Udah lama gue gak nulis buat blog gue yang terbengkalai, dan gak memiliki pembaca ini. Mungkin karna jadwal gue sangat padat –ceileeh, sok sibuk, punya kerja juga kagak-, satu hal yang gue sadari, blog gue ini sama sepinya dengan sekolah yang lagi libur panjang.
Beberapa minggu yang lalu si Tonkatsu ngehubungi gue lagi. Kali ini bukan buat curhat, tapi dia ngabari kalo dia dengan pacarnya yang Sok Ganteng dan Gak Punya Nyali itu udah putus. Dan dari kata-kata si Tonkatsu, gue bisa nyimpulin, bahwa si Tonkatsu ingin bilang rusaknya hubungan mereka itu karna gue… Tonkatsu, oh Tonkatsu…
Yak, skip pembahasan soal si Tonkatsu…
Sebenarnya dipostingan ini gue mau bikin cerbung, tapi gue pikir lebih baik dipostingan selanjutnya aja, mungkin karna gue ngerasa cara nulis cerita gue masih weird banget. Oke kali ini gue mau ngebahas passion, kalian tau ‘kan passion?
Buat yang belum tau apa itu Passion, gue akan jelasin sedikit. Menurut beberapa sumber, Passion adalah perasaan yang sangat kuat tentang sesuatu. Passion adalah perasaan yang intens, dan antusiasme tinggi, atau keinginan untuk melakukan/memiliki sesuatu.
Nah, mudahnya, menurut gue, Passion itu adalah sesuatu yang sangat kita nikmati saat kita lakukan, atau kita ngerasa enjoy banget ngelakuinnya tanpa merasa terbebani. Banyak orang yang kadang dengan pemikiran yang sangat realistis, mengatakan kalo kita gak boleh terlalu mengikuti passion, karna kadang passion gak bisa menghasilkan UANG.
Gue sebenernya berpendapat bahwa kita harus mengikuti passion kita, bagi gue “ini diri gue, gue happy dengan passion gue, dan gue lakuin”. Tapi gue juga gak nyangkal pendapat mereka, karna itu juga ada benernya.
Ya sudahlah, itu merupakan tanggapan per individu, gak semuanya juga mikir gitu. Kalo passion ini ditempatkan, atau disalurkan dengan cara yang tepat, gue yakin pasti bisa lebih menghasilkan. Gini, kalo misalnya kita kerja disebuah hotel besar sebagai receptionist, dimana kita harus duduk menunggu tamu dengan gaji yang bisa dibilang besar. Dan karna kalian orangnya mudah bosan, pekerjaan kalian akan dijalani perasaaan tertekan, dan gue yakin, beberapa bulan kemudian kalian akan berhenti dari pekerjaan itu. Sementara kalo kalian melamar pekerja mengikuti passion, kalian akan merasa enjoy saat bekerja, tanpa ada tekanan apapun. Contoh, kalo kalian passion dibidang komputerisasi, dan kalian punya ilmu serta bakat dibidang itu, kalian bisa melamar menjadi teknisi disebuah perusahaan. Dan gue yakin kalian bisa bertahan.
TAPI, harus kalian ingat. Gak semua passion bisa dikaitkan dengan pekerjaan. Beberapa passion justru lebih banyak pengeluarannya ketimbang pemasukan. Contohnya, kalo passion kalian dibidang traveling. Kalian hobby jalan-jalan ‘kan? Nah, untuk jalan-jalan ini, kalian butuh biaya. Kalo kalian gak kerja dengan gaji yang cukup besar, kalian mau biayai dengan apa? Kalo kalian seorang pembawa acara wisata, kalian mungkin bisa jalan-jalan tanpa biaya, dan malah dapet uang. Permasalahannya, casting untuk jadi presenter acara wisata itu susah, karna peminatnya juga rame.
Menurut pendapat gue pribadi sih gini aja. Kalo kalian punya passion yang biasa berkaitan dengan pekerjaan, I think you should try it. Tapi kalo passion kalian adalah sesuatu yang sulit untuk dijadikan pekerjaan, kalian lebih baik mencari pekerjaan yang kalian rasa cocok buat kalian, dan jalani passion kalian saat kalian memiliki waktu untuk melakukannya.
Passion gue sih… ngobrol kali ya? Ntahlah, yang jelas gue enjoy jadi penyiar radio. Dan gue juga ngerasa passion gue adalah membaca dan nulis kaya’ sekarang ini.
Kalo passion kalian apa?
Apapun passion kalian, jalani, dan manfaatkanlah passion kalian sebaik mungkin. Semoga passion kita, bisa membuat kita lebih maju, dan sukses.

0 komentar:
Posting Komentar