“Bidadari tak bersayap datang padaku
Dikirim tuhan dalam wujud wajah kamu
Dikirim tuhan dalam wujud diri kamu”
Penggalan lirik lagu Bidadari tak Bersayap karya Anji itu terus berputar-putar dalam benakku selama beberapa hari ini. Cukup untuk menggambarkan kamu wi.
Satu minggu, dan belum ada perubahan. Berbagai bentuk rasa khawatir, kini menjadi anxiety yang tak bisa ku hilangkan. Bahkan hujan di sore ini pun terasa seolah memberitahukanku sesuatu yang ku harap takkan pernah terjadi.
Widya A.S, atau yang lebih senang ku panggil Wia. Seorang wanita yang menjadi motivasiku bergerak selama beberapa tahun belakangan ini. Wanita sempurna yang kini pasti akan kuperjuangkan bagaimanapun sulitnya.
Bukan tanpa alasan. Dia adalah wanita yang mampu bertahan menghadapi kekanak-kanakanku, dan keegoisanku selama 2 tahun. Dimana kau bisa menemukan orang yang seperti itu? Sulit untuk mendapatkannya. Akan tetapi, apa yang dia lakukan itu, membuatku manja, dan bertindak keterlaluan. Semakin sering menyakitinya dan membuat wanita hebat itu akhirnya juga menyerah.
Bukan tanpa alasan. Dia adalah wanita yang mampu bertahan menghadapi kekanak-kanakanku, dan keegoisanku selama 2 tahun. Dimana kau bisa menemukan orang yang seperti itu? Sulit untuk mendapatkannya. Akan tetapi, apa yang dia lakukan itu, membuatku manja, dan bertindak keterlaluan. Semakin sering menyakitinya dan membuat wanita hebat itu akhirnya juga menyerah.
Aku ingin sedikit bercerita tentangnya.
Aku berkenalan dengannya sekitar akhir tahun 2013. Dia sempat menghilang, namun kembali lagi di tahun 2016. Aku kembali jatuh hati pada wanita ini, walaupun awalnya tidak serius, namun pada akhirnya aku menyatakan janjiku padanya, aku tak ingin pacaran, tapi aku ingin melamarnya. Ternyata komitmenku tak bertepuk sebelah tangan. Dia juga menyatakan hal yang sama. Janji pun telah terbuat, 2020 kami akan menikah. Lantas apa hubungan kami saat itu? Ntah lah, sebut saja kami telah bertunangan. Kemudian perlahan aku mendapat angin segar dari kedua orang tuanya.
Bulan bulan awal, aku masih bisa mengontrol egoku, namun setelah jalan hampir setahun, egoku kembali menguasai. Dia selalu mengalah. Wia adalah wanita yang hebat.
Semakin berjalan waktu, dia semakin memahamiku. Tapi ketika timbul perkelahian, aku selalu saja menyalahkannya, dan mengatakan dia tak berusaha memahamiku. Padahal, aku tahu bahwa aku berbohong, dan dia tetap sabar. –Tak ada wanita yang sehebat dia.
Tahun telah 2 kali berganti sejak kami bertemu lagi. Aku semakin mencintainya, tapi aku juga semakin tak bisa mengontrol sifat manja dan tak mau mengalah dalam diriku. Aku tak memikirkan lagi konsekuensi yang akan kuterima nantinya.
“Hati manusia, bukan terbuat dari bahan yang sangat kuat.” Kalimat itu kemudian terlontar dari mulutnya.
Aku tahu dan mengerti itu. Pada akhirnya, kelakuanku semakin menyakitinya. Dan dia membentengi dirinya dengan sangat kuat. Memilih untuk meninggalkanku, dan menyegel rapat hatinya. Hingga aku sangat kesulitan mencari celah. Akan tetapi aku berjanji tak akan melepasnya begitu saja. Karna bagiku, wanita ini yang paling sempurna.
Widya Arisza Septyaningtyas. Aku tak akan membiarkanmu begitu saja. Akan ku perjuangkan. Jika aku bisa melakukan kesalahan, maka aku juga harus mampu memperbaikinya.
Kelak aku akan menulis lagi tentang Wia. Nanti ketika dia telah kembali sepenuhnya padaku, dan merealisasikan janji kami.

0 komentar:
Posting Komentar