungku terasa berhenti berdetak untuk sementara.

Aku membenci semua ini, aku tidak bisa terima karna aku mencintaimu. Namun untuk mendendam, itu bukan bagianku. Ada yang lebih berhak untuk itu.

0 komentar:

Posting Komentar