Pluviothentic

www.storydecember.blogspot.com
Here lies the rain of my days, and the roots of who i am.
About Me
Hanya kumpulan tulisan otentik milik seorang pecinta hujan yang kebetulan senang blogging.
Marhaban ya Ramadhan! Ini merupakan puasa hari kelima 1438H. Semoga puasanya berjalan lancar buat semua umat muslim yang menjalani.

Dalam bulan puasa begini, siang yang terik pasti membuat banyak orang males buat ber-aktivitas. Jujur aja, aku juga begitu. Tapi ingat jangan jadiin hal itu sebagai alasan untuk males-malesan ya!!

Puasa tahun ini adalah tahun ke-2 aku menjabat sebagai ketua pemuda dan remaja mesjid, yang mana jabatan itu membuatku benar-benar kerepotan. Ditambah lagi, aku saat ini ditunjuk sebagai ketua panitia acara buka puasa bersama seluruh angkatan STISIP di kampus. Arrrrgh, merepotkan.

Yap, di Indonesia, bulan puasa itu sepertinya selalu identik dengan acara ngumpul, dan reuni sambil buka bersama. Entah reunian SD, SMP, SMA, Alumni Kuliah, atau malah cuma acara buka bersama temen-temen tempat nongkrong. Seolah hal ini merupakan sebuah ritual yang wajib ada.

Aku gak tau kenapa jabatan yang merepotkan ini bisa jatuh ketanganku. Padahal masih banyak kandidat yang mumpuni. Syarat untuk menjadi seorang ketua, bagiku, adalah Leadership. Nah, aku gak punya hal itu! Kalau kalian tanya senang atau nggak? Jawabku, ya pasti senang lah! Siapa yang gak mau dapat tertinggi dalam suatu hal. Bisa aja untuk pengalaman, melatih tanggung jawab, pamer, dan lainnya. –sebagai besar ya buat pamer, termasuk aku. Hohoho

Membicarakan pemimpin, banyak orang yang ingin meraihnya. Banyak orang yang berambisi untuk hal itu. Bahkan meski mereka tau mereka tak punya leadership, mereka masih ngotot untuk melakukannya.

Sama seperti salah satu orang terdekatku –dulu, sebut saja namanya Fir’aun, yang memiliki hasrat yang menggebu untuk menjadi seorang pemimpin.

Keinginannya untuk menjadi seorang pemimpin kelihatannya nggak cuma karna ambisi, tapi juga dari keangkuhannya yang menganggap nggak ada orang yang lebih baik darinya –nih, bocah kaya’nya pake pandangan Yahudi nih. Sejak SMP dia udah berusaha memperlihatkan dominasinya, meskipun berkali-kali gagal. Berhubung waktu itu aku merupakan temen terdekat dia, aku ya support aja, walau tau dia punya kesombongan tingkat dewa.

Saat awal-awal tamat SMP, dia berusaha kembali untuk jadi pemimpin melalui acara Reuni Akbar Pramuka. Dia mengajukan diri untuk menjadi ketua panitia. Dan saat itu dia berhasil mendapatkan posisi itu. Tapi, Fir’aun ini memang pada dasarnya nggak punya jiwa kepemimpinan, jadi dia sering mangkir dari tugasnya. Dengan alasan ada turnamen sepakbola antar SMA yang harus dia ikuti. Aku dan satu temenku yang lain akhirnya menjadi tumbal, dan menjadi orang dibalik layar, yang bergerak menggantikannya. -Haha, dari dulu aku sudah merasa sangat nyaman sebagai aktor dibalik layar, jadi dikasih jabatan ketua itu membuat jiwaku terguncang-.

Singkat cerita, acara itu sukses, dan dia mendapat penghargaan –walaupun pada akhirnya dia tetap terkena masalah, karna attitude-nya.

Beberapa waktu yang lalupun, kudengar Fir’aun mengadakan Reuni Akbar SMP. Dia menjadi ketua umum –ini anak hasratnya gak habis-habis, haha. Ya, apapun yang akan kau lakukan, aku akan mendo’akan yang terbaik. But, sorry, i will not come. Meski kau telah mengundangku secara langsung. Ya, karna satu dan lain hal.

Bagiku, aku masih belum pantas menempati jabatan yang diserahkan padaku. Bukannya gak punya ambisi. Ambisi ada. Tapi aku sadar diri aja sih. Dalam pandanganku, if you want to be a leader, first thing first, you must have leadership. Oh come on bro, kan sayang banget kalau acara yang udah lu rencanain itu gagal karna lu gak punya jiwa kepemimpinan. Mending kasih yang layak, supaya acaranya lancar. Toh, ntar nama lu juga tetap bakalan disebut sebagai perencana yang luar biasa -kalau-kalau acaranya sukses ya tapi-.

Lu boleh punya ambisi, lu boleh punya mimpi. Tapi kalau emang lu mau raih itu ambisi dan mimpi, lu harus belajar ekstra, supaya nanti lu lebih paham dan bertanggung jawab dalam ambisi lu.

Seorang Leader without leadership, hanya akan menjadi sesuatu yang sia-sia. Lu bakalan jalan sendiri, tanpa ada orang yang bakalan jadi pilar pembantu. Bayangin aja, kalau bangunan dengan 4 lantai cuma disokong 2 pilar, apa yang akan terjadi?

Lu bilang lu leader, tapi pengikut lu kagak ada. Lah? Yang lu pimpin apaan?

Kalau lu kaya raya, tanpa leadership pun mungkin pengikut lu tetap akan banyak. Ya minimal sampe duit lu habis lah, pasti bakalan tetep ada orang yang ngikut.

Lihat dan belajarlah dari Rasullah. Meski dia nggak kaya, dan gak sering diolok-olok, tapi berkat leadership-nya, dia tetap punya pengikut setia yang jumlahnya luar biasa.

Ya sudah, Oganbatte kudasai, untuk acaranya!

0 komentar:

Posting Komentar