Pluviothentic

www.storydecember.blogspot.com
Here lies the rain of my days, and the roots of who i am.
About Me
Hanya kumpulan tulisan otentik milik seorang pecinta hujan yang kebetulan senang blogging.
Haaaaah, berkurang deh satu postingan gue. Si Tonkatsu marah-marah, karna gue bikin postingan tentang dia. Alhasil, gue mesti hapus tuh postingan, sayang banget ‘kan? Tapi gak masalah, tinggal bikin lagi.

Gue sering banget dengerin curhatan dari temen-temen gue, yang bilang mereka dipandang sebelah mata. Ini nih yang gak enaknya, kalo kita belum sukses. Atau minimal dipandang berhasil oleh orang tua.

Bagi kalian yang memiliki adik atau kakak yang usianya gak beda jauh dengan kalian, kalian pasti pernah merasakan yang namanya DIBANDINGKAN. Jika salah satu lebih unggul, maka dia akan menjadi patokan dalam perbandingan. Gue juga ngerasain hal itu, adik gue pun jadi patokan dalam perbandingan.


Kenapa bisa? Bagi gue cuma satu penyebabnya. She got the luck, and I got brain. Dari segi akademis, gue lebih unggul ketimbang adik gue. Mungkin gak banyak, tapi gue bisa dibilang berprestasi. Gue pernah juara kelas, gue pernah juara dalam lomba cerdas-cermat antar madrasah, dan gue menguasai beberapa bahasa asing. Tapi sayangnya, gue seakan gak punya yang disebut KEBERUNTUNGAN.

Mungkin saat gue menghadiri pembagian item-nya, gue ngambil 90% otak, dan 10% keberuntungan.

Berbeda dengan adik gue. Dia bukanlah gadis cerdas, namun keberuntungannya tinggi –mungkin dia ngambil 60% keberuntungan, dan 40% otak-. Tapi, walau pun gitu, dia tetap gak kalah pintar dengan teman-temannya yang lain, bahkan dia 1 bar lebih pintar dari mereka –mungkin temen-temannya emang kagak ada pintar-

Ini membuat gue percaya dengan satu iklan di tv yang bilang “orang pintar, kalah dengan orang beruntung”.

Gue sempat merasakan pahitnya pengangguran –ceileeh- selama setahun lebih, sebelum akhirnya mendapat pekerjaan. Gue juga sempat kerja berat sebelum merasakan kerja kantoran. Sementara, adik gue ini, beberapa bulan setelah kelulusan, dia langsung kerja. Pertama kerja dihotel, kurang lebih sebulan, berhenti. Lalu pindah ke sebuah toko alat rumah tangga, 2 bulan lebih, dia berhenti lagi. Seminggu kemudian dia akhirnya bekerja disebuah perusahaan jasa pengiriman barang sebagai accounting, sampai sekarang. Meskipun dia bisa bekerja disana atas bantuan ayah. Gue begitu berhenti kerja di kantor, langsung jadi penggangguran lagi, dan susah payah cari kerjaan. -.-

Sampai saat ini adik gue masih menjadi patokan perbandingan bagi ayah dan mama gue. Kadang gue ngerasa kesal, tapi kadang itu juga jadi motivasi bagi gue.

Saat gue gak bekerja, gue punya banyak waktu luang untuk ngerjain hobby gue. Tapi, disaat yang sama, gue ngerasa seolah system kasta dalam masyarakat aktif lagi. Bahkan untuk ngumpul dengan teman pun rasanya minder, apalagi kalau sebuah pertanyaan yang tak diharapkan muncul, “sekarang lo kerja dimana?”. Ah, udah, bawaannya badmood, kaya’ cewek lagi PMS.

Adik gue saat ini kerja dengan gaji yang menurut gue besar. Setidaknya bisa memenuhi semua hobby gue yang belum terpenuhi. Berapa besarnya? Bayangin aja ndiri.

Keberuntungan atau apalah itu, memang bikin gue agak kesel. Tapi gue berfikir, setiap orang udah punya jalannya masing-masing. Yang penting gak nyerah. Ada orang bijak bilang “semua belum berakhir walaupun kamu gagal, semua akan berakhir saat kamu menyerah”. Intinya, kalo lo nyerah, kelar hidup lo. Terus, jangan malas-malasan –gue sih sekarang masih malas malasan, makanya gak sukses-. Gue tetap usaha, gak peduli meski orang tua gue terus bandingin dengan si adik.

So, terus berkarya dan berusaha sebaik mungkin.

0 komentar:

Posting Komentar