“Jangan berfikir, apa yang kau ambil adalah langkah terbaik. Percuma jika setelahnya kau menyesal. Takkan merubah apapun.” Dini hari itu aku diomeli oleh kembaranku, sebut saja namanya Grin. Dia bilang, aku nya saja yang terlalu bodoh, karna bertindak tanpa berfikir.
Aku tahu. Bahkan sangat tahu aku rasa. Tapi ketika aku bertindak, kinerja otakku menurun dibawah tekanan emosi.
Aku tahu hal itu tak bisa diperbaiki. Tak ada satu hal pun yang bisa dilakukannya untuk mencuci kesalahan yang begitu fatal. Ini bukan kali pertama kebodohanku mengambil alih langkahku. Bukan berarti aku tak belajar dari masalalu. Ini bukan lagi perkara belajar atau tidak, ini perkara seberapa tenang aku untuk mengambil keputusan. Dan aku tak setenang itu twin.
Aku kehilang orang yang paling berharga. Aku tak tahu hal itu akan semenyesakkan ini. Aku pikir itu hanya akan terasa biasa. Tapi ternyata, semakin kesini, hal itu semakin mengikat kuat paru-paru ku.
Aku kehilang orang yang paling berharga. Aku tak tahu hal itu akan semenyesakkan ini. Aku pikir itu hanya akan terasa biasa. Tapi ternyata, semakin kesini, hal itu semakin mengikat kuat paru-paru ku.
Dia sudah nyaman tanpa aku. Dia sudah senang, hanya dalam satu minggu melepaskanku. Bukan berarti dia meninggalkanku, lalu pergi sama pria lain begitu saja, dia hanya sudah membulatkan tekad untuk menjauh. Sementara aku kesulitan mengatupkan mataku dalam 3 hari. Mataku menolak keras dorong fisik untuk tertelap. Bagiku itu sudah biasa.
Aku menulis permohon maaf. Dan permohonan maafku diterima. Tapi tak ada lagi tempat disana. Apapun yang ku lakukan, 88% takkan membuahkan hasil apa-apa.
Do you have any idea?
Hingga pagi ini, aku masih berkutat dengan laptop dan gawai, mantengi whatsapp dan kulihat dia online, namun bisa dibilang tak ada respon untukku.
Tidak. Aku tidak marah. Aku hanya sedikit bersedih.
Banyak plan yang sebenarnya sudah disusun jauh hari. Tapi hanya tinggal wacana semata. Bahkan belum seperempat dari plan yang kami kerjakan. Dan apa boleh buat, itu semua kesalahanku. Aku tak bisa melemparkannya pada siapapun.
Aku masih berusaha untuk memperbaiki setiap jengkal kesalahanku. Aku tak tahu apakah itu akan berhasil atau tidak. Yang ku tahu, aku pasti akan berusaha. Selama bersamanya 3 tahun ini, aku merasa adalah masa terbaik yang kulalui. Kami tidak pacaran, hubungan kami lebih dari sekedar itu. Jika hanya karna pacar, maka aku tak akan bertindak sebodoh ini.
“Kau bilang, kau senang bersamanya. Lalu bagaimana dengan Ms. T, diujung sana?” pertanyaan itu pernah disampaikan 2 orang makhluk absurd, sebut saja Freenzy dan Hummingbrook. -nama tetap disamarkan niih, biar lu gak pada protes mulu.
Jika ku katakan jawabannya simple, maka aku berbohong. Apa yang kulalui tidaklah simple, ada hal yang complicated mengenai hal itu. Dan aku pastikan itu bisa jadi cerita menarik untuk dibahas. Tapi aku takkan pernah membahasnya.
Semoga 6 prajurit sakit jiwa itu bisa memberiku solusi dan bantuannya.
Dan untuk kalian manusia manusia terdekatku. Semoga kalian bisa menjaga mereka yang disisi kalian saat ini, pakai otak baru bertindak.

0 komentar:
Posting Komentar