"Kehilangan bukanlah suatu hal yang aneh dalam setiap perjalan hidup seseorang."
Yap, aku setuju akan hal itu. Dan dibalik semua kehilangan akan selalu ada pertemuan. Seperti apa yang saat ini kamu rasakan, Ms. Rain. Aku sudah tidak bisa seenaknya lagi mengklaim “My Rain” terhadap dirimu. Semoga bahagia disana. Begitu juga untuk diriku, semoga aku juga bisa bahagia disini.
Lama tak kusentuh keyboard laptopku ini, debu menumpuk, bahkan terasa sangat sulit untuk dibersihkan. Salah siapa? Tentu ini merupakan salah game online yang ku mainkan. Hahaha –Mulailah menyalah-nyalahkan-
Dan setelah lama, ternyata blog ini kembali menjadi pelarianku untuk menumpahkan semua rasa kesal, dendam, dan sakit hatiku.
Dalam hidup, perpisahan dan pertemuan itu adalah hal yang pasti. Setiap senja kita akan berpisah dengan mentari yang telah menemani kita sepanjang hari. Namun berpisah dengan sang mentari, kita akan dipertemukan dengan sang bulan. Begitu siklus seterusnya.
Aku kehilangan dia yang selama ini ku anggap terbaik. Salahku memang, yang tak mampu menjamin dirinya, yang tak mampu mendampinginya setiap waktu akibat jarak. Kini dia telah bersama pria yang setiap hari bisa ada didekatnya, dan aku syukuri itu, selama mereka bahagia.
Kehilangan dirinya, aku bertemu dengan wanita lain, yang tak kuanggap istimewa. Bahkan tak ku pikir akan ku berikan kunci menuju setiap memori kosong di otakku. Tapi itulah yang terjadi, dia menyimpan setiap kunci itu, bahkan aku tak berinya kunci cadangan.
Lama kami bersama, but now i need to say goodbye. Why? Aku hanya tak bisa membagi makanan favoritku kepada orang lain.
Kau akan tau sekejam apa aku dan egoku jika kau semakin mengenalku. All for one, motto yang selalu ku pegang teguh. Jangan pernah usik, atau kau akan menemukan monster aneh yang siap menerkammu kemudian.
Sekarang aku kembali menghadapi kehilangan yang menyebalkan itu. Tapi kali ini dengan sedikit rasa lega juga didalamnya.
Kini aku tak perlu worried untuk hal-hal yang menurutnya konyol, tapi bagiku adalah masalah besar. Aku tak perlu lagi cemburu, aku tak perlu lagi memaki orang lain karna itu, aku tak perlu lagi menahan hati melihat ini itu yang akan memancing emosiku.
Saat seorang teman bertanya -anggap saja namanya Mr. Humming-, “Kau tak apa?”
Absolutely.... i’m not!! Tapi anggap saja ini pembelajaran, bahwa tak semua yang terlihat mata adalah hal yang benar, bahkan garam pun terlihat seperti gula.
Kupikir dia akan sedikit berbeda, tenyata? Zonk! Sama saja!
Taukah kau, aku tak pernah suka melihat wanita yang bersamaku tetap dekat dengan lelaki lain, meskipun itu adalah temannya sejak kecil. Kau tak boleh berkomunikasi secara intens dengan lelaki lain.
Posesif? Ya begitulah adanya aku. Tapi harus dirinya ingat, that she’s promise that she will not do it anymore. Jika hanya akan diingkari, maka jangan berjanji.
Beragam hal yang aku tak senangi, tapi sejauh ini ku tahan, dengan harapan adanya perubahan. Nyatanya? Uhum.
Ya, sudahlah, terbebas dariku mungkin anugrah baginya, karna selama ini aku hanya menjadi musibah dalam hidupnya yang tenang tanpa aturan. Sementara bagiku, kehilangannya mungkin cara tuhan untuk menghentikan setiap emosiku.
Kuharap dalam pertemuan berikutnya, tidak akan seperti ini lagi. Selamat terlelap Pekanbaru.
Lama tak kusentuh keyboard laptopku ini, debu menumpuk, bahkan terasa sangat sulit untuk dibersihkan. Salah siapa? Tentu ini merupakan salah game online yang ku mainkan. Hahaha –Mulailah menyalah-nyalahkan-
Dan setelah lama, ternyata blog ini kembali menjadi pelarianku untuk menumpahkan semua rasa kesal, dendam, dan sakit hatiku.
Dalam hidup, perpisahan dan pertemuan itu adalah hal yang pasti. Setiap senja kita akan berpisah dengan mentari yang telah menemani kita sepanjang hari. Namun berpisah dengan sang mentari, kita akan dipertemukan dengan sang bulan. Begitu siklus seterusnya.
Aku kehilangan dia yang selama ini ku anggap terbaik. Salahku memang, yang tak mampu menjamin dirinya, yang tak mampu mendampinginya setiap waktu akibat jarak. Kini dia telah bersama pria yang setiap hari bisa ada didekatnya, dan aku syukuri itu, selama mereka bahagia.
Kehilangan dirinya, aku bertemu dengan wanita lain, yang tak kuanggap istimewa. Bahkan tak ku pikir akan ku berikan kunci menuju setiap memori kosong di otakku. Tapi itulah yang terjadi, dia menyimpan setiap kunci itu, bahkan aku tak berinya kunci cadangan.
Lama kami bersama, but now i need to say goodbye. Why? Aku hanya tak bisa membagi makanan favoritku kepada orang lain.
Kau akan tau sekejam apa aku dan egoku jika kau semakin mengenalku. All for one, motto yang selalu ku pegang teguh. Jangan pernah usik, atau kau akan menemukan monster aneh yang siap menerkammu kemudian.
Sekarang aku kembali menghadapi kehilangan yang menyebalkan itu. Tapi kali ini dengan sedikit rasa lega juga didalamnya.
Kini aku tak perlu worried untuk hal-hal yang menurutnya konyol, tapi bagiku adalah masalah besar. Aku tak perlu lagi cemburu, aku tak perlu lagi memaki orang lain karna itu, aku tak perlu lagi menahan hati melihat ini itu yang akan memancing emosiku.
Saat seorang teman bertanya -anggap saja namanya Mr. Humming-, “Kau tak apa?”
Absolutely.... i’m not!! Tapi anggap saja ini pembelajaran, bahwa tak semua yang terlihat mata adalah hal yang benar, bahkan garam pun terlihat seperti gula.
Kupikir dia akan sedikit berbeda, tenyata? Zonk! Sama saja!
Taukah kau, aku tak pernah suka melihat wanita yang bersamaku tetap dekat dengan lelaki lain, meskipun itu adalah temannya sejak kecil. Kau tak boleh berkomunikasi secara intens dengan lelaki lain.
Posesif? Ya begitulah adanya aku. Tapi harus dirinya ingat, that she’s promise that she will not do it anymore. Jika hanya akan diingkari, maka jangan berjanji.
Beragam hal yang aku tak senangi, tapi sejauh ini ku tahan, dengan harapan adanya perubahan. Nyatanya? Uhum.
Ya, sudahlah, terbebas dariku mungkin anugrah baginya, karna selama ini aku hanya menjadi musibah dalam hidupnya yang tenang tanpa aturan. Sementara bagiku, kehilangannya mungkin cara tuhan untuk menghentikan setiap emosiku.
Kuharap dalam pertemuan berikutnya, tidak akan seperti ini lagi. Selamat terlelap Pekanbaru.

0 komentar:
Posting Komentar